Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 58. Hansen


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Pasca makan malam yang menyenangkan itu, hari-hari yang berjalan semakin membuat Kinar tahu bila roda kehidupan pasti berubah, pun dengan nasibnya. Tak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan kesedihan yang dulu menyiksanya, kini perlahan memudar meski rasa rindu akan sosok Flo masih bersemayam di dalam hatinya.


Kinar, Eta, Reva dan beberapa karyawan lain yang memiliki inovasi dari cabang lainnya, juga mendapat kesempatan untuk belajar training soal pengolahan batik, pada kesempatan tahun depan.


Ia mengisi bulan-bulan ini dengan terus bekerja dan mencari sumber referensi lain guna menghasilkan batik-batik yang lebih baik dan penuh filosofi.


Meski semakin hari kerinduannya kepada Flo semakin membuncah, namun ia masihlah seorang pungguk yang merindukan bulan. Alasannya ialah, karena tentu ia tak memiliki akses untuk menemui anaknya itu. Bahkan dia tak memiliki nomor Sofia.


" Wih gaji udah masuk tuh infonya!" tukas Eta yang sumringah saat membaca pesan grup di ponselnya.


" Beneran?" balas Reva tak kalah heboh.


" Eta mengangguk. Jadi jalan-jalan kan nanti? Kebetulan malam Minggu nih?"


Namun Kinar selalu tak memiliki semangat untuk pergi setiap malam Minggunya. Kinar selalu memilih untuk beristirahat dan berdiam diri di kamar kosnya untuk merajut.


Meski anak dari Nyonya Pramesti yang tampan itu tak jarang datang ke pabrik untuk sekedar meninjau, tapi tetap saja Kinar tak nyaman sebab pria itu tampak terang-terangan dalam menunjukkan ketertarikannya kepada Kinar.


" Eh Nar, Pak Hansen keknya beneran suka sama elu deh!" cicit Eta yang selalunya ceplas-ceplos dalam berkata.


Dan Reva yang selalu mendengar kata-kata itu tidak tahu kenapa selalu merasa jealous. Seperti siang ini misalnya. Reva juga jatuh hati pada pandangan pertama kepada Hansen. Bagiamana tidak jatuh hati, selain tampan, pria itu juga sangat ramah kepada bawahannya. Tak jarang, banyak wanita yang baper di buatnya.


" Lagi pada ngapain?" sapa Hansen tiba-tiba yang membuat ketiga perempuan itu terperanjat.


Eta nyaris saja menjatuhkan gelas es jeruk yang dia sedot, demi mendengar suara Hansen yang mampir ke telinganya secara mendadak. Damned Shiit!


Membuat Hansen terkekeh, " Kaget ya?"


Reva yang biasanya cerewet kini menjadi pendiam manakala Hansen berada di sana. Gadis itu tak hentinya menatap seraut wajah tampan yang begitu mempesona.


" Emmm, Pak Hansen sih ngagetin!" seru Eta yang memanyunkan bibirnya. Membuat Hansen semakin tergelak karena itu sangat lucu.


"Maaf ya. Oh iya, kurang 7 bulan lagi nih buat training. Jaga-jaga kesehatan kalian ya, siapa tahu meski kalian udah nggak kerja bareng perusahaan saya, kalian bisa membuka usaha sendiri nanti!"


" Tutor yang ngajar nanti dari orang kementrian langsung. Pokoknya, ini kesempatan kalian buat upgrade diri!"


Kinar dan kedua temannya menatap Hansen yang selalunya memberikan energi positif kepada mereka. Meski tuan Ramos juga agak heran, kenapa Pria yang seringnya berada di kantor pusat itu, kini lebih sering ke cabang, tapi pria penjilat itu ogah mau pusing.


Selagi jabatan manager masih dia emban, maka hidupnya masih bisa dikatakan aman.


-


-


Sore ini dimana para karyawan yang membludak terlihat keluar berduyun-duyun, membuat jalanan di sekitar pabrik penuh dengan karyawan yang akan pulang.


Eta yang sudah janjian akan kencan dengan pacarnya memilih ngacir dulu bersama Reva yang kini sedikit menjaga jarak dengan Kinar, demi rasa tak sukanya akan Hansen yang selalu menaruh perhatian kepada Kinar.


Ya, Reva merasa iri dengan Kinar yang selalu di perhatikan lebih oleh Hansen ketimbang dirinya. Padahal, Reva merasa jika dirinya juga tak kalah ramah seperti Kinar.


Kinar yang sore itu menunggu ojek langganannya yang merupakan seorang yang tua, terlihat menunggu. Namun, bahkan saat para karyawan yang semula riuh kini menjadi sepi, si tukang ojek tak juga menampakkan batang hidungnya.


" Mana sih Pak Yat? Kok belum datang?" Kinar bergumam resah sebab matahari sudah semakin melorot ke sisi barat.


Dan saat Kinar hendak menghubungi nomor pak Yat, sebuah mobil mengkilat terlihat membuka kacanya lalu berhenti di depan Kinar sembari membunyikan klakson.


TIN TIN!


" Kinar?" kata pria yang kini telah mengenakan kacamata hitam yang terlihat sangat keren.


Yang di panggil seketika menoleh dan terkejut demi melihat Hansen yang kini tersenyum manis ke arahnya.


" Pak Hansen?" pekiknya heran.


" Kenapa kamu belum pulang?" malah bertanya dan mengabaikan seraut terkejut di depan sana.


" Lagi nunggu ojek Pak!"


" Nunggu ojek? Hari udah mau gelap loh!"


Dan sialnya itu benar. Ia sudah menunggu Pak Yat lebih dari satu jam.


Pak Yat adalah seorang tukang ojek konvensional yang Kinar jumpai sering kali tak mendapatkan pelanggan karena orang-orang lebih memilih menggunakan ojek online ketimbang ojek konvensional.


Kinar yang menaruh iba kepada Pak Yat yang memiliki wajah nelangsa itu, terenyuh demi mendengar sepenggal kisah dimana beliau masih harus menghidupi keluarganya yang hidup pas-pasan.


Dan dari hal itu, membuat Kinar memantapkan hati untuk memilih menggunakan jasanya. Ia juga tidak tahu, kenapa Pak Yat tak memberikan konfirmasi apapun soal keterlambatannya kali ini, tapi yang jelas Kinar memilih menunggu sebab dia tahu, rupiah darinya sangat berharga untuk keluarga Pak Yat.


" Bareng saya saja Kinar, kost kamu di daerah mana? Saya antar ayo. Udah mau malam loh ini !"


Dan mendengar perkataan Hansen membuat Kinar semakin resah. Ia sudah menyiapkan rupiah yang biasa dia berikan kepada pak Yat yang bakal menjadi sumber kebahagiaan orang itu. Dan saat Kinar masih bergumul dengan keraguannya, teriakan dari sebelah kanan membuat atensi Kinar teralihkan.


" Mbak Kinar ya?" sapa seorang pria yang tampak berlari ngos-ngosan. Pria itu merupakan supir angkutan umum yang biasa beroperasi di jalan sekitar pabrik.


" Ya saya pak!" jawab Kinar dengan alis mengkerut. Membuat Hansen turut tekun menyimak.

__ADS_1


" Waduh maaf, saya tadi lupa ngasih tau. Pak Yat tadi kecelakaan dan gak bisa jemput. Tadi dia pesen ke saya mbak. Saya lupa ngabarin karena nganter pelanggan yang tempatnya jauh. Kalau gak keberatan saya antar sekarang ya, maaf sekali lagi!" kata pria itu penuh sesal dengan wajah murung.


" Apa, kecela...."


Namun sahutan dari seberang membuat ucapan Kinar menguap.


" Tidak usah pak. Dia saya yang antar. Terimakasih banyak ya infonya!"


Membuat Kinar mendengus. Ia bahkan ingin tahu kondisi pak Yat, tapi mulut Hansen malah tiba-tiba menyambar.


" Siap pak, terimakasih banyak kalau begitu. Ini juga mendung dan mau hujan. Saya pergi dulu mbak Kinar, mari!"


Kinar sebenarnya masih ingin tau soal pak Yat, tapi Hansen buru-buru menyahut. Dan sepertinya supir angkot itu juga sangat buru-buru. Maklum saja, hari memang sudah mau gelap.


" Ayo ku antar!"


Kinar yang mendengar kabar Pak Yat kecelakaan menjadi berpikir tak tenang. Membuat wanita itu memiliki ide lain.


" Pak Hansen tidak apa-apa mengantar saya?" tanya Kinar yang sejatinya memiliki maksud lain.


Pria itu terlihat tersenyum simpul.


" Saya bahkan sudah mengatakannya dua kali, kenapa kamu masih ragu!"


Kinar ingin meminta tolong Hansen untuk mengantarkan dirinya menjenguk pak Yat. Ia baru gajian, dan ingin sedikit memberikan pendapatnya untuk Pak Yat yang baru terkena musibah.


" Tapi tidak ke kost!" kata Kinar ragu-ragu, membuat Hansen mengerutkan kening.


" Lalu?"


-


-


Awal sempat bingung, namun pria bernama Hansen itu akhirnya terpukau dengan kebaikan hati Kinar, demi melihat apa yang Kinar lakukan sekarang.


Ya, usai mendapatkan penjelasan bila pak Yat itu merupakan ojek langganan yang memiliki anak disabilitas dan harus menghidupi lima orang anak lain yang masih sekolah, membuat Kinar menjadikan orang itu sebagai langganannya.


" Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk menolong beliau Pak. Dan sekarang, kebetulan saya juga baru gajian. Saya ingin beli sembako dulu buat oleh-oleh. Karena Pak Hansen bawa mobil, jadi bisa muat banyak!"


Luar biasa. Sejak awal berjumpa, wajah Kinar yang sedikit mirip dengan tunangannya yang meninggal dulu membuatnya begitu tertarik. Tak di sangka, semakin kesini kebaikan hati Kinar bahkan jauh melebihi mantan tunangannya dulu dan membuat Hansen terpikat.


Hansen menatap Kinar yang kini memilih beberapa kebutuhan pokok seperti beras, gula, telur, minyak juga susu dan satu kardus mie instan dengan begitu cekatan. Dan tanpa Kinar ketahui, Hansen telah memberikan kartu saktinya kepada kasir dan meminta gadis penjaga itu untuk diam terlebih dahulu.


" Maaf ya pak karena saya jadi membuat jadwal kepulangan bapak tertunda, nanti setelah mengantarkan saya, bapak boleh pulang dulu. Saya...bisa pesan ojek lain"


" Bu-bukan begitu, saya...


" Udah ayo, mana belanjaan kamu. Biar saya bawakan!"


" Ta- tapi pak!"


Kinar sebenarnya benar-benar sungkan, tapi ia perlu kendaraan saat ini. Ia pernah menjadi orang susah dan tak memiliki apapun, dan untuk itulah Kinar kini menolong keluarga miskin itu, sebab saat bisa menolong orang lain, ia bisa merasakan kedamaian yang melingkupi hatinya.


Pria tampan itu menggulung kemeja nya sebatas siku saat memasukkan barang-barang berat itu kedalam bagasi mobilnya, membuat Hansen terlihat dua kali lebih tampan.


Usai memasukkan semua belanjaan, Kinar yang hendak membayar malah dibuat terkejut dengan perkataan gadis penjaga kasir itu.


" Sudah di bayar mbak, sama bapak yang ganteng itu!"


" Apa?" kata Kinar yang tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


" Kinar, cepat!"


" Tapi Pak, bapak bayar semua belanjaan saya?"


" Udah itu dibahas nanti aja, ayo cepat kita berangkat, udah gerimis ini!"


Maka Kinar buru-buru keluar dengan isi kepala yang benar-benar beraneka ragam. Kenapa pak Hansen malah membayar semua belanjaannya?


Sesampainya ia di dalam mobil.


" Pak, kenapa anda memb..."


" Udah di bahas lain kali aja, yang penting kita cepat kesana. Menolong orang yang kena musibah itu kan kewajiban semua orang!" pungkas Hansen yang terlihat tak mau di debat.


Kinar lagi-lagi tak mengerti dengan sikap Hansen yang benar-benar baik kepadanya. Dan anehnya, semua itu malah membuat Kinar takut.


Beberapa saat kemudian, usai Kinar bertanya dengan orang-orang sebab sempat bingung dengan arah rumah Pak Yat, sampailah mereka di rumah semi permanen dengan atap asbes yang keadaannya memprihatinkan.


Kinar yang mengetuk pintu di sambut oleh wanita yang menggendong anak kecil dengan keadaan lusuh. Membuatnya teringat akan Flo yang pasti sudah sebesar anak itu.


" Mbak Kinar?"


-


-

__ADS_1


Keluarga Pak Yat sangat senang dengan kedatangan Kinar bersama pria tampan yang akhirnya mereka ketahui sebagai pemilik perusahaanmu dimana Kinar bekerja. Beribu-ribu kata terimakasih juga tatapan penuh haru membuat hati Kinar menghangat. Pun dengan Hansen.


" Mereka masuk bertanggungjawab mbak. Motor bapak di bawa ke bengkel. Mereka memang yang salah. Tapi mau gimana lagi, sudah waktunya apes mbak!"


Begitulah orang miskin, selalu pasrah sebab keadaan yang tak memungkinkan itu kerap menjadi bumerang. Mau lapor, ujung-ujungnya malah bayar.


Kinar akhirnya memberikan uang yang gagal dia belanjakan tadi kepada istri Pak Yat. Ia yakin uang itu akan berguna selama pak Yat belum bisa bekerja. Apalagi, melihat banyaknya anak yang musti di nafkahi Pak Yat semakin membuat hati Kinar teriris.


" Selain cantik, kamu ini benar-benar baik Kinar!" puji Hansen yang memang tak suka basa-basi dan cenderung spontan saat mengungkapkan.


Kinar yang selama ini tak pernah berinteraksi normal dengan Kendra tentu merasa sedikit aneh. Bahkan selama merasa di dalam mobil, Kinar cenderung membuang pandangannya ke jendela sebab merasa canggung.


Perut yang lapar membuat Hansen mengajak Kinar makan. Alhasil, mereka berdua makan dengan keadaan yang masih mengenakan pakaian perusahaan di jam semalam itu.


" Terimakasih banyak Pak, anda sudah mau mengantar saya ke kediaman Pak Yat!" kata Kinar dengan penuh kesungguhan.


" Sama-sama. Saya juga senang dan bangga karena punya karyawan yang punya jiwa penolong seperti kamu!" balas Hansen yang tersenyum manakala menatap wajah ayu Kinar.


Kinar yang di tatap lama oleh Hansen merasa minder. Dan itu membuatnya grogi.


" Kinar!" panggil Hansen usai ia meletakkan sendok juga garpu ke piring kosong miliknya.


" Ya pak?"


Menjawab dengan tatapan serius sebab aura yang semula santai, kini berubah sedikit tegang.


" Boleh tidak jika saya ingin kenal kamu lebih dekat?"


" Uhuk- uhuk!"


Wanita itu langsung terbatuk-batuk sebab tersedak air yang baru ia teguk saat mendengar ucapan Hansen.


" Astaga Kinar, kamu tidak apa-apa?" tanya Hansen panik yang kini bangkit lalu menepuk pundak Kinar.


" Nggak apa-apa pak. Saya yang kurang hati-hati!" balas Kinar yang berusaha menghindari sentuhan Hansen yang masih terlihat khawatir.


Kinar tentu tak siap dengan ucapan itu. Walau secara kasat mata jasmaniahnya terlihat baik-baik saja, namun sejatinya ia memiliki masa lalu yang belum bisa ia tepiskan.


Hansen akhirnya kembali duduk saat melihat Kinar sudah baik-baik saja.


" Saya serius Kinar. Saya...nyaman dekat sama kamu!"


Deg!


Jika Hansen nyaman, maka Kinar malah merasa tak nyaman. Sungguh ia minder dengan segala yang terjadi dalam hidupnya. Dia tak ubahnya manusia keji yang telah menjual darah dagingnya. Dan hal itulah yang membuat Kinar enggan menggunakan uang yang diberikan Kendra meski uang itu menjamur di rekeningnya.


" Maaf Pak, tapi anda belum tahu siapa saya. Saya..."


" Maka dari itu saya ingin kenal dengan kamu!" eyel Hansen yang merasa Kinar memang wanita yang sulit di taklukan.


Kinar yang kini tangannya di sentuh seketika pias. Tidak tahu kenapa ia benar-benar seperti terikat dengan satu hal yang membuat langkahnya sulit untuk maju.


Masa lalunya.


" Kalau kamu bingung untuk menjawab tidak apa-apa. Kamu tidak menghindari saya saja itu sudah saya anggap jawaban iya!"


" Saya tidak bisa Pak!"


" Kenapa tidak bisa Kinar?"


Membuat keduanya kini saling menatap dengan wajah muram.


" Anda masih bisa mencari wanita yang lebih pantas dengan anda!"


" Kenapa kamu mengatakan hal itu?"


" Karena saya tidak pantas Pak!"


Alih-alih marah, Hansen malah terkekeh, " Kamu minder karena aku ini bos dan kamu karyawan, iya?"


" Bu- bukan seper..."


" Udah, yang tahu pantas atau tidak itu saya. Dan saya minta kamu jangan panggil saya Pak jika di luar begini ya? Panggil saya Hansen saja!"


" Tapi Pak..."


.


.


.


.


Jika ada yang menduga kenapa Kinar tidak hamil, padahal dua kan pernah bercumbu dengan Kendra sebelum Megan kecelakaan.


Ibu menyusui aktif itu merupakan KB pasca salin secara alami ya. Jadi sudah jelas nggeh πŸ€—πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2