
Lucy nampak tercengang ketika tatapan mereka bertemu, sebelumnya ia mengatakan ada sesuatu dimatanya. Memangnya apa yang terjadi? Apakah matanya membengkak karena menangis atau telah terjadi hal buruk lainnya?
Untuk memastikannya dengan benar, “Bisakah Yang Mulia membawakan saya cermin? Memangnya ada apa dengan mataku?” tanyanya yang hana fibalas keheningan olehnya.
Walaupun netranya membulat lebar ketika bertatapan mata dengannya, sebisa mungkin Pria itu hanya menampilkan senyuman kecil seraya membenarkan selimut gadis itu yang hampir saja terbuka. Walaupun Pria itu terdiam cukup lama, kini ia mulai bersuara dengan lembut.
“Bukan apa-apa. Sekarang masih dini hari, kembali tidur dan beristirahatlah Lucy.” pintanya sembari menyiratkan rasa kekhawatirannya yang dalam.
Bulu kuduknya terasa terangkat dengan suhu tubuhnya yang menggigil. Saking miripnya wajah mereka, ini benar-benar membuat tubuh Lucy terasa merinding. Netra Ruby yang bersinar ketika dimalam hari itu.. itu merupakan netra yang sama.
Sorot matanya yang menatap wajah Lucy dengan kekhawatirannya sangat persis seperti yang ditunjukkan Cesarre lewat mimpi. Rupa mereka yang terlalu mirip sampai-sampai membuatnya begitu sulit untuk mencari perbedaannya diantara mereka.
Ah benar.. ada. Cesarre memiliki tahi lalat didi bawah matanya. Mungkin itu yang membedakan mereka.. tapi—
Ahh, dia tidak menjawab pertanyaan ku. Setelah mendengarku menyebutkan nama yang lain juga.. dia tidak bereakso apa-apa. Mengapa anda tidak bertanya, Yang Mulia?
“Maaf Rey, aku keliru.” kelitnya yang hanya diberi anggukan mengerti darinya.
“Tidak masalah, Lucy pasti telah bermimpi buruk. Sekarang tidurlah dengan nyaman ya? Aku akan menjagamu disini.. besok kita bisa berbincang lagi.” pintanya bernada lembut, tangannya yang kekar itu kini terangkat untuk mengecup punggung tangan sang gadis dengan lembut, tak lama kemudian ia menggenggam jemarinya dengan erat.
Wajah Lucy yang kini kelihatan tirus itu berkerut, jika diperhatikan dengan lekat. Ternyata Pria itu terlihat kurus, kantung matanya yang tebal menandakan bahwa ia belum tidur selama beberapa hari.
Kenapa anda jadi seperti ini? Apakah Yang Mulia terus terjaga tanpa tertidur barang sedetikpun disamping ku?
“Tapi sepertinya dibandingkan saya, Yang Mulia lebih membutuhkan tidur dan beristirahat dengan baik.” decirannya dengan nada bicara yang masih terdengar lemah.
__ADS_1
Sudut bibirnya kini terangkat menampilkan senyuman haru, “Jika tidak keberatan, bolehkah aku ikut berbaring disampingmu?” tanyanya dengan hati-hati.
Sepertinya Lucy tidak memiliki tenaga untuk berbicara kembali, ia hanya menganggukkan wajahnya yang tak lama kemudian memejamkan matanya untuk tertidur dengan raut wajahnya yang terlihat lebih nyaman. Walaupun Lucy merasa ini merupakan hal yang aneh, akan tetapi entah kenapa rasanya saat ini benar-benar mengantuk.
Padahal sepertinya gadis itu telah tertidur cukup lama, namun pelukan hangat dari seseorang yang berbaring di sampingnya benar-benar membawakan kenyamanan. Tanpa sadar pemikirannya yang kacau itu telah membawa sang gadis untuk tertidur dengan membawa bunga tidur yang diberikan oleh Reygan kepadanya.
Sekalipun ia tertidur tanpa bermimpi, itu merupakan hal yang patut disyukuri olehnya. Walaupun begitu sebelum sang gadis benar-benar tertidur, sekilas ia mendengar gumaman Reygan yang terdengar kecil dan tak begitu jelas. Meski ia sendiri tidak begitu mengerti dengan makna apa Pria itu mengatakannya.
“Jika suatu hari kamu akan membenciku pun.. aku tidak apa-apa Lucy.”
Kenapa kedengarannya sedih ya.. ah— aku tidak tahu. Aku hanya mengantuk..
...***...
Suara tirai yang dibuka dengan tergesa berhasil menciptakan deciran suara yang kini membuat wajah gadis itu berkerut, usai dirinya tertidur dengan lelap, akhirnya ia terbangun juga pada Pagi hari yang tidak begitu cerah ini. Walaupun sebagian kesadarannya telah kembali, ia masih saja memejamkan kedua matanya dengan rapat.
“Suhu cuaca semakin dingin, sebaiknya kita mengganti tirainya yang lebih tebal.” timpal salah satu pelayannya yang kini berusaha melepaskan tirai kamar Lucy dengan bahan kain yang tipis.
“Baik, saya akan segera membawanya.” jawab pelayan lainnya yang masih sibuk berkutat dengan perapian.
Sepertinya mereka tidak sadar bahwa sejak awal gadia itu telah terbangun. Memang dasarnya ia masih saja kelihatan seperti seorang Putri tidur yang tak kunjung bangun, namun hati kecilnya hanya bertanya, mengapa mereka kelihatan sibuk sendiri? Lalu perilaku dan tindakan mereka seolah mengatakan bahwa Lucy tidak ada disana. Bukankah itu aneh, apa mereka tidak takut jika gadis itu terbangun karena kebisingan yang mereka ciptakan sendiri?
Derapan langkah kaki yang berasal dari ambang pintu membuat fokus kecilnya sang gadis koni tetalih kepadanya. Tak lama kemudian ia bersuara meninggalkan kesan dan ciri khas yang selalu Lucy kenali selama tinggal di negeri ini.
“Sebisa mungkin ruangan ini harus dibuat menjadi lebih nyaman, dengan harapan kecil agar Nona cepat terbangn dengan kondisi tubuhnya yang sehat!” seru Flona dengan tegas. Kedua tangannya kini penuh dengan vas unik berisikan rangkaian bunga yang di petik dari rumah kaca.
__ADS_1
“Ah Flona.. berapa lama aku tertidur?” tanya Lucy yang kini membangkitkan dirinya, sekujur tubuhnya benar-benar lemas. Ia saja mencoba membangkitkan dirinya dengan sekuat tenaga dan mencoba melakukan peregangan kecil untuk melemaskan seluruh ototnya.
Tak lama kemudian ia mengucek-ucek kedua matanya hingga berkali-kali, rasanya ada yang aneh. Tapi apa itu? Apa karena suasana hening yang tertinggal ketika Lucy telah bersuara untuk yang pertama kalinya?
Saat ini ada 3 pelayan termasuk Flona yang berada dikamarnya untuk melakukan bersih-bersih, tapi kenapa semuanya kini hanya terdiam membisu tanpa mengatakan sepatah kalimat sekalipun?
“No-nona! Anda sudah bangun?!” teriak Flona dipenuhi rasa keterkejutan.
Sontak ia berlari menghampiri Lucy yang masih duduk manis di atas tempat tidur. Namun langkahnya terhenti ketika kedua tangan sang gadis itu berhenti mengucek kelopak matanya dan memilih menatap wakah Flona dengan tatapan sayu.
“Ah—”
Prang!
Vas bunga yang di genggam erat oleh perempuan bergaun pelayan itu kini terjatuh berhamburan yang hanya menyisakan serpihan kaca dilantainya. Kedua netranya kini membulat hebat diiringi raut wajahnya yang terlihat syok.
“Nona— mata anda..” sebutnya bingung sembari menutupi bibir dengan kedua tangannya, dua pelayan lainnya yang ikut menghentikan pekerjaannya kini hanya tercenga ketika menyaksikan suatu kejadian yang janggal dan teramat mengejutkan seperti ini.
Mata— mataku? Kenapa mereka meributkan soal mataku sih! Eh? Yang Mulia juga mengatakan hal itu kemarin.. tapi.
Bukankah kemarin malam aku tertidur bersamanya? Dia sekarang ada dimana?
Wajah Lucy kini terlihat cemas, ia berpikir dengan sekuat tenaga. Sebenarnya ada apa dengan mereka, mengapa mereka bereaksi seperti itu padahal dirinya baru saja terbangun dari tidurnya?
Ah— jika diingat-ingat, Lucy berpikir bahwa mungkin saja setelah melakukan sihir penyembuhan kepada Sheyra dengan menggunakan kekuatan sihirnya secara berlebihan membuat djrinya jatuh pingsan selama berhari-hari.
__ADS_1