Surviving As The Protagonis

Surviving As The Protagonis
Chapter 87 : Raja memanggil?


__ADS_3

Untuk beberapa saat, kamar itu terasa hening. Mendengar pengajuan dari Lucy yang tiba-tiba, Samantha hanya menampilkan senyum kecilnya tanpa suara. Namun usai mengorek isi hatinya, kurang lebih dia dapat mengerti.. apa dari inti pembicaraannya.


“Anda.. menginginkan sesuatu kan?” tanyanya yang terlihat ingin mencoba memastikan apakah isi hati sang gadis itu benar atau tidak, tapi sepertinya gadis dengan surai pirangnya itu terlihat tidak ingin menyembunyikannya.


“Hum. Benar, bisakah anda memberitahukan.. siapa seseorang yang memutar waktunya untukku.. hanya hal yang sederhana.. aku mohon.” pintanya yang kini berderai dengan tatapan penuh harapnya.


Dia terlihat tidak berkata-kata, yang tersisa hanya wajah merasa bersalahnya dengan diiringi helaan nafasnya yang berat. “Itu— mimpi datang kepadaku.. saya pun mengingat kembali, dengan alasan apa saya melakukan sihir itu, dan karena permintaan siapa saya mau memutar waktu demi anda. Tapi—” Dengan berat hati, ia menahan beberapa kalimatnya di tenggorokan.


Sekilas ia terlihat bersedih, walaupun begitu.. Lucy tidak tahu kenapa.. mengapa perempuan itu memasnag raut wajah seperti itu di depannya?


“Maaf Lady, sepertinya itu permintaan yang mustahil. Kausal takdir melarangku mengatakan bocoran masa lalu ataupun masa depan. Terkecuali, anda mengetahui semuanya dengan tangan, pikiran, dan kekuatan Lady sendiri. Itu— saya sendiri pun tidak bisa mencegahnya.” sambungnya yang terlihat ragu-ragu. Entah mengapa, ia hanya tidak ingin membuat perempuan dihadapannya itu menjadi putus asa.


Walaupun percuma..


Dia sudah terlihat frustasi dengan situasinya yang berat seperti ini.


“Memang tidak bisa ya..” lirihnya yang entah mengapa memasnag senyuman nanar di wajah murungnya.


“Huft.. baiklah. Tapi saya rasa, sejak peretemuan pertama.. anda seperti sudah mengenali saya dari lama ya…” semburnya tiba-tiba. Kali ini perempuan itu terlihat berbicara dengan tidak begitu bersemangat.


Deg..


“Eng.. itu memang mengejutkan.. tapi.. Lady benar. Saya memang tahu identitas anda itu siapa.. karena wajah anda juga mengatakan segalanya. Tapi— karena saya mengetahuinya.. maka dari itu, saya memilih diam dan tidak membicarakan apapun tentang anda selain sihir yang awalnya tidak saya mengerti.” ungkapnya dengan rinci sembari menyeruput cangkirnya menggunakan tata krama bangsawan.


Ha.. dia memang Josephia Aldrichy.


Tak!!

__ADS_1


Secara keras, ia meletakan cangkir itu pada tatakannya kemudian menyeruakan satu kalimat dengan penuh semangat kepadanya. “Tapi saya bersedia untuk membantu anda, karena seperti yang anda ketahui. Saya juga mempertanggung jawabkan atas sihir yang saya gunakan kepada anda.” timpalnya dengan nada bicara yang sedikit memkikkan telinganya.


“Ugh.. tenanglah Samantha. Saya tidak begitu mengerti.. mengapa anda selalu mengatakan hal yang sama? Apa yang anda maksud dengan tanggung jawab?” tanyanya dengan raut wajah keheranan.


Dia terlihat enggan untuk mengatakannya.. tapi sepertinya ia tidak bisa mengelak dan menghindar lagi dari semua pertanyaan Lucy kepadanya. “Itu— karena jika anda mati. Maka saya juga akan benar-benar musnah. Pada dasarnya sihir pemutar balik itu boleh dilakukan jika terjadi pada situasi yang genting, dan itu merupakan sihir terlarang yang bisa saya lakukan sebanyak satu kali. Kematian anda, akan mempengaruhi pada masa depan yang saya jalani, jadi saya juga nekat untuk mengambil resiko dan konsekuensi yang akan terjadi..” ujar wanita itu dengan jujur.


Wajah Lucy terlihat terbelalak kaget, ia menggelengkan kepalanya dengan sekuat tenaga. “Jika anda tahu itu beresiko.. kenapa anda tetap mengambil langkah yang membahayakan nyawa anda sendiri?! Bukankah tidak msalah jika kita bersikap egois untuk sesekali..” tukasnya yang merasa bingung atas keputusan Samantha sendiri.


Wanita itu hanya tersenyum kepadanya, “Saya.. tidak pernah menyesali keputusan saya sendiri. Karena saat itu.. saya mengenali Lucia seperti apa.. lalu, walaupun keputusan ini berat.. tapi mungkin saja Dewa memberikan jalan kepada saya dengan cara yang seperti ini..” imbuhnya dengan lembut, wajahnya terlihat berseri dengan helaan nafasnya yang terlihat lega.


Tak lama kemudian mereka berjabat tangan sebagai penanda mereka setuju untuk bekerja sama dalam melawan iris bersama-sama. Tujuan mereka menjadi timbal balik untuk memenuhi keselamatan hidup mereka masing-masing. Walaupun semua ini dapat terjadi karena ada seorang perantara yang mau merelakan nyawanya demi sihir ini terbayar, karena demi mengubah masa lalu yang kelam itu.. tentunya ada seseoramg dengan akhir hidupnya yang fatal.


Ya.. seseorang untuk menggantikan nyawamu, Lucia.


Deg..


...***...


Tampaknya musim dingin yang sepi telah berganti membawakan musim semi yang baru, masing-masing dari mereka kini semakin dibuat sibuk akan tugas dan pekerjaannya sehingga membuat mereka disetiap harinya tidak pernah bertemu lagi. Tidak.. sepertinya disini yang menghindari pertemuan hanyalah Lucy seorang.


Aku hanya teguh pada pendirianku.. sebelum Iris mati ditanganku.. aku— sepertinya takan bisa bersama denganmu.. Yang Mulia..


Yaa.. untuk saat ini.. aku hanya akan terfokus pada rencana yang aku persiapkan sampai kedepannya..


Iris yang terlihat diam juga sepertinya tengah menunggu momen untuk membunuhku.


Semilir angin yang lembut telah berhembus menerpa kulit putihnya dibawah hujanan pohon bunga sakura, ia hanya terdiam dengan kedua matanya yang terpejam untuk merasakan sensasi kelembutan yang dibawakan angin musim semi kepadanya. Kedua tangannya mengepal dengan keras, hatinya terasa sakit dan terluka ketika menyadari betapa ia mencintai sosok cinta pertamanya, dan juga perasaan beratnya ketika harus menahan rasa rindunya kepada Reygan.

__ADS_1


𝐓𝐚𝐩𝐢..


𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚𝐤𝐮.. 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐤𝐮𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢-𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐧𝐮𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐰𝐚𝐤𝐮..


𝐔𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐢𝐧𝐢..


𝐒𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐧𝐜𝐢𝐦𝐮.


“Nona..” sayup seseorang yang memanggil namanya seperti biasa, perempuan itu kini menoleh ke sampingnya, dan apa yang ia lihat saat ini hanyalah sesosok Pria dengan pakaian ksatrianya yang rapi.


“Yang Mulia.. meminta untuk bertemu dengan anda hari ini.” ujarnya yang terpaksa untuk menjalankan perintah tuannya.


“Itu— permintaan yang keberapa kalinya..” lirihnya yang hanya berbicara omong kosong sendirian.


Walaupun tak terhitung, selama ini Lucy selalu menolak ajakan bertemu yang ia terima dari Putra Mahkota. Selama ini, perempuan itu hanya mengurung diri di istananya dengan dalih menjalankan tugas. Memang selama ini juga.. ia hanya menghadiri beberapa undangan menggunakan sihir teleport dan menolak kereta kuda yang diberikan kepadanya.


Lalau.. ia juga menunda acara menyapa para rakyat di benteng kerajaan dengan alasan posisinya yang masih bukan seorang Ratu.


Sebagai sosok Morticia yang sangat dicintai dan juga di hormati oleh rakyatnya, tentu saja ia harus menyapa mereka karena telah kembali dari sekian lamanya waktu berlalu.


Karena para rakyat yang mengabdi kepadanya juga ingin melihat sosoknya yang hanya dibicarakan melalui sejarah di masa lalu.


Untuk menampik permintaan Reygan yang lagi-lagi memintanya bertemu, kini ia hanya menorehkan beberapa penolakan kepada Ksatria itu. “Sir. Seperti sebelumnya, saya menolak permintaan Yang Mulia. katakana saja kepadanya bahwa saya sedang sibuk hari ini.” potongnya dengan tajam.


Pria itu mengernyit kebingungan, alasan yang Lucy katakan di setiap harinya selalu sama, yaitu mengatakan dirinya yang sibuk pada waktu luangnya. Disisi lain ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya yang memang tidak mau bertemu dengan Reygan, ia juga sebenarnya tidak tahu mengapa hubungan mereka tiba-tiba merenggang setelah Lucy memasuki ruangan rahasianya di Kuil Suci.


Tapi nampaknya sudut bibir Pria itu tiba-tiba terlihat menurun dengan raut wajah nanarnya, “Saya rasa.. anda tidak akan menolak permintaan yang satu ini. Yang Mulia Raja saat ini.. sedang terbaring lemah, beliau meminta anda untuk datang menemuinya sebagai bentuk permintaan yang terakhir kalinya..”

__ADS_1



__ADS_2