
Sebuah pemakaman digelar dengan suasana yang berkabung diiriingi para bangsawan yang memakan pakaian serba hitam. Gemercik air hujan begitu deras seolah-olah langit mengerti bahwa isi hati keluarga yang telah ditinggalkan saat ini tengah bersedih.
Lucy terlihat menangis putus asa tanpa mencoba menahan air matanya lagi yang saat ini tanpa di dampingi seorang Ayah maupun teman terdekatnya.
“Aku memang tidak pantas bersama siapapun, ini hukuman untuk ku yang membiarkan kakak mati.” gumamnya dengan sorotan mata yang kosong.
Gemercik air hujan tampak membasahi diri, semua orang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan takut. Lucy hanya tersenyum miris melihat reaksi mereka yang bahkan sanpai tidak ada yang mau melindungi dirinya dari guyuran air.
Sang Ayah yang tidak pernah pulang ke rumah itu saat ini hanya menangisi kematian Putrinya di dalam kamar. Reygan yang berpendapat sendiri tanpa mau mendengar penjelasannya hanya berbalik tanpa menoleh kearahbya.
Kenapa kalian menatapku bahwa aku seolah pembunuh berdarah dingin? Aku salah apa? Apa kalian hanya ingin berpikiran dengan apa yang ingin kalian pikirkan?
Sebuah derap langkah terdengar mencoba mendekati pemakaman yang suasananya terlihat aneh. Namun pada akhirnya ia menghentikan langkahnya dari kejauhan, ia merupakan Reygan yang tengah membawa sebilah payung hitam ditangannya.
“Crylo, bukankah posisi Putri Mahkota kosong?” tuturnya dengan tubuh yang mematung ketika memperhatikan Lucy dari kejauhan.
Dalam hati kecilna, ia hanya merasa syok. Reygan tak pernah menyangka bahwa tunangan yang ia benci selama ini berakhir dengan teragis seperti ini.
“Benar Yang Mulia.” jawab Pria itu diiringi raut wajah yang sedih.
“Bukankah seharusnya ini adalah berita yang menyenangkan? Pada akhirnya aku menyerahkan posisi Putri Mahkota kepadanya seperti yang aku inginkan sejak dulu. Bahkan aku yang dulu pernah terpikirkan untuk menjadikan Lucy sebagai selir— aku kan sekarang telah memberikan posisi yang terbaik untuknya....” ungkapnya yang terlihat kewalahan menahan amarahnya sendiri.
“Tapi mengapa berita bahagia itu harus diselimuti rasa duka dan luka seperti ini.... ” ujarnya diiringi perasaan sesalnya.
Sir Emillo terlihat menghela nafas, kurang lebih ia hanya mengerti dengan makna dari perkataan Pria itu. Apa anda terlihat senang di atas pemakaman ini? Tapi anda merasa bersalah dengan perasaan itu? Yang Mulia....
“Saya mempercayai Lucy.. tapi pikiranku tidak begitu jernih. Lucy sepertinya terluka melihat sikap dinginku yang seperti ini.” tuturnya iba-tiba, suaranya kini terdengar begitu serak dipenuhi rasa penyesalan.
“Saya rasa Nona akan mengerti, jadi sebaiknya Yang Mulia segera meminta maaf saja.” sarannya yang mencoba memberitahu Reygan untuk segera meminta maaf kepadanya, Pria dengan iris Ruby itu tampak mau melakukannya tanpa rasa keberatan.
Anehnya sikapnya tiba-tiba berubah, ia juga berubah pikiran untuk mengatakan maaf kepada Lucy setelah Reygan bertemu perempuan misterius itu, Sheyra.
Ketika semua bangsawan pergi meninggalkan Lucy yang menangis sendirian, ia hanya terpaku tanpa mencoba beranjak pergi. Reygan yang sedari tadi hanya berdiam dari kejauhan kini berbalik mencoba meninggalkannya, “Apa anda tidak mengkhawatirkan Nona Lucy yang ditinggalkan sendirian?” tanya Sir Emillo diiringi perasaan khawatir ketika memperhatikan Lucy dari kejauhan.
“Biarkan saja, mungkin dia membutuhkan waktunya sendiri.” asumsi Reygan sebelum henar-benar melenggang pergi meninggalkannya.
Kyaa!
Hingga teriakan seseorang yang memekik telinga membuat perhatian Emillo teralihkan kepadanya, teriakan itu berasal dari perempuan dengan warna rambutnya yang paling mencolok di kerajaan.
Yaitu surai indah dengan warna yang semerah bunga mawar diiringi netra emerald nya yang sulit untuk di lupakan, karena hanya dengan sekilas penampilannya benar-benar terlihat mempesona. Tampaknya saat itu Reygan tidak sengaja menabraknya sehingga membuat perempuan itu jatuh.
Dia juga terlihat memakai gaun hitam yang menandakan dirinya seorang tamu yang datang untuk menghadiri pemakaman Nona Lyonora.
Tangan mereka terlihat bersentuhan, Reygan saat ini terlihat tengah berbinang dengannya. Saat itu pikiran Emillo gusar, dihari yang seperti ini Yang Mulia tersenyum kepada perempuan lain? Jika mendengar percakapan mereka, Yang Mula seperti mengkhawatirkan perempuan itu.
Padahal anda membiarkan Nona menangis tanpa suara seorang diri, padahal saat ini dia juga terlihat gemetaran kedinginan, bisa-bisanya Yang Mulia malah mengkhawatirkan perempuan lain dikala calon tunangan anda yang selanjutnya dibiarkan begitu saja.
__ADS_1
Jika di perhatikan juga, perempuan berambut merah ini tidak begitu familiar, ia seperti seseorang yang baru saja muncul ke permukaan bumi. Maka jika dikaitkan dengn sema insiden yang ada, kemunculannya adalah tepat 10 hari sebelum tragedi Lyonora terjadi diistana.
Benar bahwa faktanya ia telah menghilang 5 tahun dan baru kembali ke kediaman Baron saat 10 hari sebelum kejadiannya terjadi.
“Maafkan atas ketidak sopanan saya Lady, mari ikuti saya, nanti saya akan memberikan secangkir susu hangat dan selimut tebal.” pintanya dengan suara yang benar-benar terdengar lembut.
Putra Mahkota yang tidak tega membiarkan perempuannya itu kedinginan diakibatkan kehujanan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
Saat ini yang tersisa hanya dirinya dengan Lucy yang berjarak cukup jauh. Permpuan itu terlihat mencurahkan air matanya dengan isak tangisan yang tak dapat dibendungi. Sir Emillo terlihat ingin menghiburnya namun ia tidak memiliki keberanian untuk menghampirinya, pada akhirnya mereka hanya sibuk dengan isi pikirannya sendiri.
...***...
Sejak pertemuan pertama Putra Mahkota dengan Nona Sheyra yang baru saja muncul itu, Yang Mulia mulai bersikap aneh.
Reygan saat itu hanya terkesan plin plan dijatanya, terkadang ia terlihat mengkhawatirkan Lucy tapi juga terlihat tidak peduli akan keberadaannya.
Beberapa kali Lucy mengajukan janji temu kepadanya tapi ia menolak permintannya itu mentah-mentah. Tanpa rasa patah semangat, Lucy selalu mencoba menghubungi dirinya dengan mengirimkan surat dan telegraf. Namun mengecewakannya Reygan tidak pernah membaca maupun membalas suratnya.
“Crylo, mulai sekarang jika ada surat darinya, simpan saja di bawah laci dan tidak perlu melaporkannya kepada ku.” perintahnya yang seperti sudah tidak mau tahu menahu tentang calon tunangannya sendiri.
Crylo Emillo yang hanya sebagai bawahan hanya bisa mengangguk menerima perintah atasannya tanpa membantah.
Ketika surat Lucy tidak pernah dibalas, Gadis itu pun mencoba beberapa kali mengunjungi istana untuk menciptakan pertemuan yang disengaja olehnya. Tapi usahanya selama ini tidak pernah membuahkan hasil untuknya.
“Sore yang cerah Yang Mulia, saya sedang menunggu anda berlatih pedang—” belum saja ia menyelesaikan sapaannya, tanpa berniat membalasnya Reygan hanya melangkah meninggalkannya dengan bersikap dingin.
Anehnya saat Reygan sampai diruangannya, ia terlihat mengomel untuk segera berganti pakaian. Bisa dibilang sikapnya berubah tidak seperti biasanya yang acub, “Jika Lucy melihatku seperti ini, ini memalukan karena tubuhku bau dipenugi keringat.” tuturnya sembari memakai jas yang baru.
Jika melihat Yang Mulia bersikap baik seperti ini, Seoalah perasannya yang baik untuk Nona Lucy masih tersisa banyak di benaknya.
Hanya saja saat Pria itu kembali ke tempat sebelumnya, Lucy telah pulang dengan kereta kudanya, dengan hal ini Reygan hanya meyakini bahwa gadis itu berkunjung tanpa rasa sungguh-sungguh. Padahal Lucy telah di perlakukan seperti ini entah untuk yang ke berapa kalinya.
“Dia tidak pernah datang lagi?” tanya Reygan yang sedang memegangi pena berbulu itu. Sir Emillo hanya menggelengkan kepalanya pertanda bahwa ujarannya benar.
“Hati seseorang lemah, Yang Mulia. Saya rasa beliau lelah berusaha sendirian.” jawabnya yang malah membuat manusia itu menatapnya dengan tajam.
Namun wajah Reygan saat ini menunduk, “Aku tidak tahu, aku seperti ingin membencinya tapi aku tidak mau melakukannya.” tuturan katanya yang terdengar aneh.
Hingga pada akhirnya muncul peperangan di wilayah timur, itu merupakan gerombolan pasukan yang datang dari kerajaan Cymbelia yang menyatakan perang dengan menghancurkan sebagian wilayah Duchy yang letaknya didekat peperbasan.
Perang di perbatasan kini berlanjut memakan waktu satu tahun lamanya, Lucy juga terlihat Rajin untuk mengirimkan surat kepadanya yang ada di medan perang. Ajaibnya, kali ini Reygan terlihat mau membaca isi suratnya, tapi ia tidak berniat untuk membalasnya.
Terlebih setiap kali membaca surat dari Nona, Yang Mulia terlihat sakit kepala yang luar biasa seolah muncul kontradiksi yang aneh kepadanya.
Hingga peperangan usai dengan Sir Emillo yang membantu Reygan memasuki markas musuh dan memenggal kepala pemimpin pasukan dari kerajaan Cymbelia.
Jika diusut kembali, kerajaan Cymbelia meminta mengubah perjanjian untuk mengambil batu mana dengan jumlah berlebih yang melanggar kesepakatan dan kontrak perjanjian sejak awal. Karena Raja kerajaan Garfield tidak memberikan persetujuan, rupanya mereka mencoba melakukan invasi namun aksinya digagalkan Putra Mahkota dengan kaki tangannya.
__ADS_1
Jika sudah seperti ini, kerjasama antara mereka hanya akan menyisakan permusuhan.
Kudengar, katanya pemimpin kerajaan Cymbelia yang baru merupakan seorang pria yang belum dewasa, maka ini tidak aneh jika melihat dirinya mengambil keputusan yang gegabah.
...***...
Hingga sebuah parade di gelar ketika mereka kembali ke Ibu Kota sembari membawa kemenangan, sambutan rakyat tampak begitu hangat dan meriah.
Lucy yang mendengar kabar ini segera datang ke Ibu Kota dan memperhatikan parade mereka lewat gang kecil. Benar adanya, Rupanya Yang Mulia telah kembali. Hanya saja ia sedikit kecewa karena Pria itu tidak memberinya kabar menyenangkan ini lewat sepucuk surat.
Padahal pertunangan saja sampai di tunda satu tahun karena adanya peperangan ini, tapi Yang Mulia masih saja bersikp dingin seperti ini.
...***...
Sambutan untuk Putra Mahkota dan para ksatria akan segera digelar dibarengi acara perburuan yang diselenggarakan disetiap tahunnya. Setelah sekian lamanya Lucy dan Reygan akhirnya bertemu kembali di hadapan baginda Raja, saat ini mereka tengah menikmati jamuan makan malam bersama di istana.
“Nak, saat pesta perburuan nanti pergilah bersama calon menantuku.” pintanya yang seolah memperintahkan Reygan untuk menjadi partner Lucy di acara perburuan yang akan diselenggarakan sebentar lagi.
Pria itu menatap Lucy dengan tatapan datarnya, namun sepertinya ia tidak berniat menolak permintaan sang Ayah.
“Baik, Yang Mulia.” tuturnya dengan tenang.
“Calon menantu, kau keberatan?” tanyanya yang mengarah ke arah Lucy. Gadis itu hanya menggeleng sembari menampilkan senyuman manis di bibirnya.
“Tidak Baginda, tentu saja dengan senang hati.” jawabnya benar-benar anggun. Posisi mereka terlihat canggung saat ini.
Ketika jamuan makan malam itu selesai, Lucy pun hendak kembali ke kediaman Count. Namun entah dengan niat apa, saat itu Reygan mau menuntun Lucy keluar dengan tangan mereka yang saling bersentuhan.
Sungguh, saat itu wajah Yang Mulia hanya terlihat seperti orang linglung..
Hingga suatu hari, Reygan tampaknya menceritakan hal ini kepada Sir Emillo bahwa ia tidak pernah benci dengan sentuhan tangan Lucy.
“Aku merasa lebih segar, rasa pusing yang menghantuiku selama ini benar-benar menghilang begitu saja.” takjubnya yang juga diiringi perasaan aneh.
...***...
Alangkah anehnya ketika pertemuan tak disengaja itu terjadi di istana lagi. Tepatnya Reygan kini bertemu lagi dengan Sheyra di perpustakaan istana diiringi dalih tanpa sengaja. Dengan secepat kilat pikirannya berubah begitu saja dan meminta Nona Sheyra untuk datang sebagai Partnernya di pesta perburuan.
ketika anda mendapatkan surat pembatalan itu sampai ke tangan anda. Apa ya yang akan dipikirkan Nona ya?
Crylo hanya merasa tak enak hati ketika harus menggantikan Reygan sebagai pasangannya. Saat ini Sir Emillo tengah mengunjungi Lucy atas perintah Reygan yang tiba-tiba itu.
Usai membaca surat itu, ajaibnya Lucy hanya tersenyum sembari menarik secangkir tehnya yang hangat.
Ia hanya berkata dengan lantunan nada yang terdengar lembut, “Saya tidak keberatan, mohon bantuannya Sir.”
__ADS_1