
Usai mendengar pertanyaan aneh dari Samantha, perhatiannya kini teralihkan kepada sebuah bros dengan permata ruby yang berkilau di dalam sebuah kotak kaca. Matanya nampak berbinar-binar ketika ia pada akhirnya menemukan barang yang begitu memenuhi ekspektasinya. Meskipun ia sudah melihat seluruh permata terbaik di toko perhiasan langganannya, sekalipun ia tidak pernah menemukan permata yang kualitasnya sebagus ini.
Sampai-sampai ia terpikirkan hal aneh, apakah semua barang berkualitas ini telah dicuri oleh penyihir gadungan itu? Namun jika Samantha mendengar isi hatinya yang menghina begini, ia pasti akan di omeli habis-habisan oleh penyihir berambut putih itu.
“Benar juga, saya melupakan hadiah untuk Yang Mulia..” ungkapnya diiringi senyuman kecil.
Lucy nampak terpaku sejenak setelah memperhatikan bros ruby yang indah itu, sepertinya benda ini akan cocok di kenakan di jubah Reygan. Terlebih, mata Yang Mulia juga sama indahnya dengan permata ini.
“Nona juga bisa memasukan sihir kedalam Ruby ini, kualitasnya tidak perlu di ragukan lagi~” jelasnya yang berkesan sedang melakukan promosi, sungguh di luar dugaannya bahwa penyihir itu memiliki suatu ketertarikan yang aneh.
Gaji sebagai penyihir menara itu luar biasa, lantas mengapa dengan segala bakat sihir yang dimilikinya malah mengasingkan diri di tempat aneh seperti ini? Ia juga malah membuka bisnis aneh yang bahkan terlihat kurang ramai dikunjungi. Barang-barang di tempat ini memang terlihat berkualitas, Lucy sendiri tidak begitu tahu dengan cara apa yang dilakukan Samantha hingga mengmpulkan benda-benda antik seperti ini, hanya saja..
Para bangsawan itu sangat bodoh, karena tidak mengetahui tempat luar biasa seperti ini. Tapi..
“Aku tidak membutuhkan benda sihir seperti itu. Jika ada sekalipun, aku lebih memilih benda dengan sihir pemurnian” tolaknya dengan raut wajah yang terlihat lesu.
Ia nampak kurang bersemangat, rasanya perasaan Lucy saat ini bercampur aduk. Terlalu banyak kebenaran yang faktanya akan sulit ia terima, dan ia tidak begitu tahu harus bereaksi seperti apa.
“Ruby itu masih kosong Nona, anda bisa mengisinya dengan sihir apapun.” jelas Samantha diiringi senyuman kecilnya, entah kenapa rasanya wajah Lucy kini terlihat menampilkan senyuman sumringah.
“Sungguh?” tanya gadis itu dengan antusias.
Jika seperti ini, tampaknya akan mempermudah pekerjaan Lucy untuk kedepannya. Ia sepertinya bisa memberikan bros ruby yang telah diisi sihir pemurnian agar Reygan tidak terpengaruh dengan sihir pemikat yang Sheyra berikan kepadanya. Maka, aku tidak perlu menyalurkan sihir pemurnianku dengan sentuhan tangan lagi jika situasiku sedang berjauhan dengan Yang Mulia!
__ADS_1
“Nona memang cerdas ya, jadi apakah Nona tertarik dengan benda ini?” tanya Penyihir itu yang entah kenapa membuatnya merasa kesal. Ia merasa lupa bahwa penyihir itu bisa menerobos ke seluk-beluk isi hatinya.
Diiringi helaan nafas yang dalam, gadis itu mengangguk. “Aku akan membelinya, kirim saja benda ini ke istana Cathalia. Lalu untuk penagihannya—” Lucy terlihat mengeluarkan tanda pengenalnya untuk menarik tagihan ini ke keluarga Barayev.
Hanya saja Samantha terlihat tidak suka dengan bayaran uang, “Aku tidak butuh permata untuk membayar sebuah permata. Jadi apa Nona tidak keberatan jika saya meminta bayaran dengan hal lain?” tanya wanita itu yang malah membuat Lucy menatapnya dengan tatapan heran.
“Itu— apa? Kau tidak tertarik dengan uang? Uh—sepertinya pembicaraan kita harus segera di akhiri.” tuturnya yang kini teralih menatap keambang pintu. Tampaknya hatinya merasa gelisah jika Sir Emillo akan datang menemukan keberadaannya.
Samantha terlihat mengangguk paham, ia kini merasakan sebuah gejolak rasa ke khawatiran dari dua manusia yang sedang berlari ke arah toko ini.
Tampaknya penyihir itu mengerti jika saat ini Lucy sedang menghindari sesuatu.
“Baiklah, Nona~ buku dan brosnya saya kirim ke istana Nona ya~ Jangan lupa untuk membahas bayarannya di pertemuan selanjutnya, saya anggap saat ini Nona sedang berutang kepada saya.” ucapnya diiringi jentikan jari.
Tepat sebelum penyihir itu menghilang dengan menjentikkan jarinya, ia berkata ‘Sampai jumpa, Nona Lucy!’. Respon gadis dengan surai pirang itu hanyalah memutar bola matanya pertanda vahwa ia merasa malas.
Ya.. agar terlihat natural, aku harus pergi ke tempat yang tidak mungkin mudah di temukan. Jika mereka telah putus asa mencariku di tempat sekitaran Festival ini, maka tempat tujuan mereka yang terakhir adalah puncak bukit yang pernah aku katakan kepada mereka sebelumnya.
Dengan berat hati, Lucy mengeluarkan lingkaran sihir teleportasi melewati telapak tangannya yang ramping. Sebenarnya ia benar-benar merasa bersalah karena telah memanfaatkan situasi dan menyusahkan mereka berdua demi kepentingan dirinya sendiri.
Maaf ya.. ini adalah sesuatu yang harus aku rahasiakan sendirian. Jadi aku tidak masalah jika kalian merasa kesal dan benci kepadaku yang berkesan menjodohkan kalian secara paksa, aku hanya memberi jalur kepada kalian yang memang akan berpasangan dimasa depan.
Toh tujuanku yang sebenarnya memanglah pergi tanpa sepengetahuan kalian.
__ADS_1
...***
...
Sampailah dirinya di puncak bukit yang letaknya berseberangan dengan ibu kota. Ia merasa tempat ini begitu hening dan damai dimana ia bisa melihat langit ibu kota tanpa merasa berisik dan juga berdesak-desakan. Ia kini hanya terduduk dibawah pohon tua yang tanpa beralas itu, saat ini Lucy hanya mengenakan sebalut gaun tipis tanpa membawa mantel sehingga sekilas tubuhnya terlihat menggigil kedingininan.
Dengan tatapan kosong, ia memeluk lututnya ketika kembang api yang indah meluncur di langit ibu kota. “Cantiknya..” gumamnya yang entah kenapa merasa kurang bersemangat.
Ia hanya bisa merasakan keheningan dan terhanyut kedalam lamuannya sendiri. Gemuruh suara kembang api yang meletus itu, entah kenapa tidak begitu kedengaran. Gadis itu hanya terfokus akan pernyataan yang penyihir itu lontarkan kepadanya.
“Apa ini masuk akal? Jiwa ku sama dengan Lucy? Jangan bercanda.” deliknya yang merasa tidak suka.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sekuat tenaga, “Aku tidak bisa menerima pernyataannya, tapi kurasa dia tidak mengatakan kebohongan..” tuturnya yang kini menenggelamkan kepala dilututnya.
Sesak dan sesak, ia hanya bertanya-tanya. Dari sekian banyaknya orang yang menikmati dan membaca buku novel ini, kenapa harus dirinya yang masuk kedalam dunia fiksi ini? Sebenarnya apa hubungan Raflesa dengan Lucy dan apa tujuannya? Apa yang harus ia lakukan saat ini?
Aku bahkan berasal dari dunia modern, dunia lain yang asal-usulnya saja sangat jauh dengan peradaban jaman yang kuno seperti ini. Lalu.. aku harus bereaksi apa jika penyihir yang hebat seperti dirinya mengatakan bahwa aku memiliki keterkaitan dengan dunia ini?
Melirih dan membisu diiringi tatapan matanya yang semakin datar. Dibawah sinar rembulan dan semilir angin yang menembus tubuhnya selama berjam-jam, kini lamunan panjangnya yang ditemani ledakan kembang api itu terhenti ketika ia tersadar ada seorang perempuan yang berlari ke arahnya dengan perasaan khawatir.
Bibirnya kini menampilkan senyuman miris.
Sekali lagi, maaf ya Sir, Flona. Aku telah menyusahkan kalian sampai membuat kalian khawatir setengah mati hanya karena seseorang yang tersesat jauh seperti aku.
__ADS_1