
Sampailah di penghujung acara yang begitu ia nantikan sejak lama, yakni pesta kedewasaaan si tokoh utama yang telah tiba.
Sebelum menghadiri pesta yang akan di gelar Sheyra pada malam hari ini, Lucy melaksanakan puasa dari pagi hingga malam demi mempertahankan kerampingan tubuhnya, ‘Ini bukan kemauan ku, tapi meraka yang berharap aku akan tampil dengan sempurna.’ tutur kata hatinya yang merasa ingin menangis.
Tapi ia hanya berharap kecil bahwa para pelayan untuk tidak memperlakukannya sekejam imi. Karena, ‘Aku kan bukan tokoh utama di pesta ini.’ ringisnya sebal.
Ia bertanya-tanya, apakah memang harus sampai menahan lapar begini dikala perutnya sedari tadi tidak ada niatan u tuk berhenti keroncongan?
Namun jika dilihat dari statusnya yang sebagai tunangan Putra Mahkota, sudah sepatutnya untuk Lucy menjaga penampilan dan martabatnya. Apa lagi ia datang sebagai partner beliau.
Sebelumnya, Lucy pun telah menyiapkan diri dengan berbagai perawatan bangsawan yang cukup rumit. Ketika para pelayan melayani dirinya dengan ini dan itu, Lucy hanya terdiam pasrah seperti boneka cantik yang tengah di dandani.
“Bisa-bisanya nanti malah aku yang terlihat paling mencolok.” Lucy tampak mendengus dengan raut wajah tidak tertarik, lebih tepatnya ia tidak mau menjadi pusat perhatian lagi seperti di pesta Pertunangannya dulu. Namun sepertinya agak mustahil, melihat akan kedudukannya sudah pasti mereka akan di gandrungi para bangsawan ╥﹏╥
Karna ini juga merupakan pertama kalinya Lucy menghadiri pesta sebagai pasangan Putra Mahkota, sejujurnya jantungnya sedikit berdegup dengan kencang, setidaknya ia ingin tampil dengan sebaik mungkin dan mencerminkan citra yang baik di depan para bangsawan.
Selain itu ini merupakan pertarungan sengit antara dirinya dengann Sheyra. “Pokoknya, kali ini akan kubuat Lucy yang menyedihkan ini memenangkan pertandingan!” cetusnya dengan mengebu-ngebu. Flona yang tepat berada dibelakangnya hanya menggeleng—gelengkan kepalanya, ia hanya terpikirkan seribu pertanyaan yang sama di benaknya.
“Nona sudah gila ya?” celetuknya dibelakang. Respon Lucy hanyalah msnampilman tersenyum yang terpantul di depan cermin. Flona yang memperhatikan ini cukup membuat dirinya merasa merinding.
“Flonaa, gaji mu di potong~” Tiba-tiba saja Lucy melirih dengan nada lembutnya, yang entah kenapa suaranya itu cukup terasa mengerikan untuk di dengarkan. Bagaikan sebuah peringatan yang akan menentukan masa depan Flona seperti apa, dengan sigap ia membekam mulutnya dan menjawab ujaran Nonanya dengan senyuman ramah.
“Gila akan semangat maksudnya Nona,” timpalnya diiringi wajah berkeringat dingin.
...***...
Gaun yang ia kenakan hari ini ialah gaun berwarna biru safir yang terlihat menawan, tidak lupa dipadukan dengan riasannya yang tipis. Pakaian ini juga tentunya pakaian berpasangan yang baru saja dibeli kemarin bersama Reygan di butik Royal's.
Usai berpakaian, tampaknya dengan tangan terampilnya, Flona kini merias rambut Lucy yang terurai panjang, namun perhatian keduanya cukup teralih ketika Sir Emillo tiba sembari memberikan kotak yang dihiasi pita satin kepadanya. Gadis itu tampak mendongak dan bertanya, “Ini apa?” tanyanya sembari menerima kotak kado tersebut.
“Hadiah dari Yang Mulia, Nona,” jawabnya dengan wajah yang terlihat memerah ketika menatapnya, Lucy sedikit kebingungan. Apakah Sir Emillo sedang demam? Begitu tanyanya, namun responnya malah menggelengkan kepala kemudian mengundurkan diri untuk menunggu di balik pintu kamarnya.
Di tatap kotak hadiah itu dengan seksama, “Ini—” Lengannya nampak tertarik untuk membuka kotak hadiah itu, senyum yang manis kini terpancar ketika melihat isi dibalik penutup kotaknya. Sepertinya ia menerima pita safir yang ia lihat di toko antik itu dulu. Ujung bibirnya nampak melengkung menampilkan senyuman ceria.
“Jadi dia mengingatnya ya? Karna sudah lama, saya pikir Rey melupakan ini.” ucapnya diiringi tawaan kecil.
Dalam hatinya ia berkata, ‘Anda bisa bersikap manis juga ya,’ tuturnya yang entah kenapa merasa gemas.
“Flona, aku ingin menggunakan aksesoris ini saja. Sepertinya akan cocok dengan gaun yang digunakan hari ini,” pintanya tiba-tiba. Raut wajah Lucy yang nampak cerah seperti malaikat itu membuat Flona senang dan mengangguk dengan sepenuh hati.
“Baik Nona!”
... ***...
Hatinya terasa berdebar saat setiap langkah demi langkahnya menuruni anak tangga di damping Sir Emillo di sampingnya, jauh dibawah sana ada seseorang yang tengah menunggunya dengan tenang.
Benar, ia adalah Putra Mahkota dengan kereta kuda yang menanti kepergiannya. Pria itu nampak terkesima ketika melihat tunangannya tampil teramat cantik hari ini. ‘Yah, poin plus untukmu Flona! Pokoknya aku takan kalah dengan Sheyra!’ kukuhnya dalam hati.
Walau kepalanya sedikit pusing, ‘Musuhku terlalu banyak…. Belum Sheyra, belum lagi soal penyihir gelap sialan itu. Kenapa mereka semua melakukan hal ini kepadaku sih?’ gerutunya yang merasa agak miris, bukan agak sih…. Memang nasibnya yang terlalu miris.
Sampailah di anak tangga terakhir, Sir Emillo telah melaksanakan tugasnya untuk mengawal sang putri kepadanya, rasanya hal ini sangat disayangkan untuknya. Beberapa kali Sir Emillo tampak tidak berkedip ketika melihat Lucy yang teramat berbeda dari pada biasanya.
Tentunya Sir Emillo mengikuti mereka secara diam-diam. Karna kepergian Putra Mahkota tetaplah membutuhkan pengawalan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1
Ketika jemari Reygan terulur untuk membantunya menaiki kereta kuda, beberapa saat Lucy nampak mematung ketika menatapnya.
Pria itu tampak gagah dan menawan dengan pakaiannya. “Kekuatan tokoh utama memang tiada tara ya?” tanyanya yang keceplosan, Pria itu tampak cengo saat mendengarnya.
“Maaf?”
Beberapa kali mulutnya ditepuk karena refleks, setelahnya ia tersenyum dengan menerima uluran tangannya. “Tidak ada, hehe,” ujarnya ditutupi senyuman yang kaku.
Kini kereta kuda itu akhirnya melaju dan pergi meninggalkan pekarangan istana.
...***...
Sesampailah mereka di Villa Marigold dimana Sheyra menyewa tempat tersebut untuk mengadakan pesta kedewasannya disana. Karna ia tidak mungkin menggelar pesta secara besar-besaran di kediamannya yang luas bangunannya tidak begitu besar.
“Agak menakjubkan sih, seorang Putri Baron bisa mengadakan pesta semeriah ini,” pikirnya yang sedikit mencurigakan.
“Benar sih,” lanjut Reygan yang tiba-tiba setuju. Lucy hanya cukup menganga. Sebenarnya ada angin apa sih? Pikirnya yang merasa heran.
Pada akhirnya sampailah mereka di depan pintu utama, pintu yang menuntun mereka ke aula pesta. Hingga dibukalah pintu yang tingginya tiada lawan itu secara perlahan, tidak luput ditemani suara ksatria yang menjaga sembari meneriaki identitas mereka.
“Yang Mulia Putra Mahkota dengan Putri Count Barayev telah tiba!” teriaknya diiringi terompet yang berkumandang.
Hal ini tampaknya cukup menarik perhatian para tamu undangan, padahal mereka berdua juga sama-sama tamu undangan.
Sheyra sang bintang utama rupanya belum turun untuk mendampingi acara, menurutnya pesta yang digelar saat ini terlalu mewah dan berlebihan. Walaupun sebenarnya bisa disebut pesta yang sangat baik, “Aku bisa mengerti dengan keborosannya, sepertinya perempuan itu melakukan ini karena pesta kedewasaan ini hanya akan digelar sekali dalam hidupnya.” asumsinya yang mencoba menilai perilakunya.
“Lebih tepatnya, tingkat keborosannya agak mirip seseorang.” Celetukan Reygan kali ini entah kenapa seolah-olah tengah menyindir seseorang.
Gulp..
“Dia bisa dengar loh.” bisiknya pelan. Lucy hanya tersenyum dengan tawaan yang di paksakan.
‘Habisnya saat itu aku bertingkah boros karena sedang mencoba menjadi wanita kaya yang tengah menghambur-hamburkan uangnya yang berlebih, padahal saat itu Ayah mulai bangkrut, Ayah pasti pusing menyikapi putrinya yang pemboros. Sepertinya aku anak nakal ya?’ ujarnya yang merasa tak enak hati.
Tapi tidak masalah, Lucy kan sudah membantu usaha ayahnya, anggap saja ia telah membayar hutangnya.
Jumlah tamu undangannya terbilang cukup banyak ketika hall utama terlihat penuh, nuansa yang di tampilkan di tempat ini ialah berwarna putih dan biru. “Biru kan warna dari lambing kerajaan Garfield,” gerutunya yang entah kenapa merasa tak suka.
Musik klasik di putar untuk memenuhi aula yang terasa ramai, “Memang sempurna sih,” komentarnya yang sesaat merasa kagum dengan pemandangan ini, namun secara tiba-tiba Reygan menyambarnya dengan kalimat pedas.
“Aku harap kejadian wine tumpah tidak terulang di tempat ini,” semprotnya yang sukses membuat Lucy tersenyum kikuk.
“A— jangan khawatir Yang Mulia!” cercanya sebal, raut wajahnya sedikit memerah karena menahan malu. Yang di katakana Putra Mahkota memang masa kelamnya Lucy.
Ya sebenarnya, usai perburuan tahun kemarin, ia masih merasa bahwa tempat ini hanyalah mimpi belaka, hingga pesta kedewasaan untuknya di gelar di istana juga sebagai bentuk perayaan akan kesehatan dirinya yang telah melalui beberapa cobaan yang menyakitkan. Intinya Baginda Raja menggelar pesta tersbeut hanya untuk Lucy seorang
*Note : Saat baginda raja membahas sedikit tentang kejadian kelam yang telah menimpanya, ia hanya melongo kebingungan dengan maksud tidak mengerti akar permasalahannya. Habisnya ia baru saja masuk ke tubuh Lucy beberapa hari yang lalu tanpa persiapan apapun.
Pada akhirnya setelah tersadar bahwa dirinya tengah bermimpi menjadi si tokoh antagonis (Lucy), ia pun menikmati perannya sebagai Villain yang serampangan, disisi lain yang ia rasakan ketika melihat Sheyra hanyalah dendam yang bertubi-tubi.
Ketika melihat sosok Sheyra yang menyebalkan itu, ia menuangkan wine tepat di puncak kepala gadis itu karena berusaha mengajak Putra Mahkota berbicara.
“Enyahlah!” tuturnya dengan raut wajah mengerikan dibarengi guyuran wine yang segar diatasnya.
__ADS_1
Kisah yang sempat jadi topik hangat dikalangan bangsawan, para bangsawan meyakini bahwa perbuatan Lucy dilakukan karena kesal dengan Sheyra yang datang sembari memakai gaun putih di pesta kedewasaannya. Padahal dia tidak terlalu mengerti dengan aturan dan etiket bangsawan, yang mana hanya tokoh utama pesta yang diperkenakan memakai gaun putih. Jadi dengan anehnya para bangsawan memaklumi tingkah Lucy karna Sheyra dianggap sudah kurang ajar.
Sejujurnya saat itu, ia hanya berpikir ‘Oh jadi ini tokoh protagonist yang membuat tokoh favorite ku mati mengenaskan? Ini kan masih mimpi, bagaimana kalau ku permalukan saja dia?’ pikirnya yang entah kenapa malah merasa puas.
Namun anehnya, “KAPAN MIMPI INI SELESAI SIH?!” teriaknya yang mulai frustasi.
...***...
Kira-kira begitulah detik-detik Lucy yang pada akhirnya mau menerima kenyataan dirinya yang terjebak di dunia lain. Yang ia percayai sebelumnya bahwa ini hanyalah mimpi yang panjang ketika ia tengah koma karena di tabrak sebuah truk, namun berbulan-bulan ia tak kunjung bangun dari mimpi ini yang membuatnya yakin, bahwa dirinya sebagai Raflesa telah tiada.
Kembali ke topik utama, perempuan itu hanya diam dengan keringat dingin yang mulai mengucur. Apa ia tidak masalah menghadiri pesta kedewasaan Sheyra tanpa sebuah surat undangan? Walau sedari tadi para bangsawan berbisik-bisik di belakangnya, ‘Ya, mereka sepertinya berbisik-bisik soal Wine tahun lalu,’ pasrah nya dalam hati.
‘Bagaimana kalau perempuan itu dendam dan mempermalukan ku balik di tempat ini? Tapi aku rasa dia tidak mungkin punya nyali sebesar itu,’ asumsinya yang percaya diri bahwa ia adalah tunangan Putra Mahkota.
Hingga sang bintang utama muncul sembari menuruni anak tangga, tidak lupa sembari menggandeng lengan sang kakak di sampingnya, Dominique Chevalle. Suasana disana cukup meriah dipenuhi kebisingan para bangsawan, ada juga yang berkomentar positif, tidak lupa juga dengan paparan komentar negatif.
‘Setelah Putra Mahkota menolak permintaanya, tampaknya ia meminta kakaknya untuk menjadi partner di pestanya. Ya tidak mungkin juga ia menyelenggarakan pesta tanpa seorang pasangan.’ ujarnya dalam hati.
Memang di lingkungan sosial, Sheyra cukup terkucilkan, tapi mereka rasa tidak ada salahnya untuk hadir dan menikmati keributan yang mungkin saja akan terjadi.
‘Selayaknya tokoh utama wanita dalam novel, Kecantikan dirinya memang luar biasa,’ tilainya sembari meneguk ludah, ia berpikir dengan keras, bagaimana jika dirinya kalah saing dari Sheyra, dan pada akhirnya Reygan tetap jatuh hati padanya? Yah perasaan bimbang itu cukup membuat Lucy ingin menjambak rambut merah itu.
“Dasar cabe merah!” makinya pelan-pelan.
“Kedengeran tahu.” komentar lelaki disebelahnya, lagi-lagi Reygan merusak suasana hatinya.
“Sesuka Yang Mulia saja, kalau anda terpesona, hampirilah dan ajak dia berdansa!” dumelnya dengan bibir yang mengerucut.
“Saya hanya ingin berdansa dengan Lucy.” bisiknya seolah hal ini merupakan rahasia besar, dan ya Lucy hanya memiringkan wajahnya.
“Yang Mulia, dasar pembual.” cibirnya dengan sudut mata yang menyipit. Alih-alih menerima cercaannya, ia malah mempermasalahkan nama panggilannya.
“Rey.” tergurnya tak suka.
‘APA PENTINGNYA ITU SIH!’
...***...
Riasannya yang tebal memang cocok dengan struktur wajahnya yang kelihatan sinis, Sheyra pun dibalut dengan gaun putih yang menjadi ciri khas bahwa dialah sang tokoh utama di pesta ini. Surai merahnya yang bergelombang dengan indah tampak sengaja digerai begitu saja. Kehadirannya cukup membuat para tamu undangan menatap sosoknya tanpa teralihkan sedetik pun.
‘Ini…. aura bermuka duanya begitu menekan ya?’ tanyanya kepada diri sendiri.
Entah karena apa Lucy terlihat gelisah, hingga genggaman tangan seseorang cukup membuat hatinya terasa sejuk dan kembali tenang.
“Semua akan baik-baik saja.” bisiknya yang seolah bisa mengetahui isi hatinya. Ia hanya mengangguk walaupun tidak mengerti akan makna yang Reygan ucapkan untuknya. Hanya saja setelah mendengarnya, gadis itu dapat merasa nyaman seperti sebelumnya.
Seperti tradisi pada umunya, dimana tuan rumah menyapa kepada seluruh tamu undangannya satu persatu. Sebagaimana Putra Mahkota yang merupakan tamu undangan paling terhormat di sana, Sheyra pun dengan segera melangkah menghampiri mereka diiringi senyuman simpul.
Ia memasang taruhan besar pada flan yang telah ia buat, Walaupun tanpa mengikuti flan itu, Putra Mahkota seperti terlihat mencintai Lucy, pikirnya ketika menilai semua tindakan Reygan kepadanya.
Ia hanya memegang satu misi, jika beliau memang mencintai Lucy, maka yang ia harus lakukan adalah mempertahankan perasaan itu hingga akhir.
“Selamat datang, Yang Mulia~”
__ADS_1