
...🌸🌸🌸...
Waktu berlalu, Sofia menjadi sedikit tenang sebab Dores kini menjadi lebih sehat usai bisa hidup tanpa rokok. Pengobatan yang masif dari dokter makin mempercayai kesembuhannya.
Namun seperti yang pernah di ucapkan olehnya beberapa waktu lalu, dia sangat benci kepada Xander. Bahkan kepada Kendra.Hanya satu yang membuatnya bertahan, adalah bayi tak berdosa yang kini sedang dia suapi. Yaitu baby Flo.
Flo memang sudah mengkonsumsi makanan pendamping bahkan sejak Kinar masih ada. Namun tetap saja bayi itu menjadi sering rewel karena sepertinya dia mulai menyadari ketidakhadiran Kinar di tiap kesempatan.
Sofia juga menjadi lebih pendiam. Ia kecewa dengan keputusannya Kendra yang menurutnya sangat kejam. Bahkan hingga detik inipun, ia seolah terputus kontak dengan Kinar dengan segudang pertanyaan yang masih belum juga menemukan jawabnya.
" Sayangnya papa sedang makan ya, pinterya?"
Sofia menggeser tubuhnya manakala Kendra datang dan memilih untuk pura-pura sibuk karena jujur, setiap melihat Kendra dan Xander rasa-rasanya seperti di ingatkan kembali dengan wajah Kinar yang tempo hari menangis.
" Saya permisi dulu tuan, saya mau mencuci botol nona muda!"
Kendra mengangguk menyetujui.
Mungkin bagi Kendra ucapan Sofia itu terdengar biasa saja. Tapi tidak bagi Xander yang secara langsung memperhatikan mimik wajah Sofia yang keruh dan selalu monyong setiap ada dirinya.
Sofia terus menggerutu saat ia berjalan menuju ke dapur.
" Menyebalkan. Bahkan mereka bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sebenernya anda dimana nona, kenapa ponsel anda tak bisa aku hubungi?"
" Kau mencari ini?"
Deg!
Sofia kontan menoleh saat rupanya Xander mengikutinya hingga ke dapur. Mau apa dia? Kenapa mengikuti ku?
Sofia sebenarnya terkejut manakala ia melihat ponsel yang biasanya digunakan oleh Kinar, kini berada dalam genggaman Xander.
" Jadi mereka melucuti semua barang-barang milik nona Kinar? Keterlaluan!"
Namun Sofia memilih untuk cepat-cepat menyelesaikan tugasnya lalu beralih pergi meninggalkan Xander tanpa sepatah kata. Membuat Xander mendelik karena di abaikan.
Di lorong dekat jalan menuju pintu luar, Sofia tiba-tiba bertemu dengan Yos yang kesulitan membawa beberapa kardus.
" Kak Yos, apa itu?" tanya Sofia yang tertarik dengan kerepotan Yos.
Membuat Xander langsung melirik keduanya dengan kesal.
" Tuan Kendra memintaku merubah tampilan kamar nona muda!"
" Wah, unicorn?" tanya Sofia antusias.
Yos yang melihat Sofia tampak gembira sampai terheran-heran.
" Wah ini cantik sekali. Aku bahkan belum kesampaian beli boneka yang terbaru. Aku bantu ya? Nona sedang bermain bersama tuan!"
Namun Yos yang mengetahui Xander ada di sana seketika meneguk ludah. Sofia yang mengetahui Yos tampak sungkan saat melihat keberadaan Xander kini semakin tak memperdulikan pria itu.
" Ayo kak, aku yang akan menunjukkan letak yang bagus. Aku hafal semua. Ayo, setelah ini akan aku buatkan minuman segar, ayo!"
Xander menatap tajam tangan Sofia yang kini menggandeng tangan Yos lalu berjalan bersama. Membuat hawa panas langsung menjalari seluruh otak dan tubuhnya.
" Apa dia benar-benar marah?"
Di dalam kamar, Kendra yang Minggu ini sengaja ingin berquality time bersama putrinya tampak bermain.
Dirinya belum sepenuhnya move on dari kepergian Megan juga rasa bersalahnya. Tapi hidup terus berjalan tak peduli apa yang terjadi.
" Abwaaa...bwaaa..bwaa...!"
__ADS_1
Kendra tersenyum saat melihat anaknya berceloteh. Namun saat melihat mata jernih Flo, tidak tahu kenapa ia menjadi teringat dengan Kinar.
" Andai Megan ikhlas dan rela dengan apa yang terjadi, aku pasti tak akan tersiksa dengan rasa bersalah ini Kinar. Aku hanya tak ingin terus memperlakukanmu dengan buruk dan menjadi pelampiasan rasa bersalahku pada Megan!"
Satu hal yang bisa Kendra jadikan pelajaran, tidak ada di dunia ini orang yang secara mulus mendapatkan apa yang mereka mau, meski harta dalam genggaman.
...ΩΩΩ...
Enam bulan berlalu.
Tepat di tanggal kelahiran Flo, Kinar yang kini berada di sebuah kamar sederhana meniup lilin yang ada di sebuah kue mungil yang baru saja ia beli sepulang dari bekerja tadi malam.
" Selamat satu tahun nak. Meskipun ibu tak tahu bagiamana kabarmu sekarang, tapi ibu selalu mendoakan yang terbaik buatmu!" ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia rindu Flo, terlebih diam-diam merindukan Kendra.
Tak ada foto ataupun gambar yang bisa ia lihat. Hanya wajah mungil yang terus ada dalam memorinya yang masih bisa ia ingat. Kendra tak pernah memposting foto baby Flo di jejaring sosialnya.
Ponselnya juga sudah diminta oleh Xander atas permintaan Kendra. Ia tak memiliki jejak digital apapun yang bisa ia kenang.
Ia memakan kue itu seorang diri dalam kesedihan lalu menyimpan sisanya di lemari es yang ada di kamarnya. Wanita itu sejurus kemudian memoles wajahnya untuk bersiap berkerja.
-
-
Di mansion utama.
Kemeriahan sedang terjadi, hari ini Flo merayakan satu tahun usianya. Semenjak menjadi duda, banyak sekali wanita yang berlomba-lomba mendekati Kendra namun pria itu tak memiliki selera untuk membuka hati.
Sofia yang masih bertahan dengan sikap ketusnya kini menepi usai meletakkan Flo ke meja yang di depannya sudah di penuhi kue berteman makan unicorn.
Selalu membentangkan bendera peperangan saat menatap Xander yang sepertinya makin tak memiliki ekspresi itu.
" Common girls!" seru Kendra yang mengajari Flo yang bahkan belum fasih berbicara untuk meniup lilin yang berwarna-warni di depannya.
Tamu undangan yang ada berasal dari anak-anak para teman juga relasi Kendra juga beberapa anak-anak dari karyawannya. Begitulah kehidupan Kendra saat ini, menjadi duda yang sejatinya masih memiliki satu urusan dengan istri yang belum dia bereskan.
Namun saat Kinar kini sedang menyantap makan siangnya, ia tertegun demi melihat siaran live di Instagramnya dimana seseorang sedang menayangkannya siaran langsung ulang tahun putri Kendra Arion.
" Astaga, ini kan...."
Membuat mata Kinar berkaca-kaca karena sudah sangat lama ia tak melihat wajah Flo. Sepertinya orang yang memposting reels tersebut adalah tamu undangan.
" Flo?"
Maka teman-temannya yang berada sederet dengan mejanya seketika menoleh.
" Siapa yang kau bicarakan Kinar?" tanya Reva yang terheran-heran saat melihat temannya yang bergumam sendiri.
Sudah empat bulan ini Kinar bekerja di sebuah perusahaan swasta yang memproduksi kain juga batik untuk dijadikan pakaian dan juga tas. Kinar yang memang bisa menjahit dan menyulam tentu merasa beruntung bisa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
Tak seorang pun tahu rekam jejak masa lalu Kinar. Wanita yang sejatinya masih memiliki tabungan yang banyak bahkan cenderung utuh itu, memilih pergi ke barat dan mulai menata hidupnya lagi.
Ia sudah trauma dengan yang namanya perebutan harta. Apalagi usai di buang Kendra, ia menjadi semakin ingin menggali dirinya dan tak mau larut dalam ketidakberdayaan.
" Siapa sih yang elu lihat?" Reva menyahut ponsel Kinar dan mengernyitkan dahinya demi melihat gambar yang menunjukkan anak dari Kendra Arion yang berulang tahun.
" Oh anak Kendra Arion? Kasihan dia, masih kecil mamanya meninggal!" kata Reva yang tak tahu jika wanita di sebelahnya itu merupakan salah satu istri Kendra Arion yang selama ini tersembunyi.
Deg
Kinar kontan tertegun. Rupanya begitu kabar yang beredar di masyarakat? Membuatnya tersenyum kecut sebab ternyata ia memang tak memiliki peran lain selain penyewa rahim.
__ADS_1
" Da- darimana kau tahu?" tanya Kinar yang tergagap- gagap.
" Ya tau lah. Berita itu di muat di surat kabar nasional. Kendra Arion kan salah satu orang berpengaruh di negara ini. Gak heran lah. Orang kayak kita mana tahu kalau gak kebetulan baca berita ya nggak Ta?" kata Reva menyenggol Eta yang juga sibuk memakan makan siangnya.
" Tul, dah jadi duda banyak yang nguber- nguber tuh sugar daddy meresahkan!" balas Eta seraya tergelak dan membuat Reva turut tertawa.
Kinar termenung, andai mereka tahu bila dia adalah orang yang melahirkan Flo. Tapi Kenapa Kinar merasa dirinya sangat kerdil saat ini?
" Nar, buruan makan. Entar di marahin sama pak Ramos tahu rasa lo!" seru Eta yang melihat Kinar masih saja melamun.
" Bener. Si botak yang kagak pernah mau kalah!"
Mereka berdua kembali tergelak usai menggunjingkan manager mereka. Membuat Kinar turut tertawa. Meski sebenarnya ia sekarang cukup gelisah karena rupanya Kendra masih seorang diri, tapi usai melihat Flo sebesar itu membuatnya bahagia.
" Nah tuh, baru juga kita omongin, datang juga tuh si tua bangka!" tukas Eta yang pura-pura mengangguk hormat.
" Cepat kalian bereskan makan kalian. Akan ada kunjungan dari orang pusat. Baju buatan kalian di notice sama Nyonya besar!"
" Hah, serius pak?" tanya Reva yang reflek sebab merasa senang.
" Hmmm, kalian mau di tanya jawab itu!" jawab Ramos percaya diri.
" Wah Nar, semua ini karena kamu. Wah bakal dapat bonus kita nih!" kata Eta yang juga belingsatan karena senang.
Namun Kinar hanya tersenyum simpul. Sebenarnya ia tak kesulitan kalau hanya masalah uang. Jumlah uang di rekeningnya bisa ia gunakan untuk membeli rumah. Tapi tidak tahu kenapa setiap mau menggunakan uang itu rasanya di seperti teringat akan Flo.
Mereka yang sudah di panggil menuju ke ruangan manager, kini berdiri tegang demi menunggu kedatangan Nyonya besar yang diinfokan akan datang bersama keluarganya.
Dan saat masuk, Eta dan Reva belingsatan saat melihat seorang pria tampan yang ada di belakang seorang wanita tua yang cantik dan berkelas. Pria itu berwajah seperti orang Jepang. Terlihat sangat berkharisma.
" Buset, siapa tuh?"
" Ya ampun Va, tau kalau ada orang ganteng, aku dempul make up dulu tadi!"
Namun Kinar yang sebenarnya insecure dengan lawan jenis usai di perlakukan seperti itu oleh Kendra, hanya berani menatap sekilas lalu menundukkan pandangannya.
" Selamat datang Nyonya Pramesti!" sapa Ramos yang membuat ketiga perempuan itu seketika mual.
Wanita yang menjabat sebagai pemilik dari perusahaan konveksi yang memiliki banyak cabang dan diantaranya di tempat itu, suka dengan hasil karya tiga orang tersebut.
" Wah, jadi ini ketiga orang yang sudah kamu ceritakan ke saya?" seru Nyonya Pramesti.
Ramos mengangguk, seperti biasa ia selalu menjilat apa yang bisa dijilat.
" Benar Nyonya, dan jika nyonya menyetujui kami siap memproduksinya dalam jumlah yang besar.
Membuat tiga wanita itu saling menatap.
" Enak aja main siap, di enak tunggal ngomong doang, nah kita?" gerutu Eta yang selalu tak bisa menahan diri. Membuat Kinar menahan tawa.
" Benar kan anak-anak?"
Eta langsung tersenyum cerah dan membuat Reva turut meringis. Hanya Kinar yang kini tersenyum biasa dan membuat laki-laki tampan di belakang wanita itu notice.
" Jadi siapa yang memiliki ide ini?"
" Kinar nyonya!" kata Eta dan Reva kompak menunjuk ke arah Kinar yang kini speechless. Kinar malu saat namanya di sebut.
" Benar begitu?"
Kinar mengangguk malu-malu, " Benar nyonya!"
" Kamu masih muda dan sangat berbakat. Kamu bisa memadupadankan sentuhan tradisional dengan era modern. Saya suka. Banyak yang pesan batik buatan kamu itu. Nanti malam saya akan undang kalian makan makan ya?"
__ADS_1
Dua teman Kinar itu langsung heboh manakala mendengar ajakan makan malam. Hanya Kinar yang terlihat malu dan membuat pria di belakang nyonya Pramesti menatap Kinar tak lekang.