
Lucy hanya terlihat merenung dibalik jendela kamarnya sembari memperhatikan pemandangan tamannya yang baginya itu merupakan hal yang biasa saja. Salju memang terlihat lembit dan indah, namun pemandangan itu benar-benar tidak ada arti dan makna apapun lagi dihatinya. Menyadari akan kenyataan hal itu hanya membuat gadis itu tertawa tanpa suara dihatinya.
Cangkir teh yan hangat kini digenggam erat olehnya, betapa terjaminnya hidup Lucy membuat itu terasa mengerikan. Hidupnya yang malang sebagai Raflesa memang membuat kebencian itu tercipta kepada musim dingin yang semakin mendominasi ketika tahu bahwa Morticia juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Flona yang mondar-mandir membawakannya camilan hanya bisa menghela nafas ketika semua makanan ringan dan kue manis yang tertata diatas meja itu tidak satupun disentuh oleh Nonanya. Bagi Flona, semenjak Nonanya terbangun aura pembawaannya benar-benar berubah, ia hanya terlihat murung dan selalu merenungi masalahnya seorang diri tanpa mengatakan sepatah kata apapun kepadanya.
Sebenarnya beban apa lagi yang berusaha Nona pikul seorang diri? Apa anda tidak bisa membagikan beban itu kepada saya..
Menyadari reaksi Flona yang terlihat murung disampingnya itu hanya bisa membuat Lucy menghela nafasnya dengan berat. Sepuluh hari telah berlalu semenjak ia terbangun, ia masih saja belum terbiasa untuk beradaptasi dengan semua ini, apalagi tatapan para pelayan yang berlalu lalang di kamarnya membuat Lucy begitu tidak nyaman.
“Flona.. apakah mataku seburuk itu.. apa perlu aku merubahnya dengan kekuatan sihirku agar terlihat seperti Tunangan Putra Mahkota yang seperti biasanya?” tanyanya yang berniat mengoceh dengan sebal.
Flona hanya menggelengkan kepalanya pertanda bahwa itu tidak benar, “Anda baru sembuh, Saya Mohon sebaiknya Nona jangan menggunakan sihir terlebih dahulu.” pintanya yang kini terduduk didepan lututnya.
“Saya rasa, mereka hanya belum terbiasa dengan mata Nona yang indah. Mereka juga hanya khawatir karena Nona kelihatan lebih kurus dari sebelumnya, anda yang biasanya selalu tersenyum dengan cerah itu kini hanya terlihat murung di sudut kamar. Saya yakin, mereka semua hanya belum terbiasa dengan perubahan kecil dari Nona.” ungkap gadis itu dengan lembut, nada bicaranya terdengar tulus.
Flona tidak pernah berubah.. mungkin di tempat ini juga hanya aku yang kelihatan berubah sendirian..
“Apa Nona tidak ingin berkeliling untuk mencari suasana hati yang baru?” sarannya yang dipenuhi dengan rasa pertimbangan.
Memang ototnya yang melemah karena berbaring cukup lama telah membuat sang gadis kesulitan untuk melangkah dan berjalan kemanapun, walaupun begitu secara rutin Lucy juga sering berlatih untuk memperkuat otot dan daya tubuhnya agar dapat kembali sehat daj beraktivitas penuh seperti biasanya.
“....”
“Mencari suasana baru ya..” gumamnya yang kini diberikan tatapan puppy eyes oleh gadis yang berlutut di depannya itu.
Ah.. dasar.
__ADS_1
Huft..
Yasudah.
“Ck. Akan kupertimbangkan. Mungkin kedepannya aku hanya akan membuat Flona kerepotan.” dechinya sembari memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Taman yang terlihat dibalik jendela kamarnya benar-benar cantik, berkat kekuatan sihir tampaknya mawar merah itu tetap mekar dengan baik tanpa adanya suatu hambatan. Dibalik wajah Lucy yang bersemu merah diiringi senyuman cantiknya yang merekah, Flona terlihat kegirangan bukan main.
“Sekalipun Nona tidak pernah membuat saya kerepotan! Nona harus bersemangat untuk segera pulih sebelum musim dingin ini berakhir lho~ Ibu Kota saat di jatuhi tumpukkan salju bukankah sangat indah? Anda kan sejak dulu selalu senang melihatnya dan selalu menantikannya di setiap tahun!” seru gadis itu yang malah membuat wajah cantiknya kelihatan lebih datar dari pada sebelumnya.
Itu ya— mungkin Lucy yang lain teramat menyukainya. Bagiku, musim dingin adalah kenangan terburuk yang pernah ada. Menyadari betapa pahitnya hidupku sebagai Raflesa... itu membuatku tersiksa, dibawah cuaca yang dingin itu.. aku hanya bisa bertahan hidup dengan sepotong kain yang tidak begitu tebal bersamaan perapian kecil yang hampir mati karena kehabisan kayu bakar.
Walaupun pertanyaan ku diluar nalar, namun tetap saja bahwa hal ini membuatku kepikiran. Sebenarnya kenapa mereka begitu meributkan musim dingin sih?
Memangnya seberapa indahnya turun salju dan hampatan es yang membeku di setiap lautan itu?
Sayup-sayup ia menikmati perapian yang hangat sembari menyeruput teh lemonnya yang masih panas. Satu fakta memang telah berubah tanpa adanya pengelakan lagi. Ia bukan lagiseorang Lucy Fleur Barayev dengan netra coklatnya yang indah seperti tuan Count Barayev, melainkan ia telah menjadi seorang gadis dengan netra biru safirnya yang telah melewati masa kebangkitan selama 3 bulan terakhir.
Awalnya ini msmang sulit dipercaya, namun beberapa penyihir dan pendeta agung yang datang untuk memeriksa kondisi tubuhnya mengatakan bahwa pemicu warna matanya berubah karena seluruh kekuatan Lucy yang membeludak yang terkandung pada batu suci itu kini telah kembali kepadanya.
Inilah yang menjadi ciri dan tanda bagaiamana sihir pada segel batu itu akan segera hancur jika tidak segera disempurnakan olehnya yang merupakan reinkarnasi dari Penyihir Abadi itu.
“Jadi, peranku saat ini ialah menyempurnakan segel itu dengan tanganku agar tidak lepas kendali dan membuat kekuatan kegelapan itu tidak kembali kepada pemiliknya.” gumamnya bernada pelan.
Iris Dewellyn..
Aku tidak tahu sekarang kamu ada dimana, yang jelas untuk mengetahui semua hal itu.. aku harus menargetkan Sheyra terlebih dahulu hingga membuatmu turun tangan dan nekat untuk menemuiku.
__ADS_1
Ah membosankan.
...***...
3 minggu telah berlalu dengan rutinitas hidupnya yang hanya berfokus pada pengobatan. Lucy kini mendapatkan hasil akhir yang memuaskan ketika telah pulih secara total. Pada akhirnya saat jni ia dapat melangkah kemanapun dengan penuh percaya diri seperti biasanya.
Sayangnya, warna matanya yang terlihat berbeda membuat gadis itu terlihat tidak percaya diri sehingga selama kesembuhannya berlalu hanya membuat perempuan itu enggan untuk menampakkan dirinya diluar istana.
Lucy yang tidak pernah sekalipun menampakkan batang hidung nya diluar istana malah menciptakan sebuah rumor yang mengatakan bahwa kondisi tubuhnya setelah mengalahkan Calrhintis benar-benar buruk. Sehingga ia yang belum benar-benar sehat tidak memiliki suatu kekuatan untuk pergi menyapa dunia luarnya dengan hangat.
“Padahal aku baru sembuh beberapa minggu. Tindakan seorang bangsawan memang diperhatikan sedetail itu hingga menimbulkan berbagai rumor yang tidak diinginkan, kedepannya aku harus berhati-hati.” tuturnya pelan sembari membalikan tiap-tiap halaman bukunya yang tengah ia baca dengan serius.
Saat ini Lucy tengah menyenderkan tubuhnya pada jendela di perpustakaan Pribadinya sembari membaca buku teknik militer. Itu memang hanya bentuk ke isengannya untuk mengisi waktu luangnya yang kosong. Setidaknya ini merupakan bentuk memanfaatkan waktu luangnya yang akan segera berakhir karena mulai minggu depan, ia akan kembali mendapatkan pengajaran dan pendidikan Ratu dengan serius seperti bisanya.
“Huft.. aktivis memuakkan itu akan segera kembali.” tuturnya yang berkesan mengumpat kesal.
Namun..endpan dan tatapn seseorang yang tengah memperhatikannya diam-diam membuat wajah perempuan itu terlihat kesal. Tapi bagaimana lagi, para pelayan itu kelihatan benar-benar mengagumi warna matanya yang dipadakun dengan wajah cantiknya yang berekspresi dingin.
“Beliau memang indah dan sempurna ya.. saking indahnya permata itu membuat orang-orang terhipnotis begitu saja ketika bertatapan mata dengan beliau!” bisik dua pelayan yang mengintip di ambang pintu.
“Ah ini merupakan suatu kehormatan karena saya bisa bertemu dan melayani beliau yang merupakan reinkarnasi dari Penyihir Morticia itu!” serunya yang kelihatan benar-benar heboh sendirian.
💢
Ah sialan! Hal dejavu macam apa ini?! Tapi itu semua yang kalian bicarakan itu benar-benar kedengaran di telingaku tahu!!
__ADS_1