
Satu tangannya kini terangkat untuk memanggil beberapa dayang dan meminta bantuannya untuk membantu dirinya bangkit agar bisa bersandar pada dinding tempat tidurnya.
“Baginda.. anda berbaring saja.” pinta Lucy yang merasa tidak enak, Callius yang terlihat lemah kini memaksakan dirinya untuk duduk agar dapat berbicara dengan baik kepadanya.
Tapi sang Raja terlihat enggan untuk menuruti permintaan dari calon menantunya, “Sepertinya.. perbincangan kita akan menjadi lebih lama dari pada yang kamu bayangkan. Jadi, aku ingin berbincang dengan nyaman bersama calon menantuku untuk terakhir kalinya.” titahnya yang kini menyisakan keresahan dihatinya.
Aku tidak mungkin menyangkal ucapan maupun permintaannya.. tapi yang kulakukan hanyalah menuruti perkataannya...
Sekilas, ia nampak termenung dalam waktu yang lama, tapi bibirnya yang mengatup kini terangkat untuk mengatakan, ”Baiklah, saya tidak masalah.” dengan senyuman ramah kepadanya.
Tapi sepertinya ada sesuatu yang tertinggal, “Jika begitu, saya akan memberikan satu hadiah kecil untuk Yang Mulia Baginda.” ucapnya dengan jemari tangan yang terangkat secara mendadak.
Bersamaan jentikan jarinya yang mengarah kepada Callius, sihir keemasan kini muncul mengitari tubuhnya dan meresap pada permukaan kulitnya. Reaksi Callius awaknya tampak biasa saja, tapi entah mengapa kini beliau merasa tubuhnya lebih ringan dan terasa tidak begitu sakit dari pada sebelumnya.
Ini.. memang sihir penyembuh yang hanya bisa meringankan kadar rasa sakit untuk sementata waktu..
Tapi walaupun yang kulakukan merupakan hal yang sederhana..
Setidaknya... aku dapat mengabulkan salah satu permintaannya yang ingin berbincang dengan nyaman saat ini juga.
Walaupun sikapnya memang sederhana, tapi Baginda Raja tetap tersenyum sembari berkata “Terimakasih.” kepadanya, dan balasan itu entah kenapa dapat membuatnya sedikit senang karena sejak lama ia tidak pernah mendengar kata terimakasih dsri orang lain.
Tapi mengapa suasana yang mulai menghangat ini tiba-tiba berubah menjadi dingin dan hening seperti ini? Terlebih ini bermula sejak tatapan Callius saat menatapnya telah berubah menjadi seperti yang tidak biasanya. Sebenarnya ia tidak au berpikiran buruk seperti itu. Tapi entah kenapa ia tiba-tiba terpikiran satu hal..
Baginda.. tidak berniat menitipkan sebuah wasiat yang sulit bagiku kan?
Tapi.. dengan nada bicaranya yang lemah, Pria tua itu kini berbicara sembari menampilkan senyuman nanarnya, disela itu— ia menyematkan beberapa permintaan terakhirnya yang tampaknya sedikit menusuk dihatinya.
Yaitu..
“Waktu ku.. tidak lama lagi. Sebagai bentuk permaintaan terakhirku kepada calon menantuku.. Aku.. ingin menitipkan Putra ku kepadamu.” pintanya yang kini membuat perempuan itu terdiam memeluk keheningannya.
__ADS_1
“Ah.. baginda.. Putra Mahkota sudah besar.. anda tidak perlu menitipkannya kepada saya.” respon Lucy yang kelihatan kebingungan.
“Bukan begitu.. aku minta.. mau dalam kondisi dan situasi apapun, jangan pernah tinggalkan Putraku.” pintanya yang baginya bukanlah sebuah permohonan, melainkan perintah.
“Itu—” Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Hanya saja, sepertinya Lucy memang tidaak pernah memiliki niat untuk benar-benar meninggalkannnya. Apakah kabar kerenggangan ini sampai ke telinga Raja dan kini membuat perasaannya khawatir?
“Saya tidak akan pernah meninggalkannya.” jawabnya tanpa pikir panjang, terlebih.. semua yang telah ia lakukan selama ini akan menjadi sia-sia jika Lucy memilih cara untuk angkat kaki dari istana.
“Walaupun terlahir kembali.. anda mungkin akan tetap mencintai tanah ini. Tapi— setelah melihat sosok Putraku yang sangat mirip dengan kekasihmu.. lalu melihat perubahan sikapnya semenjak kematian kakakmu.. Lady pasti merasa sangat sakit.. walaupun sebelumnya.. mata dan telingaku mendengar bahwa hubungan kalian sudah menjadi lebih erat.” jelasnya dengan perasaan nanar, kedua tangannya kini terangkat untuk menggenggam jemari tangannya.
“Putraku, hanya menyukai menantuku seorang.” ucapnya tanpa ada keraguan sama sekali di wajahnya.
Apa itu.. dia membicarakan masalah terkait Cesarre, dan.. perubahan sikapnya saat Sheyra tiba-tiba muncul dan menggangguku?
Kupikir.. masalah itu telah selesai dengan kami yang muncul di publik dengan menampilkan citra yang baik..
Tapi— tampaknya baginda Raja takut aku akan merasa sakit hati ketika Putranya yang merupakan reinkarnasi dari Cesarre.. sempat berpaling dariku karena kemunculan Sheyra..
Tapi..
“Saya tahu. Untuk masalah itu, Baginda tidak perlu khawatir. Karena semua kesalah pahaman itu telah selesai.” ucapnya diiringi senyuman kecil.
Aku lebih terluka jika melihat masa laluku yang selalu terbentang di mimpiku.. mimpi mati terbakar benar-benar menyakitkan..
Dan apa yang membuatku lebih terluka..
Itu adalah wajah Cesarre yang terlihat datar ketika menyaksikan peristiwa itu..
Makanya, aku takut.. pada cinta pertamaku.
“Itu benar-benar tidak alami. Tidak mungkin, Pria yang selalu merengek meminta membatalkan pertunangannya demi Lady, tiba-tiba berpaling pada perempuan yang baru muncul di pergaulan kelas atas.” selanya yang merasa ada suatu hal yang teramat mencurigakan.
__ADS_1
Callius juga mencurigai keterlibatan sihir diantara Sheyra dan Reygan?
“Dibanding itu, aku merasa bahwa Lady yang meracunimu merupakan seorang penyihir. Tapi tidak ada bukti yang signifikan, lantas.. soal kematian kakakmu dan beberapa tragedi yang selalu mengancam nyawamu. Aku menjadi mengerti setelah melihat lukisan itu, dia menginginkan nyawamu. Karena kamu seorang Lucia, dan dia yang membencimu adalah sosok kegelapan yang membawa kemalangan.” ungkap Callius dengan tatapan serius.
Itu— rupanya dia mengetahui banyak hal ya..
tapi memang tidak ada bukti yang kuat untuk menjatuhi hukumannya..
“Saya.. mengerti. Saya mengetahuinya.. semua fakta itu telah saya pahami setelah mendapatkan kebangkitan. Baginda tidak perlu memikirkan hal itu, saya harap baginda selalu menjaga kesehatan, beristirahat dan meminum obat dengan teratur. Anda sangat mencintai rakyat anda kan..” alihnya yang nampak enggan membahas persoalan itu.
Baginya.. itu agak menyesakkan.
“Tentu sebagai Raja akan mencintai rakyatnya, tapi tampaknya usia ku sudah tidak begitu sanggup untuk memegang takhta yang besar seperti ini, dari pada itu— maafkan aku.” tuturnya tiba-tiba, netra sang gadis nampak terbelalak ketika Callius mengungkapkan kata maaf kepadanya.
Tidak ada suatu hal yang mengharuskannya untuk meminta maaf kepada Lucy, tapi kenapa..
“Baginda, anda tidak perlu meminta maaf!” serunya yang merasa tak enak hati mendengarnya.
“Aku meminta maaf telah membuat mu terkurung di istana, sejak Lady memberontak dengan keinginan untuk membatalkan pertunangan ini. Aku mengambil tindakan untuk melakukan perjanjian darah dengan ayahmu, demi melindungimu dari ancaman penyihir kegelapan yang selalu mengincar nyawamu..” jujur Callius kepadanya.
Lucy sedikit menghela nafas, ia kini hanya tersenyum tipis kepadanya. Jadi semua yang ia lakukan itu demi melindunginya, sekalipun mengekangnya di istana. Lalu jika kejadian ini sama dengan kehidupannya yang sebelumnya, sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang membuat Raja meninggal kemudian pengangkatan Raja dan Ratu yang baru dimulai dengan akhir penyeretan sosoknya pada kobaran api yang meluap itu?
Itu masih menjadi sebuah misteri..
Pembicaraan itu pun berakhir dengan Lucy yang berkata “Tidak apa-apa.” kemudian sesuai permintaannya, Lucy berkata berjanji untuk tidak pernah meninggalkan Reygan pada kondisi apapun dan tetap mengabdi pada kerajaan ini sampai akhir hayatnya. Callius juga berkata teramat menyayangi Ratunya yang telah lama meninggal dan akhirnya ia tersenyum lega karena tak lama lagi ia akan segera pergi untuk bertemu dengannya.
Putranya yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang pun ia titipkan kepada menantu yang ia sayangi juga, sekelabat ingatan kecil juga muncul. Pada dasarnya, sejak kecil Callius memang teramat menyayangi Lucy sebagai Putrinya sendiri.
Hingga 5 hari pun telah berlalu dengan membawa berita duka yang tidak dapat di hindari lagi, selama ini dibalik rasa sakitnya yang selalu ia tahan.. ia telah berusaha banyak dalam semasa hidupnya. Isak tangisan kini terdengar di bawah pemakaman yang disambut akan musim semi yang hangat, sungguh kematian yang damai.
Berbagai bangsawan dengan busana hitamnya kini menaruh bunga mawar putih sebagai bentuk penghormatan dan bela sungkawanya terhadap Raja yang telah meninggal dunia, Reygan dengan tatapan datarnya hanya berdiam diri ditemani Ratu Riana yang menangis tersedu-sedu dengan kedua selir lainnya yang tampaknya tidak berniat menahan isak tangis mereka.
__ADS_1
Kedua Putri lainnya yang mendapat kabar atas kematian Ayahnya kini tengah berlayar dengan kapal laut untuk segera pulang dan menjenguknya, lalu satu orang yang berdiam diri di dekat Reygan tampaknya terlihat bingung karena tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Dia merupakan Lucy, atau Lucia yang tergambar dengan raut wajahnya yang dingin di setiap lukisannya.