
Waktu memang mengalir tanpa dirasakan, waktu untuknya mengunjungi Kuil Suci kini telah tiba. Walaupun sedikit ditunda beberapa hari lamanya, pada akhirnya gadis itu pergi juga ditemani Sir Emillo di sampingnya. Karena urusan yang tidak dapat ditinggalkan, Reygan berkata ia benar-benar menyesal karena tidak bisa mengantarnya kesana.
Beliau memang berkata demikian, tapi entah kenapa penolakannya itu malah bermakna seperti dirinya hang tengah melarikan diri dari sesuatu. Walaupun begitu, Lucy tidak begitu mempermasalahkannya.
Asalkan rasa penasaran ini berakhir, semua ini akan kulalui sampai tuntas.
Tapi— jika rupa yang kulihat dibalik lukisan potret itu bukan wajahku.. aku harus bagaimana?
Apa aku akan mati dibakar juga karena.. dianggap telah menyamar dan mengaku sebagai Morticia?
Tapi.. Tyson Rose ada pada ku loh.
Yah tidak peduli apa yang terjadi, ia hanya bisa mengikuti arus dan membawa dirinya untuk menemukan jawaban yang lain. Dibawah guyuran salju yang lembut, Kuil Suci nampak terlihat begitu dingin dan teduh. Perseteruan antara penyihir dan pihak kuil suci merupakan suatu hal yang tak dapat di hindari sebelumnya, namun pada akhirnya demi keselamatan masing-masing, mereka mulai menurunkan egonya.
Langkah demi langkah yang ia pijaki di lorong yang kosong dan hampa terasa mendominasi suhu yang semakin dingin, penyihir menginjakkan kakinya di Kuil Suci memanglah pemandangan yang aneh. Tapi yang ia lakukan saat ini ialah untuk mengunjungi suatu ruangan yang dijaga ketat dengan kesucian dan bahkan sihir pemurnian yang melimpah.
“Jadi ini ya.. tempat yang sering dibicarakan lewat mimpi.” gumamnya dengan lirikan mata yang menoleh kesana kemari untuk memperhatikan temat ini secara saksama.
“Maaf?” tanya seorang Pria dengan raut wajah kebingungan disampingnya.
“Bukan apa-apa.” Lucy hanya menimpali jawaban tersebut dengan ala kadarnya.
Pria itu merupakan tuan utusan Dewa yang Agung, ia bernama Gabriel yang berarti malaikat. Sebelumnya, setelah Lucy menapakkan kakinya di depan kuil suci, beliau turun untuk menghampiri dan menyambut kedatangannya dengan hangat. Hingga saat ini ia tengah menuntunnya pada tempat yang dinamai Ruang Suci.
Walaupun terlihat hangat, tapi perlakuan apa ini? Kenapa ia hanya disambut oleh satu utusan Agung yang berusia muda saja.. dia merupakan tunangan Putra Mahkota hang dianggap merupakan reinkarnasi dari Morticia loh..
Apa mereka tidak begitu memedulikannya? Ini memang aneh sih..
Lantas mengapa ruangan tersebut dinamai Ruangan yang Suci? Itu anya karena pengamanan tempat tersebut dijaga dengan kesucian yang memenuhi udara dengan melimpah. Terlebih, batu Suci yang merupakan raga dari ‘Morticia’ serta beberapa batu suci yang asli bertebaran di dalam ruangan dengan tertata rapi.
Sebenarnya batu suci yang asli juga batu suci yang merupakan ‘Raga’ Morticia merupakan benda yang berbeda. Tapi, alasan mereka dinamai dengan sebutan yang sama karena sebenarnya kekuatan mereka juga dapat dikategorikan dengan khasiat yang hampir sama.
Yang membedakannya ialah karena batu suci yang menjadi raga dari Morticia dilindungi dengan kekuatan pemurnian yang berasal dari sihir sang penyihir, tentunya ia dapat menahan gejolak seihir kegelapan karena mereka sama-sama sihir.
__ADS_1
Lalu, jika batu suci yang asli, ia diberi nama tersebut karena para pendeta yang agung mengerahkan kekuatan kesuciannya kedalam batu kristal tersebut. Tentunya walaupun ia merupakan kekuatan yang suci, namun ia hanya bsia ‘membakar’ sumber kegelapan, dan bukan ‘Menampungnya’.
Pernahkah kalian mendengar suatu kalimat “Memurnikan dengan Kesucian.”? Ya, mungkin itu merupakan penjelasan yang lebih mudah dan singkat. Makna mereka memang sama, namun sumbernya saja yang berbeda.
Pada dasarnya, kedua kekuatan ini juga merupakan berkat yang dianugerahkan oleh Dewa.
Mari kembali pada topik pembicaraan yang utama, saat ini mereka sampai pada bangunan yang berbeda. Entah kenapa tempat ini rasanya lebih terpencil dari pada tempat yang lain. “Mari ikuti saya, Lady.” ajak Gabrielle sembari membuka rantai gembok di pintunya satu persatu.
Kini satu langkah telah menembus dinding barrier yang terpasang pada ambang pintunya. Wajahnya kini tercenga ketika melihat Sir Emillo yang malah terdiam membeku dibelakangnya setelah mengalami sengatan listrik pada kulit tubuhnya.
Bzzzt..
“Lho? Ada apa ini?” tegur gadis itu yang terlihat kebingungan.
“Maaf Lady, yang diperbolehkan memasuki ruangan khusus ini hanyalah keluarga kerajaan dan kandidat yang bersangkutan. Sekalipun anda pengawal Lady, anda dilarang memasuki ruangannya, karena sihir ini dirancang untuk hal yang seperti itu.” desak Gabriel dengan tatapan kukuhnya.
Wah.. usianya memang terlihat lebih muda dari para Utusan Dewa yang lainnya. Tapi sikap tegas dan rasa wibawanyaa benar-benar menekan ya.
“Nona..” Sir Emillo terlihat ragu untuk bergerak dan mengambil keputusan, namun jika peraturannya memang begini mau bagaimana lagi.
Kamu pasti penasaran soal lukisan potret itu, tapi sepertinya rahasia ini tidak boleh diperlihatkan begitu saja kepada orang luar..
Walaupun Lucy terlihat santai, namun sorot matanya kini berubah tajam ketika Gabriel melantunkan pernyataan kecil padanya.Yakni, “Anda harus beryukur bisa melewati barrier ini dengan selamat. Karena jika anda penipu dengan menyisakan kegelapan ditubuh anda, saat melewati ambang pintu itu.. tubuh anda akan mati terpotong-potong.” ungkapnya yang entah memang benar atau hanya bertingkah untuk menekannya saja.
Bisa saja benar sih, karena sihir merupakan hal yang laur biasa. Dentingan hak sepatunya yang lumayan tinggi kini menyebar memenuhi ruangan yang terlihat luas dan sepi. Pintu itu memang masih saja terbuka dengan lebar, walaupun begitu berkat barrier pelindungnya, Sir Emilo tidak dapat melihat penampakan apapun dari luar sana.
Hmm, seseorang yang merancang sihir ini memang sepertinya seseorang dengan kemampuannya yang luar biasa.
Tunggu— jika orangnya seterampil itu—
Apakah dia Samantha yang telah kabur?
Ha— kemungkinannya sih begitu karena dia adalah seorang penyihir yang luar biasa..
__ADS_1
“Lady? Apa yang anda pikirkan?” tukas Gabriel dengan wajah keheranannya.
“Ah mohon maaf tuan, saya hanya memikirkan sesuatu. Tapi jika diperhatikan dengan saksama, tempat ini hanya seperti kamar seseorang yang dipenuhi dengan perabotan antik ya.” selanya yang terlihat tengah berkomentar tentang seisi tempat ini.
Tidak. Dari pada kamar, ini lebih seperti gudang yang menampung seluruh barang peninggalan Morticia.
Netra safirnya kini teralih untuk menatap mawar biru yang tidak pernah layu sedikitpun berkat adanya sihir pada suatu vas bunga, hatinya sedikit tersentuh. Rupanya ini adalah bunga yang disukai beliau berkat pernyataan cinta yang konyol dari seseorang.
Ya, mawar kesukaan Cesarre dan juga Lucia dimasa lalu. Apakah ini merupakan mimpi karena ia bisa menyaksikannya secara langsung?
“Apa Morticia sangat berpengaruh dimasa lalu? Melihat semua barang peninggalannya sampai tertata dengan rapi begini.. sepertinya ucapan ku tidak begitu salah.” kelitnya diiringi sentuhan kevil di setiap barang-barang yang tertata dengan rapi pada suatu rak.
“Uhum, ini rahasia. Tapi saya bisa menceritakannya kepada Lady. Jadi, setelah kepergian Morticia, kerajaan Garfield juga pernah berada diambang kehancuran karena di pimpin oleh seseorang yang tidak berkepimpinan. Saya rasa Lady juga tahu dengan sejarah itu.” celoteh Gabroel disampingnya.
Sesaat Lucy hanya terdiam dengan sorot matanya yang berusaha menerawang ingatan sebelumnya. Tak lama kemudian ia menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan perkataan Gabriel sebelumnya, “Saya rasa.. itu Poseiro Garfield. Ia adalah seorang Raja yang dikudeta oleh anaknya sendiri.” timpal Lucy dengan tatapan datarnya.
Deg..
“Be— benar. Kesepakatan pihak Kuil Suci dengan para penyihir dan Raja kerajaan saat itu memang hanya untuk menyimpan beberapa potret yang menunjukan rupa beliau seperti apa. Hanya saja Raja yang terobsesi meminta Kuil Suci untuk menampung segala barang dan mengawetkannya ditempat ini menggunakan titah dan kuasanya.” jelasnya yang hanya membuat bulu kuduk Lucy terasa merinding.
Ugh.. apa itu? Aku tidak menyanhka jiga Poseiro ternyata memang seburuk itu.. tak aneh juga jika tahtanya sampai dirampas oleh Putranya sendiri. Karena dari sejarah yang kutahu.. ia adalah Raja terburuk yang pernah memimpin kerajaan Garfield pada zaman itu.
Dia adalah seorang Raja yang tidak bisa pergi berperang tanpa bawahan setianya, juga Raja yang selalu mengandalkan kekuatan sihir dan membuat para penyihir seperti budak.
Dia benar-benar buruk, uang negara saat itu juga hampir habis digunakan yang tidak-tidak demi memanjakan selirnya yang ke 10. Namun kondisi negara ini masih tertolong berkat bantuan Ratu yang selalu lapang dalam mentupi kekotoran suaminya sendiri.
Yah.. jika aku menjadi wanita itu, sepertinya aku lebih memilih pergi meninggalkan tempat ini. Dibalik sifat busuknya yang sampai ke akar-akar, aku juga tidak begitu menyangka bahwa Raja Poseiro memiliki rasa obsesi berlebihsn kepada Morticia yang sudah lama mati.
Apa karena baginya Morticia itu Abadi.. lantas ia ingin membuat seluruh barang miliknya terasa Abadi layaknya seperti sosok Morticia sebelumnya?
Aku tidak tahu..
Membeli setangkai bunga yang diawetkan dengan sihir saja sudah sangat mahal, apalagi jika ia membuat para penyihir menara sampai menyuruh untuk mengerahkan kekuatan sihir mereka pada seluruh barang yang ada di tempat ini..
__ADS_1
Itu adalah situasi yang keji dan juga buruk..