Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 38 : Festival Abadi


__ADS_3

Usai menerima permintaan sang Nona, malam ini mereka pergi ke festival abadi menggunakan kereta kuda istana. Tampaknya suasana Lucy saat ini tenang dan nyaman seperti biasanya, tapi apakah hanya ada dua orang yang merasa canggung di dalam kereta kuda ini?


Aku yang seorang ksatria pelindung biasanya duduk di depan bersama kusir kereta, tapi suasana apa ini? kenapa aku berada diantara dua lady yang tengah berbincang hangat seperti ini?


Sir Emillo hanya bertanya-tanya, apakah suasana seperti ini di ciptakan oleh Nonanya yang saat ini malah sering memasang wajah dengan senyuman? Entah hal apa yang membuat perasaan Lucy begitu bersemangat, yang jelas sepertinya Flona juga terlihat canggung jika di perhatikan.


“Sir, apakah kami sudah terlihat cantik?” tanya gadis itu sembari memperhatikan penampilannya, Lucy memakai gaun namun tidak begitu mewah dan juga menarik perhatian. Penampilan mereka saat ini juga terbilang menawan walaupun hanya memakai pakaian sederhana.


Apa ini yang dinamakan kekuatan wajah? Walau memakai pakaian biasa sekalipun kita akan tetap bersinar?


Matanya teralih menatap Sir Emillo yang sedang duduk di depannya, walaupun ia tidak memakai pakaian ksatria resmi dan hanya memakai pakaian biasa atas permintaannya, dia benar-benar luar biasa tampan dengan julukannya yang disebut Ksatria Putih.


Ya mungkin karna warna rambutnya.


“Anda sekalian sudah kelihatan rupawan, alangkah menyenangkannya jika Yang Mulia berada di samping anda saat ini.” tuturnya bernada seperti biasa.


Sekilas Lucy tampak merenung, ia jadi teringat kembali dengan kencan pertamanya yang menggunakan sihir teleportasi.


“Benar juga, kencan ganda memang menyenangkan.” timpalnya yang kini membuat dua insan itu membeku.


Kencan ganda? Maksud Nona… dengan saya dan tuan ksatr-


Gadis itu tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi di dalam hati, ia nampak gugup dan juga bingung untuk memahami suasana saat ini, mungkin akan lebih mudah di mengerti jika sang Nona sedang mendekatkan tuan Ksatria itu kepada Flona.. tapi akan lebih menyenangkan untuknya jika ksatria yang di perkenalkan kepadanya merupakan hanya ksatria dari rakyat biasa.


Ini agak membebani untuk saya.. sepertinya Nona mengetahui bahwa saya mengagumi beliau.. tapi tuan ksatria nanti tidak akan nyaman ketika bersama saya..


“Tapi tidak buruk juga.. jika begini, sepertinya saya akan menjadi nyamuk diantara Nona-nona.” timpalnya yang sukses membuat kedua perempuan itu tercenga.


Lho?


Reaksi Sir Emillo cukup membuat Flona terdiam, apa barusan tuan ksatria terhormat ini mengakui perkataan Lucy? Tapi wajahnya sedikit murung.. mungkin Tuan mengiyakannya karena ingin menghargai ucapan Nona..


“Flona, apa yang kamu pikirkan?” tanya Lucy dengan tatapan bingung sekaligus khawatir.

__ADS_1


Apa aku terlalu mendesak mereka secara terang-terangan? Benar.. sepertinya akan tidak nyaman jika seperti ini, sebaiknya aku membuat ini mengalir secara natural.


“Tidak apa-apa Nona, saya hanya senang karena Nona mengajak saya pergi keluar.” tuturnya diiringi senyuman sumringah.


Deg..


Oho.. lihat tuh.. sepertinya ada yang terkesima..


“Ekhem.. hari ini aku ingin melihat theater, mencoba berbagai makanan, dan berkeliling sepuasnya. Katanya kembang apinya juga kali ini meriah ya? Bagaimana kalo kita naik ke puncak bukit untuk melihatnya? Sir juga harus melindungi kami dengan benar ya?” tuturnya dipenuhi rasa semangat.


Sebenarnya Lucy juga merasa senang karena setelah sekian lama ia bisa bersenang-senang di luar istana, sesungguhnya tempat itu sangat pengap dan menyesakkan dada. Ia hanya tak percaya bahwa selama ini Reygan mengerjai dirinya, sepertinya saat pulang nanti dia harus kupukul biar mati rasa!


Flona hanya tersenyum dan mengangguk, prioritas dirinya hanyalah dengan kebahagiaan Nonanya. Begitu pula Sir Emillo, apapun yang Nonanya lakukan ia hanya akan mengikuti dan melindunginya dengan sepenuh hati, karena seperti itulah tugas dari Ksatria Pelindung.


Suasana yang terlihat canggung itu sepertinya telah mencair dengan natural..


...***


...


Aku juga berhasil meyakinkan mereka karena aku seorang penyihir, aku bisa menghindar tanpa membutuhkan perlindungan yang berlebihan. Karena aku bisa melindungi diriku sendiri. Lantas.. akan berbeda cerita jika aku bertemu dengan Penyihir kegelapan..


“Nona.. anda mau pergi kemana dulu?” tanya Flona di sampingnya.


“Aku ingin melihat-lihat dulu.” pintanya sembari melangkahkan kaki terlebih dahulu.


Suasananya benar-benar meriah, tempat ini di penuhi warna dan kebahagiaan. Di sepanjang perjalanan terdapat banyak obor yang menyala menerangi kegelapan. Penyiapan ini juga sepertinya semakin menjadi meriah karena adanya dana bantuan dari kerajaan. Disana ada yang membuat api unggun di lokasi yang telah ditentukan kemudian diiringi para rakyat yang menari bersamaan alunan musik yang di hasilkan dari alat musik tradisional.


Tema pakaian yang dipakai hari ini berwarna biru, sebenarnya alasan memakai warna biru untuk lambang dari keluarga kerajaan karena itu merupakan warna kesukaan dari Penyihir Morticia, tidak sembarang orang bisa di terima jika menggunakan tema dan nuansa warna seperti ini, kecuali jika pada hari tertentu seperti saat ini.


“Festival ini juga di adakan selama satu minggu ya?” lirihnya sembari memilih sebuah batu permata menarik di sebuah tempat penjual perhiasan terbesar di pusat kota. Lucy bilang ingin mencari sesuatu terlebih dahulu untuk Putra Mahkota.


Hanya saja tidak ada yang menarik. Bagiku kilauan benda ini tidak ada yang bisa mengalahkan kilauan iris mata Yang Mulia, terlebih jika saat malam hari.. mata merah Yang Mulia terlihat bersinar terang..

__ADS_1


“Benar, yang paling meriah itu pembukaan dan penutupnya Nona.” tutur Flona di belakangnya.


Penutup.. hari terakhir ya?


Hatinya saat ini masih merasa bahwa tidak ada barang yang cocok untuk dijadikan hadiah kepada Putra Mahkota, ia mendecih sebal ketika barang dari toko langganannya tidak ada yang menarik satupun seperti ini.


Namun ada satu buah benda yang berkilau telah menarik perhatiannya, itu merupakan bros dengan purple sapphire sebagai hiasannya. Menurutnya benda ini terlihat cantik jika dikenakan pada Flona, terlebih warna mata mereka sama.


“Tuan, saya beli yang ini saja. Tagihannya di kirim ke kediaman Barayev ya, untuk barangnya Anda bisa mengirimkan ke istana Cathalia.” pintanya sembari menunjuk ke arah bros mahal itu. Pemilik tempat itu hanya mengangguk seolah sudah terbiasa dengan situasi saat ini.


Ya.. tidak masalah, kalau aku tidak membeli apapun hal ini malah memalukan.


Tak lama kemudian mereka kembali ke jalanan dimana festival tengah berlangsung, pada akhirnya ia menghela nafas karena tidak menemukan benda apapun yang ingin ia hadiahkan kepada Putra Mahkota. Ia berfikir untuk menunda sesi pembelian hadiah terlebih dahulu dan sepertinya lebih baik menikmati suasana festival yang meriah ini.


“Tapi Nona, kenapa anda tidak memberikan tagihan ini kepada istana anda?” tanya Pria itu bingung.


Lucy mengerti dengan arah pembicaraannya, maksudnya ia bertanya ‘Kenapa Lucy tidak berbelanja dengan anggaran yang di berikan kepadanya?’ tapi perempuan itu hanya tersenyum kecil.


“Saya tidak ingin merepotkan Yang Mulia.” jawabnya yang kemudian melangkah jauh untuk membeli permen kapas yang berletak di depan sana.


“Jika seperti itu, anda hanya akan membuat Yang Mulia menjadi kesal.” gumamnya dengan melangkah santai di belakang, Flona hanya melirik dengan tatapan bingung kepadanya.


“Memangnya ada apa Tuan? Nona hanya sedang berhemat dengan uang anggaran yang di berikan Yang Mulia untuknya,” tanya gadis itu dengan tatapan bingungnya, bukankah figure Lucy saat ini menjadi perempuan teladan yang tidak menggunakan uang anggaran seenaknya?


Diiringi helaan nafas yang panjang, Sir Emillo kini menatap lurus ke arah Lucy yang tengah membeli tiga buah permen kapas. “Yang Mulia hanya ingin menjadi sandaran untuk Nona Lucy, beliau bilang Nona boleh memakai anggaran sebanyak apapun asalkan beliau tidak membebani tuan Count lagi.” jelasnya yang membuat Flona merasa tak enak hati.


Sepertinya beliau belum tahu ya, memang tidak di sebar secara luas sih.. tapi tuan Count Barayev telah menemukan harta karun di pertambangannya. Sepertinya masih tahap produksi, tapi keuangan keluarga Nona sudah teratasi sejak sebelumnya.


Obrolan mereka berdua yang ringan itu menambah kesan hangat dan meriah di acara festival ini, terlebih setelah mereka berdua menghampiri Lucy dengan tiga permen kapasnya cukup menarik gelak tawa di antara mereka.


Hingga awal dari hal yang menyenangkan ini berubah menjadi rasa cemas dan kepanikan ketika Lucy menghilang dari pandangan mereka berdua.


__ADS_1


__ADS_2