
Setiap kata demi kata yang Lucy lontarkan untuknya terasa berat dan menyesakkan, namun ia hanya percaya akan satu hal, bahwa Lucy yang selalu memanggil namanya kini telah menghilang, tak ada kata ‘Rean’ yang tersemat lagi dalam bibirnya.
‘Ya, anda tidak bisa lagi melihat Lucy yang perasaannya murni seperti dulu, karna saya hanya seseorang yang datang untuk menggantikan kehidupnya.’ tuturnya dalam hati.
“Walaupun begitu, anda tidak pernah pergi meninggalkan saya.” tukasnya sembari memeluk erat gadis itu. Hal ini agak mengejutkan untuknya, tapi Lucy hanya terdiam pasrah tanpa membalas pelukannya.
“Karna saya tidak bisa melakukannya.” jawabnya diiringi mata terpejam.
‘Jika bukan karena perasaan Lucy, dan perjanjian Ayah dengan Baginda Raja, mungkin saya lebih memilih angkat kaki, tapi setelah melihat penyihir kegelapan yang selalu mengincar keberadaannya, itu juga keputusan yang terlalu gegabah.’ pikirnya dalam hati.
“Seharusnya saya tidak menyebutkan nama itu, sehingga ingatan buruk itu tidak pernah kembali lagi….” ungkapnya dengan raut wajah sedih.
“Apa anda berniat menyembunyikan hal itu selamanya? Hal yang sudah anda lakukan hingga melukai hati dan perasaan saya?” tanyanya benar-benar tak habis pikir.
“Lucy, apa segala perasaan saya masih juga belum tersampaikan?” tanyanya dengan raut wajah yang masih sama dengan sebelumnya.
Ia hanya tertunduk kesal, giginya menggertak keras. “Justru karna saya merasakannya, ini membuat saya goyah, Yang Mulia. Jika sebelumnya anda tidak ada niatan untuk mempercayai saya, apa saya akan menerima begitu saja dengan perubahan anda yang sekarang?” tanyanya benar-benar muak.
“Saya tahu perbuatan ini tidak dapat dimaafkan. Hatiku terasa berat Lucy, saya tahu tidak ada cara apapun untuk mengembalikan sesuatu yang telah terjadi, hanya saja satu hal yang harus Lucy ketahui, saya tidak pernah merasa siap untuk kehilangan Lucy lagi.” ujarnya sembari berlutut ala ksatria.
Pria itu tahu bahwa saat itu Lucy tengah terpukul akan kematian Lyonora, namun yang ia lakukan malah berbalik dan mengabaikannya, Pria itu teramat tahu bahwa tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan kesalahannya, ‘Baik di masa lalu maupun masa depan.’
“Jadi saya mohon, izinkan saya untuk menebus segala dosa yang telah saya lakukan selama ini.” Pria itu memohon dengan penuh harap. Gadis itu tampak menatapnya dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.
‘Kenapa anda sampai seperti ini? Lagian perlakuan anda selama 2 tahun itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kisah yang dijelaskan di dalam novel. Apa perkataan Yang Mulia benar-benar bisa saya pegang?’ tanyanya dalam hati.
Lagi pula ini cukup mencurigakan, kenapa dengan bukti yang cukup jelas itu, Reygan malah bersikukuh membenci Lucy? Jika digabungkan dengan beberapa ingatan Lucy…. ‘Kenapa selalu ada kabut gelap dimatanya?’ tanya gadis itu benar-benar penasaran.
Ia selalu menerima pancaran ketulusan di matanya tanpa alasan. Lucy tahu, bahwa Reygan tidak pernah berbohong dengan segala sorot matanya. Hatinya yang terenyuh tidak bisa menolaknya lagi, ia sebenarnya merasa lelah dengan perasaan yang terus berlawanan di hatinya.
Di sisi yang lain ia membenci Reygan, karena Pria itu tega membiarkan Lucy mati dengan cara yang kejam, walau hal itu hanya akan terjadi di masa depan. Namun mimpi yang menggambarkan kejadiannya benar-benar terasa menyakitkan.
Ia hanya mengatakan satu hal, dari semua ingatan yang diberikan Lucy untuknya, ‘Jangan samakan aku dengan mu, hatiku tidak cukup kuat seperti hatimu, Lucy….’
Tetapi disisinya yang lain, perempuan itu tak sanggup untuk membencinya lebih dari ini, perasaan ini sangat mengesalkan. Ya perasaan Lucy yang tertinggal ditubuhnya.
Ia hanya tersenyum pilu dengan raut wajah yang memurung, “Baik, saya akan mempercayai anda. Jadi saya mohon jangan kecewakan lagi saya, Yang Mulia….” pintanya dengan uluran tangan yang meminta Pria itu berdiri.
‘Aku hanya bisa menerima dan memaafkanmu, jika tidak perasaan mengganjal di dalam hati ini tidak pernah menghilang, dan aku tidak bisa merasa nyaman.’ tuturnya dalam hati, ia memijat pelipisnya yang merasa sakit.
‘Sebenarnya kenapa Lucy…. kenapa kamu begitu mendesakku untuk melakukan ini? Berhenti menyiksaku, yang kulakukan disini hanyalah untuk bertahan hidup.’ celotehnya kesal.
“Saya sangat bersyukur, Lucy. Saya bahkan rela menyerahkan separuh hidup saya hanya demi melihat Lucy yang tersenyum bahagia.” ujarnya dengan nada lembut, tatapannya terlihat begitu dalam ketika menatap netranya. Semua kalimat yang terucap dimulutnya benar-benar terdengar penuh arti.
‘Aku yang sejak dahulu hidup sebatang kara dan sering dikecewakan, mendengar semua ucapan mu itu hanya terdengar sekedar bualan.’ tuturnya yang merasa takut untuk mempercayainya.
Tapi tidak apa, ia menggelengkan kepalanya dengan sekuat tenaga, ia harus berpikir dengan lapang. ‘Aku kan sudah bertekad untuk tidak terpaku dengan isi bukunya.’ tukasnya memantapkan hati.
“Jawaban Lucy akan saya anggap sebagai persetujuan untuk memulai hubungan kita dari awal lagi, jika perasaaan Lucy memang telah hilang, saya berjanji akan berusaha untuk mengembalikannya.” tuturnya begitu lembut, kini Pemuda itu mencium punggung tangan sang gadis dengan penuh arti.
Ia sempat memikirkan perkataannya, namun dari pada masalah ini semakin rumit, alangkah lebih baik untuknya menerima tawaran itu, terlebih Lucy membutuhkan seseorang untuk melindunginya dari ancaman kematian.
Terlebih tokoh Sheyra, wanita yang seperti teratai putih itu.
__ADS_1
...***...
Ibu Kota Garfield merupakan tempat terindah di kerajaan, tempat itu diiringi bangunan yang kokoh dan indah layaknya permata yang tersusun rapih. Langit biru membentang dengan cerahnya menjadikan latar belakang Ibu kota yang memesona. Tempat ini cukup mengundang daya pikir dan emosi seseorang tiap kali melewatinya, tidak lupa dengan Pasar tradisional yang ramai di daerah Ibu kota.
“Dulu kita datang kesini ya, tapi bedanya menggunakan sihir teleportasi.” tukas Lucy yang tiba-tiba mengingat kencan pertamanya.
Tampaknya saat ini mereka akan segera melaksanakan kencan resmi, yaitu Hari besar yang disebutkan Reygan kemarin. Walaupun suasananya cukup canggung, tapi ia akan menganggap hari ini sebagai kencan pertama mereka setelah mengungkapkan pikiran dan isi hatinya masing-masing. Yaitu memulai kepingan dengan awalan yang baru.
‘Hari besar? Sebutannya norak sekali..’ sindir Lucy dalam hati.
Pasar tradisional yang berletak di Ibu Kota ini benar-benar penuh akan kehidupan, diiringi dengan perdagangan dan aktivitas rakyat yang kian meriah. Hidup mereka tampak harmonis.Tak hanya para rakyat, di ibu kota juga merupakan tempat yang maju, alhasil terdapat banyak bangunan rumah, pertokoan dan sebagainya yang dibuka untuk para bangsawan.
“Kita akan kemana Yang Mulia?” tanyanya penasaran. Matanya kini tidak terlaih sedetikpun dari jendela kereta kuda.
Pria itu nampak tertawa, “Tentu kita akan pergi ke butik Royal’s.” jawbanya sembari menopang dagu.
“Butik Royal’s? Butik terkenal itu? Untuk apa?” tanyanya merasa bingung, ia kira mereka akan pergi berkencan. Ternyata malah pergi berbelanja, itu agak diluar ekspektasinya.
“Bukankah untuk menghadiri pesta perempuan itu, kita memerlukan gaun yang serasi?” tanyanya dengan raut wajah yang tidak puas.
“Ah-ahahaa… anda benar Yang Mulia.” selorohnya dengan wajah berkeringat dingin. Ia merasa malu ketika memberikan pertanyaan yang memang seharusnya tidak ditanyakan.
...***...
Sampailah mereka di butik Royal’s, butik ini merupakan butik terbaik di Ibu Kota, nuansa dan gayanya sangatlah klasik dan formal. Pelayanannya sangatlah ramah, entah karena tamu yang hadirnya merupakan seorang Putra Mahkota yang berstatus tinggi.
Butik Royal’s menawarkan koleksi fashion untuk semua usia dan gender. Merek yang ditawarkan sangatlah ternama dengan garis busana yang trendi. Tentunya harga-harga disini sangatlah mahal, gadis itu hanya memasang raut wajah terpukau dan tercengang. ‘Aku mendatangi tempat yang seharusnya Reygan lakukan bersama Sheyra? Wahh…. Sulit dipercaya.’ Gadis itu merasa takjub dengan sorot mata yang memandang kesana-kemari.
Agak malu untuk dibicarakan, namun sekaya-kayanya dirinya, ia belum sempat datang ke toko ternama ini.
“Tidak masalah, suasana hatiku sedang baik. Jadi bawakan semua pakaian serasi yang berkelas di tempat ini.” pintanya sembari mendudukkan diri di sofa.
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, ia terpikirkan satu hal, ‘Jangan-jangan anda akan menghabiskan uang seperti cerita cinta pada umumnya dimana tokoh Pria yang membelanjakan wanitanya sepuas hati?’ batinnya dengan perasaan curiga.
Namun dari sekian gundukan pakaian yang mewah dan memesona itu, Putra Mahkota hanya memilih 5 potong pakaian serasi yang menawan dan elegan. Memang sih seleranya sangat bagus….
Tapi tindakannya cukup menjatuhkan ekspektasi Lucy dalam sekejap!
Tahu apa yang Putra Mahkota katakan dengan wajah datarnya itu? “Kita tidak boleh menghambur-hamburkan uang negara hanya dengan sepasang pakaian mewah.” bisiknya tanpa rasa bersalah.
Ya, gadis itu tahu pasti bahwa alasannya sangat masuk akal. Akan tetapi, ‘Anda kan tokoh yang paling kaya di dunia ini loh?!’ cibirnya dengan raut wajah heran. Bisa-bisanya....
“Anda pelit!!!”
“Lucyy!”
...***...
Usailah kencan di butik yang menurutnya sangat tidak jelas. Kini mereka pergi menuju Restaurant ternama di ibu kota untuk makan siang bersama dengan harmonis (?).
Para bangsawan cukup kikuk memperhatikan mereka yang duduk di tempat terbuka. Ada yang memperhatikan Putra Mahkota dengan tatapan genit, ada juga yang iri dengan posisi Lucy yang duduk di hadapannya, dan ada juga yang ingin menyapa namun tidak memiliki keberanian untuk mengganggu kencan mereka.
“Yah.. anda sangat populer ya.” cetus Lucy yang entah kenapa terlihat tidak suka. Lihatah perempuan bangsawan disana, tak ada habis-habisnya mereka menatap kemari. Tatapannya seolah membuat wajah Lucy berlubang, namun dengan raut wajahnya yang bisa saja berubah kapanpun itu kini menatap mereka dengan tatapan tajam.
__ADS_1
“Anda cemburu?” tanyanya merasa puas. Namun tanpa perlu berpikiran panjang, Lucy menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda “Tidak Tuh.”
“Cepat sekali menjawabnya.” ucap Reygan dengan perasaan kecewa. Usai menghela nafas, ia mengajukan sebuah permintaan sederhana kepadanya. “Sebelum hidangan tiba, ada satu hal yang ingin ku bicarakan.” ujarnya tiba-tiba, ekspresinya saat ini cukup serius.
“Apa itu Yang Mulia?” tanyanya heran. Jemari pemuda itu terangkat dan menyentuh punggung tangan Lucy.
“Seperti saya yang selalu memanggil Lucy dengan nama, saya harap kedepannya Lucy selalu memanggil saya dengan Rean.” pintanya benar-benar serius.
“Itu agak….” Lucy Nampak enggan mengiyakan permintaannya, namun disisi lain Pria itu terus-terusan menghujaninya dengan tatapan penuh harap. Jika ia menolak sepertinya Pria itu takan mendengarkan ocehannya selain merengek dan terus meminta hal yang sama.
Kini Lucy tampak menghirup beban-bean kehidupan, jika memanggilnya dengan sebutan Rean, ‘Bukankah kedepannya Sheyra juga akan memanggilnya sedemikian?’ batinnya yang entah kenapa membuatnya merasa mual.
“Bagaimana jika begini, saya akan memanggil anda ‘Rey’ saja?” tawarnya tiba-tiba, sebelah alis pria itu terlihat naik. “Rey?” tanyanya bingung.
“Iya, Rey~” tukasnya diiringi senyuman lebar.
Entah kenapa Lucy merasa tak sudi jika harus memanggil Reygan dengan nama panggilan yang sama dengannya (Sheyra).
“Baiklah, sesuka Lucy saja.” tuturnya yang langsung menyetujui keinginannya. Sedetik sebelumnya Reygan tampak terpaku melihat senyuman Lucy yang sudah lama tidak ia lihat.
Ia selalu berpikir dalam hatinya, kenapa Dewa mengirimkan wanita secantik dan semenawan ini di kerajaan Garfield? Ia merasa tunangannya ini sangatlah cantik layaknya bintang yang menghiasi langit.
Tepat setelah hidangan tiba di meja, mereka kini menikmati waktunya dengan makan siang bersama. Mereka tampak berbincang dan bertukar cerita juga berbagi pengalaman antara satu sama lain. Lucy tidak menyesal untuk pergi keluar istana hari ini, rasanya hari yang suntuk itu tiba-tiba terbayarkan.
‘Alangkah senangnya jika tokoh favorite ku juga mengalami hal yang seperti ini.’ batinnya yang terpikirkan akan Original Lucy.
Tiba-tiba raut wajahnya yang cerah setiap kali menyantap makanan itu berubah menjadi murung. Sudah lama ia hidup dan tinggal di negara asing ini, namun ia teringat sesuatu dan juga merindukan hal itu. Reygan yang duduk di depannya langsung menyadari akan perubahan Lucy, “Lucy? Ada masalah?” tanyanya penasaran.
Jika dipikirkan juga, berbagai tempat rekreasi, pesta dansa, acara minum teh, berbelanja, dan menghabiskan uang telah ia lakukan semuanya. Hanya satu saja yang belum ia lakukan. “Saya merindukan deburan ombak di laut.” gumamnya yang terhanyut dalam lamunan.
Netra coklatnya kini menerawang dengan raut wajah yang penuh akan kerinduan. Ia merindukan laut, tempat semasa kecilnya bermain disana, tentunya sebagai hidup Raflesa.
‘Ya, dulu ada seorang anak laki-laki yang mendatangiku disana. Hanya saja aku tidak mengingat wajahnya.’ pikir perempuan itu dalam hati.
“Lucy ingin pergi kesana?” tanyanya tiba-tiba. Perempuan itu cukup tersentak kaget.
“Sepertinya, karena sudah lama saya tidak melihatnya.” jawabnya diiringi tawaan paksa.
“Terakhir kali saat aku berusia 13 tahun ya, itu pun pergi bersama kakakmu.” ujarnya penuh pertimbangan.
‘Wah, ada cerita yang seperti itu ya? Di usia muda seperti itu, mereka ngapain pergi ke pantai?’ Raut wajahnya yang terpampang saat ini benar-benar di penuhi akan kecurigaan. Namun sayangnya ekspresi gadis tu benar-benar mudah terbaca.
Seperti seseorang yang bisa menebak isi hatinya, Reygan malah terkekeh dan menjawab, “Saat itu kami melakukan peninjauan di daerah pesisir pantai, Lucy.” tegurnya dengan tawaan sinis.
“Uh? Saya tidak bertanya Yang Mulia.” bantahnya sembari memalingkan wajah.
“Rey!” Perintahnya dengan tegas.
“Baiklah, Rey~” timpal gadis itu dengan tatapan yang terliha benar-benart muak. ( ͡° ʖ̯ ͡°)
“Laut cukup jauh dari ibu kota. Untuk saat ini, ada sesuatu yang membuat kita tidak bisa berpergian dengan jauh, maka jika waktunya sudah tiba, saya akan membawa Lucy ke tempat manapun yang Lucy inginkan.”
__ADS_1
Halo teman-teman! Next chapter udah di pesta ke dewasaan Sheyra nih!! Kalian udah siap?