
...🌸🌸🌸...
" Kenapa malah berdiri disitu? Cepat siapkan bajuku!"
Mencoba mengabaikan tampilan gurih seorang betina lugu itu di depannya. Ini sangat tidak benar. Gadis itu biasanya norak dan kampungan, sekarang kenapa bisa jadi begini.
Dan hal itu sepertinya tak diketahui oleh Megan. Dara muda itu, rupanya belajar lebih cepat untuk berpikir idealis.
" Apa-apaan dia? Kenapa dia mengenakan pakaian seperti itu?" mendecak resah dengan penampilan Kinar yang diluar dugaannya.
" Semua pakaian disini hampir sama seperti ini tuan, kalau anda tidak suka, saya akan berganti baju sekarang juga!" tutur Kinar yang mencoba menafsirkan arti tatapan Kendra sembari mulai melangkahkan kaki.
" Apa? Bagiamana dia bisa mengerti apa yang aku katakan?"
" Apa kau mau membuatku masuk angin jika harus menunggumu berganti baju? Cepat siapkan bajuku. Aku tidak suka mengulang perintah!"
Kinar menghentikan langkahnya lalu terdiam. Laki-laki di depannya itu tak ubahnya sebuah uji nyali untuknya. Begini salah, begitu apalagi?
Maka mata Kendra seketika membulat saat gadis itu langsung mendekat ke arahnya, lalu sedetik kemudian tangan mungil itu mulai meraba dadanya yang masih basah oleh air.
Oh Shiit!"
" Saya sengaja mengenakan semua ini agar anda tidak mengenakan baju anda terlebih dahulu tuan!" lirihnya yang jauh dalam hati membenci perkataannya sendiri.
Yang diraba jakunnya sudah naik turun. Terlihat kaget, tak menduga, namun terselip sedikit rasa senang. Ibarat orang lapar diberi makan, itulah yang Kendra rasakan saat ini.
Megan sepertinya tak memperhitungkan jika gadis yang lebih muda darinya itu bisa menjadi cantik jika berdandan. Dan berada di dalam mansion itu, menjadi cantik bukan sebuah kemustahilan bukan?
" Apa yang kau lakukan?" bertanya dengan wajah datar seolah-olah tak terkejut dengan apa yang di suguhkan oleh gadis itu.
Bersikap sok acuh namun masih membiarkan tangan yang lentik itu bergerilya menyentuh dadanya yang bidang.
" Melakukan apa yang seharusnya saya lakukan sejak awal. Bukankah, kita mengenal untuk ini?"
Sial!
Baru kali ini Kendra menatap dua bola mata Kinar dengan benar. Sorot mata yang mempertontonkan ketakutan namun berbanding terbalik dengan sikap yang di tunjukkan itu membuat Kendra menyeringai.
__ADS_1
Rupanya gadis itu tak ubahnya wanita lain yang membutuhkan uang darinya. Begitu pikir Kendra merendahkan.
" Kalau begitu lakukan!"
Kinar tentu tak bisa menyembunyikan kegugupannya manakala mendapatkan jawaban itu. Ia seketika nampak berjinjit dan memberanikan diri untuk menggapai bibir Kendra yang berdiri hanya berbalut handuk sebatas pinggang.
" Gadis ini sangat menarik. Tubuhnya gemetaran namun masih mencoba terlihat sok berani!"
Aroma yang dipilih Kinar berhasil membius syaraf Kendra yang semula longgar menjadi tegang. Untuk pertama kalinya, ia menjadi bergairah dibuat gadis polos itu.
Tanpa sadar, tangan kekar Kendra reflek meremas bokong sintal itu begitu sang empunya larut dalam suguhan ciuman bibir yang terasa manis.
" Aku yakin jika kau melihat hal ini kau akan merubah penilaianmu tehadap gadis ini Megan!" membatin karena sepertinya istrinya tak mengetahui sisi lain Kinar yang hanya bisa ia ketahui saat ini.
Kendra yang beberapa hari ini merindukan Megan yang masih di datangi tamu bulanan, akhirnya goyah dan memilih mengabaikan siapa teman ranjangnya kali ini.
Kinar yang sebenarnya bagai ingin mati saat itu juga, masih berusaha menguatkan diri untuk terus membuat sang pria agar mau meledakkan benih kepadanya.
" Kau harus bisa Kinar. Kau harus bisa membuatnya menyentuhmu. Semua demi hidupmu di masa mendatang!"mensugesti diri untuk percaya jika semua ini akan segera berlalu.
Saat berada di tepi ranjang, Kinar terlihat mendorong perlahan tubuh berotot Kendra untuk berbaring diatas kasur pegas itu lalu dengan cepat pula ia mulai merayap diatas tubuh suaminya. Membuat pria itu semakin menyeringai.
Mungkin gerakannya bagai orang yang kawakan, namun wajah yang tegang tak bisa membohongi bila Kinar jelas begitu ketakutan.
Tanpa di duga, gadis itu langsung menduduki Kendra lalu terkejutlah ia manakala bokongnya tepat mendarat diatas sesuatu yang besar dan tampak keras.
" Astaga, bagaimana ini? Apa aku sedang menduduki...."
Meski kini mendadak resah karena benda penting krusial laki-laki itu, namun ia masih bisa menenangkan diri, dan satu persatu mulai menanggalkan seluruh pakaian Kendra.
Membuat pria itu semakin penasaran.
Dan beberapa detik kemudian, polos lah tubuh bagian atas gadis itu. Kinar sungguh merasa malu saat ini. Namun alih-alih menyerah, gadis itu terlihat semakin mengeluarkan segenap keberaniannya.
Kinar kembali menyambar bibir Kendra meski jantungnya seakan melompat detik itu juga. Ia tak peduli meski tatapan Kendra amat merendahkan. Mereka terjebak simbiosis mutualisme yang rumit.
Namun saat keduanya masih asyik saling menyesap. Kinar tiba-tiba terkejutnya saat dengan gerakan cepat tangan kekar itu membalikkan tubuhnya lalu mengungkungnya dengan sebuah seringai.
__ADS_1
" Baiklah Kinar. Mari kita selesaikan semua ini!"
Kinar yang tak menyangka suaminya itu mau menyebut namanya malah sempat kehilangan fokusnya karena terhipnotisnya wajah yang begitu tampan.
Matanya langsung mendelik manakala seorang Kendra Arion melepaskan penutup bagian penting dari dirinya itu, dan terkejutlah dia dengan ukuran junior itu.
Kendra menarik senyum tipis manakala melihat Kinar yang tiba-tiba terlihat pias.
" Aku benar-benar ingin tertawa saat ini!" membantin demi melihat reaksi Kinar.
Kinar langsung memejamkan matanya kala kedua kuncup itu di sesap rakus oleh sang pria. Membuatnya kini merasakan sesuatu yang belum ia ia rasakan.
Sesuatu yang nikmat, bercampur rasa takut dan juga rasa hangat yang menguasai seluruh tubuhnya.
Lagi dan lagi, ia mengutuk dirinya sendiri yang secara perasaan sangat takut, namun tubuhnya amat menyambut. Dinamakan apa kalau sudah begitu, munafik begitu?
Tidak, Kinar bukan orang yang munafik, melainkan orang yang terdesak oleh situasi tengik akan hidupnya. Ia tidak tahu esok akan seperti apa, namun ia sedang berjuang untuk hidupnya sendiri saat ini, dengan cara apapun.
Membayangkan ukuran benda milik Kendra tadi, membuatnya semakin pucat. Dan saat ia merasakan bagian bawahnya begitu sakit manakala benda besar itu hendak menerobos celah sempit miliknya, ia reflek mencengkeram bahu kekar Kendra sembari menitikkan air matanya.
" Ah!" meringis kesakitan saat benda itu mulai menghujam tubuhnya.
Kendra yang kini tahu jika perempuan yang ia tindih itu merupakan seorang perawan, sempat kehilangan konsentrasinya karena rasa yang sungguh berbeda. Membiarkan kuku-kuku Kinar tertancap di daging punggungnya yang kekar.
Kinar menghela napas berulang kali demi mengurangi sakit yang teramat menghujam itu. Dan saat seluruh bagian benda itu telah berhasil menjajah tubuhnya, Kendra yang mulai mengayun itu membuatnya kembali menitikkan air mata demi rasa perih yang kian teramat.
" Ya Tuhan, ini sakit sekali!"
Kendra yang tahu jika Kinar pasti menahan sakit di pangkal pahanya itu menggunakan teknik agar rasa sakit itu tersamarkan. Pria itu melumaat kembali bibir Kinar karena secuil perasaan kasihan yang hadir tanpa ia undang.
Kini, keduanya nampak menghabiskan waktu untuk berpeluh bersama-sama tanpa memikirkan apapun. Semua mengalir begitu saja bagai waktu.
Satu hal yang tampaknya tidak Megan ketahui, jika Kendra melakukannya hal itu dengan tatapan lain.
.
.
__ADS_1