
Klotak..klotak..
Dentingan hak sepatu yang terbuat dari kaca itu kini terhenti ketika perempuan itu memandangi jendela yang menunjukan sebuah rumah kaca dari kejauhan. Ujung bibirnya terangkat menampilkan lengkungan senyum yang merekah ketika membayangkan betapa indahnya mawar biru itu bermekaran di rumah kaca miliknya.
Rumah kaca yang indah berkat hadiah dari seseorang yang teramat spesial di hidupnya.
Seorang dayang yang mengikutinya dibelakang kini tersenyum lega ketika melihat Sang Ratu tersenyum bahagia sampai seperti itu. “Yang Mulia, sepertinya anda sangat mencintai warna biru ya.” imbuh Josephia Aldrichy dibelakangnya.
Saking cintanya terhadap warna biru, mawar yang identiknya berwarna merah saja berbeda apabila di mata Ratu yang tengah ia layani baru-baru ini. Rumah kaca yang megah itu kini hanya ditanami sebuah bunga mawar berwarna biru yang baginya lebih indah daripada mawar merah.
Walaupun para bunga itu belum bermekaran, namun perempuan dengan surai pirang yang menjuntai hingga kelutut itu kini terlihat seperti benar-benar menantikannya.
“Itu..” awalnya gadis dengan netra safir itu hanya bereaksi murung diiringi lanunannya yang terhanyut pada kesedihan. Ujung jemarinya yang lentik kini menyentuh kaca jendela secara perlahan ditemani rintikan hujan yang membasahi pekarangan istana, saat ini perempuan itu menyalurkan perasaan rindunya yang terdalam.
“Sepertinya Josephia dayang baru ku ya.. kamu kelihatan masih muda, berapa usiamu?” tanyanya yang sukses membuat dayang itu terperanjat kaget.
“Y-ya Yang Mulia.. saya berusia 16 tahun. Saya disini menggantikan Marchionest Calina baru-baru ini.. maafkan saya yang dipenuhi kekurangan ini, jika anda mau memecat saya—” paniknya yang kini terpotong ketika sebuah jari telunjuk menempel di bibir sang Ratu.
Kenapa Yang Mulia bereaksi seperti itu...
Josephia terlihat kebingungan. Hati kecilnya hanya berpikir apakah dia telah menanyakan hal yang salah? Ataukah dirinya melakukan kesalahan tanpa disengaja? Karena usai mendengarkan pernyataannya, sang Ratu kini kelihatan memasang raut wajah yang sedih.
Sepertinya ini ada hubungannya dengan Yang Mulia Raja.. betapa gegabahnya diriku..
__ADS_1
Dirinya memang menjadi dayang Ratu berkat koneksi keluarga Marquest Aldrichy tanpa melakukan persiapan terlebih dahulu, diusianya yang sangat muda ia juga belum memiliki pengetahuan yang begitu banyak. Namun yang levih anehnya, sang Ratu saat ini tidak menunjukkan kemarahannya, melainkan sang Ratu dengan nama Lucia de Lamorie Ticya itu kini hanya tersenyum lebar diiringi tatapan sayunya.
“Baiklah akan kuberi tahu, karena sepertinya Josephia belum tahu.” tukasnya yang kini mendekati Josephia untuk segea berbisik.
“Aku menyukai warna biru, karena seseorang yang konyol mengisyaratkan cintanya kepadaku melewati mawar biru, katanya itu mirip warna mataku yang indah.” ungkapnya dengan perasaan yang hangat, serta perasaan pilunya yang tak kuasa untuk di bendung lagi.
Orang yang konyol.. Cesare yang kucintai..
Dasar Pria yang bodoh..
Setahun telah berlalu semenjak aku memimpin kerajaan ini seorang diri, aku benar-benar merindukan dirimu seperti orang gila.
...***...
Suatu kala, Dewa Helios menciptakan penyihir yang merupakan seorang gadis muda kemuka bumi ini. Dewa Helios merupakan dewa matahari yang yang terbang melintasi langit disetiap paginya. Ia juga memiliki peran penting dalam sebuah sihir dan mantra kuno.
Tanah Garfield merupakan tanah yang pertama kali gadis muda itu temui dianggap sebagai tanah kelahirannya sehingga rasa cintanya kepada tempat ini begitu besar.
Hingga suatu ketika, ia muncul menemui Pria berusia 17 tahun yang baru saja dinobatkan menjadi Raja Kerajaan Garfield yang pertama usai mendapatkan kemerdekaannya.
Dalam hatinya ia menggeleng-gelengkan kepalanya, “Bisa-bisanya anak muda sepertimu memikul beban dan tanggung jawab yang besar untuk melindungi Kerajaan ini.” decih perempuan itu yang terkesan tengah mengejek seorang Raja.
Walaupun ia kelihatan seperti gadis muda berusia 17 tahun, namun nada bicara Lucia terdengar kolot. Dan itu menjadi ciri khas yang aneh bagi penyihir itu.
__ADS_1
Sepertinya mendengar ejekan itu membuat Pemuda bersurai hitam legam itu berteriak dengan kesal, “Jaga ucapanmu di hadapan Raja Negeri Ini!” kukuhnya yang seolah ingin meunjukan kuasanya di depan sang penyihir.
Gadis muda itu tersenyum kecil, “Dewa mengirimkan diriku untuk mu, mulai detik ini aku akan melindungi kalian dan seluruh negeri tanah ini hingga rela mengorbankan seluruh jiwa ragaku untuk setia dan sedia kala kepada pemimpin kerajaan ini.” ucapnya sembari berlutut dan mengucapkan sumpah setianya kepada Cesarre.
Pemuda itu tersenyum dengan puas, “Akan kunantikan sebesar apa kontribusimu kepada Kerajaan Garfield, Lady Lucia.” tuturnya yang tak lama kemudian membalikkan badannya dengan tatapan yang dingin.
Sikap acuhnya memang tak bisa ditebak, namun jauh beberapa tahun kedepan ia akan terpesona dengan kecantikan Lucia yang seindah paras Dewi.
...***...
Usai kemunculan penyihir pertama itu di kerajaan Garfield, ia menjani populer diantara para bangsawan maupun antara negara. Dengan kemunculan dirinya yang memiliki kekuatan yang luar biasa, tatanan kerajaan Garfield kembali menjadi lebih kokoh dan sukses memperbesar wilayahnya hingga menjadi kerajaan tersukses di sepanjang sejarah.
Lucia yang berhasil membantu dan mengayomi sang Raja kini menganugerahkan sebuah marga sebagai bentuk penghargaannya kepada Lucia yang selalu setia melindunginya dibelakang punggung Cesare, ia pun bisa menjadi tameng baginya atau hal apapun itu ketika Cesare yang memintanya.
“Aku menganugrahkan marga de Lamorrie Ticya untukmu yang telah mengabdi kepadaku dengan baik selama 8 tahun ini. Itu merupakan nama yang indah untukmu, walaupun hadiah sebagai Ducches tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan dirimu selama beberapa tahun ini..” ujarnya yang kini malah berlutut di hadapannya.
Anehnya.. kenapa wajah pemuda berusia 25 tahun itu terlihat memerah padam ya? Jika alian peka, Lucia yang tidak pernah tertarik kepadanya itu kini telah merenggut hati Cesarre hingga membuat dirinya tergila-gila kepadanya. Dengan sebuah uluran kotak yang berisikan cincin safir, kini ia menyerahkan cincinnya kepada Lucia sebagai bentuk lamarannya.
“Izinkan aku untuk melamarmu dan menjadikan mu seorang Ratu sebagai bentuk hadiah luar biasa yang bisa kuberikan kepadamu.” ungkapnya dipenuhi senyuman terindah yang pernah ia lihat selama gadis itu hidup dan bernafas.
Netranya membulat pertanda terkejut, aku tahu dia mencintaiku.. tapi aku tidak tahu bahwa rasa cintami sebesar itu kepadaku. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah tersenyum sembari mengulurkan jemari tangan ku dan bersiap untuk menerima cincin pertunangan ini.
Ohhh.. ini merupakan berita yang hangat dimana Raja Cesarre yang melamar Lucyia de Lamorrie Ticya. Topik hangat itu kini terlabar begitu luas di sepanjang dunia. Undangan yang tercetak dengan indah kini tersebar ke seluruh dunia, gaun yang terbuat dari sutra yang mahal tak ada hentinya di produksi, beberapa tanah dan pulau uga segudang permata yang dipenuhi safir tersedia begitu banyak sebagai bentuk mahar untuknya.
__ADS_1
Hingga runtaian mawar biru yang tersedia di rumah kaca merupakan hadiah khusus yang diberikan Cesarre untuknya. Setidaknya dari semua hadiah yang bertebaran, rumah kaca merupakan hadiah yang paling bermakna dan mengena di hatinya.