Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 40 : Ketemu


__ADS_3

Sebuah lonceng di atas pintu bergetar seiring pintu itu terbuka. Di tatap kesana kemari, ini hanyalah toko antik yang kosong tanpa adanya penghuni. Jika di perhatikan dengan lebih baik, ada banyak benda-benda mahal dan juga berharaga yang di pajang di tempat itu.


Sekilas tercium aroma Lucy yang tertinggal di tempat ini, namun batang hidungnya saja bahkan tidak kehilatan. Apa jika berpikir secara positive, sebelumnya Lucy telah berkunjung ke tempat demi mencari hadiah untuk Putra Mahkota?


Karena walaupun tempat ini kumuh, barang-barangnya benar-benar berkilau dan berkelas.


“Di panggil juga tidak ada yang menyahut, apa ini toko tanpa pemilik?” tanya Flona yang merasa heran. Jika benda-benda ini dijual, lantas kemana perginya pemilik toko ini?


Pria itu menggeleng pertanda kurang setuju, “Mungkin lebih tepatnya, pemilik toko ini sedang pergi ke suatu tempat.” jelasnya yang kini menatap lekat ke arah ubin lantai.


Gejolak kekuatan sihir terasa begitu kuat di tempat ini, sebenarnya kenapa ini? Apa ada sesuatu yang tidak ia ketahui sebelumnya, ia hanya merasa ada suatu aliran kuat yang menggenggam pergelangan kakinya dengan erat.


Apa disini tinggal seorang penyihir?


Hingga terdengar sebuah letusan kembang api yang begitu dahsyat di atas sana, dengan segera keduanya pergi keluar untuk memperhatikan langit yang kini di penuhi akan warna. Semua indra tubuhnya bergetar saat mereka berhadapan dengan kembang api yang merambat dengan indahnya di langit malam.


“Rupanya sekarang sudah pergantian hari.” ujar Flona yang sekilas tampak memperhatikan indahnya malam ini.


Ksatria itu tampak tertegun ketika melihat netra violetnya yang memancarkan cahaya kekaguman. Netra itulah yang selalu ia lihat tiap kali mereka bertegur sapa di istana. Namun pandangan yang selalu ia dapatkan saat ini ialah rasa kekhawatiran kepada Lucy. Terpikirkan hal itu membuat Sir Emillo teringat akan perkataan Lucy sebelumnya.


“Nona, sepertinya saya tahu Nona Lucy ada dimana. Ayo kita pergi.” tuntunnya dengan uluran telapak tangan yang memintanya untuk bergandengan tangan.


Tepat dibawah cahaya rembulan yang bersinar dengan terang, Flona menerima uluran tangannya tanpa perasaan ragu.


...***


...


Mereka kini menaiki kereta kuda istana yang sebelumnya di tinggalkan di tempat festival, Sir Emillo sebelumnya hanya teringat akan perkataan Lucy yang ingin melihat kembang api di puncak bukit. Karena pemandangan itu akan lebih indah dan juga menenangkan hati jika memperhatikannya dari kejauhan.

__ADS_1


Walaupun memperhatikan kembang api di tempat ini juga tidak begitu buruk, namun karena kembang api itu meledak tepat di atas kepalanya, itu cukup berisik dan membuat lehernya sakit karena kita harus mendongakkan wajah.


Kereta kuda itu terasa hening. Setelah memahami situasi dan mereka menyadarinya, rasanya hal ini membuat mereka semakin canggung. Sebenarnya Lucy menghilang bukan karena terjadi hal buruk kepadanya, tapi tampaknya ia sengaja kabur untuk mengerjai mereka berdua yang akan sibuk untuk mencari keberadaannya.


“Sepertinya saya bisa merasakan energi sihir karena Nona melakukan sihir teleportasi. Dulu juga bersama Yang Mulia, Nona pernah melakukannya sekali.” jelas Pria itu yang berusaha memecah rasa canggung ini. Gadis yang duduk di depannya kini terangkat untuk menatap lekat kepadanya.


“Nona pernah kencan dengan Yang Mulia?” tanya gadis itu terkejut, karena ia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya.


“Iya, saya mengawal beliau diam-diam. Karena Nona pergi dengan lingkaran sihir, kami juga cukup kesulitan untuk mengikutinya diam-diam.” perjelasnya yang entah kenapa membuat gadis itu merasa lega.


Sebelumnya ia tahu bahwa sang Nona yang sedang berkeliling di taman bunga mawar pergi ke rumah kaca bersama Putra Mahkota, namun karena lengah sedikit saja, penghuni rumah kaca itu menghilang entah kemana. Tahu-tahu saat tengah malam, Putra Mahkota mengantarkan Lucy yang sudah tertidur pulas di pangkuannya.


Rupanya Nona pernah berkencan dengan Yang Mulia tanpa sepengetahuan saya, syukurlah.


Senyuman yang merekah di wajah Flona membuat Sir Emillo terdiam cukup lama, ia hanya merasa kasih sayang yang Flona berikan kepada Lucy benar-benar tulus tanpa adanya perasaan pamrih.


“Nona Aldrich, siapa Nona Lucy bagi anda?” tanya Pria itu tiba-tiba.


Lucy bagi Flona adalah teman dan juga keluarga yang tumbuh bersama-sama di seiring berjalannya waktu. Flona sudah terlalu lama menyaksikan kekejaman yang menimpa Lucy sebelumnya, maka ia yang tidak punya kekuatan hanya bisa mendukungnya dan melayani Nona Lucy di sampingnya.


Hanya saja.. apabila Nona sudah menjadi Ratu, mungkin saya hanya bisa berada di samping Nona sebelum anda menikah. Karena seorang Ratu membutuhkan dayang yang berasal dari keluarga bangsawan.


“Begitu rupanya.” respon Sir Emillo diiringi senyuman tipis. Sebenarnya tanpa perlu di jelaskan, ia sudah tahu bahwa Flona akan menjawabnya seperti apa, tapi aku merasa akan menyesal jika tidak bertanya kepadanya.


“Kalau Tuan? Apa Nona Lucy bagi anda? Anda terlihat sangat loyal kepada Nona.” tanya Flona yang sama halnya sangat penasaran. Walaupun hati kecilnya hanya ingin mengetahui perasaan Tuan Ksatria itu kepada Nonanya seperti apa.


“Tentu saya harus loyal kepada Nona, karena melindungi dan setia kepada Nona adalah perintah Yang Mulia.” jawab Pria itu yang hanya membuat Flona terdiam. Sepertinya Pria itu tidak berniat menjawabnya lebih jauh, namun diluar dugaan perspektifnya salah.


“Saya menganggap Nona sebagai adik yang rapuh, sesuatu berharga yang harus di lindungi dengan sepenuh hati. Setiap melihat Nona, saya selalu teringat dengan adik saya yang sudah tiada.” jelasnya dengan raut wajah yang memancarkan rasa ketulusan, di saat bersamaan tatapannya terlihat sedih.

__ADS_1


“Begitu rupanya.. maaf saya sudah bertanya.” tuturnya sembari mengalihkan pandangannya.


“Tidak masalah..” Pada akhirnya obrolan mereka pun berakhir tanpa ada yang memulai percakapan lagi.


...***


...


Angin malam berhembus menerbangkan helaian rambut pirangnya yang terlihat berkilauan. Flona dan Emillo yang sedang berjalan kini menatap sosoknya dari kejauhan, nampak ada seorang gadis yang hanya diam melamun di bawah pohon besar sembari menatap ibu kota dari kejauhan.


Benar seperti dugaan Sir Emillo sebelumnya, rupanya Lucy pergi duluan ke puncak bukit untuk memperhatikan kembang api dari jarak jauh. Keduanya melangkah menghampiri Lucy yang terlihat menggigil kedinginan, mereka hanya bertanya-tanya dengan kebingungan.. sebenarnya kenapa Lucy sampai melakukan hal seperti ini?


“Itu Nona!” tutur Flona yang tak lama kemudian berlari meninggalkannya.


Hingga sebuah derapan langkah yang di percepat berhasil membuat lamunan gadis itu terhenti dan menoleh ke arahnya, raut wajahnya tampak terkejut ketika menatap Flona yang hampir menangis dan berlari ke arahnya.


“Flona? Ada apa?” tanya Lucy dengan wajah bingungnya.


Apa Sir Emillo menyakitinya? Pikiran itulah yang terlintas di benaknya.


“Saya mengkhawatirkan anda! Kenapa anda menghilang tiba-tiba Nona..” lirihnya yang kini memeluk Lucy dengan perasaan sendu.


Lucy tampak terpaku untuk beberapa saat, tak lama kemudian ia membalas pelukan gadis itu diiringi senyuman tipis. “Maaf Flona, aku pergi karena membutuhkan waktu sendiri. Rupanya aku malah merepotkan kalian.” ucapnya yang kini memejamkan matanya.


Sir Emillo yang memperhatikan mereka dari kejauhan hanya bisa menghela nafas, ia salah mengira bahwa Nona Lucy menghilang demi mengerjai dirinya bersama Flona. Tapi jika memperhatikan raut wajah gadis itu, dia terlihat tertekan juga banyak pikiran. Begitu juga tatapan matanya yang terlihat kosong, padahal Flona hampir menangis mengkhawatirkannya, tapi respon perempuan itu malah tersenyum seperti boneka yang hidup tanpa jiwa.


Sebenarnya ada apa dengan Lucy? Menenangkan diri di tempat seperti ini juga tidak terlalu buruk, tapi alangkah lebih baiknya jika sebelumnya dia mengatakan hal ini terlebih dahulu, jadi jika Lucy membutuhkan waktu dan merenungi pikirannya seorang diri, Sir Emillo dan juga Flona pasti akan mengerti dan pergi menjauh agar tidak mengganggunya.


Tapi..

__ADS_1


“Syukurlah, jika anda baik-baik saja.”



__ADS_2