
Katanya, mimpi hanyalah bunga tidur. Namun berbeda dengannya, mimpi merupakan kilas balik yang menceritakan tentang kehidupan masalalunya. Kadang kala mimpi itu menyusup akan kenangan indah , kehangatan, senyuman, bahkan bisa saja berakhir dengan kenangan menyedihkan dan juga menyakitkan.
Lucy hanya tak bisa berkata-kata lagi dengan mimpi yang diberikannya saat ini, semuanya sangat mengerikan. Tak disangka juga masa kecil si tokoh antagonis ternyata begitu menderita seperti ini. Mimpi yang tragis ini telah usai di akhiri dengan kematian kakaknya, Lyonora. Ending yang sangat mengerikan di penuhi akan darah yang berceceran dimana-mana.
Ruang hampa yang mulai membesar kini menyelimuti dirinya yang berwujud transparan itu, ia terpikiran hal kecil, apa sekarang sudah saatnya untuk terbangun?
“Cy….”
“Lucy!” panggil seseorang yang memenuhi kepala kecilnya itu, ia berpikir sejenak. Siapa laki-laki yang tiada hentinya memanggil namanya itu sih? Perempuan itu kini sedikit berceloteh kesal.
‘Iya…. Aku akan segera bangun!’ batinnya yang mengomel.
Tepat ketika kedua kelopak matanya terbuka, ia hanya menatapi langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Ketika ia membangkitkan dirinya dan menatap kesana kemari, kamar itu hanya berisikan dirinya seorang diri. “Sebenarnya yang tadi itu siapa?” tanyanya merasa heran.
Melihat tirai yang masih belum terbuka, ia rasa saat ini matahari belum menapakkan sinyarnya. Ia pun kini merenung dan terkekeh ketika mendapati mimpinya kemarin. Tampaknya mimpi itu berhubungan dengan sosok penyihir kegelapan yang menjadi ketakutan utama bagi rakyat dan bangsawan Garfield.
“Ya…. Jika diingat kembali, Lucy dan Lyonora mengalami pertikaian kecil di taman istana Putri Mahkota. Tempat yang cukup jauh dengan Hall utama dimana pesta digelar .” tuturnya sembari memeluk dirinya sendiri.
kini ia memejamkan matanya menerima hembusan angin yang bertiup dengan lembut, tangannya kini terangkat untuk menopang dagunya. Saat ini Lucy tengah berada di balkon kamarnya, situasi saat ini terasa begitu sepi, dimana Putra Mahkota, Flona, dan Emillo saat ini? Begitulau pertanyaannya.
Mengingat kejadian di mimpi, ketika pertikaian kakak beradik itu berlangsung, tanpa disadari seseorang dengan jubah hitam datang menghampiri mereka.
Jika dipikirkan lebih dalam lagi, pada pesta ulang tahun Putra Mahkota seperti saat ini, sudah sepastinya semua tamu undangan disini memakai dress code yang mencolok dan bukan warna gelap seperti orang aneh itu.
“Anda siapa?” tanya gadis itu yang merasa curiga, wajahnya tidak begitu kelihatan karena orang itu tengah memakai jubah yang panjangnya sampai menutupi hidung. Jika ditanya siapa dia, tentunya dia tidak menjawab. Namun lekuk postur tubuhnya cukup menjelaskan identitas dirinya yang seorang wanita.
“Jangan mengganggu dan cepatlah menyingkir orang aneh!” gerutu Lyonora yang merasa aktivitasnya terganggu. Alih-alih mendengarkan permintaannya, wanita itu malah tertawa dengan sendirinya.
‘Sebenarnya dia siapa….’ tanya gadis itu yang merasa ada sesuatu yang tak beres. Penampilannya cukup mengerikan, terlebih bau tubuhnya terasa amis.
“Jangan bilang anda—”
“Cukup sekian pertikaiannya, Nona-Nona.” tuturnya yang terdengar seolah suara wanita itu berusia tua.
‘Dia nenek-nenek? Tidak— tubuhnya terlalu kelihatan muda!’ waspadanya sembari memundurkan langkah, tangannya kini terangkat untuk menarik pergelangan Lyonora dan menyuruhnya bersembunyi dibelakang. Bukannya bekerja sama, perempuan itu malah berteriak kesal sembari mengibaskan tangannya.
“Kau pikir aku lemah?! Jangan berlagak!” omelnya yang tak kenal situasi, gadis itu hanya menggeleng ketakutan. Melihat kehadiran wanita asing ini saja cukup membuat bulu kuduknya merinding. Menurut dari pengajaran yang ia terima di akademi sihirnya, ciri khas, bau, dan penampilan wanita itu, sangatlah mirip dengan, “Wanita itu seorang penyihir kegelapan.” bisiknya yang teramat pelan.
__ADS_1
“Kau ingin aku mempercayai ucapan bodohmu itu?” tanyanya lantang. ‘Oh tidak, situasi apa ini.’ Lucy hanya membatin dengan jemari tangannya yang gemetaran. Wanita misterius itu kini memasang senyuman aneh di wajahnya.
“Anda merupakan dua Nona penyihir terhormat, bukan?” tanya wanita itu dengan suara yang seperti sudah tua, Lucy enggan menjawab pertanyaaannya, namun dengan bangganya Lyonora malah menimpali dengan kalimat, “Benar, saya penyihir berbakat di kerajaan Garfield. Memangnya apa urusan mu?!” tuturnya dengan tatapan tajam.
“Kak seharusnya kita kabur, ayo!” pintanya gusar, Lucy yang merasa usianya saat ini tidak akan cukup kuat jika harus berhadapan dengannya. Yang wanita itu incar saat ini pasti hanya mereka yang merupakan penyihir, namun jika ada manusia biasa yang berkeliaran ditempat ini bisa saja akan di jadikan Sandra. Pikirannya saat ini menjadi rumit.
‘Aku harus apa? Auranya terasa berat dan menakutkan....’
Lucy saat ini mencoba menghentikan keributan Lyonora, namun perempuan itu cukup keras kepala dan malah lengah begitu saja. Sikap cerobohnya malah mencoba mendekati wanita itu dan berniat menarik jubah yang menutupi wajahnya, namun jangan mengira wanita misterius itu akan diam saja.
Satu tangan dari wanita berjubah hitam itu membentang ke arahnya. “Via animo mortas, fraŭlino Sorĉistino.” Wanita itu mulai merapalkan kalimat yang aneh.
‘Dia tahu, jiwa ku sedang tidak baik-baik saja? Lantas bagaimana bisa aku melawannya!’ batinnya dengan tangan yang gemetaran.
“La morto venos al vi, mallumo vin formanĝos.” usai merapalksan sesuatu, kulitnya yang pucat pasi itu mengeluarkan aliran hitam yang bergerak seperti binatang buas yang memburu mangsanya, Lucy yang kerap waspada telah memaparkan sihir perlindungannya untuk melindungi diirnya dan tempat ini, namun perasaannya yang tengah bercampur aduk itu membuat kekuatan sihirnya tak bekerja dengan baik. Ia menggertakan giginya pertanda dirinya merasa buntu.
Lyonora yang tidak begitu berbakat akan kekuatan sihirnya malah membeku pasrah ketika aliran hitam itu mengalir menggerogoti dirinya, Lyonora hanya merasa tak percaya bahwa perempuan dengan jubah mengerikan itu benar-benar penyihir yang di ramalkan oleh kuil suci. Bukannya beranjak dan membantu adiknya yang mulai kewalahan, perempuan itu malah diam tanpa dihir pertahanan.
Pikirannya membuat Lyonora lengah habis-habisan, hingga pada akhirnya sihir kegelapan yang dipenuhi roh dan jiwa busuk itu menghantam jantung Lyonora, dan menguras segala energi sihir yang dimilikinya, pada akhirnya perempuan itu kini terbujur kaku bersamaan sihir yang direbut secara paksa.
Sihir hitam yang memenuhi tempat ini membuat pepohonan dan tanaman disekitar tampak melayu. Lucy tampaknya telah salah perhitungan, orang yang diincar oleh wanita itu bukan mereka berdua melainkan hanya kakaknya, Lyonora. Jika diperhatikan dengan aliran sihir yang terus-terusan mengarah kepada kakaknya.
“Aku mohon…. Sihirnya…. Apa tidak ada siapapun di sekitar sini?! Jangan biarkan sihir hitam itu menyentuh tubuh kakak lebih dari ini!” tuturnya yang menahan mati-matian, semua urat di wajahnya mengeras menampilkan betapa besarnya usaha yang ia coba. Namun kekuatan mana tetap ada batasnya.
Penyihir yang Lucy anggap merupakan seorang penyihir kegelapan itu tentunya lebih unggul dari pada Lucy yang baru saja lulus dari akademi sihir. Level mereka terlalu jauh. Sihir yang terlalu kuat itu dapat menghancurkan segalanya, tepat di detik terakhirnya, jantung Lyonora yang memompa terlalu kencang itu membuatnya meledak tiba-tiba, percikan darah yang yang menyentuh gaun dan tubuhnya membuat perempuan itu mematung dengan tatapannya yang terlihat kosong. “Aku…. gagal?” tanyanya tak percaya.
Gadis yang saat ini berusia 17 tahun itu telah mengehembuskan napas terakhirnya tepat di depan matanya sendiri. Gemercik air mata turun mengaliri pipinya dan bercampur dengan darah, “Aku gagal melindungi kakak….” Debaran yang berat membuatnya merasa sesak dan putus asa, untuk apa mendapatkan julukan genius di usia muda, jika melawan penyihir kegelapan seperti ini saja tidak bisa ia lakukan. Bahkan ia gagal melindungi kakaknya sendiri.
Air matanya yang berlinang tidak ada niatan untuk berhenti mengalir, kedua telapak tangannya yang gemetaran itu terangkat untuk menutupi mulutnya rapat-rapat. Ia merasakan serpihan hatinya menghilang setelah kepergian Lyonora yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Walaupun Lucy hampir kerap membencinya, namun ia tidak pernah mengharapkan hal ini terjadi menimpa Lyonora. Baginya ia hanyalah satu-satunya keluarga yang ia miliki dirumah.
“Sangat mengecewakan, aku bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya.”
“Tampaknya kali ini kamu tidak ada apa-apanya, aku takan membunuhmu begitu saja, seperti yang terakhir kali, aku akan membunuhmu setelah kebangkitanmu.” ujar wanita mengerikan itu bernada tajam. Dengan segera ia merafalkan mantranya kemudian wanita dengan jubah hitam itu menghilang begitu saja bagai terhembus angin malam. Mendengar suaranya saja sudah cukup mengerikan.
Hanya saja, Lucy terlihat tidak peduli dengan segala ucapannya, ia hanya terkapar rapuh dan menangis sejadi-jadinya di depan jasad kakaknya yang bersimpuh darah. Pemandangan saat ini sangatlah mengerikan dan juga cukup membuat salah paham. Tentunya pemandangan seperti ini tengah disaksikan oleh Putra Mahkota yang saat ini tengah diam mematung.
“Kau membunuh kakakmu?” tanyanya tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
Pada akhirnya, dengan kejadian inilah yang membuat hubungan mereka mulai merenggang.
Mimpi itu telah berakhir dengan sebuah tragedi yang memilukan, walaupun begitu Baginda Raja tidak menerima semua tuduhan yang mengarah kepada Lucy, karna kakaknya mati dengan sihir kegelapan yang tersisa ditubuhnya.
Tentunya tidak ada sihir yang diciptakan untuk saling berebut paksa kekuatan antar penyihir yang lain. Seseorang yang bisa melakukan hal keji seperti itu hanyalah penyihir kegelapan, yang memang untuk menambah kekuatan sihir gelapnya yaitu dengan memakan sihir milik para penyihir murni.
Alih-alih merasa percaya setelah diberikan penjelasan seperti ini oleh Baginda Raja yang merupakan ayahnya, Reygan malah berpikir bahwa Lucy sendirilah yang merupakan seorang penyihir kegelapan.
...***...
Kini gadis itu merenung sembari menatap pemandangan melewati balkon kamarnya. “Kejadiannya tepat terjadi di taman itu ya.” tuturnya diiringi tatapan yang lurus ke arah taman.
Jika dipikirkan secara garis besarnya, Putra Mahkota diharuskan memiliki seorang Ratu yang merupakan seorang keturunan penyihir. Karna pertemuan pertamanya dengan Lucy diistana cukup membekas diingatan Reygan, pada akhirnya sampai berusia 17 tahun pun Pria itu tetap menyukainya, namun karena prosedur bangsawan, yang harus dinikahkan adalah Putri tertuanya, terkecuali jika kakak tertua Lucy merupakan seorang Pria. Pada akhirnya Reygan dan Lyonora bertunagan dengan perasaan terpaksa.
Alasan dirinya membenci Lyonora karena perempuan itu terlihat gila akan kekuasaaan, berbeda dengan Lucy, ia selalu terlihat tulus dan mendukungnya dibelakang sebagai teman baik. Namun kejadian saat ini cukup mengecewakan untuknya, tampaknya kakak beradik ini terlihat tidak ada bedanya.
“Haha, tanpa menanyakan terlebih dahulu padanya, Anda malah menyimpulkan hal ini sendirian.” tuturnya diiringi kekehan kesal, matanya hanya menatap sayu tepat ketika dibawah sana terlihat Putra Mahkota sedang berjalan sembari membawa buket bunga. Paparan sinar matahari kini mulai terlihat secara perlahan, gadis itu sepertinya terlalu melamun begitu lama.
‘Aku mengerti perasaanmu Yang Mulia, anda merasa saling menyukai satu sama lain dengan Lucy bukan? Namun Lucy yang baik selalu menutupi perasaaannya sendiri, begitu? Setelah melihat kejadian ini, tampaknya anda berpikir bahwa perasaan Lucy berubah menjadi rasa obsesi karens anda melihat Lucy membunuh kakak kandungnya sendiri menggunakan sihir, begitu bukan?’ tanyanya dalam hati.
Beberapa waktu sejenak, perempuan itu tampak melamun cukup lama. Hingga derapan langkah dibelakangnya membuat gadis itu tersadar dan tertawa kecil. “Sayang slali, itu hanyalah kesalah pahaman yang sangat klise, lantas pada saat itu saya telah terbukti tidak bersalah, anda tetap akan membenci saya kan? Sampai memperlakukannya begitu hingga 2 tahun, apa saat itu di mata anda, saya juga terlihat seperti wanita yang gila akan kekuasaaan?” tanyanya tepat kepada seseorang yang menocba menghampirinya dibelakang, “Yang Mulia?” lanjutnya dengan raut wajah memicing.
‘Jika dipikirkan, semua orang memaklumi tingkahnya yang lupa ingatan, tapi jika melihat situasi saat ini, semua orang menganggap Lucy yang terkena tekanan batin melupakan segala kenangan buruknya. Puncaknya terjadi ketika di perburuan tahun kemarin.’
“Berarti baginda raja sudah tahu ya, bahwa saya telah bertemu dengan Penyihir itu dua kali, ketika mendengar ceritanya dari Sir Emillo, apa anda tahu saya sangat terluka ketika anda lebih memperhatikan Sheyra dari pada saya?” tanyanya dengan tatapan tak habis pikir.
“Lucy…. Saat itu aku—”
“Saya ingat semuanya Yang Mulia, kematian kakak yang teragis. Dan anda yang sangat dipercayai olehnya, teman berharaga satu-satunya yang dimilikinya, bukannya merangkul dan menenangkannya, saat itu anda malah berbalik dan pergi meninggalkannya.” Bisiknya tepat disamping telinga Pria itu. Matanya terbelalak kaget, sikap ini…. Persis seperti sikap Lucy saat pertama kalinya ia kehilangan ingatan, yaitu bersikap dingin, acuh, dan tak peduli hanya kepadanya seorang.
‘Anda bersikap seperti Lucy yang bersikerasa menolak pertunangan ini….’
“Dari pada itu, kenapa Lucy mengatakan hal itu seolah membicarakan orang lain?” tanyanya merasa janggal.
Perempuan itu kini malah tertawa sinis, “Tentu, saya membicarakan Lucy yang lain, Lucy yang selalu tersenyum hangat kepada Anda, Lucy yang selalu memberikan uluran tangannya kepada Yang Mulia,” tampaknya sorot matanya kini terlihat murung, gadis itu menundukan kepalanya sembari menahan isak tangisannya.
“Tentunya saya membicarakan Lucy yang tak akan pernah bisa anda lihat lagi….”
__ADS_1