
Pemakaman Raja Callius telah dilakukan dengan lancar tanpa adanya suatu hambatan, ada baikya dalam pengantaran Callius untuk mengantar pada peristirahatan terakhirnya telah ditemani cuaca yang termat cerah. Namun seperti mendengar keluh kesah dan pilu dari orang-orang yang ditinggalkan, Dewa kini memberikannya hujan yang teramat deras sampai-sampai membuat Lucy enggan untuk pergi meninggalkan kamarnya.
Gaun hitamnya sebagai busana berduka itu masih melekat ditubuhnya, didepan hantaran petir yang membentang dibalik jendela kamarnya yang panjang. Deciran langkah kaki yang bergema di sepanjang lorong kamarnya cukupmembuat wajah perempuan itu menoleh pada arah pintu kamarnya, tak lama kemudian muncullah sosok pemuda berperawakan tinggi yang berdiri tegap diambang pintu dengan pakaiannya yang basah.
“Yang Mulia..?” bingungnya dengan kening yang berkerut.
“Lucy..” sahutnya dengan langkah yang mulai mendekat.
“Kurasa saya meminta siapapun untuk menolak kunjungan pribadi ke kamar ini, tapi tampaknya saya tidak bisa mengelak karena istana ini memanglah milik Yang Mulia sendiri.” dengusnya yang merasa sebal akan kehadirannya.
“Kamu menjadi dingin, Lucy. Aku tidak pernah melihat sosokmu yang seperti ini.” tuturnya dengan raut wajah yang sedih.
“Saya.. memang seperti ini Yang Mulia.. jika Yang Mulia mengetahui segalanya, seharusnya anda berpikir bahwa yang saya lakukan merupakan hal yang setimpal dan wajar.” gumamnya bernafa pelan diiringi raut wajahnya yang kosong.
Deg..
“Apa?” tanyanya tiba-tiba, langkahnya yang mendekat secepat kilat cukup membuat perempuan itu tersentak kaget. Kedua tangan Pria itu kini terangkat untuk meraih bahu sang gadis dan mencekramnya dengan keras.
“Ugh.. anda kenapa tiba-tiba begini?!” ringisnya yang merasa kesakitan.
Dia.. terlihat marah..
“Tidak..” kilahnya sembari mengusap rambut basahnya dengan raut wajah yang terlihat frustasi.
“Pelantikan Raja yang baru, akan segera dilakukan. Tapi— aku tidak mengerti mengapa kamu menghindari ku selama ini, apa ini karena- wajahku yang mirip dengan kekasihmu?” tanyanya dengan nada bicara yang aneh.
Tunggu— apa?
“Itu—” Perempuab itu cukup kesulitan untuk menjawab pertanyaannya, tapi sepertinya ada sedikit kesalah pahaman disini.
Brukk..
“Lucy.. mau masa lalu ini seperti apa.. bagiku dirimu hanyalah Lucy seorang, mau warna matamu berbeda. Kamu hanyalah Lucy, tunanganku. Aku tidak peduli mau namamu Lucia ataupun Morticia.. tapi kumohon jangan menghindariku lagi..” mohon Pria itu sampai menjatuhkan dirinya untuk berlutut di depan kaki sang gadis.
Yang Mulia.. kenapa anda terlihat putus asa begini..
__ADS_1
“Aku tidak tahu perkara apa yang membuat Yang Mulia salah paham.. tapi—” Ia masih saja kesulitan untuk menyampaikan perkataannya. Namun pergerakan yang Reygan lakukan kali ini ialah meraih jemarinya dan mencium punggung tangannya dengan lembut.
“Rey.” sebutnya dengan tatapan yang serius.
“Rey.. bangunlah.” pintanya yang hanya mendapatkan gelengan kepala darinya.
Pria itu kini nampak tersenyum lebar, tidak.. dibalik senyumannya, ia nampak menyiratkan kesedihan yang teramat dalam. “Aku— apa karena mau semirip apapun kami, kami tetaplah orang yang berbeda? Lalu setelah serpihan ingatan mu kembali.. cintamu yang abadi sampai-sampai membuatmu tidak bisa melupakan Raja Cesarre?” tanya Pria itu dengan tatapan nanarnya.
Yah.. dia memang sepenuhnya salah paham..
Sekalipun mirip, kesan kalian berbeda..
Dan aku.. hanya merasakan kehidupan Lucia lewat mimpi..
“Aku, telah melupakan masa lalu, walaupun aku diberi ingatan tentangnya. Aku tetap menganggap diriku Lucy dan bukanlah seorang Lucia. Tapi—keadaan memaksa untuk menganggapku sebagai penyihir abadi yang kini akan segera mati jika tidak melakukan perlawanan, saya harap.. Rey dapat mengerti.” ungkapnya sembari menarik Pria itu untuk segera bangkit dari posisinya.
“Lucy.. kamu membicarakan Sheyra?” tanyanya tiba-tiba.
“Oh? Apa anda mengetahui sesuatu tentangnya? Iya juga— saya pernah berasumsi bahwa perempuan itu penyihir yang menyihir hati Yang Mulia. Tapi jika saya perhatikan.. anda selalu menghindar dari topik ini.” timpalnya yang merasa ada kejanggalan dari perubahan sikapnya.
“Itu.. jangan bertingkah gegabah, lindungi saja dirimu. Biar aku yang mencari jalan keluarnya.” titahnya dengan tatapan yang benar-benar serius.
Dia terlihat gemetaran, tapi—
“Aku mendengar sihirnya yang seperti itu.. bukankah jawabannya memang benar kalau dia adalah penyihir kegelapan yang jahat. Melihat keanehannya semenjak ia muncul di pergaulan kelas atas, terjadi beberapa wabah yang memakan korban di beberapa desa, lalu kematian beberapa penyihir dengan sosok tubuhnya yang mengering. Kemudian terjadi berbagai kejadian yang menimpamu ketika berada di dekatnya, lalu sihir yang mengubah perasaanku menjadi tertarik padanya.” jelasnya yang memang perkataannya tidaklah salah, tapi entah kenapa ia mengatakan alasan yang tak begitu meyakinkan.
Tapi— penjelasannya terlalu mulus. Dia seperti meneymbunyikan sesuatu dariku..
Setiap membicarakan itu— raut wajahnya terlihat seperti ketakutan.
Sebelumnya.. ia juga pernah datang kepadaku dengan kondisi tubuhnya yang setengah sadar dan berkata bahwa ‘Wanita mengerikan itu datang lagi.’
Kupikir.. karena diakhirnya ia melindur dengan berkata ‘Penyihir Gila.’ Itu ditunjukan kepadaku..
Tapi sepertinya ia takut akan suatu hal yang lain..
__ADS_1
Mencurigakan.
“Intinya, bukankah bukti itu sangatlah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa dirinya seorang yang seperti apa? Tapi aku tidak punya bukti fisik maupun saksimata untuk menangkapnya, lalu setauku— hukuman mati tidaklah mempan untuknya.” pikirnya yang tia-tiba topik pertanyaannya menjadi teralihkan.
“Bukankah bisa dibakar?” tanyanya dengan kernyitan heran, tentunya penyihir kegelapan memang takan mati karena terbakar.
Tapi kenapa..
“Dia takan mati jika hanya dibakar seperti itu. Seperti informasinya, sekalipun ia dibakar dengan kesucian, yang mati hanyalah raganya. Ia bisa saja mengganti raga yang baru dengan salah satu penyihir yang ia temukan diluar sana.” penjelasannya yang sukses membuat raut wajah perempuan itu menampilkan rasa kesedihannya.
Anda mengetahuinya begitu..
Tapi saat saya dulu tertuduh sebagai penyihir kegelapan, anda membiarkan saya mati terbakar..
Yang Mulia..
Padahal.. membunuh kegelapan tidaklah semudah itu..
Tapi kenapa..
Tubuhku juga.. akhir-akhir ini entah kenapa tidak baik.
“Yang Mulia, saya akan meminjamkan kamar mandi saya. Anda pergi mandi saja, baju anda basah kuyup, nanti anda bisa demam.” pintanya yang merasa khawatir ia akan jatuh sakit.
“Sebelum itu, soal pelantikannya—” tuturnya yang kini terpotong oleh ucapan Lucy dengan secepat kilat.
“Tahkta, tidak boleh kosong. Penobatan anda harus segera dilakukan dengan cepat dalam waktu yang dekat, walaupun mendadak.. saya akan membantu menyiapkannya dengan sungguh-sungguh.” potong nya tiba-tiba.
Tapi..
“Walaupun begitu, dibalik kesungguhan mu. Pasti ada sesuatunya kan..” tanyanya yang entah mengapa ia seperti terus rasa. Untuk permasalahan yang menyangkut Lucy, tampaknya Reygan sangatlah peka, dan itu ada benarnya.
“Saya ingin menunda pernikahan ini terlebih dahulu, jadi.. untuk saat ini fokuskan saja pada penobatan Yang Mulia dulu..” tuturnya yang seperti mengatakan penolakan pada rencananya yang ingin melamar Lucy hari ini.
Hari ini.. Reygan telah membawakan cincin yang lain, pusaka Kerajaan dimana cincin itu merupakan cincin pasangan untuk Pemimpin Kerajaan yang baru. Memang suasana saat ini masih berduka, tapi ia metasa untuk tidak menunda pernikahan mereka lagi.
__ADS_1
Ditengah cuaca yang buruk ini, ia datang intuk melamarnya dan menobatkan mereka bersama-sama untuk menjadi Raja dan Ratu yang baru di kerajaan Garfield. Tapi tanpa ada alasan yang pasti, Lucy kini telah menolaknya dengan berkata ingin menunda pernikahan mereka terlebih dahulu. Sharusnya melihat reaksi Lucy yang seperti itu, kalian sudah mengetahui seperti apa rait wajah yang tertera pada wajah Reygan saat ini.