Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 28 : Teman Lama


__ADS_3

Acara-demi acara berlanjut sebagaimana mestinya, walau acara itu sedikit memanas dengan pertikaian kecil. Ada yang menganggap Lucy memang sengaja memperkeruh suasana, dan ada juga yang berpikir bahwa Sheyra yang memulai keributan dari awal.


Pesta secara resmi dimulai diiringi para pemain orketrsa yang memainkan lantunan musik dengan merdunya. Acara ini di lanjutkan dengan dansa pertama sang tokoh utama di pesta, yaitu Sheyra bersama pasangan dansanya, Putra Mahkota.


...»«...


‘Tunggu... tunggu.’


‘Kenapa bisa jadi begini?’ tanyanya dengan tangan yang terkepal keras.


Kita ingat kembali beberapa menit sebelumnya, Sheyra tidak menyerah dengan segala usahanya, ketika sapaan selesai diiringi pidato kecil dari tokoh utama. Acara berlanjut dengan melakukan dansa pertamanya, sudah sepatutnya dansa pertama sang gadis di lakukan dengan ayahnya yang menandakan bahwa ini dansa terakhir mereka, karna kedepannya dan seterusnya, tarian mereka akan dilakukan bersama tunangannya.


Tapi kenyataan tidak seperti itu.yang ada, Sheyra malah berdansa bersamanya, memang tidak ada masalah jika kita tidak mengikuti tradisi, tapi apa maksudnya dari pemandangan ini?


Lucy ingin menghentikan mereka, tetapi Lady bangsawan sedari tadi mengerubuni dirinya. Selain itu, alasan mereka berjarak cukup jauh karna Putra Mahkota sedari tadi tengah berbincang dengan beberapa bangsawan lainnya.


Melihat statusnya yang tinggi, tentu saja para bangsawan tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk menyapa Putra Mahkota. Hal yang mengesalkannya ketika Sheyra berjalan menghampirinya dan mengulurkan tangannya untuk mengajaknya berdansa di depan para bangsawan.


“Yang Mulia!” panggilnya yang malah tidak di dengarkan oleh pria itu. Ketika Reygan tersenyum dan menerima uluran tangan Sheyra, Sheyra hanya tersenyum puas sembari menatap kearahnya. Tatapannya seolah mengatakan ‘Aku pemenangnya.’


Disisi lain Lucy nampak mengebu kesal melihat tatapan Putra Mahkota yang sedalam itu ketika menatap perempuan lain, ‘Kenapa anda tersenyum seperti itu kepadanya? Anda tidak mendengar ucapan saya?’ tanyanya yang benar-benar tidak mengerti.


‘Padahal anda bilang hanya ingin berdansa dengan saya, tetapi anda malah berdansa dengan kelihatan bahagi-‘ tuturnya kini terhenti ketika melihat iris ruby itu dari kejauhan.


‘Dia tidak terlihat bahagia.’


lanjutnya dengan tatapan yang sayu.


‘Lagi pula, mata itu terlihat lagi. Apa dapat kuyakini jika tindakan Yang Mulia saat ini bukanlah keinginannya? Lantas apa alasannya?’ tanyanya yang mulai merasa ketakutan.


Melihat mereka yang menari dengan indahnya membuat tubuh Lucy merinding, bahunya nampak bergetar, ia meyakini dirinya tidaklah cemburu ketika melihat pemandangan mereka.


Akan tetapi ia hanya merasa takut, ‘Bagaimana kalau perasaan Yang Mulia semakin dalam kepadanya?’ gemercik suara hatinya yang merasa takut.


‘Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau ma—’


“Nona!”


“Ehh?” Sentakan seseorang membuatnya tersadar dari lamunannya yang mengerikan., kepalanya kini terangkat memperhatikan para Lady yang tengah menatapnya dengan raut wajah khawatir (?)


“Anda baik-baik saja?” tanyanya yang bingung ketika Lucy terlihat melamun dengan wajah yang pucat pasi.


“Saya baik-baik saja, sepertinya saya agak kelelahan.” tukasnya dengan lengkungan senyuman yang ramah.


‘Benar ya, saya kan tengah berbincang dengan Nyonya Theiryl.’ Ucapnya yang teringat tiba-tiba.


Nyonya Theiryl tampak menatapnya dengan tatapan khawatir jika di lihat dari raut wajahnya, ia merasa perasaan perempuan itu terasa tulus untuknya.


“Sebaiknya kalian segera bubar, biarkan Nona beristirahat sebentar.” pintanya kepada Lady yang lain, dan tersisalah mereka berdua saat ini.


Anehnya para lady yang lain terlihat menatapnya tak suka. Lebih tepatnya mereka menatap Nyonya Theyril dengan tatapan iri dan kesal.


Marchionest Theiryl kini menggandeng Lucy untuk membantunya pergi dari kerumunan bangsawan, mereka berjalan kearah sofa yang disediakan disana.


“Anda tidak takut?” tanya Lucy heran. ‘


Tampaknya dia mengerti dengan raut wajahku yang terlihat tidak nyaman. Dia ini Nyonya muda Theiryl yang itu kan?’ pikirnya tiba-tiba.

__ADS_1


“Kepada Nona?” tanyanya yang malah kelihatan bingung.


“Eng— bangsawan kan banyak berbicara tentang saya.” tuturnya yang malah kelihatan kikuk.


“Itu sih.. em saya juga orangnya tidak percaya rumor. Tapi yang saya dengar tentang Nona disekitar saya hanyalah hal-hal yang baik saja,” jawabnya yang entah hanya ingin menenangkan perasaannya atau emang berniat mencari perhatian.


“Nyonya muda terlalu menyanjung saya.” lirihnya diiringi tawaan kecil, Lucy nampak menduduki sofa dengan nyaman.


“Tidak kok! Anda memang mengagumkan!” tuturnya benar-benar bersemangat.


“Haa??”


Krik..


Krik..


Lucy nampak sedikit tercengang. Padahal dia seorang Marchionest, tapi sikapnya lumayan mirip seorang anak kecil. Mau bagaimanapun umur mereka tidak begitu jauh, dan Silvhia Theiryl tampaknya telah menikah diusia muda. Sikapnya yang tiba-tiba ini membuatnya bingung.


Tapi, “Terimakasih.” jawabnya dengan senyuman tulus. Ia merasa berterimakasih kepadanya yang telah menjauhkan dirinya dari kerumunan itu.


Matanya kini terpatri memandangi mereka, ia berpikir biarkan saja mereka berdansa sepuasnya, Lucy hanya ingin diam seperti ini saja, lagi pula ia tidak ingin berdansa dengan bangsawan Pria yang lainnya.


Matanya kini menunduk dengan perasaan sendu, ‘Padahal saya ingin menunjukan kemampuan berdansa ini untuk anda. Tapi anda malah berdansa dengan perempuan lain, terlebih kenapa harus Sheyra…’ sedihnya dalam hati.


Padahal ia sudah berlatih mati-matian bahkan hingga kakinya terluka ketika memaksakan diri untuk menari dengan sepatunya yang memiliki hak tinggi.


‘Nona kelihatan sedih lagi..’ lirih gadis dengan surai merah muda itu.


“Saya akan membawakan minuman dan cemilan, tunggu sebentar ya!” pintanya sembari membalikkan badan.


Namun dengan segera ia mencekal pergelangan tangannya.


“Padahal ingatan yang kita miliki tidak buruk, tapi rumor ingatan Nona hilang sejak lama itu benar ya?” tanya perempuan itu tiba-tiba. Tatapan matanya kini terlihat sedih ketika menatap netra coklatnya.


“Saya Silvhia, teman dekat anda ketika di akademi. Kita satu angkatan, Nona Lucy.” ungkapnya dengan senyuman tulus, ia terlihat rindu karena telah lama berpisah.


‘Ah… Lucy punya teman?’


bingungnya ketika memahami situasi saat ini.


“Maafkan saya Nyonya—”


Grep!


Pergelangan tangan Lucy kini di cekal olehnya, gadis itu benar-benar terlihat putus asa, sedangkan disisi lain wajahnya terlihat senang ketika bisa berbincang dengannya setelah sekian lama. “Teman saya tidak pernah memanggil saya dengan sebutan itu, anda selalu memanggil saya dengan nama saya, Silvhia.” ucapnya dengan tegas.


Wajah Lucy sedikit berkerut, ‘Aku hanya tidak ingat tentang mu karna teman Lucy hanyalah Putra Mahkota.’ Pikirnya yang merasa benar-benar kebingungan.


Kepalanya kini sedikit berguncang hebat, ia merasa pusing. Di waktu yang bersamaan ingatannya muncul, ingatan tentang mereka yang tiba-tiba saja terlintas dikepalanya.


Tampaknya benar adanya bahwa Lucy dan Silvhia telah bertaman sejak mereka masuk ke akademi sihir, ia melihat ingatan manis dimana Lucy dan Silvhia yang tengah makan siang bersama ditemani tawa mereka yang pecah.


Mereka juga bercerita tentang percintaannya masing-masing, dimana Silvhia bercerita tentang seorang bangsawan yang katanya menyukai dirinya, ternyata pria itu adalah Theyril yang sekarang menjadi kepala keluarga Marquest di usianya yang terbilang muda.


‘Jadi anda tidak berbohong ya, tampaknya kalian juga telah menikah.’ ujarnya sembari menghela nafas.


Ia mengira bahwa nyonya Theiryl adalah orang yang mau bermacam-macam dengannya, ternyata tak disangka mereka adalah teman dekat.

__ADS_1


Tapi kini sebelah alisnya nampak naik pertanda tengah berpikir keras, “Jika anda teman saya, anda ada dimana saat kakak saya telah tiada?” tanyanya tanpa perasaan. Silvhia hanya menunduk dengan tatapan bersalah.


“Dua tahun yang lalu juga tahun-tahun sebelumnya saya hanyalah seorang rakyat biasa, tapi Nona dengan hangatnya mau berteman dengan saya yang dikucilkan di akademi. Saya yang seorang rakyat ini tidak bisa berkeliaran begitu saja di sisi Nona, hingga saya bisa berhadapan di depan anda saat ini karena tuan Theiryl baru melamar saya satu tahun yang lalu.” ungkapnya bernada sedih, kepalanya kini menunduk dengan rasa penyesalan karena tidak bisa berdiri dan mendukung Lucy disebelahnya.


“Hentikan! Anda saat ini seorang Marchionest, jangan mengatakan hal yang membuat orang salah paham begitu.” cekalnya sembari memegangi bahu Silvhia.


Jika mengikuti gelar saat ini, Lucy hanyalah putri Count dibandingkan dirinya yang seorang Marchionest.


“Ah itu—”


“Baiklah, maaf berkat Nyonya saya sekarang kembali mengingatnya.” lirihnya dengan kepala yang berputar.


‘Ini membuatku pusing.’


keluhnya diiringu ketibgat dingin yang mulai mengucur di dahinya.


Memang sangat mengejutkan untuknya, Lucy pikir mereka adalah teman antar bangsawan. Namun ternyata Silvhia hanyalah rakyat biasa yang berbakat di bidang sihir, ia bisa memasuki akademi sihir bangsawan juga karena mendapatkan beasiswa dari keluarga Marquess.


“Saya pikir, anda benar-benar marah. Karena sejak setahun yang lalu Nona selalu berjalan lurus tanpa menatap saya.” tuturnya dengan wajah menunduk.


‘Bisa-bisanya anda menunduk di depan Putri Count.’


batinnya yang merasa tak enak hati.


Sepertinya Silvhia tetap terkucilkan walaupun telah menjadi bangsawan, karna statusnya yang dulu merupakan seorang rakyat biasa.


“Sudahlah, ayo duduk,” pintanya yang merasa lelah.


Pada akhirnya kini mereka tampak mengobrol ringan dengan beberapa pelayan yang mengantarkan minuman dan cemilan. Mata Lucy kini kembali menatap lurus kearah bintang utama pesta ini, jika dilihat seperti ini mereka memang serasi.


Namun pada akhirnya ia terlihat menghela nafas dengan berat, ‘Dansa telah usai, apa Yang Mulia tidak ada niatan mengajak saya berdansa?’ tanya gadis itu yang kini hanya terdiam pasrah.


Jika seperti ini percuma saja dengan perdebatan yang ia lakukan bersama Sheyra sebelumnya. Tampaknya Silvhia juga merupakan salah satu orang yang selalu membelanya diantara para bangsawan tadi, ia sedikit terharu dibuatnya. Jika dipikirkan alasan para bangsawan menatapnya tak suka rupanya karena masalalu Silvhia.


“Apa anda akan membiarkan mereka begitu saja?!” serunya dengan raut wajah tak suka.


“Maksud anda Yang Mulia?” tanyanya bingung, gadis itu tampak memperhatikan Reygan yang malah asik berbincang dengan Sheyra diiringi para bangsawan yang lain. Seolah melupakan pertikaian yang tadi begitu saja.


“Aku tidak peduli, lagi pula jika aku menentang mereka lebih dari ini, maka aku hanya akan terlihat semakin menyedihkan,” ucapnya diiringi tawaan miris.


Kelopak mata perempuan itu terlihat memerah seperti ingin menangis. ‘Lagi-lagi raut wajahnya seperti itu.’ pikirnya yang benar-benar tidak mengerti dengan sikap Silvhia.


“Apa anda tidak cemburu? Anda kan mencintai Yang Mulia!” ujarnya yang merasa hal ini tidak adil.


‘Ha? Rupanya saat di akademi, Lucy menceritakan soal perasaannya ya, ini merepotkan.’ batinnya yang merasa tak begitu senang.


“Saya tahu bahwa kita teman baik, tapi sebaiknya jangan membicarakan hal yang terlalu dalam. Karna di tempat seperti ini, mata dan telinga mereka terpasang untuk memperhatikan kita.” bisiknya bernada tajam tepat di samping telinganya, ini bukan permintaan melainkan perintah.


Deg..


‘Kenapa saya benar-benar merasa bahwa Nona memang telah berubah sejak dulu?’ tanya Silvhia di dalam hati. Ia benar-benar merasa asing dengan aura Lady di depannya ini.


Raut wajahnya begitu kelihatan bahwa perempuan itu tampak terluka, Lucy hanya menghela nafas, ‘Aku bukannya mau bersikap kasar kepadamu, tapi tatapan lady yang lain membuatku merasa tak nyaman. Telinga mereka yang menguping bisa saja menciptakan rumor yang lain.’ tuturnya yang benar-benar hati-hati memperhatikan ke sekitar.


Dentingan hak sepatu yang semakin mendekat membuat kedua perempuan yang tengah bersantai itu mengalihkan pandangan kearahnya, seorang gadis dengan surai violetnya yang indah kini menghampiri mereka dengan tatapan tak biasa. “Saya tidak berniat ikut campur, akan tetapi Lady Barayev, sepertinya anda memang harus memberi wanita itu pelajaran.” sarannya tiba-tiba.


Ia adalah Federica Halstead, Putri Duke Halstead yang memegang posisi ketua dari perkumpulan Lady bangsawan kelas atas. Lucy nampak menatap wajahnya dengan waspada.

__ADS_1


‘Dengan niat apa untuk seorang Lady yang terpandang itu datang menghampiri saya?’



__ADS_2