
Menurut faktanya, Calrhintis yang kuat bisa saja mati jika ulu hatinya di tusuk oleh sesuatu yang kuat. Itu merupakan teka-teki yang terkandung pada sebuah buku pembelajaran di akademi sihir.
Namun usai melihat reaksi Chaltintis yang terbakar ketika kekuatan pemurni yang mengalir di pedang ini menusuk tepat di telapak kakinya, mungkin saja pedang ini merupakan kunci jawaban dari seluruh pertanyaannya.
“Awalnya aku juga menyerangnya dengan sihir pemurnian, namun kegelapan yang membeludak terlalu besar telah mengendalikan tubuhnya, sihir pemurniku yang tidak begitu kuat benar-benar membuatnya tidak bereaksi apa-apa. Tapi.. aku yakin ia merasa kesakitan dengan kekuatan yang terkandung pada pedang ini.” kutipnya pelan-pelan seolah ia tengah bergumam sendirian.
Walaupun bahu dan punggungnya terasa sakit, apalagi telapak kakinya yang berceceran dengan darah. Lucy kini hanya menganggap dirinya tidak merasakan sakit apapun sama sekali.
Aku tidak pantas mengeluh, dan merasakan hal semacam itu.
karena aku adalah seorang penyihir.
Namun ia bertanya, mengapa dirinya merasa seolah kekuatan yang besar mengalir di tubuhnya? Walaupun Lucy berkali-kali dihempaskan, rasa sakit ditubuhbya terasa hilang. Bukankah ini terlalu over power untuk karakter antagonis seperti dirinya? Memang bukan hal yang aneh bila seorang antagonis memiliki sesuatu yang kuat, tapi biasanya hidup mereka akan berakhir dengan tragis dan juga menyedihkan.
Tunggu, apa yang kupikirkan?! Aku memang merasa lebih baik berkat kekuatan magic pada pedang itu. Hanya saja, jika ini terjadi kepada seseorang pada umumnya, biasanya mereka akan mati, mau seorang penyihir sekalipun.
Baiklah untuk saat ini sebaiknya kita ke smping kan dulu isi hati dan pikiran yang mengalir deras di kepalanya. Kali ini satu tangan yang menggenggam pedang itu dengan erat, terangkat tinggi-tinggi untuk dihunuskan kepada seseorang. Ia menggenggam bilah pedang seperti sebuah pisau karena tidak tahu cara menggunakan pedang seperti apa.
“Apa yang anda lakukan?!” tutur seseorang yang merasa panik dengan tingkah Lucy yang tiba-tiba, mereka hanya takut bahwa Lucy akan melukai Putri Federica yang saat ini berada di depan matanya.
Sayangnya, apa yang Lucy lakukan hanyalah ancang-ancang untuk sebelum dirinya berteleport di hadapan Calrhintis dan menusk hatinya dengan pedang Tyson Rose di depan semua orang.
“Maafkan aku!” tuturnya bernada putus asa.
__ADS_1
Dalam sepanjang sejarah, baru kali ini terjadi pertarungan sengit diantara manusia dan seorang Calrhintis. Kematian satu Calrhintis mungkin membuat dirinya merasa khawatir akan terjadinya perpecahan diantara mereka dan manusia. Namun benar-benar tidak ada jalan keluar yang lain selain untuk membunuhnya dengan cara yang cepat.
Jika Lucy memurnikan tubuhnya yang benar-benar dipenuhi dengan sihir kegelapan, Calrhintis tetap saja akan mati dengan cara tersiksa. Mungkin cara ini adalah cara yang terbaik yang bisa ia lakukan dengan membunuhnya diiringi perasaan sakit yang terasa hanya untuk sesaat.
Tapi—
“Aku tidak mau melakukan ini. Namun aku juga tidak bisa memurnikanmu yang tersesat. Untuk ini, aku minta maaf..” tuturnya sembari menahan isak tangisannya yang mulai pecah.
Sepertinya kekuatan sihir yang melumuri pedan ini meresap seluruh energi magic milik monster itu tanpa bersisa. Dengan perlahan monster itu mulai kehilangan arah dan tenaganya, debgan perlahan kini ia terbaring lemah di atas tanah.
Matanya yang tajam kini berkedip beberapa kali.
“Pada akhirnya.. aku tidak bisa membunhnya..” lanturnya tiba-tiba. Sepertinya ia sedang sekarat, suaranya yang awalnya berat dan terasa mengerikan kini hanya terdengar serak dan begitu lemah.
Lucy kini berlutut di depannya, sembari mengusap bulunya yang lembut.. tatapannya terlihat begitu nanar. “Sebenarnya siapa seseorang yang harus kamu bunuh itu? Apa itu aku..? Kenapa kamu mencoba membunuhku..” tanyanya dengan bingung.
Namun bibirnya kini mulai bergerak kembali, “Tapi.. kamu menghalanginya..” lanjutnya yang tak lama kemudian, ia tertidur untuk waktu yang panjang.
Monster yang bengis itu kini telah sirna, memang ini terdengar menyedihkan.. namun seorang monster juga ternyata memiliki hati dan perasaan, karena Calrhintis berbeda dengan monster pada umumnya, ia merupakan sosok yang diciptakan beratus tahun bersamaan kemuncukan Morticia di muka bumi, mereka adalah sosok sahabat baik yang menjadu bukti bahwa dintara mereka tidak akan pernah terjadi sebuah peperangan.
“Kamu pasti terluka karena aku mati-matian menghalangi dirimu untuk merebut kembali kewarasan itu, namun usai mendengar ceritamu.. sekalipin jika waktu diputar kembali, aku tetap akan melakukan hal yang sama.. karena Sheyra memanfaatkan kelemahanmu untuk melukai bangsawan yang lain dengan dalih membunuh dirinya yang mungkin tidak akan mati dengan cara yang mudah.” ungkapnya diiringi wajah yang menunduk.
Kini ia mendongak merasakan sensasi hembusan angin lembut yang menerpa wajahnya, ini dirimu kan.. Calrhintis.
__ADS_1
Tak terasa hari mulai senja, seberapa lama waktu yang telah ia lalui di tempat ini seperti kedipan mata. Benar-benar waktu yang panjang, dan aku tidak merasakan hal yang menyenangkan sedetikpun.
Kini kepala Calrhintis itu di usap lembut dengan jemsri tangannya yang lentik. Senyuman nanar terbit di wajahnya, “Beristirahatlah dengan tenang... Calrhintis yang malang.” ujar gadis itu sembari menarik kembali pedang itu dengan perlahan.
“Eh.. ini?” bingungnya yang kini menatap Tyson Rose dengan lekat.
Usai pedangnya tertarik secara utuh, tiba-tiba sinar benderang muncul membuat bilah yang tajam itu kini berubah menjadi tongkat sihir dengan ukiras mawar biru pada gagang pemegangnya.
Jadi ini alasannya disebut Tyson Rose, tunggu— ternyata ini hanya tongkat sihir yang bisa berubah bentuk?! Apa itu masuk akal?! Lalu kenapa tadi—
Kejadian ini merupakan situasi yang teramat membanggakan dimana dirinya dengan bantuan kecil ksatria, berhasil menumpas Calrhintis hingga tuntas. Namun situasi yang seharusnya dipenuhi sorak gembira dan membahagiakan ini, mengapa malah...
Ah..
“Ini benar-benar aneh, tapi.. kalian kenapa saat ini hanya diam saja?” tanyanya kebingungan, apa ia melakukan kesalahan yang patal?
Usai wajahnya menoleh ke arah para bangsawan yang tersisa, ia hanya merasakan aura yang hening menyelimuti tubuhnya. Tatapan mereka benar-benar aneh, tapi rasanya mereka seperti canggung denganku.
Pada akhirnya Federica kini menerbitkan senyuman kecil dan melangkah mendekatinya, usai memberi saam secara formal. Kini ia memohon maaf atas namanya dan seluruh bangsawan yang bersikap seperti itu saat ini.
Disela tingkahnya yang terlihat ragu, ia menorehkan beberapa kalimat yang terasa membingungkan. “Maafkan kami. Sebenarnya kami bingung karena telah menyaksikan suatu hal mengejutkan yang tidak pernah kami bayangkan sampai mati sekalipun.” ujarnya dengan penjelasan yang sukses menarik respon aneh bagi Lucy.
Keningnya berkernyit pertanda ia harus berpikir dan mencernakan hal ini dengan baik. “Tuan Putri membicarakan apa? Saya cukup pusing untuk memikirkan cara bertahsn hidup sebelumnya.. Tapi— jangan berikan saya teka-teki lagi.” pintanya yang kini memijati pelipisnya karena mulai terasa sakit.
__ADS_1
“Itu.. sebenarnya kami kaget dengan kemunculan anda. Nona Lucia de Lamorie Ticya.”