
Wajahnya tampak panik, sepertinya selama masa pemulihannya berlangsung. Lucy tidak pernah mencoba memanggil Tyson Rose untuk yang kedua kalinya, bahkan ia juga tidak pernah berlatih dengan sihirnya karena larangan ke khawatiran mereka yang mengharapkan kesembuhan Lucy terlebih dahulu secara total.
Padahal aku akan lebih baik jika bisa menggunakan sihir penyembuhan ku sendiiri..
Sudahlah.. jadi,
Tyson Rose ya? Saat itu.. aku rasa ia keluar karena ada pemicunya. Tampaknya karena kondisiku yang genting dan hampir mati membuat sebagian kekuatanku yang hilang kini terbangkitkan, dan itulah mengapa bahwa julukanku yang sebenarnya merupakan Reinkarnasi Penyihir Morticia.
Karena tongkat sihirnya yang dihiasi mawar biru teramat indetik dengan image Penyihir Morticia yang telah lama menghilang.
Jadi bagaimana caraku memanggilnya.. “Uhm sebentar Yang Mulia Ratu.” pintanya bernada canggung.
Dahi Pria itu tampak mengerut dengan ujung bibirnya yang terpaut kesal. “Sebaiknya jangan terlalu memaksakan Lucy.. anda kan baru saka pulih.” saran Pria itu dengan alunan nadanya yang terdengar khawatir bersamaan ujung jarinya hang menggenggam pergelangsn tangan Lucy dengan erat.
Deg..
“Ah— saya tidak masalah. Sepertinya ini bukanlah hal yang sulit.” tukasnya diiringi senyuman merekah yang mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Tak lama kemudian kedua matanya terpejam, satu tangannya kini terangkat dengan isi pikirannya yang membayangkan bahwa tongkat itu akan muncul di genggaman tangannya jika ia menginginkannya.
Bodo amat, pertama-tama bayangkan saja dulu bentuknya!
Dan..
Wuuushh…
Lho, beneran muncul?
Tongkat sihir berhiaskan mawar biru itu muncul di depan matanya sesuai dengan intruksi yang diperintahkan Lucy sebelumnya, jika memang melihatnya sampai seperti.. mungkin saja gadis itu memang benar-benar pemiliknya.
__ADS_1
“Wahh~ benar-benar pemandangan yang luar biasa. Ini suatu kehormatan bagi saya karena bisa menyaksikannya di depan mata kepala saya sendiri..” tuturnya dengan raut wajahnya yang terpukau bukan main.
“Yang Mulia terlalu berlebihan.. tidak sampai begitunya kok.” ucapnya yang berusaha merendah diri sembari mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi.
Sebagai etiket, ia hanya bisa menunjukan tongkat itu tanpa menyerahkannya agar siapapun orang yang bukan pemiliknya tidak dapat menyentuh tongkat itu sembarangan. Tentunya hal ini dimaklumi oleh mereka berdua karena jika Lucy menyerahkan tongkatnya secara sukarela, maka itu akan menyalahi etiket yang ada.
Iris ruby yang terpampang di sampingnya kini terlihat berkilauan ketika memperhatikan tongkat itu dengan lekat. Sudut bibirnya nampak terangkat menampilkan senyuman nanar di wajahnya.
“Karena pada saat itu saya tidak ada di tempat kejadian.. saya juga benar-benar baru melihatnya secara langsung seperti ini. Ternyata memang benar indah seindah rumor yang beredar di Ibu Kota.” komentarnya yang merasa bahwa Tyson Rose miliknya terlihat luar biasa.
Ini memang terlihat seperti tongkat sihir yang cantik. Namun tentunya tongkat ini merupakan sebilah pedang yang menyeramkan. Tentunya Tysosen Rose ini dapat berubah kapan pun selagi gadis itu menginginkannya.
Tapi walaupun ia terlihat ragu-ragu, tampaknya Wanita itu terlihat memberaniksn dirinya dengan menyeruaksn permintaan yang sulit untuk diterima. “Lady.. Apa anda bisa menunjukan sedikit sihir menggunakan Tyson Rose ini?” pinta Ratu Riana itu dengan tatapan matanya yang penuh harapnya.
Ugh.. sebenarnya ada apa dengan Ratu ini? dia seperti terobsesi dengan Morticia..
“Maaf Yang Mulia.. walaupun saya memang reinkarnasi dari Penyihir Morticia.. secara teknis kami bukanlah orang yang sama. Ingatan kami berbeda juga semua kekuatan yang dimiliki beliau belum saya kuasi semuanya.” tolaknya dengan sedikit penjelasan kecil yang tiba-tiba.
“Tidak masalah Yang Mulia. Hanya saja saya belum mempelajari kegunaan Tyson Rose itu seperti apa.. karena sehari-harinya saya hanya menjalani masa pemulihan saja. Jadi saya akan menunjukannya dilain waktu saja dimana saya telah menguasai semua kekuatan saya dengan baik.” tolaknya bersamaan berbagai alasan yang panjang lebar, secara logika pernyataan itu memang ada benarnya.
Tapi entahlah, sebenarnta apa yang aneh dari pernyataan Lucy yang sederhana itu? Yang jelas usai mendengar penjelasannya, suasana hati Pria itu terlihat aneh. Saat ini Reygan hanya terdiam mematung dengan senyuman nanarnya yang terpampang di faras tampannya.
Itu.. benar. Bagaimanapun kami adalah seseorang yang berbeda. Jadi jika hatimu memang hanya untuk Cesarre seorang..
Aku harus bagaimana Lucy?
....
“Yang Mulia?” panggil gadis itu tiba-tiba. Pria itu kini terlonjak kaget sembari menoleh kearahnys diiringi raut wajah yang terluhat tidak begitu nyaman.
__ADS_1
“Yang Mulia? Anda terlihat tidak baik-baik saja. Sedari tadi kami mengobrol.. tapi Yang Mulia hanya terdiam sambil melamun. Apa ada masalah?” tanya gadis itu dengan berbagai pertanyaan yang bertubi-tubi seolah menyiratkan rasa kekhawatirannya yang dalam.
“Benar, Putra Mahkota. Apa anda kelelahan? Sepertinya sebentar lagi juga hidangan utama malan malam ini akan segera tiba. Apa anda mau beristirahat lebih dulu?” tanya sang Ratu yang kini menawarkan peristirahatan untuk kondisi tubuh Pria itu yang terlihat tidak baik.
“Tidak, saya baik-baik saja. Terimakasih atas ke khawatiran Yang Mulia Ratu.. dan juga Lucy.” tolaknya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda bahwa ia tidak menyetujui perkataan sang Ratu.
Huft.. tapi anda tidak terlihat baik-baik saja..
Sepertinya anda memang tidak bisa mengatakan semua ke khawatiran anda ya..
Mereka pun kini hanya berbincang kecil berrsama-sama. Kala itu mereka membahas tentang pekerjaan Reygan yang membuatnya sibuk hingga memakan satu minggu penuh, hingga tak terasa waktu mengalir begitu saja dengan cepat.
Koki ternama yang bekerja di istana Ratu kini telah tiba diikuti para pelayan sembari membawakan beberapa hidangan dan menu makanan yang mewah untuk di santap mereka bersama-sama. Wajah Lucy yabg tertera kini berbinar-binar ketika sedikit sepiring steak kesukaannya yang dihias dengan mewah kini diantarkan kedepan mejanya.
Hatinya terasa meluap-luap dibanjiri perasaannya yang teramat senang. Sudah sejak lama aku tidak pernah memakannya lagi.. Wah— sungguhkah? Apa ini merupakan hari keberuntungan ku?
Baru saja potongan pertama dagingnya yang teriria dengan lembut itu akan segera memasuki mulutnya, namun tiba-tiba ia membeku dan menghentikan langkahnya ketika satu pikiran curiga terlintas dibenaknya.
Tunggu— ini tidak ada racunnya kan?
Y-yah setidaknya tampang ramah dari Yang Mulia Ratu tunjukkan setidaknya..membuatku sedikit memercayaiya. Masa bodoh soal racun..
Sekalipun aku memakan racun.. aku bisa menetralisirnya sendiri kan... lalu—
Hup.
Satu suapan kini meleleh dimulutnya, hidangan itu benar-benar terasa lezat dengan variatif bumbu yang ditakar dengan tepat. “Ini rasanya sangat luar biasa, Yang Mulia. Koki di istana Yang Mulia memang sangat andal.” puji sang gadis dengan tatapan sumringahnya.
Yah dimata orang, Steak mungkin tidak begitu aneh didengar. Tapi bagi seorang Raflesa.. ini benar-benar hal yang luar biasa karena sejak bisnis ayahnya bangkrut, gadis itu hanya hidup menderita dengan ekonomi finansialnya yang miskin.
__ADS_1