
Panggil seseorang tiba-tiba membuat tubuh gadis itu membeku untuk sementara waktu, ia hanya nampak syok dan sama sekali tidak menyadarinya karena pegerakan antara Raflesa dengan tubuh Lucy sangat lah alami. Ia hanya tidak begitu percaya ketika menyadari bahwa suara Lucy memanglah mirip dengan sosok lamanya, yaitu Raflesa..
Kenapa aku tidak pernah menyadari suatu hal yang sederhana ini..
Tapi— “Kamu siapa?! Kenapa berkata bahwa kamu merupakan bagian dari diriku?” tanyanya yang tetamat penasaran.
Ajaibnya, kini muncul sinar disertai percikan cahaya putih yang tiba-tiba muncul di depan matanya. Tepat di hadapannya, ia melihat sosok gadis yang tidak begitu asing untuk dikenali, dengan sehelai gaun putihnya diiringi rambut pirangnya yang begitu panjang hingga kelutut, wanita itu tampak tersenyum dengan langkahan kaki tak beralas itu untuk segera menghampirinya.
“Aku sudah mengatakannya sebelumnya, aku merupakan bagian yang tersisa dari jiwa Lucia.” perkenalan dirinya dengan postur tubuh yang anggun selayaknya seorang Ratu.
Bulu matanya yang lentik kini berkedip dengan indah ditemani senyuman kecil yang entah mengapa malah menambahkan kesan dingin untuk sosoknya, ia benar-benar yakin bahwa Morticia yang asli memanglah seindah patung pahatan yang diciptakan oleh Dewa itu sendiri.
Tapi ia tidak begitu mengerti situasi saat ini seperti apa, kenapa ia tiba-tiba muncul dan mengajaknya berbicara empat mata begini?
“Berhenti untuk bertingkah kagum pada dirimu sendiri.” sindirnya dengan kedua tangan yang terlipat rapi di dadanya.
Oh.. kesan dia memang dingin, judes, dan sombong.
Tapi mau disebutkan bahwa kita memang orang yang sama, sepertinya orang-orang akan percaya jika aku juga berkata bahwa kami merupakan saudara kembar dengan kepribadian yang berbeda.
Yah..
Kupikir hanya lukisannya saja yang menggambar sosok dinginnya dengan detail, tapi dia memang angkuh beneran!
“Kita ini masih satu hati dan pikiran. Berhenti untuk berpikiran yang tidak-tidak. Aku mendengarnya tau!” gerutunya yang berniat memprotes isi kepala Lucy yang berpikiran dengan terjun bebas di kepalanya.
Benar-benar sensitif, padahal Lucia yang kuthu sangat berlarut pada kesedihannya sendiri ಠಿ_ಠ
“HEY!” triaknya dengan kesal.
__ADS_1
“Oh baik-baiklah.. tenangkan dirimu, Lucia? Apa tujuanmu memanggilku ketempat ini? Kamu tahu? Wktu yamg kuhabiskan di tempat ini sangatlah lama?! Lalu bagaimana caraku untuk mengatur rencana selanjutnya agar kegelapan sialan itu bisa mati ditanganku?” gerutunya dengan kesal, ia juga teramat aneh, biasnya jika memasuki dimensi mimpi, pakaian yang ia kenakan berwarns outih bersih. Tapi ini sebaliknya, ia masih berpakaian dengan gaun tidurnya yang tipis.
Huft..
“Berbeda dengan ku, tampaknya kamu sangat membencinya ya?” tanyanya diiringi helaan nafasnya.
“Aku akan membencinya sih.. terlebih dia membuatku mati dikehidupan sebelumnya. Setelah itu, kerajaan ini hancur lebir ditangannya.” penjelasannya yang mendapst anggukan kecil darinya.
Lucia kini tertawa lebar, dan perubshan sikapnya benar-benar membiat Lucy ketakutan sekalipun mereka dapat dikatakan orang yang masih sama. Tapi—
“Aku mengerti, jangan khawatir. Aku telah berjanji untuk tidak memaafkannya jika ia masih saja bersikap jahat.” tuturnya dengan langkahan kecil yang mulai menapaki genangan air.
Memang benar ya..
“Tujuan ku memanggil mu saat ini, yaitu untuk memberi tahu sesuatu yang teramat ingin kamu ketahui itu.” tukasnya tiba-tiba, dengan secara tiba-tiba Lucia kini berbalik dan menunjukkan lingkaran sihir berwarna merah muda di telapak tangannya.
Tapi untuk pertanyaan itu, tampaknya Lucia juga kesulitan untuk menjawabnya. Dengan dshi yang berkerut, ia hanya menceritakan beberapa fakta yang ia ketahui dengan jujur. Bahwa, “Aku, hanya hidup pada masa Morticia juga hidup, namaku Lucia dan bukan Lucy. Aku merupakan separuh jiwa yang tertinggal pada Batu Suci.” ungkapnya tiba-tiba.
Secara garis besat ia masih belum mengetahui apa maksud dari pertanyaannya, Lucia yang mengerti akan hal itu kini mulai bersuara lagi.
“Secara tidak langsung, aku telah mati. Tapi aku bisa memantau hidup Lucy maupun hidupmu, karena kita merupakan satu jiwa. Dengan kata lain, Lucy yang asli telah mati dan hanya menyisakan rohmu yang ditarik dari kehidupan mu di masa depan ke tempat ini. Dan untuk siapa yang memutar waktu itu, aku tidak tahu.. aku hanya merasakan Batu Suciku yang hancur lebur kini utuh kembali..” lanjutnya yang kini diberikan anggukan pilu dari sang gadis.
Ternyata sama, walaupun kita orang dengan jwa yang sama.. kita juga merupakan seseorang yang berbeda.
Bahkan karakteristik sihirku berbeda dengannya, Lucia.. sihirku berwarna emas sedangkan lingkaran sihir buatannya berwarna merah muda..
“Lucy yang asli.. pasti sangat menderita kan. Ia mati— ditangan kekasihnya sendiri, cinta pertamanya..” lirihnya yang kelihatan tanpa arah.
Deg..
__ADS_1
Deg..
Argh..
Walaupun Lucia hanya tersenyum lembut kearahnya, debaran jantung yang berdetak dengan cepat ini sangatlah sakit. Tampaknya, Lucia juga merasa sedih dengan hatinya yang terluka sampai tercabik-cabik. Tapi dengan frofesionalnya ia selalu menutupi perasaannya sendiri dengan wakah tersenyumnya yang berseri-seri.
Satu jemari kini terangkat di depan bibirnya, semari berputar dengan gejolak angin yang tiba-tiba muncul menerbangkan helaian rambit mereka, ia tertawa kebar sembari menghunuskan sihirnya kepada arah dada Lucy dengan hantaman yang keras.
“Ssst, sekarang.. bermimpilah.” bisiknya sembari mengusap kelopak mata perempuan itu dengan lembut, dan ya.. hamparan kegelapan kini memeluk tubuhnya. Yang tersisa ditempat itu hanyalah tubuhnya ditempat yang sepi dan mengerikan.
Lalu suara terakhir yang ia dengar ialah, “Karena aku yang memanggilmu hari ini. Aku berjanji, selama apapun kamu bermimpi.. kamu akan bangun dii dunia mu tidak begitu lama. Jadi berjuanglah untuk melihat semuanya dengan benar.” tuturnya bernads dingin, suaranya yang menggelegar tampak bergema di ruangannya yang kosong.
Tapi tak lama kemudian, dia kini terjatuh begitu dalam pada dasar yang tidak di ketahui ujungnya ada dimana. Sembari memejamkan matanya, pikirannya kini mulai terpenuhi akan satu hal..
Aku.. pergi bermimpi..
...***...
Tangisan dan rengekan bayi kini mulai terdengat dibalik pintu kamarnya yang dijadikan tempat persalinan anak keduanya di keluarga Barayev. Tangisan haru seorang ayah mulai memecah sembari membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa.
Seorang wanita cantik dengan surai merahnya nampak terngah-engah dsn kelelahan seteah memperjuangkan kelahiran Putrinya dengan sekuat tenaga, diuasai wajah sang bayi dengan lembut, Rosella nampak tersenyum hangat ketika menatap Putrinya yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan itu.
Dengan segera sang Ayah mengangkst bayinya yang masih dibedong kain dengan lembut, wajah ayahnya nampak berseri ketika melihat Putri keduanya terlahir dengan sehat.
“Putriku yang manis.. Ayah harus menamaimu siapa ya?” tanyanya diiringi tawaan kecil ketika jari telunjuknya digenggan erat oleh sang bayi.
Rosella hanya tersenyum sumringah ketika memperhatikan interaksi mereka yang begitu baik, tapi senyum yang terbit diwajah lelahnya mulai menghilang ketika Harisson menyibakkan sedikit kain yang menutupi rambut sang bayi dengan perlahan, ditatap dengan lekat- lekat, raut wajah sang Ayah nampak berubah datar dengan kedua netranya yang membulat besar.
“Rambut pirang... dia bukan Putriku.”
__ADS_1