Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 66 : Winter


__ADS_3

Seperti dentingan waktu yang berdetak dan juga musim semi yang kian menghilang, walaupun aku kehilangan mu untuk waktu yang lama, namun kenanganmu terpatri hangat diingatanku.


Semua kepahitan ini hanya menyisakan kisah cinta yang abadi, bahkan dibawah musim semi yang kau bawakan kepadaku, aku hanya bisa menahan tangisku karena teringatmu yang menyatakan cinta dengan setangkai mawar biru.


Aku membenci musim dingin, karena itu membuatku kehilangan mu tepat disaat salju pertama turun.


Aku merindukanmu, dan aku mulai merasa lelah.


...โ—ฆโ€ขโ—โ—‰ ๐‹๐ฎ๐œ๐ข๐š ๐๐ž ๐‹๐š๐ฆ๐จ๐ซ๐ซ๐ข๐ž ๐“๐ข๐œ๐ฒ๐š โ—‰โ—โ€ขโ—ฆ...


...***...


Angin berhembus membawakan daun maple yang berjatuhan hingga menyentuh puncak kepalanya, wajahnya yang cantik kini tersenyum menatap kekasihnya yang duduk sembari memperhatikannya dengan lekat. Sembari menyambut langit yang terlihat membiru kegelapan, Lucia menoleh kecil ketika Cesarre memanggil namanya dengan lembut.


โ€œMorticia..โ€ tuturnya yang disambut tatapan hangat olehnya. Sembari memungut salah satu daun maple yang terjatuh di kepalanya, ia melangkah pelan untuk menghampirinya yang duduk di bangku taman.


โ€œYang Mulia?โ€ tanyanya bernada lembut.


โ€œWarna oranye memang terlihat indah untukmu, tapi musim gugur tidak cocok untuk Morticia.โ€ tukasnya yang hanya meninggalkan pertanyaan.


Gadis itu berputar mengayunkan gaun putihnya yang indah. Diiringi wajahnya yang mendongak keatas langit, tangannya terangkat untuk menatap daun maple dibawah teriknya matahari. โ€œKenapa begitu?โ€ tanyanya sembari menatap daun tersebut dengan lekat.


Pria tua itu hanya menegakkan bahunya. โ€œAku rasa, musim dingin lebih cocok untukmu Morticia.โ€ imbuhnya diiringi alunan nada yang terdengar melemah.


Senyuman yang terbit diwajah Lucia kini memudar. Sembari menatap sang kekasihnya yang terlihat telah menua, keningnya kini berkerut. Wajahnya terlihat murung, daun yang ada di genggamannya itu kini diremas hingga hancur.


Ah..


Dibawah suasana yang dingin ini, aku menyadari suatu hal yang mengerikan..


Yaitu.. Waktumu yang tersisa tidak lama lagi.

__ADS_1


...***...


Menyadari kehidupannya yang berlalu dengan singkat, ia tak menyangka bahwa ketika pertama kalinya salju pertama tiba, sang belahan jiwanya kini telah berada di ujung usianya. Perempuan yang awalnya berhati dingin seperti gunung es yang tidak dapat dihancurkan itu kini menangis sendu ketika melihat orang yang teramat sangat dicintainya tengah terbaring dengan sekarat di atas tempat tidurnya.


โ€œWaktu dan takdir kehidupan bagiku adalah suatu hal yang kejam, Yang Mulia.โ€ ujarnya yang mulai lelah ketika melihat Cesarre yang tak kunjung sembuh.


Wajahnya yang tampan itu kini di penuhi dengan keriput. Walaupun penampilannya berubah sekalipun, rasa cintanya tidak pernah memudar. Karena baginya, Lucia hanya mencintai jiwanya, bukan raganya.


โ€œDulu.. selama bertahun-tahun.. membuatmu menolah kepadaku saja merupakan hal yang sulit, Morticia..โ€ ungkapny dengan satu tangan yang terangkat untuk mengusap air mata yang tergenang dipelupuk matanya.


Air mata itu kini mengalir dipipinya, sembari terisak ia hanya menggenggam pergelangan tangan Cesarre dengan hangat, โ€œSekarang di saat aku akan mati, kamu bahkan sampai menangis seperti ini.โ€ sambungnya yang kini membuat perempuan itu memejamkan matanya.


โ€œYang Mulia benar-benar jahat, setelah membuat saya merasakan jatuh cinta.. anda malah berniat pergi meninggalkan saya.โ€ sendunya yang tidak bisa menahan lagi bendungan air matanya.


Sekalipun ia telah menyiapkan hati sejak lama, namun baginya ini seperti mimpi buruk yang takan pernah membuatnya terbangun dari tidurnya. Walaupun ia telah menerima konsekuensi dimana hari yang tidak ia harapkan itu akan tiba, tapi mengapa ketika dirinya dihadapkan pada kenyataan yang tidak dapat dihindari ini, ia merasa lemah tak berdaya untuk terlihat tegar di hadapan Cesarre yang akan segera pergi meninggalkannya.


Aku tidak tahu..


Padahal aku ingin melepaakan kepergianmu dengan senyuman hangat.. tapi kenapa aku malah menangis seperti ini?


Cesarre.. aku harus bagaimana..


โ€œIni hanya sakit biasa kan.. seperti biasanya.. esok hari anda akan bangun dengan kondisi tubuh yang lebih baik kan?โ€ pintanya yang kini memohon hingga memegang jemari tangannya dengan erat.


Ruangan yang megah nan sunyi kini hanya dipenuhi dengan isak tangisnya yang pecah, sang pemuda itu kini hanya tertawa kecil ketika mendapati Lucia yang merengek seperti anak kecil kepadanya.


โ€œAndai sajaโ€” andai saja jika sihirku bisaโ€”โ€ gelisahnya yang kini terpotong oleh tukasan Cesarre yang terdengar kejam.


โ€œSihirmu memang bisa menyembuhkan penyakit apapun, namun.. tetap tidak bisa mencegah takdir kematian, Morticia. Ini adalah takdirku sebagai manusia biasa dan inilah yang menjadi hadiah kecil bagi kehidupan seorang manusiaโ€” uhuk!โ€ potongnya yang berakhir dengan Cesarre yang terbatuk-batuk. Sontak gadis itu terlihat panik hingga membuatnya berdiri dari kursinya.


โ€œYang Mulia.. kumohon jangan banyak berbicara.. beristirahatlah agar cepat pulih..โ€ pintanya hingga memohon dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Matanya tetlihat berkaca-kaca dengan air mata yang mengalir tanpa diperintah. Hidungnya terlihat memerah diiringi kelopak matanya yang terlihat bengkak akibat menangis untuk waktu yang lama. Cesarre kini hanya mengusap puncak kepala Lucy dengan senyuman yang cerah untuk terakhir kalinya.


โ€œDi saat terakhirku, tentu aku ingin banyak berbincang denganmu.โ€ tuturnya yang sukses mendapatkan triakan emosional darinya.


โ€œYang Mulia!!โ€ jeritnya yang tidak mau menerima kenyataan.


โ€œCesarre.. tolong panggil namaku.โ€ pintanya diiringi sorot mata yang penuh harap.


Walaupun air mata yang mengalir di pelupuk sang empu itu belum berhenti, Lucia kini menampilkan senyuman lembut seraya memanggil namanya dengan hangat. โ€œCesarre, aku mencintaimu..โ€ lirihnya yang membuat sang kekasih itu menghembuskan nafasnya dengan lega.


Walaupun bernafas untuknya pun terasa sulit, namun.. โ€œAku tidak menyangka, sebuah hal spesial yang dimiliki oleh manusia biasa ini malah menjadi sebuah kemalangan untuk mu seorang. Maafkan aku yang tidak memikirkan hal itu karena aku terlalu mencintaimu..โ€ tuturnya yang kini mengusap pipi Lucia dengan lembut.


โ€œJangan berkata seperti itu Cesarre, kau adalah musim semi yang hangat untukku. Jadi.. jangan pernah berpikiran untuk meninggalkan ku.โ€ pintanya bernada lemah. Ukiran senyuman yang tergambar pada wajah Cesarre benar-benar memancarkan rasa ketulusan yang teramat dalam.


โ€œ64 tahun yang kulalui bersamamu merupakan anugerah terindah untukku.โ€ ungkapnya sembari menatap lekat ke arahnya, pandangannya yang memburam kini tidak bisa memperhatikan netra safir sang gadis dengan jelas


Padahal aku merindukannya.. namun aku hanya dapat mensyukuri satu hal dibalik pandangan ku yang telah kabur..


โ€œBahkan disaat terakhirku, aku tetap dapat melihat wajah cantikmu yang tidak pernah menua sama sekali.โ€ renungnya diiringi netra ruby yang mulai terpejam dengan perlahan.


โ€œ๐€๐ค๐ฎ ๐ฆ๐ž๐ง๐œ๐ข๐ง๐ญ๐š๐ข๐ฆ๐ฎ, ๐Œ๐จ๐ซ๐ญ๐ข๐œ๐ข๐š.. ๐๐ž๐ง๐ฒ๐ข๐ก๐ข๐ซ ๐ค๐ฎ ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐š๐›๐š๐๐ข..โ€


Usai meyisipkan kata cintanya yang seperti racun, tangan lemahnya itu kini mulai kehilangan tenaganya. Diiringi kepergiannya pada dini hari yang sunyi bersamaan turunnya salju pertama. Cesarre kini meninggalkan hidup Lucia, tidak... ia meninggalkan hidup Morticia untuk selama-lamanya.


Dibalik raungan kencangnya yang membangunkan seluruh para pelayan, ia hanya bisa menumpaskan rasa sedihnya dengan cara seperti itu ketika ditinggalkan sang kekasih. Satu hal yang berharga untuknya kini telah pergi dengan menyisakan kenangan pilu, hatinya yang lemah merasa tidak sanggup menerima kenyataan ketika untuk waktu yang lama ia takan pernah melihat lagi tatapan hangat yang hanya terpancar dari dirinya seorang.


Kini dan seterusnya, aku takan pernah melihatnya lagi.. permata ruby yang bersinar dengan indah dibawah danau Morella yang memeluk keheningan diantara kita. Kini juga tidak ada lagi hempasan angin yang menerpa rambut hitammu di bawah sinar rembulan yang membentang, dan tentunya aku tahu..bahwa aku takan pernah melihatnya lagi.. senyuman cerah yang terbit diwajah rupawanmu ketika menatap mataku dengan rasa penuh cinta.


Untuk yang terakhir kalinya..


Selamat tinggal, Cesarre terkasihku..

__ADS_1


Ratusan tahun pun berlalu semenjak kepergianmu, aku tidak pernah merasa tidak mencintai mu barang sedetikpun Cesarre..



__ADS_2