Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 82 : Kuil Suci (III)


__ADS_3

Pada dasarnya itu memang terdengar romantis, namun disaat yang bersamaan entah kenapa rasanya terasa mengerikan. Jika sebelumnya Reygan datang ke tempat ini, apa yang ia pikirkan ya ketika melihat lukisan potret yang seperti sosoknya dan juga sosok tunangannya di galeri Morticia? Apakah perasaan yang ia tunjukan merupakan perasaan terpukau seperti yang Lucy tunjukan sebelumnua? Ataukah, malah sebaliknya?


Perasaan yang tidak dapat menerima kenyataan?


Tentu, untuk menembus hati seseorang bukanlah suatu hal yang mudah, selain Reygan sendiri.. siapapun tidak ada yang tahu dengan apa yang Pria itu pikirkan setelah melihat lukisannya.


Tapi, setelah ditelaah sampai kedasar pemikiran yang terdalam, tampaknya perubaan sikap Reygan yang sulit untuk menemui Lucy juga raut wajahnya yang terlihat tidak begitu nyaman setiap kali membicarakan masa lalu Lucy, mungkin saja karena ada hubungannya dengan tempat ini.


“Kupikir.. Rey tidak begitu nyaman karena telah melihat lukisan pernikahan Cesarre dan Morticia..” gumam sang gadis dibenaknya.


Walaupun begitu.. sosok Cesarre yang kuliat di mimpi, ia tergambar dengn perasaan hangatnya yang melimpan penuh akan cinta dan kasih sayang diwajahnya. Namun apa yang kulihat dibeberapa lukisan potretnya..


Entah kenapa Cesarre yang terlihat di lukisan ini terasa dingin..


Sosoknya seperti seseorang yang diam dan membiarkan tunangannya mati termakan apai.


Deg..


Ugh..


Ti—tidak mungkin..


“Jika ini sungguhan.. tidak..” Walaupun tidak ada jam dinding disana, entah kenapa rasanya seperti terdebgan dentingan waktu di telinganya.


Wajahnya terlihat memucat seolah ia merasakan ketakutan akan satu hal, bulir-bulir keringat pun mengalir diwajahnya yang memucat, melihat perubahannya itu kini Gabriel merasa heran kepadanya.


“Lady, apa anda baik-baik saja? Anda seperti tidak enak badan..” lanturnya yang kini membuat sang gadis tersentak kaget.


“Saya baik-baik saja Tuan, tadi.. saya hanya teringat beberapa hal.” timpalnya yang terlihat seperti berdalih.


Sampailah kini di penghujung ruangan, ia mendapati Morticia yang kini tengah mengangkat Tyson Rosenya di balik lukisan besar. Disitu wajahnya terlihat berwibawa dengan pencaran kahrismanya yang luar biasa. Lalu dibawahnya, terdapat meja kecil yang tinggi dengan bantalan merah yang tersimpan diatasnya.

__ADS_1


Lalu di atas bantal merah itu, nampak sebuah batu yang begitu bercahaya dengan aliran sihir yang terasa amat kuat juga pancaran sinarnya yang berwarna keemasan. Tapi jika kita memperhatikannya lebih teliti, entah kenapa batu dengan tekanan sihir yang kat itu terasa lebih rapuh.


Apa ini.. dirimu.. Morticia?


Atau kau ingin aku menyebutkan nama aslimu, Lucia?


“Ini adalah Batu segel yang Suci. Batu yang sering dibicarakan, Lady.” ucapnya yang kini hanya menyisakan kehampaan di hati sang gadis.


Aku tahu.


Walaupun dikatakan Morticia adalah aku, tetap saja.. aku merasa kami berdua adalah dua orang yang berbeda.


Morticia berkata, ia akan terlahir kembali dengan rupa yang hampir mirip dengannya. Tapi wajah kami benar-benar persis seperti pinang yang dibelah dua.


Walaupun begitu, kesan tentang kami tentu saja terasa perbedaannya..


Lihatlah, wanita yang digambarkan pada lukisan itu terlihat tidak ragu untuk mengangkat tongkat sihirnya dengan tinggi. Berbeda sekali dengannya yang teramat penakut. Yah.. walaupun pada akhirnya Lucy dapat melalui semua cobaannya dengan gagah berani. Namun satu hal yang terasa mengecewakan untuknya..


“Lady. Saya rasa kualifikasi anda sudah cukup. Anda memang reinkarnasi dari Penyihir Morticia.” tuturnya yang tiba-tiba.


Entah kenapa reaksi perempuan itu terasa tidak biasa, disamping keningnya yang berkerut ia terlihat menanyakan satu hak yang terasa membingungkan untuknya. “Lulus kualifikasi?” tanyanya bernada kebingungan.


“Seperti yang saya katakana sebelumnya, tempat ini telah lama di lupakan, namun setelah tempat ini dibersihkan kembali berkat kedatangan Yang Mulia. Setengahnya dari para penghuni Kuil Suci yang pernah bertemu dengan anda di acara resmi Kerajaan, mereka berkata bahwa wajah anda memang benar-benar mirip dengan seseorang yang terlukis pada ruangan ini.” ungkapnya dengan beberapa kebenaran yang baru ia dengar hari ini.


Mungkin jika seorang pendeta yang pernah mengobatinya dua tahun yang lalu, itu ada benarnya. Karena mereka pernah bersinggungan di acara perburuan dua tahun yang lalu. Lalu, Lucy memang tidak begitu sering mengunjungi kuil suci, jadi kemungkinan mereka untuk bertemu sangatlah tips. Terkecuali jika beberapa acara resmi yang mengundang mereka pada satu tempat yang sama.


“Itu benar.” timpalnya singkat.


“Awalnya kami tidak begitu mempercayainya.. tapi setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri.. anda dengan warna mata yang baru, memanglah Morticia yang kami tunggu selama ini.” lanjutnya yang terlihat mengungkap rasa syukur akan kehadirannya sejak lama. Walaupun begitu, rasanya Gabriel menjelaskan seolah tidak menjawab semua pertanyaannya sama sekali.


“Saya mengerti soal itu.” timpal perempuan itu dengan tatapan yang aneh.

__ADS_1


Entah kenapa, dia berbicara seolah wasiat Morticia merupakan bualan kecil. Apakah mereka mengabaikan wahyu Dewa? Bukankah Dewa telah menurunkannya lewat oracle bahwa akan terlahirnya kembali, sosok penyelamat dan juga penghancur di kerajaan ini?


Kalian sudah tahu pasti kan, jika sosok penghancur itu merupakan Iris, lalu sapakah wanita penyelamat yang diramalkan leeat oracle suci itu?


Tentunya itu adalah aku. Wanita yang sudah lama mati dan kini bereinkarnasi kembali lewat rahim manusia. Seperti harapan kecilnya, Lucia kini dapat hidup menjadi manusia biasa dan meninggal disaat usianya yang sudah tua.


Ya.. saat ini, penyihir yang abadi itu telah mendapatkan keinginan kecilnya untuk hidup menjadi manusia seutuhnya, walaupun ia tetaplah seorang penyihir.


“Jika diperhatikan juga, Lady sangat mirip secara identik dengannya, lalu jika diingat dari kata-kata terakhir beliau, sosok reinkarnasi dari beliau memiliki netra yang jernih seperti permata safir yang jarang ditemui di kerajaan ini. Lalu rambutnya yang berwarna emas terlihat lebih mencolok dari pada Lady bangsawan pada umumnya.” ujarnya yang kini mengatsksn spesifikasi antara Lucy dan Lucia dengan serius.


“Kemudian yang menjadi bukti terkuatnya ialah Tyson Rose melegenda yang selalu dibawa oleh beliau ke medan perang. Mohon maaf, sebagai pernyataan yang terakhir. Bisakah anda menunjukannya sekarang?” pintanya dengan nada bicaranya yang hati-hati, memang mungkin ini akan menjadi ujian terakhir dimana ia benar-benar seorang reinkarnasi dari Morticia atau bukan.


Jika ia bisa menunjukannya tongkat sihir itu saat ini juga, maka ia akan lolos seleksi dan ditetapkan sebagsi kelahiran Morticia yang baru. Jika ia tidak dapat menunjukannya dengan bertingkah gegabah, mungkin gadis itu juga hidupnya hanya akan berakhir di panggung pengeksekusian dan dibakar hidup-hidup sampai mati atas tuduhan penyamarannya yang luar biasa.


Walaupun tegang, tapi aku bisa melakukannya..


Walaupun ini sulit diterima, tapi aku akan mengakuinya dengan percaya diri..


Jika ini merupakan jalan pertahanan hidupku yang tidak dapat dihindari, aku akan mengakuinya dengan senang hati..


Bahwa kehidupan pertamaku adalah 𝐌𝐨𝐫𝐭𝐢𝐜𝐢𝐚 𝐝𝐞 𝐋𝐚𝐦𝐨𝐫𝐫𝐢𝐞 𝐓𝐢𝐜𝐲𝐚 yang kini bereinkarnasi 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐋𝐮𝐜𝐲 𝐅𝐥𝐞𝐮𝐫 𝐁𝐚𝐫𝐚𝐲𝐞𝐯 dan mengulang kehidupannya untuk yang kedua kalinya..


Sekaligus 𝐑𝐚𝐟𝐥𝐞𝐬𝐚 𝐀𝐧𝐠𝐞𝐥𝐢𝐜𝐚, gadis desa yang hidup menderita di masa depan nanti..



𝐇𝐚𝐢 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧-𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧, 𝐚𝐤𝐮 𝐮𝐜𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥𝐤𝐮 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐤𝐞 𝐝𝐞𝐭𝐢𝐤 𝐢𝐧𝐢 ❤ 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐭 𝐝𝐮𝐤𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐠𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐚𝐛𝐬𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐚𝐤𝐮 𝐯𝐨𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐜𝐡𝐚𝐩𝐭𝐞𝐫𝐧𝐲𝐚, 𝐚𝐤𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐜𝐡𝐚𝐩𝐭𝐞𝐫 𝐛𝐚𝐫𝐮𝐧𝐲𝐚 🤗


𝐓𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤, 𝐝𝐮𝐤𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧𝐧 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐛𝐮𝐚𝐭𝐤𝐮, 𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧𝐧 𝐑𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐤𝐮 🥰


...❁ 𝐇𝐞𝐫𝐧𝐚𝐫𝐚 ❁...

__ADS_1


__ADS_2