
Jika diingat lagi pada kilas balik sebelumnya, sebenarnya rencana Lucy yang sebenarnya ialah pergi ke toko antik tanpa adanya pengawasan. Ada banyak yang ingin ditanyakan olehnya kepada seorang penyihir misterius yang tinggal di tempat itu. Namun jika ia membawa seseorang bersamanya, itu hanya akan membuat penyihir aneh itu bersembunyi dan enggan untuk menampakan diri.
Jadi, rencana ini semakin sempurna bersamaan dirinya yang ingin menjodohkan pasangan baru, yakni Flona dan Sir Emillo. Seharusnya hal ini kelihatan natural, namun yang terpenting untuknya ialah,
“Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui!” serunya yang di penuhi rasa semangat.
Usai melakukan teleportasi sihir, gadis itu kini menapakkan kakinya di ubin lantai yang tidak asing. Teleportasinya berhasil, kini ia berpindah tempat ketempat yang diinginkannya yaitu toko antik yang bersembunyi jauh dari sekitar pasar tradisional di ibu kota.
“Tapi— apa tidak masalah jika masuk tanpa permisi melewati pintu?” gumamnya yang sedikit terkejut ketika ia mendarat langsung di dalam ruangan.
“Tidak buruk juga Nona.” ujaran seorang wanita dengan nada bicaranya yang terdengar aneh.
Dilirik ke arah sumber suara, disana berdiri seorang wanita dengan rambut peraknya yang menjuntai ke lantai, bersamaan netranya yang berkillau seperti permata ruby. Ia merasa tidak asing dengannya, tunggu—
“Jadi anda memang seorang wanita ya?!” kagetnya bukan main. Sebelumnya Lucy dan Reygan berseteru di tempat ini bahwa penyihir yang ia temui adalah seorang Pria, namun dengan mencurigakannya Reygan mengelak bahwa penyihir itu memang wanita!
“Haha~ menurut Nona bagaimana?” tanya wanita itu dengan wajah mengintimidasi. Terlepas dari itu semua..
Untuk apa anda tertawa?!
Suasa saat ini cukup aneh, dengan segera ia memperhatikan perempuan itu dengan lekat. “Anda seorang penyihir kan? Tapi bagaimana bisa anda tinggal di tempat seperti ini dan bukan berada di menara penyihir?!” gerutunya yang merasa aneh, terlebih ini mencurigakan.
Apa anda antek-antek dari penyihir kegelapan?!
“Sembarangan!” timpal wanita itu dengan tatapannya yang kesal.
“Euh?” dia tampak melongo aneh.
Sebelumnya.. dia bisa mendengar isi hatiku?
“Benar, jadi kurang lebih saya sudah tahu semua tentang isi kepala Nona.” tukasnya yang kini beranjak untuk menghampirinya.
__ADS_1
“Kyaa! Uhm tidak deh, aku sudah cukup aneh dengan menganggap dunia ini nyata, tapi tampaknya lebih banyak hal aneh yang berkeliaran di tempat seperti ini.
Sekarang apa lagi? Ada sesosok Mahkluk yang bisa membaca isi pikiran?”
Tak ada hentinya Lucy menggerutu ketika mendapati hal aneh yang kini membuatnya tidak bisa merasa kaget lagi. Lantas wanita penyihir itu kini terdiam menatapnya dengan tatapan murka.
“Baik, maafkan saya Tuan Penyihir. Hal ini hanya cukup sulit untuk saya terima. Jika begini, perkenalkan.. nama saya Lucy Fleur Barayev. Seperti yang anda lihat, saya tunangan dari Putra Mahkota.” Gadis itu memperkenalkan dirinya dibarengi salam etiket yang baik.
Akan gawat jika ia membuat seorang penyihir menyimpan dendam kepadanya, maka yang ia lakukan hanyalah bersikap sopan dan hormat kepadanya, namun yang ia terima saat ini hanyalah gelak tawa yang pecah darinya.
“Apa itu?!” tanya gadis itu sebal. Sang wanita penyihir itu hanya tersenyum kecil di dekatnya.
“Tidak perlu di jelaskan, saya sudah tahu kok~” lirih wanita bersurai perak itu.
“Tapi benar, saat pertemuan pertama pun.. anda seperti sudah mengenal saya dengan baik.” ucapnya dengan kerutan kecil di dahinya.
Prok!
Satu tepukan tangan kini telah memecah kesunyian, diiringi senyuman aneh wanita itu menggenggam pergelangan tangan Lucy sembari berkata, “Maaf ya.” tuturnya diiringi jentikan jari.
“Ini seperti ruangan yang sudah di tinggali dalam waktu yang lama.” tuturnya secara terang-terangan, karena jika ia mengatakan ini di dalam hati, yang ada ia hanya akan mendapatkan cemoohan lagi darinya.
“Benar, saya rasa perbincangan kita akan menjadi sangat penting, jadi alangkah baiknya jika kita berbicara di ruang bawah tanah.” ujarnya yang kini menuntun gadis itu untuk segera duduk di sebuah kursi.
Tak lama kemudian ia beranjak ke arah tempat memasak, atau bisa disebut dapur? Ia mengambil sebuah teko dan dua gelas yang ia simpan di atas nampan. Wanita itu kini menyuguhi teh hangat teruntuk Lucy di atas meja.
“Baiklah, maafkan atas ketidak sopanan saya. Perkenalkan, nama saya Samantha Amillie.” Wanita itu kini memperkenalkan dirinya sembari duduk di kursi depannya. Lucy nampak kikuk ketika mendengarnya.
“Jadi anda memang wanita..” lirihnya lagi yang entahh kenapa malah membuat perempuan di depannya menatap jengkel.
“Ugh.. baik-baik! Ini salah saya karena tidak memberitahu anda. Wujud saya memang seorang wanita, saya hanya mencoba dengan sihir untuk berubah wujud seperti laki-laki, bisa dibilang saat itu saya hanya melakukan eksperimen kecil.” jelasnya yang kini diberikan anggukan kecil oleh Lucy.
__ADS_1
“Tapi- kenapa Yang Mulia bisa mengetahui ini ya?” tanya Lucy diiringi tatapan heran.
“Hum. Tidak tahu, kenapa anda bertanya kepada saya?” tanya balik Samantha.
Lucy hanya mendelik sebal ketika mendengar jawaban itu, tak lama kemudian ia menarik secangkir teh hangat untuk segera ia minum. Aneh memang, bagaimana bisa seorang calon Ratu meminum minuman sembarangan seperti ini, bagaimana jika minuman itu mengandung racun mematikan? Namun hati kecilnya hanya bisa berkata bahwa ia bisa mempercayai wanita penyihir itu.
“Tempat ini merupakan bawah tanah yang saya tinggali, karena toko saya di buka di atas sana. Saya juga sebelumnya seorang penyihir menara, tapi saya tidak suka hidup dan bekerja terkurung seperti itu, jadi saya melarikan diri dan juga mengasingkan diri~” jelasnya diiringi senyuman merekah.
Dia menceritakan hal suram dengan wajah bahagia begitu, Lucy hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Jadi, apa yang ingin Nona ketahui dari saya?” tuturnya yang kini terdengar tegas, wajahnya menatap dengan tatapan serius. Atmosfer ruangan ini rasanya telah berganti, Lucy rasa bahwa Samantha kini tidak bermain-main lagi dengan ucapannya.
“Terkait jiwa, kenapa anda mengatakan bahwa jiwa saya sama? Saya tidak mengerti apa maksud perkataan anda, tapi apakah ini ada hubungannya dengan asal-usul saya?” tanya gadis itu yang mencoba mengetes bahwa perempuan itu benar-benar mengenalinya atau tidak.
“Hm. Langsung ke intinya ya, baiklah.” sahutnya yang kini meletakkan cangkir itu di atas meja.
Ditatap dengan saksama, warna matanya yang seperti permata ruby itu kini menyala. “Saya mencium sesuatu yang asing dan berbeda dari raga anda, tapi saya merasa bahwa jiwa itu masih sama.” jelasnya yang hanya membuat perempuan itu kebingungan.
“Saya tidak mengerti, apa maksudnya saya adalah orang yang asing di dunia ini?” tanya gadis itu terheran-heran.
Penyihir itu hanya bisa menghela nafas, kenapa ia menanyakan sesuatu yang sudah pasti?
“Anda memang orang asing kan.” tanyanya dengan tatapan tajam.
Deg..
Tatapan wanita itu terasa begitu menekan, ia merasa bahwa wibawanya sebagai penyihir bukan main-main. “Jadi, saya adalah orang asing yang memiliki jiwa yang sama dengan raga dari tubuh ini? Tapi itu tidak mungkin.” asumsinya yang diiringi gelengan tak setuju.
Mana bisa ada kesimpulan seperti ini, rupanya dia hanya bercanda saja. Batinnya yang tidak terima kini membangkitkan diri dari kursi, ia rasa sia-sia datang kemari hanya untuk mendengar omong kosong tak jelas.
Namun sepatah kalimat yang Samantha lontarkan, kini cukup untuk membuat langkahnya terhenti dan menoleh kembali kepadanya.
__ADS_1
“Saya merasakan gejolak energi sihir saya dari tubuh Nona, sepertinya.. seseorang meminta saya untuk memutar waktu demi Nona.”