Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 60 : Pedang Misterius


__ADS_3

Awalnya ketika melihat sebuah kaki besar yang melayang di atas, ia hanya berkeluh kesah sembari berkata ‘Apa lagi ini?’


Masa aku mati disituasi yang bahkan tidak pernah ada di buku?! Ah jarakku sekarang terlalu dekat dengannya.. sepertinya dia marah karena sebelumnya aku ingin menaklukannya— sampai-sampai ingin menginjakku—(?)


APA?! AH..


Sesaat wajah mungilnya terpaku ketika lama kelamaan telapak kaki monster itu semakin mendekat mendekati ujung hidungnya. Ia tertawa sinis, sepertinya kali ini Lucy tengah meratapi nasib dan mungkin saja sedang mengikhlaskan nafas terakhirnya dengan mendongakkan wajah ke atas agar dapat memandangi pemandangan langit yang cerah untuk terakhir kalinya.


Sayang sekali, aku tidak melihat hal seperti itu bahkan ketika nyawaku berada di ujung tanduk. Kenapa saat ini aku hanya bisa melihat sosok kaki berbulu berukuran besar yang siap menginjak tubuhku sampai mati sih?


Bahkan dewa tidak mengizinkan diriku untuk meninggal dengan damai.


“Kesalahan ini bermula dari mana ya? Pijakannya saat ini memang terasa lambat, tapi aku merasa bahwa itu memang cara yang monster itu lakukan untuk menyiksaku...” gumamnya diiringi tatapan nanar.


Mungkin yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah pasrah. Setidaknya, aku sudah berusaha melawan dan menahannya kan? Aku tidak terlalu pasrah ketika menghadapi maut yang ada di depan mata kan.. tapi..


“Jika begini, menunggu kematian di bakar hidup-hidup bukankah lebih baik ketimpang mati cepat karena diinjak badak bodoh kan?!” teriaknya diiringi tangkisan barrier yang ia buat secara mendadak.


Mungkin ini adalah pertahanan terakhir kalinya yang bisa ia kerahkan, jujur saja ia kesal bahwa dua cara kematiannya benar-benar tidak ada yang bagus, mau dibakar atau diinjak— semua itu sama buruknya!


“Aku tidak mau mati— ugh!” Lucy meringis ketika Calrhintis kini menekan injakannya yang hampir dekat dengan ujung rambutnya.


Tidak pernah ada yang berharap bahwa kematian mereka akan tiba dengan cara yang menyakitkan, mungkin ada bagi beberapa orang yang lelah dan menyerah akan hidupnya sendiri.


Tapi aku tidak bisa..


Aku hampir menyerah dengan berniat meminun racun dikehidupan sebelumnya..

__ADS_1


Tapi seseorang pernah berkata kepadaku, masa depan yang cerah ada ditanganku. Dan hanya aku yang bisa mewujudkannya sendirian..


Mau di kehidupan Lucy, ataupun jati diriku sebagai Raflesa.. aku hanya berharap dapat mewujudkan hal yang hanya akan membahagiakan diriku untuk kedepannya!


Aku tidak mau terluka maupun melukai, tapi kenapa seseorang berusaha berusaha mematahkan tekadku sampai seperti ini sih?


Tapi.. apa kalian pernah mempercaya hal ini? Jika tokoh utama wanita mendapatkan kondisi yang genting, maka dengan ajaibnya tokoh utama Pria laksana pangeran berkuda putih akan muncul secara ajaib untuk menyelamatkan nyawa kekasihnya. Sayang sekali, jangan berharap bahwa Reygan akan muncul untuk menyelamatkan nyawa Lucy di kondisi seperti ini, seperti kisah romansa ada umumnya.


Namun entah berkat ataupun berkah, pedang sihir yang memantulkan cahaya putih dari puncak kepalanya kini muncul untuk menusuk ujung telapak kaki Calrhintis hingga meraung dengan kencang.


Monster berukuran besar yang awalnya ingin menginjak tubuh Lucy naasnya kini malah tertancap pedang suci dengan aliran sihir pemurni yang begitu menyeruak.


Tunggu— dari mana munculnya pedang itu?


Aku tidak main-main.. tapi kekuatan yang terkandung dalam pedang ini benar-benar kuat!


“Nona!” jerit mereka yang berusaha membantu Lucy untuk segera bangkit.


Anehnya wajah Federica kelihatan panik, tunggu..sepertinya semua orang memasang air wajah yang sama.


Tapi—


Tidak! Pedangnya terlepas dari tanganku—


Eh?


Sesaat semua orang mematung, walaupun tangan Federica kini sibuk untuk membantu Lucy yang sepertinya mengalami patah pulang. Namun tatapan mereka benar-benar seperti melihat sesuatu yang sulit untuk di percaya.

__ADS_1


Walaupun tidak ada Yang Mulia Ratu karena telah pulang lebih awal diikuti para ksatria, suasana saat ini terkesan sunyi. Bagaikan dongeng yang diceritakan seorang Ibu kepada Putrinya yang masih kecil. Pedang bercahaya putih yang menancap di kaki monster itu kini kembali ke tangannya seolah ia memang telah menemukan tuan sang pemiliknya.


“Loh.. dia kembali?” bingungnya sembari mengusap aliran darah yang mengalir di ujung bibirnya.


Nyonya Theyril saat ini hanya bisa mematung ketika mendapati pemandangan yang mengejutkan seperti ini, bahkan kereta kuda yang berhasil memasuki hutan dimana ini merupakan tempat peristirahatan itu di biarkan begitu saja, seolah berdiam di tempat ini jauh lebih menarik ketimbang berbalik dan pulang ke rumahnya.


“Tyson Rose?” cela Federica diikuti nada bicaranya yang terasa membingungkan.


Hah? Tyson—Rose? Sebutan yang tidak familiar tapi— akuu merasa bahwa ini adalah hal yang familiar. Apa itu merupakan nama dari pedang ini? Kenapa ada pedang cantik seperti ini yang tiba-tiba muncul di kepala ku ya?


“Anu— apa ini pedang sihir milik Nyonya Theyril? Anda kan sedang hamil.. seharusnya Nyonya kembali tanpa perlu membantu saya..” ucapnya di iringi perasaan tak enak hati, mungkin karena Sylvhia adalah satu-satunya penyihir yang ikut serta di acara ini, bisa sja ia mengeluarkan banyak sihir dan kekuatannya untuk membantu Lucy.


Dan aku yang tahu diri sudah sepantasnya mengucap kata terimakasih kepada seseorang yang telah membantuku.


Tiba-tiba wajah perempuan itu terlihat berkeringat, diiringi gelengan kepalanya yang mendadak, ia menjawab. “Semua orang disini pun melihat bahwa pedang itu muncul di tubuh Nona..” ujarnya yang membuat Lucy berpikiran hebat.


Tampaknya Sylvhia Theyril merupakan seseorang yang sangat baik hingga tidak berniat mengakui usaha yang tidak pernah ia lakukan, namun bagi seorang Lucy, ia mengakui bahwa jawaban yang ia dengar darinya merupakan kesimpulan yang tidak masuk akal sama sekali. Tapi untuk saat ini, itu bukanlah hal yang penting.


Netra coklat bersemu kebiruannya kini melirik ke earah para ksatria yang mulai berantusias untuk menyergap dan menahan monster itu di sela dirinya yang terkapar tak berdaya. Memang tidak sampai sebegitunya sih, hanya saja yang jelas pedang ini merupakan pedang sihir yang memuat kekuatan magic yang sangat besar ketika di sentuh.


Yang terpikirkan olehnya, “Mau milik siapapun pedang ini, aku pinjam dulu ya!” ujarnya diiringi raut wajah yang teramat serius.


Benar, bagi Lucy untuk saat kni sebaiknya meminjam Tyson Rose untuk menyelesaikan suatu hal, yaitu menyelesaikan sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi pada buku novel berjudul ‘Akulah Pemanangnya.’


Selamat tinggal Calrhintis, dan maafkan aku.


__ADS_1


__ADS_2