
...🌸🌸🌸...
Keesokan harinya tepatnya di sore hari, Kinar yang yang sudah bersiap-siap untuk pergi guna menemui Reva dan Eta terpaksa menunda niatnya karena Xander membawa kabar buruk soal Dores.
" Dores dibawa ke rumah sakit karena mengalami penyumbatan pada pembuluh darahnya!" kata Xander kepada Kendra yang berada di ruangan itu.
Membuat Kinar yang masih berada dalam situasi canggung itu turut cemas.
" Bagaimana Sofia?" tanya Kinar yang menepikan egonya untuk terus menerus bungkam dari Kendra sebab rasa khawatir jauh lebih besar.
Sofia sudah ia anggap sebagai sahabatnya selama ini, dan kesulitannya tentu tak bisa di nafikkan begitu saja oleh Kinar.
" Dia sedang menunggui ayahnya menuju rumah sakit. Dan...dia juga berpesan untuk sementara tidak bisa mengurus nona muda, nona!" jawab Xander menatap Kinar dengan wajah yang selalu flat.
" Tolong kau kawal Xan. Urus semuanya hingga Dores pulih, katakanlah pada Sofia untuk tidak mencemaskan Flo karena Ibunya masih ada disini!" seru Kendra sepihak yang seolah mengerti jika Kinar sangat mencemaskan gadis itu.
Membuat Kinar langsung menoleh.
Xander mengangguk dan sempat menyapa Kinar lalu membuka perempuan itu turut mengangguk meski canggung.
Sejurus kemudian, Kendra yang pagi ini tumben tidak mengenakan pakaian kantor terlihat berjalan mendekat ke arah Kinar yang berdiri mematung.
Semalam Kendra tak bisa tidur dan memilih untuk tak menginterupsi Kinar yang sudah lelap bersama Flo. Meski kadang bayi yang mulai fasih berbicara itu menanyakannya Sofia, namun Kinar bisa menjelaskan dengan mudah.
" Kau tadi dengar sendiri apa yang dikatakan oleh Xander soal Sofia kan?" kata Kendra menatap wanita yang masih saja menghindari tatapannya itu.
Kinar tertunduk dan pura-pura sibuk membetulkan selimut baby Flo. Sama sekali tak ingin menatap wajah yang bisa membuatnya lemah itu.
" Memang seharusnya begini!" imbuh Kendra saat kebisuan masih menyeruak.
Membuat Kinar kontan menghentikan kegiatannya sebab ia yakin bila Kendra sebentar lagi akan membahas tentang mereka berdua.
__ADS_1
" Memang seharusnya kaulah yang harus mengurus anak kita Kinar, bukan orang lain!" jelas Kendra dengan suara paling lembut yang pernah Kinar dengar.
Dan sialnya, itu menjadi kali pertamanya bagi mereka saling bersipandang setelah bertengkar hebat.
" Aku harus pergi, aku harus mengurus ke Pak Han..."
" Tidak ada yang perlu di urus!" sahut Kendra yang berhasil menjegal ucapan Kinar.
" Aku masih punya tangg..."
" Hansen sudah menemuiku kemarin!"
Membuat Kinar tak bisa berkutik dan tak memiliki alasan lagi untuk sekedar pergi.
" Apa? Bertemu? Ba-bagaimana bisa?"
Kendra yang berwajah muram kini semakin mendekat ke arah Kinar yang selalu membuang pandangannya.
Kinar mendecak tak percaya, kenapa Kendra mengatakan hal itu, dan tepat pula.
" Kau tahu sebuah perkumpulan tentang surya yang tenggelam?"
Membuat Kinar teringat dengan ucapan seseorang yang dulu juga pernah membahas soal perumpamaan indah itu.
" Seseorang pernah mengatakan kepadaku bila sejatinya surya itu tak pernah benar-benar tenggelam!"
Hangat napas Kendra yang berjarak dekat dengannya membuat Kinar mendongak. Dari posisi yang kian tak berjarak itu, Kinar bisa melihat pancaran sinar mata penuh ketulusan dari kedua netra jernih Kendra.
"Dia tak benar-benar tenggelam karena dia... sejatinya akan terus menyinari belahan bumi lain, ke belahan bumi lain berikutnya."
"Bahkan sekalipun malam menelannya, dia tidak benar-benar tenggelam!"
__ADS_1
Kendra kini memajukan langkahnya lebih dekat membuat jarak mereka berdua semakin intim.
" Kau lihat itu!" tunjuk Kendra pada sang surya yang terlihat terlah melorot di antara semburat jingga yang menenteramkan di ufuk barat.
Membuat Kinar menoleh lalu menatapnya pancarannya sinar menentramkan itu dari dekat.
" Kau tahu Kinar, mungkin hari ini kita redup. Tapi kita harus ingat... jika ada hal lain yang masih harus kita sinari yakni Flo, apa kau mengerti?"
Wajah dan mata Kinar seketika terasa panas demi mendengar ucapan Kendra yang bernada pilu itu. Bagaimana bisa Kendra kini memberikan perumpamaan yang sangat relevan dengan keadaan mereka.
Apakah pria itu benar-benar sudah berubah.
" Bisakah kita mengeluarkan cahaya kita yang baru untuk anak kita setiap hari?"
Maka Kinar seketika memejamkan matanya sambil mengangguk menahan tangis sebab ia benar-benar lagi tak tahan. Ternyata seperti inilah rasanya bersama orang yang mau menyesali segenap perbuatan buruknya.
Ternyata seperti inilah berbagi perasaan dengan orang lain bahkan yang sudah tak mendiami bumi sekalipun.
Dan ternyata, seperti inilah rasanya meninggalkan ego jauh di belakang, demi sosok gadis cilik yang kini tidur lelap.
Terasa lega dan membuat segala sesuatunya menjadi terang benderang.
" Terimakasih Kinar, terimakasih!"
Kendra menarik pinggang ramping itu untuk merapat ke tubuhnya lalu sejurus kemudian ia menundukkan wajahnya mencium bibir istrinya dengan begitu lembut.
Di saksikan Surya yang kini mulai tenggelam, kedua insan yang kini sepakat untuk memulai segalanya sesuatunya dari awal terlihat saling melupakan kerinduan.
.
.
__ADS_1
Surya tenggelam TAMAT