Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 63. Aku merindukanmu


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Kinar tak lagi perduli jika setelah ini ia akan di cecar pertanyaan oleh Hansen. Baginya yang terpenting saat ini adalah tak berhadapan dengan Kendra terlebih dahulu.


Meski bayangan wajah Kendra acap kali mampir ke pikirannya tanpa di undang, namun nyatanya ia benar-benar tak sanggup untuk sekedar menatap wajah pria itu bahkan untuk barang sejenak.


Tangannya bahkan sampai gemetaran manakala menempelkan cardlock ke depan pintunya. Perasaan takut, malu dan kesal bertangkup menjadi satu. Menyerang lalu menyeretnya ke titik ragu.


KLIK


Maka Kinar buru-buru masuk kedalam kamarnya saat tanda merah itu berdebib. Ia langsung menutup gorden berat yang menutupi dinding kaca kamarnya itu dengan tubuh yang gemetar bagia di kejar setan.


Wajah pria itu terlihat lebih tak terawat dari sebelumnya. Bulu-bulu halus di sepanjang rahangnya terlihat tumbuh dan membuat penampilanmu Kendra menjadi sedikit kotor. Kendra benar-benar tampak sangat menyedihkan jika di pandang.


Meskipun begitu, Kinar tetap takut. Kinar takut di permalukan kembali di depan umum soal siapa dirinya sebenarnya. Sudah cukup, cukup rasanya ia menelan perlakuan kasar dari orang lain.


" Bagiamana dia bisa ada di sini?" ia bertanya resah pada diri sendiri dengan air mata yang tak mau berhenti mengalir. Bahkan tangannya masih bergetar hebat.


" Kenapa aku tak memiliki keberanian bahkan untuk sekedar menatap?"


Meski terdengar melayangkan pertanyaan bodoh, namun yang ia herankan adalah kenapa Kendra seolah berada dimana-mana. Apakah dia seberkuasa itu?


Dan dugaannya rupanya benar, di pagi sebelum jadwal pelatihan di hari ketiganya, Kinar di hadang oleh Hansen yang menatap wajahnya penuh selidik. Seolah ingin Kinar memuaskan rasa ingin tahunya yang menggebu-gebu.


" Kinar, bagaimnaa bisa kau mengenal Kendra Arion?"


Bahkan meskipun pertanyaan itu di ucapkan dengan intonasi pelan saat mereka hanya berdua, namun Kinar tak bisa menyembunyikan raut ketidaksukaannya akan hal itu.


" Permisi Pak, saya sudah terlambat!" jawab Kinar yang sengaja mengalihkan pembicaraan sebab tak ingin membahas soal Kendra.


Namun saat Kinar hendak melangkah, Hansen yang sangat penasaran terlihat menangkap tangan wanita itu dengan wajah murung seolah masih ingin mengetahui jawabannya.


" Jawab dulu pertanyaan saya Kinar. Ada hubungan apa kau dengan Kendra?" ulangnya dengan air muka yang semakin murung.


Membuat Kinar memejamkan matanya karena merasa lelah. Lelah dengan semuanya.


" Maaf Pak, tapi saya tidak ada kewajiban untuk menjawab hal ini kepada anda, permisi!"


Terdengar tidak sopan memang jika di tarik dengan garis hubungan bawahan dan atasan. Tapi terdengar benar jika hal itu di lihat dari sudut pandang lain, dimana mereka memang belum memiliki hubungan apapun selain bos dan karyawan.


Very pitiful !


Hansen sontak terdiam. Itu memang benar. Tapi jiwa ingin tahunya kini benar-benar meronta-ronta. Ingin dipuaskan dengan jawaban yang lebih relevan.


" Apa kalian punya hubungan di masa lalu?" teriak Hansen dan berhasil membuat Kinar menghentikan langkahnya.


Namun Kinar tak menjawab. Wanita itu lebih memilih untuk masuk kedalam kelas dimana pelatihan kini sudah berlangsung usai menarik napasnya berulang kali demi menetralisir rasa tegang.


Tapi Hansen akhirnya menghembuskan napas pasrah saat melihat Kinar yang kini telah menghilang di balik pintu berwarna abu-abu itu. Menegaskannya jika Kinar benar-benar tak mau membahas soal Kendra.


Tapi Hansen akhirnya menemukan jawaban itu saat Diego memintanya untuk bertemu di resto hotel malam harinya.


Ya, Diego menelpon Hansen dan meminta pria itu untuk datang sebab ada hal penting yang ingin dia bahas. Begitu katanya.


" Kenapa kau mengajakku bertemu?" tanya Hansen usai menggerus batang rokoknya yang sudah memendek.


" Untuk membahas Kinar dan Kendra!"


DEG


Maka Hansen seketika melirik tajam ke arah Diego yang wajahnya kini terlihat sangat misterius.


" Apa yang kau ucapkan kemarin malam itu serius?" tanya Diego sembari melipat kedua tangannya ke atas meja. Terlihat seperti sipir yang menginterogasi seorang pesakitan.

__ADS_1


"Soal apa?" jawab Hansen masih tenang.


" Future wife!"


Hansen langsung tersenyum sumbang. Rupanya benar, mungkin Kendra yang meminta Diego datang kemari.


" Jadi kau di perintahkan pria itu?" tebak Hansen tersenyum sumbang.


" Nope!" balas Diego serius. Membuat Hansen menatap teman baiknya itu lekat-lekat.


" Dengar Han, kau adalah temanku, dan Kendra adalah sahabatku. Aku hanya ingin menjadi penengah disini meskipun kalian tidak saling mengenal!"


Kini Hansen semakin yakini, jika antara Kinar dan Kendra pasti telah terjadi sesuatu. Jika tidak, tak mungkin Diego sampai repot-repot mengajaknya bertemu dan membahas hal ini.


" Bagiku Kinar adalah calon istriku, meski hingga saat ini dia masih tak menganggapku lebih dari seorang atasan!" jawab Hansen sembari melempar tatapan getir. Teringat bila Kinar benar-benar sulit di taklukan.


Membuat Diego memicingkan matanya.


" Ternyata dugaanmu salah Ken. Aku turut lega. Kinar benar-benar wanita luar biasa!" batin Diego yang merasa lega.


" Jadi, kau sekarang yang mengejar perempuan?" tebak Diego tertawa kecil.


Membuat Hansen turut tersenyum ironi, " Dia mengingatkanku pada Ana!"


Dan jawaban mengejutkan itu berhasil membuat Diego tertunduk murung. Ia tahu masalalu Hansen yang di tinggal pergi oleh Ana bahkan sebelum mereka melangsungkan pernikahan.


" Aku hanya ingin mengatakan kebenaran. Kebenaran yang harus kau ketahui sebelum menjadikan pangkal permasalahan besar!"


Hansen langsung menatap lekat-lekat Diego yang kini dalam mode serius.


" Kinar adalah istri sah Kendra, dan dari pernikahan mereka, mereka sudah memiliki seorang anak!"


Deg!


Maka Hansen langsung menelan ludah dengan cepat sebab terkejut setengah mati.


"Anda masih bisa mencari wanita yang lebih pantas dengan anda!"


"Pak Hansen tidak tahu siapa saya!"


"Saya punya masa lalu yang buruk Pak. Saya rasa Pak Hansen berhak untuk mencari wanita yang lebih pantas dan itu bukan saya!"


Dan semua ucapan Kinar beberapa yang lalu tiba-tiba terputar kembali di dalam otaknya secara otomatis. Membuat Hansen seketika paham jika masalalu yang di maksudkan adalah Kendra.


Oh Tidak!"


Diego mengangguk, menyempurnakan keterkejutan Hansen akan tabir gelap yang akhirnya terungkap.


" Anak yang selama ini diberitakan lahir dari Megan sejatinya adalah anak dari Kinar!"


DUAR!


Maka dunia Hansen seolah hancur untuk yang kedua kalinya sebab merasa kalah bahkan sebelum menyerang.


...ΩΩΩ...


" Kau jangan bertindak yang bakal merugikan dirimu sendiri. Tunggu kabar dariku!"


Begitu ucapan Diego beberapa saat yang lalu, yang malah terdengar seperti sebuah larangan keras ketimbang permohonan. Dan sialnya, ia malah patuh dengan penasihat hukum abal-abal dadakannya itu.


Double damned!


Kendra dengan langkah gontai kini berjalan menuju ke makam Megan yang berada di halaman belakang mansion besarnya. Ia kini berjongkok seraya menatap pusara yang telah berusia dua tahun itu dengan tatapan suram.

__ADS_1


" I've found her! ( aku sudah menemukannya)" lirih Kendra dengan hati yang riuh akan sesal yang kini memakinya dengan gelegar tawa sumbang.


Kendra menatap nanar batu nisan bertuliskan nama mendiang istrinya itu dengan sorot mata yang mempertontonkan ketidakberdayaan, kelemahan dan juga kekalahan.


Kendra kini tahu artinya sepi.


"But it's not easy! ( Tapi ini ternyata tidak mudah!)"


Namun belum juga Kendra selesai meluapkan semua isi hatinya. Teriakan Sofia dari dalam membuatnya menoleh.


" Tuan!" seru Sofia yang wajahnya pucat.


" Ada apa ?"


" Tuan, nona kecil muntah-muntah!"


" Apa kau bilang?"


-


-


Pintu mobil yang dibanting Kendra dengan begitu keras jelas menegaskan sepanik apa laki-laki itu saat ini.


Ya, usai mendengar informasi yang menyangkut kesehatan anaknya, Kendra langsung melesat menuju rumah sakit miliknya. Menepikan semua pikiran yang masih saja semrawut pasca bertemu dengan Kinar.


Kendra bahkan tak sempat menjawab telepon dari Diego. Membuat si penelpon menjadi resah.


" CK, kenapa kau tidak mengangkatnya Ken?"


Diego hanya ingin menyampaikan berita penting bahwasanya Hansen dan Kinar belum memiliki hubungan serius seperti yang pernah di umbar oleh Hansen.


Ia kini bahkan sudah mengantongi alasan kenapa Kinar bisa berada di kota ini, bahkan alasannya bekerja di perusahaan milik Hansen.


Reva dan Eta bahkan merasa aneh dengan sikap Kinar yang tampak tak konsen kala mengikuti pelatihan. Temannya itu bahkan kerap menunjukkan tatapan kosong bahkan di sesi serius saat melakukan praktik.


Malam harinya, usai melakukan makan malam di resto hotel yang berada di lantai dasar, Kinar memilih kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Dan hal itu lagi-lagi membuat dua temannya bertanya-tanya.


Pikirannya benar-benar tak baik-baik saja. Membuat kepalanya serasa mau pecah.


Namun alih-alih bisa memejamkan matanya barang sejenak, bayangan wajah Kendra yang terlihat marah saat ia bersama Hansen tiba-tiba datang mengusik. Mengganggu dan tak mengizinkan otaknya untuk beristirahat.


" CK, kenapa aku malah terus memikirkannya!" kesal Kinar kepada dirinya sendiri sebab antara perasaan dan pikiran benar-benar bertolak-belakang.


TOK TOK TOK!


Ia langsung menatap jam di dinding dengan warna kuning yang hangat itu dengan wajah heran. Siapa yang datang di jam semalam ini?


TOK TOK TOK!


Kinar lantas mengintip orang di luar itu dari lubang kecil di pintu kamarnya. Terlihat seperti petugas hotel sebab mengenakan pakaian yang mirip digunakan oleh petugas hotel yang juga mengenakan masker.


" Ada apa ya?" ia bergumam ragu namun sejurus kemudian Kinar membuka pintu itu sebab takut kalau-kalau itu merupakan utusan dari panitia pelatihan.


CEKLEK


" Ada ap..."


Namun belum juga perkataan Kinar itu tuntas di ucapkan, pria bertubuh tinggi tegap itu tiba-tiba mendorong Kinar masuk lalu dengan gerakan cepat menutup pintu itu untuk kemudian mencabut kunci dan menyimpan benda tersebut ke sakunya.


Membuat Kinar terkejut bukan main.


" Apa yang kau lakukan? Si- siapa kau..." teriak Kinar yang kini ketakutan setengah mati.

__ADS_1


Maka pria bermasker itu langsung membuka maskernya dan tampaklah wajah Kendra yang kini menatapnya dengan tatapan tak berdaya.


" Aku merindukanmu Kinar!"


__ADS_2