Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 39 : Lucy menghilang


__ADS_3

Usai mencoba berbagai cemilan dan mengitari beberapa tempat, kini Lucy hanya duduk di bangku taman dekat air mancur berada, ia mengeluh lelah dengan kakinya yang sakit karena lecet. Sebentar lagi pertunjukan teater akan di gelar, gadis itu bilang ingin beristirahat sebentar.


Sir Emillo dan Flona juga tampak menikmati acara ini, sepertinya mereka juga sama halnya merasa mati kebosanan karena hanya bekerja tanpa adanya penghiburan di setiap hari. Tentu saja ada beberapa pelayan yang bisa mendapatkan hari libur di hari peringatan seperti ini, namun hanya beberapa yang terpilih.


“Sebentar lagi teater akan segera di mulai, lekaslah Nona agar mendapatkan tempat yang lebih nyaman.” ajak Flona ketika tenda tempat teater itu mulai di penuhi para penonton.


“A—ah tunggu sebentar, aku kelelahan.” lirihnya dengan wajah pucat. Bukan karena benar-benar sakit, melainkan ia tengah bingung mendapati situasi saat ini.


Tak ada celah, bagaimana ini? aku harus membuat mereka dekat dan mengobrol berdua saja, jika aku terus berada di antara mereka, maka misi rahasiaku sebagai Dewi Asmara gagal total! Ugh.. apa yang harus kulakukan?


Tiba-tiba manik mata kecoklatannya menatap sebuah penjual rangkaian bunga dan juga jagung bakar yang berletak di arah berlawanan dengan tenda teater. Ia terpikirkan hal kecil, bagaimana jika kedatangan menuju teater itu kita tunda terlebih lebih dahulu?


“Flona.. kaki ku sakit, apa kamu bersedia membelikanku karangan bunga itu?” tanya gadis itu dengan wajah memelas, Flona hanya menanggapinya dengan senyuman kecil.


“Baik, Nona tunggu sebentar ya~” tuturnya yang tak lama kemudian beranjak meninggalkannya.


“Sir? Apa yang anda lakukan? Cepat temani Flona, berbahaya!” cemoohnya dengan perasaan gusar, Sir Emillo yang tengah diam bersamanya kini menghela nafas.


“Tugas saya adalah melindungi Nona, ini adalah perintah Yang Mulia.” titahnya bernada tegas.


Glek..


“Uhm.. anda tidak perlu se khawatir itu, saya bisa melindungi diri saya sendiri dengan sihir, lagi pula saya lupa mengatakan ini! saya sebenarnya ingin makan jagung bakar sambil menonton nanti! Hehe~” ujarnya di iringi tawaan kecil. Wajahnya terlihat berkerut, perintah Lucy sedikit mencurigakan baginya.


“Nona mau di gendong?” tanya Pria itu sunggh—sungguh.


“T—tidak! Aku hanya cukup menunggu saja, apa permintaan saya terlalu berlebihan, Sir?” tanya Lucy dengan wajah murungnya.


Sekilas Pria bersuri putih itu menghela nafas entah untuk yang ke berapa kalinya, tapi jika sang Nona meminta demikian ia hanya bisa mengangguk mengiyakan. Tak lama kemudian ia beranjak mengikuti Flona yang sedang membeli rangkaian bunga sendirian, sepertinya Flona pikir sang Nona ingin menyimpannya di kamar nanti. Walaupun sepertinya bunga itu takan bisa bertahan lama karena dibuang layu.


Lucy hanya tersenyum dengan memperhatikan mereka dari ambang kejauhan, ia rasa ini adalah saat yang tepat untuk beraksi. Dengan segera ia membangkitkan dirinya dan melangkah jauh, ia rasa intuisi Sir Emillo kurang bagus.


Jika saya memang mengalami luka lecet di kaki, bukankah saya hanya perlu menyembuhkannya dengan sihir? Tapi..


“Hehe~ maaf sir~” serunya yang kini telah memantapkan hati.


Mau aku melangkah atau berlari, anda tidak akan menyadarinya karena disini terlalu banyak orang.


Lucy kini berlari menemukan gang kecil dimana ia bisa melancarkan sihir teleportasinya tanpa perlu menarik perhatian orang-orang sekitar. Usai menjauh dari kerumunan, jemari tangannya yang lentik mengeluarkan lingkaran sihir kemudian membawanya pergi ke tempat yang ingin di tujunya.


Maaf Sir, sebenarnya tujuan aku keluar hari ini juga untuk pergi ke suatu tempat sendirian.


...***

__ADS_1


...


Usai membeli sesuatu yang di inginkan Lucy, mereka berdua kembali ke taman air mancur dimana sang Nona telah menunggunya, nihilnya tidak ada keberadaan Lucy di sekitar sana. Flona kini terlihat panik dengan menghilangnya keberadaan Lucy.


“No-nona dimana?” paniknya dengan tangan yang dipenuhi rangkaian bunga. Ia mencoba mencarinya dengan menatap kesana kemari, namun yang ia dapatkan ialah rasa pusing karena sulit untuk membedakannya mereka yang sama halnya memakai pakaian biru.


Walaupun begitu, Lucy tidak mungkin sulit ditemukan karena surai yang dimilikinya berwarna keemasan yang selalu menarik perhatian.


“Tenanglah Nona!” cekal Sir Emillo yang kini melihat Flona bergetar ketakutan.


“Tapi Sir bagaimana jika Nona di culik?” tutur gadis itu dengan raut wajah paniknya.


“Saya rasa itu tidak mungkin, karena Nona Lucy bisa melindungi dirinya sendiri. Ia adalah penyihir yang kuat, Nona.” ucapnya yang kini di iringi senyuman kecil.


Deg..


“Ah— begitu rupanya, saya hanya khawatir kepada Nona.. karena..” gadis itu memilih bungkam dengan raut wajah murungnya, ia tidak begitu berani untuk melanjutkan kata-katanya.


Karena selama ini Nona hanya menunjukkan sisi lemahnya di depan saya, saya hanya berharap tidak pernah terjadi hal buruk lagi kepada Nona.


Ia hanya merasa takut, karena di depannya Lucy belum pernah menunjukkan sosok dirinya yang kuat, terlebih setelah menyaksikan segala penyikasaan yang ia terima oleh Lyonora tanpa adanya perlawanan. Jika ternyata Nona sekuat yang dikatakan Tuan Ksatria.. maka ternyata saya tidak tahu apapun tentang Nona..


“Bagaimana jika kita coba berpencar, akan lebih mudah jika kita mencarinya dengan cara itu—” usulnya yang mencoba melangkah pergi terlebih dahulu, hanya saja Sir Emilo menahannya dengan mencekal pergelangan tangan Flona.


Bagaimanapun juga flona adalah tanggung jawabku, aku sudah berjanji untuk melindunginya.


Deg..


Rasa khawatir yang menyelimuti tubuh Flona kini berubah dengan perasaannya yang kaget setelah menatap pergelangan tanganya yang di gengam hangat oleh Ksatria bersurai putih itu. Entah kenapa rasanya ada sedikit gejolak aneh yang berdetak di hatinya.


“S—sir tangan andaa..” gumamnya dengan menutupi raut wajahnya yang hampir berubah kemerahan. Hatinya terasa memaki kesal, bagaimana ia bisa berdebar-debar di situasi yang bahkan terlihat genting seperti ini.


“Ohh... Maafkan saya, saya hanya tidak ingin anda terbawa kerumunan. Pendatang semakin ramai. Jadi sebaiknya Nona berada di dekat saya.” jelasnya yang tidak berniat melepaskan tangan Flona. Walaupun gadis itu terlihat malu, ia hanya mengangguk mengiyakan permintaannya.


Diiringi pemikiran yang keras, netranya tidak pernah berhenti utuk menatap ke sekitar. Sir Emillo hanya memikirkan suatu kemungkinan yang akan terjadi kepada Nonanya, apa Lucy melarikan diri karena ada yang mengganggunya saat duduk di dekat air mancur tadi?


Jika benar adanya, seharusnya perempuan itu belum jauh dari sekitar sini, dan ia sudah pasti mudah di temukan karena rambut blonde nya yang mencolok.


“Nah Nona sudah tenang?” tanya Pria itu yang ingin memastikan perasaannya. Perempuan itu menggeleng.


“Bagaimanapun, saya tidak akan pernah tenang jika Nona menghilang seperti ini.” lirih gadis itu dengan alunan nada yang terdengar sedih. Pria itu mengerti, tentu ia mengerti perasaannya. Karena ia melihat sebuah ikatan keluarga di antara mereka.


“Jangan Khawatir, kita akan menemukannya. Sepertinya Nona Lucy belum jauh dari sekitar sini, jadi ayo kita pergi mencarinya.” tukasnya diiringi senyuman kecil, Flona mengangguk dengan perasaannya yang tercampur aduk.

__ADS_1


Kenapa Anda memperhatikan perasaan saya, Tuan?


Ini kejadian yang terlalu mendadak, dan juga cukup berbahaya jika membawa Flona untuk mencari keberadaan Lucy, hanya saja ia juga tidak bisa meninggalkan flona sendirian.


“Nona, apa anda tidak keberatan jika saya memegang tangan anda seperti ini? Saya hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Nona.” tanya pria itu dengan hati-hati.


Sir Emillo hanya tidak ingin perempuan itu merasa tidak nyaman kepadanya. Terlebih hatinya mengatakan bahwa ia tidak ingin mereka berpisah..


“Ti—tidak masalah, tapi Tuan.. bagaimana dengan karangan bunga milik Nona.. saya cukup kesulitan memegangnya jika dengan satu tangan..” ujar gadis itu dengan wajah yang menunduk karena malu.


Diiringi senyuman tipis, Pria itu meraih karangan bunga peony di tangannya, “Biar saya saja yang membawanya.” tuturnya dengan satu tangan yang masih menggenggam pergelangan tangan mereka.


Bersamaan anggukan kecil, mereka mulai mencari keberadaan Lucy ditengah kerumunan orang-orang yang mulai membeludak. Meski telah dicari-cari kemanapun dengan segenap tenaganya, mereka masih saja belum menemukan keberadaan Lucy.


Awalnya Flona memberi saran kepada Sir Emilo untuk mencarinya kedalam Theater, karena siapa tahu Lucy yang tidak sabaran pergi duluan meninggalkan mereka. Hanya saja tetap tidak membuahkan hasil, karena tidak terlihat rambut blonde di sekitar sana.


“Sir, jika begini.. bagaimana kalau kita mencari Nona ke sela-sela gang? Sepertinya hanya tempat itu yang belum kita datangi.” sarannya tiba-tiba yang entah kenapa membuahkan firasat bahwa Lucy ada di dalam sana.


Sesaat Pria itu mematung untuk mencerna perkataan Flona, tak lama kemudian ia menyetujui perkataannya. “Sepertinya tempat itu sepi.. ayo kita pergi ke sana Nona.. lebih cepat ditemukan sepertinya lebih baik.” ujarnya sembari mengikuti arah tunjukan Flona.


“Kenapa tiba-tiba kepikiran soal gang?” tanya Pria itu heran. Sebenarnya ia juga tak begitu kepikiran soal ini.


“Tidak ada alasan khusus.. saya juga tidak tahu sebenarnya apa yang telah terjadi kepada Nona. Hanya saja.. jika Nona ingin bersembunyi, maka ini adalah tempat yang cocok.” jelasnya diiringi derapan langkah yang di percepat. Ia hanya tiba-tiba teringat sesuatu tentang Nonanya, dimana Lucy merupakan seseorang yang tidak suka menjadi pusat perhatian.


Nona.. semoga tidak terjadi hal buruk kepada anda..


Usai berlari memasuki gang yang sempit dan juga sepi.. tiba-tiba penciuman Sir Emillo yang tajam menghirup wangi farfum Lucy yang berterbangan di udara. Kehentian Sir Emillo yang tiba-tiba sukses membuat gadis itu mematung sembari menatap ke sekitar.


“Saya mencium aroma sihir.. dan juga farfum Nona.. sepertinya beliau melakukan perlawanan kecil dengan sihir.” pikirnya yang malah membuat Flona semakin gemetaran takut memikirkan Lucy.


Pada akhirnya mereka terus melangkah menyusuri gang sempit ini, hingga ia menemukan persimpangan gang yang dipenuhi dengan perumahan sederhana dan beberapa toko unik yang berjajar. Sepertinya tempat mereka saat ini letaknya cukup jauh dari tempat utama dimana Festival Abadi sedang di gelar.


“Ada tiga gang, sebaiknya kita harus kemana Sir?” tanya gadis itu yang mulai kewalahan. Menurut intuisi yang ia punya, Sir Emillo merasa bahwa pergi ke arah kanan. Samar-samar.. ia mendengar suaranya yang berjarak jauh dari arah mereka.


“Kanan.” tuturnya dengan teramat yakin. Flona hanya bisa menyetujui permintaannya. Namun setelah melangkah lebih jauh ke arah sana, gang itu teramat sepi, mereka saja berjalan hanya berbekal dengan dan hanya remang-remah cahaya.


Sebenarnya Nona ada dimana? Begitu pikir mereka berdua, jika sang Nona ada di tempat seperti ini, sebenarnya untuk apa? Apa ia benar-benar pergi sejauh ini untuk melindungi dirinya?


Hingga energi sihir itu tercium lagi, langkahnya terhenti setelah sekian lamanya melangkah jauh. Aroma farfum Lucy mulai tercium di sekitar mereka. Ditatap dengan saksama sebuah toko antik tua yang berdiri di depan mereka. Flona dan Sir Emillo kini hanya saling menatap seolah menyalurkan pikiran mereka yang sama.


“Apakah Nona ada di dalam!?”


__ADS_1


Ide By : Yuuta


__ADS_2