
Raut wajah Reygan terlihat datar, ia seperti hanya biasa saja menanggapi Sheyra tanpa adanya rasa belas kasih. Sudah cukup ia mendiami gadis itu tanpa memberikan tuduhan penyihir. Tapi memang ya, yang namanya belum dihukum pasti takan bisa merasa jera.
Semakin di diamkan, ia semakin gencar mempengarugi Reygan dengan kekuatan sihir gelapnya. Sayangnya Yang Mulia menggunakan bros berisikan sihir pemurnian milikku.
Disisi lain, Sheyra hanya tidak menyangka jika sihir yang ia gunakan saat ini tidak bekerja dengan baik, bukan— ini malah benar-benar tidak berfungsi.
Apa yang kau lakukan padanya? Perempuan sialan!
“Anu— Yang Mulia, mengapa anda tidak mengajak saya lagi sebagai partner anda seperti tahun kemarin?” tanya Sheyra diiirngi sorot mata yang berkaca-kaca, nada bicaranya terdengarsendu.
Penggambaran Sheyra saat ini telihat merasa kecewa seperti seoranng gadis yang telah dicampakkan sang kekasih. Adegan saat ini memang melantur, pada kenyataannya di chapter pertama pada buku. Tidak ada percakapan adu mulut seperti ini, seharusnya saat ini mereka selaku tokoh-tokoh utama hanya terdiam sembari bertukar pandangan dari kejauhan.
Karena sebelum Sheyra menangis dan Pria itu menyelamatkannya dari ancaman hewan buas, Reygan belum memantapkan hatinya untuk merasa jatuh cinta kepada Sheyra.
Barulah usai diselamatkan tokoh utama Pria dengan gagahnya, tangis gadis bersurai merah itu pecah sembari berkata, “Terimakasih Yang Mulia.. anda telah menyelamatkan nyawa saya.” ucapnya haru dengan hidung mungilnya yang memerah.
Pada Prolog, yang diceritakan memang hanya seperintilan hubungan serta kisah Lucy dan Reygan yang memburuk karena ada suatu masalah yang tidak dijelaskan. Yaitu— kematian Lyonora yang tidak diceritakan di dalam buku.
Lucy yang hidupnya didekasikan sebagai calon Ratu tidak menerima hubungan mereka dengan senang hati, layaknya pemeran batu loncatan. Usai pertemuan para tokoh utama yang berkesan romantis, Lucy menunjukkan taringnya dan menjadi pemeran wanita yang jahat dan kejam bagi Sheyra.
Tapi aku yakin.. setelah menyadari semuanya bahwa buku itu palsu! Cerita yang dikisahkan benar-benar ditulis dengan penuh kebohongan, pertemuan pertama mereka saja di pemakaman Kakak. Jadi— kebenaran apalagi yang harus kuketahui hingga menerima kenyataan bahwa dunia ini memang benar adanya?
Walaupun saat ini perkataan Sheyra terdengar mengemis seperti ingin dikasihani, akan tetapi respon Reygan hanyalah bersikap dingin yang tidak sesuai ekspektasi gadis itu. Pria itu berdecih kesal ketika Sheyra mencoba sok akrab dengannya.
Diiringi alunan nada yang tajam Pria itu mengeluh kesal tentangnya, “Benar-benar merusak pemandangan.” tegurnya dengan perasaan tak suka.
Deg..
Kenapa begitu?
Haha— raut wajahmu menjelaskan segalanya Sheyra.
Seharusnya masalah ini usai begitu saja, namun Sheyra tidak berniat pergi meninggalkan mereka. Ia terlihat terpaku dengan tatapannya yang terlihat pilu.
__ADS_1
Tidak— senyumannya terlihat jahat. Entah kenapa perasaanku tidak baik-baik saja, perasaan dejavu apa ini..
“Anda terlalu bersikap dingin kepada saya, seperti yang Nona katakan. Saya hanya seorang Putri Baron~ tentu saya tidak tahu aturan pakaian seperti itu. Maafkan saya yang seperti ini Nona..” racau Sheyra dengan tatapan sedih berharap menarik perhatian bangsawan lain.
Apa itu? Dia berniat menarik simpati bangsawan dengan aku yang dianggap telah menghinanya? Maaf deh.. tapi—
“Saya kira anda akan tahu tentang itu karena ini hanyalah hal yang lumrah~ maafkan saya jika ini menyinggung Nona Sheyra. Tapi— setidaknya bersikap yang sopan bukan hal yang sulit bukan.” cemooh Lucy dengan tatapan yang seperti sedang menghinanya.
Tak habis pikir rasanya, demi menarik simpati bangsawan ia dengan sukarela merendahkan dirinya seolah menerima bahwa dirinya memang menerima pendidikan yang kurang baik.
Tapi sayang sekali, tak ada siapapun yang akan berpihak kepada mu Sheyra. Tingkah mu terlalu gegabah. Makanya..
Dengan lembutnya ia mendekati Sheyra dan berbisik lembut di telinganya, “Jangan terlalu bergantung kepada sihir dong. Setidaknya buat dia merasa jatuh cinta dengan perasaannya yang nyata, bodoh.” bisiknya halus yang sukses membuat raut wajah perempuan itu terlihat mengerikan.
...***...
Kedatangan Raja di singgasana yang telah disediakan membuat seluruh perhatian kini teralih kepadanya. Sebagaimana etiket bangsawan, semuanya menekuk leher dan punggung mereka untuk memberikan salam hormat kepadanya. Netra Lucy kini bergertar ketika pandangan mereka bertemu.
Setelah pertunangan, kami bertemu lagi ya. Senyumin aja dah. Beliau sudah tua.. namun kelihatannya baik-baik saja. Apa karena sebagai pemimpin, kita tidak boleh memperlihatkan sosok yang lemah?
“Kita semua berkumpul untuk merayakan awal musim gugur dan juga acara perburuan tahunan yang di selenggarakan di kerajaan ini. Aku sangat bangga dan berterimakasih kepada kalian yang telah hadir dan ikut serta berpartisipasi di acara ini. Semoga keselematan selalu menyertai kalian, semoga kalian mendapatkan buruan yang terbaik. Dengan resmi, perburuan tahun ini dibuka.” tuturnya yang diiringi tepukan tangan yang meriah dari para bangsawan.
Suasananya benar-benar hangat, para Pria kini sibuk menangani kuda yang akan mereka tunggangi untuk pergi berburu ke dalam hutan. Sebelumnya, Lucy menahan Reygan terlebih dahulu agar ia tidak pergi meninggalkannya.
Dengan senyuman yang merekah seperti bunga matahari, ia memberikan sapu tangan sulamannya untuk dibawa pergi olehnya. Namun pemuda itu nampak bekerut ketika menatap sulaman indah dari sapu tangannya.
“Alih-alih menyulam bungaku, Lucy malah menyulam bunga Peony ya. Tunanganku memang menarik.” ujarnya sembari mencium punggung tangan Lucy sebagai bentuk salam perpisahan.
“Saya sengaja menyulam bunga kesukaan saya, agar Yang Mulia akan terus teringat kepada saya. Hehe~” tuturnya dengan raut wajah ceria. Pria itu terkekeh, jawaban Lucy terdebgar diluar dugaannya. Lagi pula..
“Bunga kesukaan Lucy juga bunga kesukaan saya, terimakasih.” ucapnya yang tak lama kemudian mengecup lembut puncak kepalanya dengan perasaan hangat. Sedangkan Sir Emillo yang berada di sampingnya kini tengah mengusap lembut kuda putih yang akan ia tunggangi dengan perasaan gembira.
“Loh—” Lucy baru menyadari sesuatu bahwa pelayan yang bekerja di istana Cathalia tidak akan dipekerjakan di tempat ini, pelayan yang di ambil tentunya para pelayan di istana utama.
__ADS_1
Jadi bagaimana caranya Flona memberikan sapu tangannya? Aku tidak terpikirkan hal itu karena pergi bersama Yang Mulia..
“Mohon maaf Sir, kali ini saya tidak akan memberikan sapu tangan ya..” tukasnya diiringi nada bercanda. Pria itu kini malah tersenyum lebar dengan wajah tampannya yang berseri-seri.
“Tidak masalah Nona, saya juga sudah punya tuh.” pamernya sembari menunjukan sapu tangan dengan sulaman bunga lavender yang indah.
Wah- tangan Flona memang terampil! Sapu tangann Flona sangat cantik! Tapi— raut wajah menyebalkan apa itu?
“Uhum! Syukurlah kalau anda menyukainya, gadis itu saat ini pasti sedang memukuli bantalnya karena merasa malu.” sindir Lucy sembari tersenyum gemas. Niatnya dia ingin mengejeknya, namun kenyataannya Lucy hanya ingin melihat tingkah Sir Emillo ketika malu akan seperti apa, dan..
Pssh..
Hoho~ kulit putihnya benar-benar membantu, lihat wajahnya memerah padam seperti kentang- eh udah rebus. Raut wajagnya seolah bertanya-tanya ‘Kenapa anda bisa tahu?’ ya.. tentu aku tahu itu karena kami membuat sapu tangannya bersama!
Ffftttt—HAhahaha!
Jika ketika sedikit mengintip kilas balik dari Tuan Ksatria Putih itu, sebenarnya Flona memberikan sapu tangannya ketika mereka masih berada di istana Cathalia. Karena Flona yang tidak ikut bertugas hanya bisa menunggu di istana Putri. Namun diluar dugaannya, hati Flona bergejolak melontarkan asmara ketika Pria itu menerima sapu tangannya dengan senyuman ramah yang menembus hati.
Dasar kalian ini, membuatku khawatir saja.
“Ekhem. Ternyata Lady Flona punya sisi yang imut ya.” dehemnya dibarengi pujian.
Lucy kini hanya menganga diiringi tatapan matanya yang membulat. Apa dia seseorang yang sedang menyamar sebagai Sir Emillo? Haduh— di—dia bercerita tentang Flona sambil tersenyum malu-malu? Benar, mau sebengis apapun julukannya, semuanya akan berubah ketika ia merasakan jatuh cinta.
Lucy tertawa kecil, ia merasa tidak sia-sia telah memberikan jalan kepada mereka dengan meninggalkan keduanya di festival abadi malam itu, hal sederhana yang ia lakukan saat itu ternyata membuat hubungan mereka semakin maju satu langkah dari sebelumnya.
Reygan yang terfokus pada kudanya kini hanya menggelengkan kepala ketika mendengar ocehan mereka yang asik dengan sendirinya. Kini Reygan menunggangi kuda dan pergi sembari melambaikan sapu tangannya diikuti pasukan yang lain dibelakangnya, sang gadis kini hanya bisa mengangguk sembari melihat punggung Pria itu yang semakin menjauh.
Rasanya hati Lucy terasa damai ketika di dekatnya, rasa cemas dan ketakutan karena merasa buntu atas perkataan Samantha sebelumnya benar-benar menghilang.
Karena mau bagaimanapun kenyataan ini, aku harus menerimanya dengan hati yang lapang. Tapi perasaan tersiksa apa ini..
Entah karena perasaan apa hati Lucy terasa sakit ketika melihat punggung Reygan yang semakin menjauh dari pandangannya ketika sedang menunggang kuda. Ia merasa seolah kepergiannya yang hangat itu takan pernah kembali lagi ke sisinya.
__ADS_1