Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 33 : Finnaly


__ADS_3

Aula pesta tampak ribut ketika melihat perbuatan Lucy yang terbilang cukup kasa, apalagi saat Dominique mengamuk kesal ketika melihat wajah adiknya ditampar di depan umum. Thomas terlihat geram dan tidak terima atas perbuatan Lucy yang terbilang bisa dianggap telah mempermalukan Putrinya di depan bangsawan.


Hingga pada akhirnya, Pria itu mencoba untuk membalaskan tamparan Putrinya, namun ayunan tangan itu berhenti ketika Lucy melantunkan kalimat yang membuatnya merasa mati rasa.


“Anda berani menampar saya?” tanyanya dengan tatapan penuh tekanan.


“Lucy!” gertak Putra Mahkota disampingnya. Ia terlihat marah ketika melihat perbuatan Lucy yang bersikap arogan seperti ini, apa lagi sikap dan tingkah lakunya saat ini sudah pasti akan tertanam jelas diingatan mereka yang memperhatikannya.


Wajah Sheyra kini hanya menampilkan senyuman puas seolah berkata ‘Bodoh’ dibalik telapak tangan yang berpura-pura menutupi pipinya yang sakit.


Thomas hanya terlihat panik, “Ugh!” ringisnya sembari menghempaskan kepalan tangannya secara sia-sia. Ia sendiri juga tahu, jika ia menampar calon Putri Mahkota saat ini juga, status bangsawannya bisa saja akan segera berakhir begitu saja.


Terlebih.. jangan pernah meremehkan Lucy, setelah melakukan riset analisa berkali-kali, Lucy itu anak emas kesayangan Baginda Raja lho~


“Lagi pula, Saya ini merupakan Tunangan resmi dari Yang Mulia. Apa anda berani mencoba melukai saya? Saya bisa menuduh anda atas tuduhan makar loh, Tuan Baron.” tutur gadis itu yang kini tengah menatapnya dengan tatapan rendah.


Tak lama kemudian jemari tangannya yang lentik itu kini menyentuh dan menggenggam erat pergelangan tangan Reygan. Terukirlah sebuah senyuman diwajahnya, saat ini gadis bersurai pirang itu hanya diam sembari menatap wajahnya dengan tatapan lekat. “Yang Mulia..” panggilnya benar-benar lembut.


Pria itu tampak membalasnya dengan seyuman lega. “Terimakasih.” ucapnya yang tak lama kemudian mengecup kening gadis itu dengan lembut.


Pssh..


“Rey..” wajahnya terlihat memerah malu, ia hanya bertanya-tanya apa ini merupakan trik jitu agar hubungan mereka akan tetap terlihat harmonis di mata bangsawan.


“Maaf ya.” sahutnya sembari mengusap puncak kepala Lucy dengan hangat.


“Lihat itu, apa Yang Mulia berterimakasih karena Nona Barayev telah menampar perempuan itu?” serba-serbi bisikan dari para bangsawan.


“Yang Mulia! Perbuatan tunangan anda benar-benar kurang ajar, bagaimana bisa—” protes Thomas yang terpotong dengan cepat oleh Reygan.

__ADS_1


“Thomas Chevelle, kau menyebut tunanganku kurang ajar?” tanya Pria itu dengan suasana muram. Tatapan yang tertera saat ini terlihat tajam, iris ruby itu terlihat gelap ketika memperhatikan Thomas Chevelle di depannya.


Wajah Pria tua itu kini terkejut, tangannya terlihat gemetaran. Ia merasa nyawanya akan terancam jika bertindak lebih dari ini, tatapan mata itu merupakan tatapan paling mengerikan yang pernah ia lihat seumur hidupnya, dengan segera ia bersujud di depan telapak kakinya.


“Ya— Yang Mulia! Sa— saya tidak bermaksud begitu! Tapi tunangan anda telah menampar Putri saya diacara kedewasaannya, apa saya bisa menerima penghinaan ini begitu saja?!” geram Thomas dengan tubuh yang masih gemetaran, disisi lain giginya menggertak pertanda marah besar.


Anak sialan! Dia bilang Putra Mahkota akan memihaknya, apa ini?! Dia seperti menyayangi tunangan yang katanya sangat di benci olehnya!


“Lucy, saat ini biar saya yang urus.” bisiknya pelan-pelan. Lucy hanya mengangguk pertanda mengerti, walaupun hatinya masih merasa tidak menyangka dengan pembelaan Putra Mahkota saat ini.


Pandangan Lucy terlihat sayu, saya pikir ini hanya lelucon di dunia fantasi. Nyatanya Yang Mulia benar-benar tidak pernah membenci saya. Ia hanya melirih dengan isi hatinya yang mulai terbuka, tatapannya kini mendelik tajam ketika menatap Sheyra yang merengek dan menangis dipelukan sang Kakak.


Jadi begini ya Sheyra? Tokoh penjahat yang sesungguhnya. Ia menutupi pipi itu seolah bengkak, padahal ia menutupi kulitnya yang melepuh akibat bereaksi dengan kekuatan sihir pemurnian milikku.


Jadi dia memang bersekutu dengan Penyihir kegelapan?


“Yang Mulia! Bagaimana bisa anda berkata begitu?!” tanya Pria itu tak terima, raut wajahnya tidak begitu kelihatan karena sedang menunduk seolah memohon ampun.


Setidaknya mulutmu lakukan yang sesuai dengan tingkahmu dong!


“Ayah.. heuk..” panggilnya dengan isak tangisan yang pecah. Entah karena apa melihat dirinya menangis, Reygan kini hanya bereaksi seperti biasa saja, ia tak begitu menaruh perhatian lagi kepadanya.


“Lihatlah! Pipi Putriku bengkak karenamu!” hardik Pria itu dengan telunjuk jarinya yang mengarah kearah Lucy.


“Turunkan tanganmu jika masih merasa bahwa nyawamu itu berharga.” Ucapannya saat ini merupakan peringatan untuk yang terakhir kalinya. Reygan hanya merasa tak suka dengan Thomas yang hanya seorang bangsawan berstatus rendah itu bersikap kurang ajar kepada tunangannya.


Huft.. apa sih. Lucy hanya memutar matanya dengan malas, kini ia melangkah menghampiri Thomas yang saat ini masih bersujud didepannya. Wajahnya kini menunduk menatap Pria tua itu yang masih saja sok-sok an melawan padahal tubuh ketakutannya itu tidak bisa disembunyikan.


“Mohon maaf, Tuan Chevelle. Saya sudah sabar menahannya selama ini. Tapi sedari tadi, Putri manja kesayangan anda itu terusan-terusan mengganggu kekasih saya dengan gencar, apa anda bisa menjelaskan apa maksud dari perbuatannya itu?” keluhnya yang sudah terlihat lelah menghadapi pertikaian ini.

__ADS_1


“Bukankah saya pantas untuk menghukumnya seperti ini?” tanyanya dengan suara lembut, Thomas kini mendongak menatap wajah Lucy yang saat ini tengah menampilkan senyuman tipis seperti biasanya.


Sedetik kemudian mata gadis itu menurun menampilkan tatapan nyalang kearahnya. “Apa hukuman itu masih kurang, Baron Chevelle?” tajamnya dengan nada rendah.


“Anu— Nona! Mohon ampun belas kasih anda, Putri saya hanyalah anak kecil yang baru menginjak usia kedewasaannya. Biarkan saya yang mendidiknya nanti.” cecar Pria itu yang terus-terusan memohon ampun padanya. Sudut bibir Lucy hanya sedikit terangkat menampilkan tawaan sinis, ditekan sekali saja rasa ketakutan mu itu bukan main. Makanya hentikan sampai disini aja dong.


Suasana tampak runyam, para bangsawan hanya tidak menyangka bahwa di pesta kedewasaan Sheyra akan terjadi kekacauan sampai seperti ini. Bisikan yang ramai itu kini terhenti ketika Ratu dari perkumpulan kelas atas mau membuka suaranya.


Ia merupakan Federica Halstead yang tampaknya saat ini mau menjadi tameng untuk Lucy di depan para bangsawan. “Jadi sikap Putri anda yang dilakukan pertama kali ketika menginjak usia dewasanya adalah menggoda kekasih orang?” tanya perempuan itu diiringi kipas hitam yang menutup wajahnya.


“Tuan Putri.. tidak! Ini—”


“Aku kecewa pada Putrimu, jika melihatnya seperti ini. Putrimu tidak lolos kualifikasi untuk menjadi bagian dari perkumpulan saya. Maaf Tuan Chevelle, saya harus menolak permintaan anda.” kukuhnya bernada tegas, tak lama kemudian ia pergi meninggalkan Ballroom tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Wibawa seorang Putri Duke memang tidak mengecewakan, hanya karena beberapa patah kalimatnya membuat keadaan Lucy berbalik menjadi lebih baik. Pandangan beberapa bangsawan yang berusaha menyudutkan Lucy kini berubah dan memilih diam. Sebab mereka berpikir ‘Putri Duke saja sampai berkata seperti itu, berarti Nona Sheyra yang memang tidak tahu malu.’


Dalam hati Lucy, ia hanya mendengus karena menjadi berhutang budi kepadanya. Walaupun begitu hati kecilnya tetap berterima kasih atas bantuannya. Tak lama dari kejadian ini ia memandang Putra Mahkota disampingnya.


Rasanya ia bisa bernafas lega karena telah berhasil memperbaiki hubungan mereka di depan bangsawan.


“Ayo pulang Yang Mulia.” ajaknya dengan senyuman lega.


Ia berpikir jika segala akar permasalahan Lucy dengan Reygan hanyalah salah paham yang tidak pernah berakhir, maka sebaiknya kami menjaga hubungan ini dengan komunikasi yang lebih baik. Hati kecil saya tidak pernah berhenti berkata terimakasih untuk anda, Sir.. terimakasih telah membantu saya menemukan kebenaran dibalik topeng Sheyra selama ini.


Jika perasaan Yang Mulia juga tulus kepada saya, setidaknya tidak apa-apa kan jika saya menganggap anda rumah dimana saya bisa singgah dan beristirahat selamanya?


Tak lama kemudian ia tersenyum hangat sembari menuntunnya pergi, “Ayo… kita pulang kerumah.” ajaknya dipenuhi senyuman lebar. Seolah dapat mendengar isi hatinya, ia juga mengatakan hal yang benar-benar ingin di dengar olenya saat itu juga.


__ADS_1


__ADS_2