
Mendengar timpalannya yang tepat sasaran, Lucia kini membeku. Pernyataan Iris tidak salah, Dewa hanya memintanya untuk melindungi tanah ini dengan segela kekuatan yang telah danugerahkan kepadanya. Tapi Lucia malah mencintainya..
Seharusnya, sekalipun Yang Mulia mencintaiku.. aku tidak perlu membalas perasaannya dan hidup tanpa memiliki emosi. Maka aku takan pernah merasakan penderitaan yang pahit sampai seperti ini..
Ohh.. itu bukanlah hal yang harus aku sesali.. Aku tidak pernah menyesalinya sama sekali..
“Walaupun menyakitkan, aku mensyukuri hal ini Iris. Mungkin jika suatu hari kamu mengenalkan merasakan betapa indahnya cinta, kamu takan pernah mengatakan hal yang kejam sampai seperti itu.” tuturnya dengan sayupan tatapannya yang sayu.
Gadis bersurai hitam itu kini memasang raut wajah yang jijik kepadanya, “Bahkan sampai akhir kamu benar-benar keras kepala. Dengar Lucia, bagiku ini belum berakhir. Suatu hari, aku akan kembali untuk merebut kekuatanku dan menghancurkan kerajaan ini sampai menjadi hamparan debu di depan matamu. Aku akan membuat Kerajaan yang kau cintai ini menjadi hancur tanpa bernilai, nantikanlah dengan baik.. Lucia.” pamitnya yang kini telah menghilang tanpa jejak.
Ditemani derasnya rintikan hujan, sang penyihir itu kini ditinggalkan seorang diri ditemani gemuruh petir yang menciptakan kilatan cahaya di bawah hamparan langit yang menghitam. Kini ia habya bisa membangkitkan dirinya dan melangkah dengan satu tangannya yang menggenggam Tyson Rose dengan erat.
Bibirnya terangkat menampilkan senyuman simpul, mungkin aku akan menantikan hari itu lebih lama dari yang kau perkirakan Iris.
Semua prajurit dan beberapa penyihir yang ada kini tergeletak tak bernyawa disamping langkahan kakinya yang terlihat tanpa arah.
Semuanya mati karena Iris, tidak— ini memang karenaku yang tidak bisa melindungi mereka dengan benar.. Iris benar.. aku memang penyihir yang bodoh, lemah, dan tidak bisa melakukan apa-apa selain meratapi perasaanku yang berlarut.
Dibawah hantaran sinar mentari yang mulai terbit di setiap langkahnya, ia tersenyum dengan tulus sembari mengusap air matanya yang telah mengalir. Kini tempat tujuan barunya adalah Kuil suci yang telah ia lindungi dengan sekuat tenaga agar Iris tidak dapat menyentuhnya dengan cara apapun.
Jika musim semiku telah pergi..
Mungkin lebih baik aku menjadi musim gugur yang indah dengan memberikan keamanan dan kenyamanan kepada semuanya..
Benar.. aku harap dengan berakhirnya musim gugur ini, teror iris juga berhenti agar seluruh rakyatku dapat merasakan hidup yang tentram dan damai untuk waktu yang panjang.
__ADS_1
Setidaknya hingga beberapa ratusan tahun mendatang.. Iris takan bisa menggangu kalian dengan sesuka hati.
Usai kakinya yang tidak beralas itu tiba di kuil suci, Lucia kini merapalkan mantra kepada seluruh tubuhnya dengan baik hingga menjadi pemicu kemunculannya semerbak cahaya putih yang bersinar menyilaukan pandanhan. Cahaya yang terang benderang itu kini berputar mengelilingi tubuhnya hingga perempuan itu tidaklah berwujud manusia lagi.
Para penghuni kuil suci yang menyaksikannya kini menyipitkan mata mereka dengan perasaannya yang takjub sekaligus bimbang dalam pengambilan keputusan. Mereka tidak tahu harus menghentikan aksinya atau membiarkan sihir Lucia bekerja dengan baik hingga tuntas. Namun disamping keputusan mereka yang lambat.. kini cahaya putih itu telah melayang dan menyatu dengan udara.Diiringi wujudnya yang hanya sebatas cahaya, ia mulai bersuara untuk mengatakan pesan terakhirnya kepada mereka.
“Setiap kematian, akan ada kelahiran. Jauh ratusan tahun mendatang, aku akan terlahir kembali dengan rupa yang hampir sama, kekuatan yang sama, dan perasaan yang sama demi melindungi tanah yang kucintai ini.” pesannya dengan tekad yang tak pernah goyah.
Aku percaya akan kembali.. jika tidak.. tanah ini akan berada diambang kehancuran.
Walaupun tidak ada yang bisa menyaksikannya, Lucia kini menampilkan senyuman manisnya untuk yang terakhir kalinya. Dalam hatinya, ia merasa bahagia ketika dapat mengakhiri perasaan rindunya yang menyakitkan.
Bersamaan jiwanya yang telah pergi meninggalkan raganya.. raga sang gadis kini teresap pada cahaya yang melahap tubuhnya dan mulai merubahnya menjadi sebuah batu yang menyegel seluruh kekuatan penyihir kegelapan itu yang jahat.
Tubuh Lucia yang dipenuhi akan sihir pemurni jelas dapat menahan segala bentuk sihir kejahatan apapun yang dimiliki oleh Iris. Namun sebagai konsekuensinya, ia akan mati karena telah membayar raganya untuk menjadikannya sebagai wadah segel untuk menahan Seluruh kekuatan kegelapan itu agar tidak dapat berkutik.
Sekalipun tidak mati sekarang, kedepannya pun aku akan tetap mati. Sayangnya.. saat ini aku tidak sanggup untuk menunggu hari yang entah kapan akan tiba.
Diiringi pelepasan jiwanya yang mulai berhembus dengan semilir angin, wajahnya terlihat berseri-seri ketika menyambut hari yang telah ia nantikan sejak lama.
Akhirnya..
Akhirnya aku dapat beristirahat dengan tenang, aku selalu menghargai persahabtan kita Iris. Tapi.. aku juga mencintainya, Cesarre.
Sekalipun aku tidak ingin membunuhmu.. akan tetapi aku tidak bisa membiarkan tempat kelahiranku yang berharga ini menjadi hancur lebur di tanganmu..
__ADS_1
Bagiku, kau adalah teman terbaik yang pernah ada. Walaupun dirimu telah berubah.. aku akan terus memaafkan mu.. namun sepertinya jika kamu tetap melakukan hal yang sama dengan mengorbankan semua orang yang tidak bersalah..
Maafkan aku, mungkin dilain hari aku takan bisa memaafkanmu seperti saat ini Iris.
Aku berharap dilain hari, pertemuan kita dapat sedikit berbeda..
Tidak bisakah kita hidup berdampingan dengan damai?
Semua keputusan ini ada padamu..
Sampai jumpa lagi..
Teman berhargaku, 𝐈𝐫𝐢𝐬 𝐃𝐞𝐰𝐞𝐥𝐥𝐲𝐧.
...***...
Kematian Lucia tidaklah meninggalkan sebuah mayat yang harus dikubur dan dikenang dengan pilu. Melainkan kematiannya yang indah hanya meninggalkan sebuah batu yang dipenuhi akan sihir pemurnian. Batu yang indah itu kini dikenal dengan batu suci yang menampung seluruh kekuatan Iris yang tersegel agar tidak dapat kembali kepada pemiliknya.
Berkat pengorbanan Lucia yang menorehkan rasa haru, bangga, cinta dan penghormatan. Ratusan tahun lun telah berlalu dilewati dengan damai tanpa adanya teror Penyihir Kegelapan seperti yabg telah terjadi pada catatan sejarah.
Sebagaiman sejarah yang dicatat oleh seseorang, isinya tidak selalu benar juga tidak selalu salah. Tentu kebenaran yang ada ialah seseorang yang merasakan dan juga yang menyaksikan seluruh tragedynya dengan mata telanjang.
Lucia berakhir dikenang dengan nama Morticia berkat keinginan terakhirnya pada buku diary yang ia tinggalkan. Kebenaran yang ada bahwa warna biru merupakan kesukaan Raja pertamanya, Cesarre akibat kecintaannya kepada Morticia.
Walaupun begitu sejarah mengatakan bahwa warna biru merupakan warna kesukaan Morticia yang menjadi simbol iconik keluarga kerajaan Garfield.
__ADS_1
Kemudian satu fakta nyata yang ada bahwa Morticia melepaskan kepergian Iris dengan alasan dirinya yang terluka parah itu merupakan kebohongan besar yang dibuat-buat agar sejarah tentangnya dapat terbentuk dengan sempurna. Sekalipun semua orang takan pernah ada yang mengira bahwa yang membiarkan seorang penyihir kegelapan itu tetap hidup hingga detik ini ialah Morticia sendri.