Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 81 : Kuil Suci (II)


__ADS_3

Awalnya barang-barang peninggalan Morticia tidaklah dibuang karena untuk dikenang, dalam waktu yang lama seisi istana Cathalia awalnya hanya tersimpan koleksi antik dan barang-barang


pribadi milik Morticia. Walaupun di seiring berjalannya waktu, semua barang-barang itu tetap cantik karena di urus dan dirawat oleh para pelayan yang frofesional.


Namun karena Poseiro bertingkah seperti Raja yang tidak bijak, ia malah mengawetkan seluruh barang itu dengan kekuatan sihir dan menyimpannya di Kuil Suci dengan bangunan baru yang dibuat khusus untuknya saja. Pada akhirnya istana Cathalia bukan lagi menjadi istana peristriahatan terakhirnya Morticia, melainkan ia dirubah untuk menjadi Istana Putri Mahkota yang sebelumnya tidak pernah ada.


“Barang-barangnya memang indah, tapi untuk sekarang berkesan antik.” kilahnya usai memperhatikan seisi ruangan ini dengan tatapan yang jeli.


Tuan Gabriel terlihat berseri, ia pun mengangguk pertanda menyetujui ucapan Lucy sebelumnya, itu memang ada benarnya. Tapi, “Hal yang sebenarnya, ada di balik dinding ini, Lady.” timpalnya dengan air muka yang serius.


Tangannya terangkat untuk menekan sebuah dinding yang terlihat lebih menonjol dari pada permukaan dinding yang lain. Balok yang terpotong itu nampak tertekan lebih dalam kemudian menciptakan guncangan pada dinding sekitarnya, tak lama sekotak berukuran pintu mulai mundur dengan perlahan hingga menerbitkan lorong yang panjang seperti menunjukan sebuah jalan rahasia di dalamnya.


“Tampaknya ini hanya sebagian dari yang anda tunjukan ya.” sindir perempuan itu disampingnya.


Reaksi Gabriel memang aneh, tapi dia tidak terlihat menyangkalnya. Akhirnya mereka pun pergi mengikuti sepanjang lorong dengan sedikit cahaya obor yang tersimpan di setiap dinding. Jika melihatnya seperti itu, mungkin para penjaga selalu berlalu-lalang di tempat ini untuk merawat peninggalan Morticia yang seperti ase Negara.


Benar juga.. aku lupa soal itu. Sedari tadi, sekalipun aku belum melihatnya, lukisan potret Morticia yang teramat rahasia itu.


“Sebenarnya tempat ini sudah lama tidak dibersihkan. Tetapi kemarin Yang Mulia berkunjung sambil berkata ‘Tak lama lagi, Penyihir Abadi akan segera berkunjung.’ Jadi, kami merawat dan membersihkan tempat ini sambil menunggu kedatangan anda, Lady.” ungkapnya tiba-tiba dengan dalih untuk memecah keheningan di sepanjang lorong yang terasa hampa.


“Begitu.. aku pikir setiap hari tempat ini selalu dirawat dengan baik, tapi— apa? Yang Mulia berkunjung ke tempat ini?” tanyanya dengan kedua iris safirnya yang membulat hebat, tampaknya ia sedikit terkejut usai mendengar pernyataan Gabriel sebelumnya.


“Benar, memang sudah lama sih. Sekitar beberapa minggu kebelakang.” jelasnya yang hanya diberikan anggukan kecil olehnya.


Jika melihat latar waktunya, apa Reygan pergi tepat setelah malam itu? Malam saat untuk pertama kalinya Lucy terbangun dengan sorot bola matanya yang berbeda. Entah, mungkin Lucy tidak begitu peka. Tapi untuk pertama kalinya ia terbangun dari tidur panjangnya, Sir Emillo pada saat itu mengatakan bahwa ‘Yang Mulia sedang pergi ke kuil suci.’ Jika dilihat dari reaksinya, mungkin Reygan datang untuk melihat lukisan potret tentang Morticia.

__ADS_1


Bisa saja begitu..


Gabriel juga menceritakan bahwa sebelumnya mereka telah lelah menunggu kedatangan Morticia dari keturunan ke keturunan, hingga tempat ini tak begitu di perhatikan lagi. Dirawat atau tidak, tempat ini cukup dibersihkan sesekali karena semua barang yang ada tidak mungkin rusak karena dilapisi oleh sihir dari para penyihir menara yang berbakat.


Tampaknya di dunia ini sepertinya memang tidak ada penyihir laki-laki. Walaupun tidak aneh karena beberapa sihir juga muncul pada seorang bayi laki-laki. Itu— dianggap dengan kemurahan hati Morticia, padahal mereka tidak ada kaitannya sama sekali.


Ceklek..


Gabriel nampak membukakan pintu diujung lorong yang diiringi remangan cahaya itu, kemudian usai pintu itu terbuka, Gabriel kini mempersilahkan Lucy untuk segera memasuki ruangan tersebut. Cahaya remang menjadi bekal untuknya memperhatikan seisi ruangan ini yang tidak begitu terang, seperti dugaannya ini memanglah galeri yang berisikan lukisan tentang Morticia di sepanjang hidupnya.


Sihir memang luar biasa, di saat bersamaan sihir juga terasa mengerikan.


“Waah~ aku tidak pernah berekpektasi tinggi ataupun mengharapkan hal lain. Tapi— ku pikir kenapa Raja Poseiro bisa jatuh hati kepada Morticia yang hanya tinggal nama. Ternyata setelah melihat semua ini.. aku mengetahui jawabannya.” gumamnya dengan ekspresi wajah yang tercenga, tidak— apa dia terpukau oleh lukisan dengan rupa yang mirip seperti dirinya sendiri?


Ini aneh, tampaknya Raja Poseiro jatuh hati kepada lukisan potret Morticia yang terpampang digaleri Istana Kerajaan. Ia percaya bahwa itu adalah jawabannya, karena tepat setelah Lucy melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, Morticia memang benar-benar cantik secantik kisahnya yang tertulis pada sejarah.


Wajah kami memang sama, namun aku merasakannya suatu hal yang berbeda.


Dia terlihat lebih dewasa, berkharisma, anggun dan terasa lebih dingin..


“Jadi ini.. Morticia.” tukasnya yang kini berdiam diri di depan hamparan lukisan yang menjulang dengan tinggi.


Lukisan yang ia lihat adalah seorang gadis dengan gaun Birunya yang teruai dengan lanjang memenuhi kursi yang ia duduki, satu tangannya terangkat menggenggam mawar biru yang pernah ia lihat sebelumnya. Surainya yang panjang hingga ke lutut itu terlihat begitu bersinar dengan bola matanya yang jernih. Raut wajahnya terlihat hampa seolah telah lelah dan muak dengan segalanya.


“Lukisan.. ini dibuat setelah kekasihnya tiada.” ujarnya sembari memperhatikan kurun tanggal yang tertera pada lukisan itu.

__ADS_1


“Benar.. Lady.”


sahutnya dengan sorot mata yang terpejam.


Sepanjang lorong, Lucy hanya memperhatikan sosok Morticia yang tergambar pada lukisan. Ia menyaksikan lukisan Morticia yang memakai tiara seorang Ratu, ada yang melukiskan sosoknya ketika ia di medan perang, ada juga yang melukiskan sosoknya dengan gaun pengantin yang mewah. Benar-benar mahakarya yang luar biasa, terlebih pelukis itu bisa melukiskan netranya yang indah dengan teliti.


Sepertinya dia penulis berbakat.


Tapi..


“Ini—” gadis itu terlihat menghentikan ucapannya sembari terpaku pada satu lukisan berikutnya. Wajahnya tercenga bukan main ketika di hadapkan pada lukisan pengantin Morticia bersama sosok yang seperti Reygan di sampingnya.


“Itu Yang Mulia Raja yang terdahulu, Raja Cesarre Garfield.” jelas Gabriel disampingnya.


Aku tahu.. aku tahu..


Walaupun aku belum percaya sepenuhnya, tapi…


“Dia seperti Yang Mulia.” lirihnya dengan ujung jemari yang menyentuh lukisan tersebut dengan lembut.


Ya, wajahnya benar-benar mirip. Walaupun ia telah memimpikannya lewat kehidupan Morticia, tapi ternyata Cesarre memang semirip itu dengan Reygan.


“Kami juga awalnya tidak begitu percaya, tapi setelah Yang Mulia berkunjung kemari. Kami tersadar bahwa beliau memang mirip seperti Raja terdahulu, dan ternyata memang diluar dugaan. Mungkin beliau mirip karena keturunan dari Raja Garfield yang memiliki rata-rata dan ciri khas dengan berambut hitam, juga iris matanya yang seperti permata ruby.” ujarnya yang menjelaskan tentang kemiripan mereka dengan detail.


“Bisa saja begitu.. tapi, sepertinya ada satu kemungkinan lainnya.” komentar Lucy yang kini menciptakan suasana keheningan diantara mereka.

__ADS_1


Usai mengatup bibirnya, Gabriel nampak menyeruakkan kalimatnya dengan rait wajah yabg terlihat ragu-ragu. “Anda benar.. bisa saja Yang Mulia Raja Cesarre telah berinkarnasi demi menemui Morticia yang terlahir kembali di dunia ini.” ungkapnya yang membuay gadis itu tidak begitu terkejut saat mendengarnya.



__ADS_2