Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 36 : Makcomblang


__ADS_3

Lucy kembali ke istana Putri Mahkota, atau disebut Istana Chatalia usai mengantar kepergian tunangannya yang akan pergi selama 5 hari demi peninjauan di wilayah Duchy.


Kini ia hanya duduk di ruang kerjanya dengan perasaan yang menyesakkan, “Memangnya apa yang dia lakukan sampai harus pergi selama 5 hari? Agak menyebalkan..” celotehnya dengan perasaan tak suka.


“Yang Mulia pergi untuk memeriksa kecurangan di wilayah kekuasaan Duke Emillo, Nona.” tukas Yvone sang kepala Pelayan yang bertugas membantu Lucy ketika mengerjakan tugas pengelolaan istana ini.


“Huh? Duke Emillo? Apa itu kampung halaman Sir Emillo.” gumam gadis itu yang merasa sedikit aneh.


Apa karena kepergian Putra Mahkota mengarah pada wilayah Duchy yang merupakan tempat tinggal Ayahnya sehingga Sir Emillo tidak berniat pergi kesana? Sepertinya begitu jika melihat saat ini Pria itu memilih mengawal Lucy di istana.


Yah tapi kan dia kepala pasukan ksatria, masa hanya mengirimkan anak buahnya saja untuk mengawal Yang Mulia. Tapi.. tidak akan aneh sih kalau dia disini karena di perintah Yang Mulia untuk mengawal ku.


“Lalu memangnya ada masalah apa di sana?” tanya gadis itu penasaran.


“Itu— sesuatu yang tidak mengenakan untuk di bicarakan. Pokoknya Yang Mulia datang tanpa surat pemeriksaan karena ingin memastikan sesuatu secara langsung.” kilahnya yang terlihat enggan untuk membahas hal ini.


“Saya tunangan Putra Mahkota, apa anda tidak akan memberitahukannya kepada saya?” omel Lucy tak suka, ia kesal ketika menghadapi sesuatu yang selalu dirahasiakan di depannya.


Seperti Reygan yang menyembunyikan masalah Reygan sendirian, pada akhirnya mereka malah berakhir salah paham yang tidak ada habis-habisnya.


“Euh— itu— baiklah, tapi ini masih rahasia Nona. Ada kabar burung, katanya Duke Emillo termasuk dalam perkumpulan penjualan budak, Yang Mulia pergi kesana untuk memeriksa kebenarannya, katanya markas itu disembunyikan di hutan ek di wilayah Duchy.” bisiknya pelan-pelan.


Karena ini sebuah berita yang belum diketahui akan kebenarannya. Jadi jika tersebar tanpa bukti yang cukup, maka hanya akan menjadi pencemaran nama baik bagi keluarga Duke Emillo. Lucy yang mendengar cerita ini nampak tercenga dengan wajah kagetnya.


Apa di novel keluarga Duke Emillo pernk terjerat skandal seperti ini?


“Tapi, jika itu ketahuan.. bukankah gelar Duke pada tuan Emillo akan dilepas?” tanya gadis itu benar-benar penasaran.


“Tentu, maka pewaris resminya nanti akan menjadi kepala keluarga Duke selanjutnya. Walaupun ini belum tentu terjadi~ karena saya rasa.. permainan mereka cukup sengit.” asumsinya terkait masalah ini.


“Lantas, Yang Mulia mendengar berita ini dari mana?” tanya Gadis itu heran.


“Yah.. Nona tahu sendiri pasti.” tuturnya di iringi tatapan aneh.


Putra Mahkota pasti memiliki banyak mata dan telinga dimana tempatnya itu berada, dan yang pasti beliau juga memiliki informan terhebat yang bersemayam di belakangnya. Lucy sepertinya telah menanyakan suatu hal yang salah.


Tapi jika dipikirkan, apabila Posisi Duke di keluarga Emillo kosong, bukannya yang akan naik tahkta adalah Putranya? Maka.. jika Putra tertua Duke ikut terlibat..


Sir Emillo bisa menjadi kepala keluarga Duke yang baru, dan jika aku membelikan status bangsawan untuk Flona, maka mereka...


Psssh..


“Nona wajah anda memerah, anda demam?” tanya Pria itu bersamaan tatapan anehnya.

__ADS_1


“Tidak, aku hanya.. ruangan ini cukup panas.” dalihnya sembari mengibaskan udara kewajahnya. Wajah gadis itu benar-benar memerah padam ketika memikirkan cerita cinta di kepalanya.


Bagaimanapun masa depan mereka cerah..


Apa pemikiran ini berlebihan?


“-Na.”


“NONA!” triak Pria itu yang kini membuyarkan lamunannya, gadis itu tampak terperanjak di kursinya, dengan wajah yang tajam ia mendecih sebal.


“Apaa?!” protesnya yang tak suka, kepala pelayan itu hanya mengedikkan bahunya.


“Begini, saya bertanya apa Nona mau dibawakan es teh yang manis? Setidaknya anda bisa merasa lebih segara di cuaca yang panas seperti ini.” tanya Pria itu yang terlihat benar-benar antusias.


“Huh? Tidak perlu, dari pada itu sepertinya anda harus segera memecat pemegang anggaran dapur sekarang juga.” titahnya sembari menunjukkan dokumen kas dapur kepadanya.


“Kenapa begitu? Apa madam Adelai melakukan kesalahan?” tanya Pria itu yang kini menerima dan membaca dokumen yang diberikan Lucy padanya.


“Huft.. Madam Adelai telah menggelapkan anggaran dapur. Mengapa untuk anggaran dapur di istana Putri Mahkota keluar begitu besar sedangkan penghuni istana ini hanya ada saya dan beberapa pelayan?” tanya gadis itu sembari menunjuk pada catatan anggarannya.


“Itu— benar ada yang aneh sih.” responnya diiringi anggukan kecil.


“Disini tercatat bahwa pengeluaran untuk bahan anggaran pembelian bahan masakan mewah begitu banyak, ada seafood, sayuran, daging-dangingan dan bahan makanan lainnya. Yang saya anehkan, kenapa setiap makan saya hanya diberikan hidangan steak sapi dari koki dapur?” ungkap gadis itu yang memberikan pertanyaan kepadanya.


“Mungkin karena selama ini anda tidak pernah protes, lalu itu merupakan makanan kesukaan Nona.” pikirnya jika secara logika.


“Lalu- koki dapur bilang bahwa dia hanya menerima daging impor dan bahan rempah-rempah saja, karena Madam Adelai bilang bahwa kita disini hanya melayani satu orang saja.” lanjutnya diiringi telunjuk yang mengarah kepadanya.


Deg..


“Karena istana ini tidak terlalu sering di pakai.. maka tidak ada yang begitu memperhatikan soal anggaran keluar masuknya di istana ini, biar bagaimanapun ini aneh.. biaya dapur terlalu besar yang bahkan sebelumnya tidak terlalu di huni.” pikirnya yang mengakui bahwa perkataan Lucy ada benarnya.


“Nah~ jadi hukuman apa yang pantas untuk beliau?” tanya Lucy diiringi senyuman wajah yang ceria. Pria itu agak takjub sih melihat kemampuan Lucy yang dapat diandalkan.


“Tapi.. baiklah saya akan menyelidiki terlebih dulu, kemudian saya akan segera memecatnya atas perintah anda.” tutur Pria itu sembari memberi salam berniat pergi meninggalkan ruangan ini.


“Anda tidak akan menunggu saran dari Yang Mulia dulu? Bagaimanapun yang memperkerjakan beliau adalah Yang Mulia..” tutur katanya yang merasa tidak enak hati.


“Tidak perlu Nona, karena bagaimanapun tuannya di istana ini adalah Nona. Walaupun belum resmi menjadi Putri Mahkota, anda telah mendapatkan hak sepenuhnya di tempat ini.” jelas Pria itu yang kini membuat Lucy merasa terbebani.


Apa? Yang Mulia seharusnya tidak sampai seperti ini kepadaku.. tapi..


“Baiklah.”

__ADS_1


...***...


Usai menjelaskan banyak hal tentang penggelapan dana yang dilakukan oleh Madam Adelai, kini ia kembali ke kamarmya dan mengistirahatkan dirinya di atas sofa. Tak berlangsung lama, setelah mengetuk pintu Sir Emillo masuk kedalam kamarnya sembari membawa Koran dan majalah lama.


“Kenapa anda baru memberikan ini?” tanya Perempuan itu heran.


“Ah.. saya tidak mungkin memberikan ini ketika anda ada di Istana Yang Mulia.” jawabnya yang terlihat serius.


“Kalau begitu, saya kembali berjaga di luar.” pamitnya sekilas kemudian keluar dari kamarnya.


Jika di perhatikan, Koran lama yang di bawakan Sir Emillo merupakan berita tentang Sheyra. Jika di lihat di lukisan potret Sheyra yang sudah lapuk, itu merupakan wajah dirinya saat berusia 9 tahun.


“Jadi ini wajah dia saat kecil, entah kenapa


terlihat ramah dengan senyuman yang berseri-seri.” lirik perempuan itu yang memperhatikan dengan saksama.


Kemudian ia menoleh kepada Koran yang salah satunya, Koran dengan lukisan potret yang berwarna, berita yang dimuat didalamanya merupakan kemunculan Sheyra setelah 5 tahun lamanya menghilang.


Ada sedikit keanehan di sini, “Walaupun Koran lama warnanya hitam putih, tapi tekstur rambutnya tidak bergelombang, dan warnanya apakah sepekat itu? Tapi Sheyra saat berusia 14 tahun rambutnya benar-benar merah bahkan teksturnya bergelombang, apa ini pengubahan model gaya rambut?” pikirnya yang merasa aneh dengan perbedaan dari lukisan potret mereka.


Anehnya, apa tuan baron selalu banyak uang untuk memberikan perawatan rambut kepada Putrinya selama beberapa tahun ini? Tidak aneh sih kalau dia sampai merayakan pesta kedewasaannya semewah itu. Hanya saja.. perasaan mengganjal apa ini?


“Apa hanya aku yang merasa bahwa Sheyra terlihat lebih berkharisma dari pada saat anak-anak? Hum perubahan bisa saja terbentuk seiring bertambahnya usia.. tapi..” ia tidak melanjutkan kalimatnya.


Jika di pikir secara rasionl semua pertanyaannya bisa saja terjawab, hanya saja hatinya merasa bahwa semua jawaban itu tidak memenuhi keinginannya. Tak lama kemudian Flona tiba memecah Lucy yang hampir sana hanyut ke dalam lamunannya, gadis itu kini menghampirirnya sembari membawa nampan berisikan teh lemon kesukaannya.


Usai teh itu dituangkan kedalam cangkir oleh Flona, kini Lucy bisa bernafas lega dengan menghirup aroma teh yang terasa segar untuknya.


Lemon benar-benar membuatku merasa relax! Lalu..


“Hari ini benar-benar melelahkan.” keluhnya sembari memegangi cangkir the hangat itu.


“Semoga dengan ini, rasa letih Nona hilang.” ucapnya yang kini terlihat berbenah merapikan tempat tidur Lucy.


“Yah.. terimakasih Flona.” lirihnya diiringi senyuman kecil.


Tunggu, diluar masih ada Sir Emillo kan? Apa perlu ku kerjai saja mereka berdua? Fufu…


“Flona, katanya anda sangat menyukai tuan ksatria berambut putih seperti di buku dongeng ya~” serunya dengan suara yang sengaja di lantangkan. Sontak gadis itu terkaget atas tuduhannya dan berteriak malu kepadanya.


“Nona!!” sanggahnya yang tak suka membicarakan perkara hal itu, apalagi ia menyadarinya bahwa Lucy saat ini sedang menyindir soal Pria yang tengah berdiri tegap di balik pintu kamar Nonanya.


Saking malunya Flona, pipinya memerah seperti udang rebus. Gadis itu berencana pergi meninggalkan kamar ini untuk lari dari paparan ejekan Lucy. Hanya saja saat gadis itu keluar dari kamarnya, tepat di depan pintu itu sang ksatria dengan surai putih keperakan tengah mematung dengan telapak tangan yang sibuk menutupi wajahnya yang memerah padam.

__ADS_1


“Aa@&X%@@%#π&%#!!”



__ADS_2