
...🌸🌸🌸...
" Sekarang katakan kepadaku, kenapa kau bisa berurusan dengan keparat itu?" tanya Kendra yang kini duduk di sebuah sofa dan ingin menginterogasi Kinar terkait hubungannya dengan si brengsek Zen.
Kinar melempar pandangan lurus seolah memasuki dimensi lain, dan memorinya seolah kembali pada kejadian kelam kurang lebih satu tahun yang lalu itu.
" Saya tinggal dengan bibi saya yang bernama Helga setelah orang tua saya meninggal!" kata Kinar yang membuat Kendra semakin tekun menyimak. Pria itu bisa merasakan atmosfer kekecewaan yang tersuguh dari sorot mata sayu Kinar.
" Tapi...sebenarnya bibi saya lah yang menumpang, karena saat itu harta peninggalan orang tua saya terbilang masih banyak!" mencoba tersenyum meski yang nampak justru ironi.
" Singkat cerita paman saya yang memperistri bi Helga meninggal. Dan setelah itu, saya baru sadar jika bibi Helga adalah orang yang jahat karena diam-diam dia telah menjual beberapa harta milik orang tua saya, bahkan menjual saya kepada Zen untuk menjadi budaknya!"
Kendra langsung tercenung lalu mengeraskan rahangnya meski tak terlalu di sadari oleh Kinar. Tidak tahu kenapa, Kendra merasa dadanya terbakar manakala mendengar kekejian Helga kepada perempuan yang berhasil melahirkan anak untuknya itu.
" Saya dikurung di sebuah tempat kotor. Berhari-hari tidak diberi makan karena saya selalu melawan!" tutur Kinar seraya tersenyum getir, ingat akan kebiadaban Zen dan komplotannya.
" Dan karena saya tidak tahan lagi, saya akhirnya kabur setelah sangat lama di sekap dalam tempat kotor dan bau itu!"
Kinar masih ingat betul saat-saat dia akhirnya masuk kedalam terpal truk pengangkut buah yang akhirnya membawanya ke kota ini.
" Dan tindakan saya saat itu, membawa saya bertemu dengan Nyonya Megan yang membantu saya tuan!"
Kinar kini menatap Kendra dengan wajah sendu. Tampak disana sorot mata penuh kesedihan, kerapuhan dan ketidakberdayaan yang bisa Kendra lihat dengan jelas.
" Meskipun nyonya Megan sering bersikap tidak baik kepada saya, tapi jika bukan karena dia, mungkin saat ini saya tidak akan bisa melihat malaikat secantik nona Flo tuan!"
Kendra meneguk salivanya usai mendengar cerita yang menyesakkan dadanya itu. Apakah ini alasan Tuhan mempertemukan Kinar dengan Megan? Adalah karena keduanya sama-sama saling membutuhkan.
Luar biasa, rencana Tuhan memang kadang sulit diterima dengan akal yang penuh emosi. Tapi jujur, dengan mendengar cerita pilu seperti ini, membuat Kendra semakin tak ingin melepaskan wanita baik bernasib sial yang kini duduk di depannya itu.
Ya, Megan dan Kinar, dua wanita yang memiliki sifat dan sikap yang benar-benar bertolak belakang, namun sejatinya mereka memiliki nilai yang imbang di hati Kendra.
Membuat pria itu lagi-lagi terseret dalam kebimbangan yang belum bisa ia pecahkan.
TOK TOK TOK
Ketukan di pintu membuat keseriusan yang menyerang keduanya perlahan memudar.
__ADS_1
CEKLEK!
Rupanya Xander. Pria itu bersama Sofia dan Flo tampak berdiri di ambang pintu sebab barusaja menjalani pemeriksaan.
" Kami sudah selesai tuan!" kata Xander datar.
Kendra mengangguk, paham dengan apa yang di maksud assistenya itu.
" Kinar, Istirahatlah dulu dan bawa Flo. Xander akan mengantarmu!" seru Kendra yang kini berubah seperti semula sebab tak ingin mencampuradukkan keresahannya dengan siapapun.
Kinar mengangguk. Ada perasaan lega usai menyampaikan belenggu kelam yang selama ini ia simpan sendirian itu. Kinar merasa telah menceritakan kepada orang yang tepat. Sosok pelindung, dan sosok yang ia yakini dapat memberikan rasa aman.
Xander yang sempat melihat wajah sendu Kendra sesaat sebelum ia menutup pintu, menyimpulkan bila Kendra pasti pikirannya sedang bercabang saat ini.
" Mungkin lebih tepatnya anda bukan mendua tuan. Tapi mengepalai dua tubuh yang berbeda pasti tak semudah seperti yang anda bayangkan!"
...ΩΩΩ...
Malam semakin larut namun tubuh yang lelah itu tak bisa memejamkan mata meski barang sejenak. Kendra belum mengizinkan Kinar dan baby Flo pulang sebab mansion mereka masih di perbaiki serta di kunjungi oleh polisi guna melengkapi berkas-berkas terkait kasus penyerangan yang kini dikawal langsung oleh Yos juga Xander.
Lagipula rumah sakit itu adalah miliknya. Ada tempat nyaman yang bisa Kinar gunakan untuk berisitirahat tanpa harus susah-susah mencari hotel atau tempat bagus lainnya.
Dan saat Kendra barusaja merebahkan kepalanya ke bibir ranjang istrinya, sentuhan lemah di rambut hitamnya membuat pria itu bangun dan mendapati Megan yang rupanya telah siuman.
" Sayang kau sadar?" tanya Kendra yang kini senang bukan main.
Megan belum bisa menjawab hanya bisa mengedipkan matanya. Tapi menunggu lagi, pria itu akhirnya menekan tombol untuk memanggil dokter.
" Akhirnya kau sadar Megan!" kata Kendra yang senang bercampur tegang.
-
-
Kinar membelai lembut pipi baby Flo. Usai menceritakan semua hal kepada Kendra, ia justru tak bisa memejamkan matanya. Selain itu, Kinar yang kini bisa menikmati waktu berkualitas bersama bayinya, merasa sangat beruntung sebab diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mengandung dan melahirkan bayi selucu dia.
Namun baru sedetik kemudian, pikiran yang diliputi kesenangan itu berangsur-angsur berubah menjadi sedikit gundah. Ucapan Kendra beberapa waktu lalu terang mengusik batinnya.
__ADS_1
Apalagi, dia juga sudah mengungkapkan segala rasa yang membuncah di dadanya. Tak ada lagi yang mereka tutup-tutupi. Hanya satu yang menjadi persolan, bagiamana jika Megan sadar dan tahu, apakah wanita itu akan mau menerimanya?
" Aku tahu tidak akan ada wanita yang mau membagi cintanya dengan siapapun di dunia ini. Tapi apa dayaku Tuhan?" menjerit dalam hati sebab ia sangat risau saat ini. Takut kalau-kalau perasaannya justru membawa beban bagi Megan yang saat ini terbaring lemah.
Dan ketukan dari luar membuat Kinar buru-buru mengusap air matanya karena terkejut.
Rupanya Kendra. Tumben pria itu mau mengetuk pintu dengan wajar.
" Maaf mengganggumu. Aku ingin memberikan kabar. Megan sudah sadar!" kata Kendra yang terlihat sangat senang di banding beberapa jam yang lalu.
" Benarkah tuan?" Kinar mengkonfirmasi dengan wajah senang seolah harapannya terkabul.
Namun alih-alih menjawab, Kendra justru salah fokus dengan air mata Kinar yang masih nampak di mata sayu Kinar.
" Apa kau menangis?" tanya Kendra cemas.
Kinar buru-buru menggeleng, " Tidak tuan!"
Maka Kendra langsung masuk dan menutup pintu kamar itu sebab ia tak percaya dengan ucapan Kinar.
" Katakan apa yang terjadi?" paksa Kendra yang terlihat tak percaya dengan Kinar.
Membuat Kinar akhirnya semakin tak bisa menahan air matanya lagi, sebab terus terang ia takut akan apa yang bakal terjadi nanti.
" Saya bahagia mendengar ucapan anda tadi tuan. Sangat bahagia. Tapi jujur, saya juga sedih karena takut menyakiti hati nyonya Megan. Salahkah saya jika....?" jawab Kinar dengan suara bergetar sebab setengah mati menahan suaranya yang kini berpadu dengan tangis.
Kinar tercekat dan tak lagi bisa meneruskan ucapannya. Membuat Kendra maju satu langkah lalu menarik tubuh rapuh itu kedalam dekapannya.
Kinar merasa hangat, damai dan tentram kala dilingkupi oleh tubuh tinggi tegap dengan bau khas itu.
" Bukan hanya kau yang risau. Aku pun sama Kinar!" balas Kendra dengan suara beratnya yang sebenarnya jauh lebih berpikir keras soal keberlangsungan rumah tangganya setelah ini.
Anehnya, harum aroma tubuh Kendra benar-benar mampu meredam segala rasa gundah yang semula menyiksa diri Kinar.
" Aku yang takut kau akan pergi Kinar. Aku benar-benar takut. Aku salut kepadamu, meski kau jadi yang kedua, pikiranmu jauh lebih dewasa Kinar!"
Kendra membantin sebab perasaan tulus ingin melindungi wanita yang telah melahirkan anaknya itu tak bisa ia tepiskan.
__ADS_1
Ia mulai merasakan hal lain yang melebihkan rasa empati. Ia mulai mengasihi Kinar namun ia juga tak ingin meninggalkan Megan yang sejak awal mendukung dirinya hingga sesukses ini.