
...🌸🌸🌸...
Sofi Benar-benar senang saat melihat Kinar berada satu meja bersama Kendra seperti itu. Rasa-rasanya, Kinar sebenarnya memang cocok dengan Kendra. Gadis periang itu mampu mengimbangi Kendra yang cenderung bersikap tak banyak bicara.
" Ah nona, anda makan benar-benar sangat banyak!" bersuara senang seraya memeluk tangan ke dadanya.
Xander yang mendengar Sofi bergumam terlihat melirik dan membuat gadis itu seketika menunduk takut.
" Hah, salah lagi!"
Kendra bahkan sampai terlolong manakala melihat Kinar makan dengan lahapnya. Kinar yang kini sadar tengah di tatap oleh Kendra, langsung menghentikan suapannya karena malu.
" Maaf tuan!" kata Kinar yang mirip seperti orang yang ketangkap basah.
Namun alih-alih marah, Kendra justru meneguk ludahnya. Ia saja bahkan tak sanggup jika harus makan sebanyak itu.
" Kenapa meminta maaf?" sedikit terkesiap.
" Saya tidak bisa mengendalikan selera makan saya beberapa Minggu ini. Saya..."
" Tak apa. Lanjutkan saja. Mungkin anakku memang sedang ingin makan banyak!" sahutnya dengan suara yang tak ketus, namun juga tak ramah.
" Eh ada apa ini? Tumben aku tidak di salahkan."
Seperti yang terjadi akhir-akhir ini, usai menghabiskan makan siangnya, Kinar selalu saja mengantuk. Mungkin inilah yang menyebabkan berat badannya bertambah drastis. Namun apa yang dikatakan Sofia tadi sepertinya benar. Kinar memang terlihat lebih cantik jika berisi seperti itu.
Kinar sedang meletakkan tubuhnya diatas kasur dengan posisi kaki berselanjar lurus, saat pintu kamarnya tiba-tiba terayun dan menampilkan sosok Kendra.
" Lho, masih ada disini? Aku kira sudah pulang!"
Kinar diam manakala Kendra berjalan mendekat ke arahnya. Pria itu terlihat tidak semenakutkan seperti hari-hari sebelumnya.
" Apa yang kau rasakan?"
Kinar seketika menoleh saat Kendra kini malah mendudukkan tubuhnya di bibir ranjang yang posisinya sangat dekat dengan dirinya.
" Ada apa ini?"
" Tidak ada tuan!"
" Benarkah?"
Kinar mengangguk. Namun tiba-tiba perutnya nyeri sebab bayi dalam perutnya tiba-tiba bergerak. Melihat perut Kinar yang bergejolak bahkan kadang timbul sebuah gerakan yang menonjol membuat Kendra membelalakkan matanya.
" Kau kenapa? Kenapa perutmu? Apa ini sakit?" tanya Kendra bertubi-tubi dengan kepanikan yang kentara.
Kinar tersenyum, " Tidak usah khawatir tuan, cobalah ini.."
Kendra diam tak menyergah sama sekali saat tangan Kinar kini menangkap tangannya, lalu mengarahkan tangan kekar itu keatas perutnya yang kini bergerak kesana kemari.
Amazing!
" Ini anak anda. Coba rasakan tuan. Beberapa menit ini dia sangat aktif bergerak. Mungkin dia sedang ingin menyapa anda. Sedari saya melihat anda tadi, dia semakin aktif!"
Kendra terperangah, takjub dan seperti merasakan jalaran sesuatu yang ajaib. Hatinya menghangat dan keajaiban itu seperti meresap kedalam relung hatinya.
Ia seolah merasakan sebuah kebahagiaan kala menyentuh perut Kinar yang kini melenyot kesana kemari.
" Apa kau tidak kesakitan?" bertanya dengan wajah muram sebab ngeri melihat hal itu.
Membuat Kinar terkekeh. Dan untuk pertama kalinya, Kinar tersenyum tanpa beban di hadapan Kendra.
__ADS_1
" Tidak tuan, hanya saja kadang ngilu dan membuat saya merinding. Tapi saya sudah mulai terbiasa dengan hal ini!" kata Kinar yang perutnya masih di sentuh oleh Kendra.
Tanpa sadar, Kinar spontan menatap Kendra dalam saat mengatakan hal itu dan membuat pandangan mereka terkunci satu sama lain.
Kendra yang baru merasakan hal seajaib ini menjadi merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan. Entahlah, apa sebahagia ini melihat perkembangan calon keturunannya?
" Auwwhh!"
" Ada apa?" tanya Kendra kembali panik.
" Kaki saya kram tuan, sebentar!"
Kendra bingung saat melihat Kinar yang berusaha meraih kakinya namun sulit sebab perutnya mulai membesar. Gadis itu meringis nyeri yang membuat Kendra semakin panik.
Melihat Kinar kesulitan, Kendra reflek menarik ujung kaki guna meringankan rasa itu lalu sejurus kemudian memijatnya lembut. Membuat Kinar terkejut.
" Tuan jang..."
" Diamlah, ini akan membuat kram mu cepat hilang!"
...ΩΩΩ...
Megan telah kembali ke mansion namun ia tak mendapati suaminya berada di sana. Ia lantas bertanya-tanya kepada beberapa pelayan disana namun tak ada satupun yang tahu kemana Kendra pergi.
Hingga, ia yang dikirimi pesan oleh seseorang di mansion dua seketika menjadi geram.
..."Tuan ada disini nyonya, beberapa jam yang lalu sedang makan siang bersama nona Kinar."...
Megan menghela napasnya berulang kali mencoba menenangkan diri usai membaca habis pesan itu. Tidak, mungkin Kendra ada urusan penting yang menyangkut peternakan. Begitu ia mensugesti dirinya.
Namun saat malam menjelang sekalipun, Kendra tak juga pulang. Membuat Megan tak bisa lagi menunda kepergiannya menuju mansion itu sebab kemarahan kini menguasai dirinya.
Tetapi saat Megan hendak turun, Kendra sekonyong-konyong terlihat muncul bersama Xander dengan menatap Megan heran.
" Kau masih bertanya aku akan kemana? Kenapa kau menemui Kinar tanpa memberitahu?"
Deg
Xander melirik wajah tuannya yang terlihat mengernyit.
" Bagiamana dia bisa tahu. Aku bahkan baru akan memberitahunya." membatin heran.
" Kau pergi menemui wanita itu tanpa sepengetahuanku, apa kau sedang merencanakan sesuatu?" timpal Megan dengan napas menggebu dan dada yang sesak.
" Megan, dengar dulu, aku ingin mengajakmu pergi kesana untuk menengok anak kita tapi kau selalu sibuk dengan Debora!" kata Kendra mencoba memberi penjelasan.
" Oh ya? Jika ini penting kau bisa menghubungiku kan? Aku pastikan akan pulang jika kau mengatakan itu!"
" Megan!"
Kendra menghela napas demi tak percaya jika ia akhirnya bertengkar dengan istri tercintanya hanya karena semua ini. Kendra memilih diam dan menahan diri sebab ia tahu istrinya sedang di kuasai emosi.
" You liar!" pekik Megan yang tampak kecewa lalu sejurus kemudian pergi menuju kamarnya.
" Megan! Megan!"
Xander hanya diam saat melihat pertengkaran pasangan itu. Pria itu lebih memilih tak ikut campur.
Megan mengunci pintu kamarnya dengan dada yang sesak. Bukankah Kendra sudah berjanji jika tak akan menemui wanita itu lagi? Tapi kenapa dia berbohong saat ini?
TOK TOK TOK
__ADS_1
" Megan, open the door please!"
Kendra tampak menggedor pintu dan berusaha untuk membujuk Megan. Megan yang merasa cemburu kini menangis sebab ia masih marah kepada Kendra. Rupanya keputusan yang ia ambil benar-benar tak semudah seperti apa yang selama ini ada dalam angan-angannya.
" Megan, maafkan aku, please buka pintunya!"
Dengan sedikit rasa kesal yang masih mengendap, Megan akhirnya membuka pintu itu manakala Kendra terus saja menggedor pintu itu.
Megan terlihat membuka pintu itu dengan air mata yang tiada mau berhenti mengalir. Dan saat Megan berdiri di ambang pintu.
HREP!
Kendra langsung memeluk istrinya itu dengan wajah muram dan pelukan yang erat. Seolah dia begitu menyesal karena telah menciptakan kesalahpahaman.
" Aku menemuinya karena anak kita sayang. Kau harus percaya akan hal itu. Kau tahu, anak kita bahkan tadi menyambutku dengan begitu baik. Kau harus segera melihatnya!"
Megan berulang kali diciumi oleh Kendra usai menjelaskan hal itu. Dan jika sudah begini, wanita mana yang tak luluh.
" Apa kau tidak sedang membohongiku?" tanya Megan yang kini wajahnya di tangkup oleh Kendra.
" Megan, Xander mengatakan jika perempuan itu tidak mau makan. Untuk itulah aku kesana. Dengar, aku tidak sedang mengkhawatirkan perempuan itu, melainkan anak kita, do you trust me?" ucap Kendra menatap murung wajah basah istrinya.
Megan yang di tatap lekat akhirnya mengerti maksud Kendra. Sangat relevan dengan apa yang di ucapkan oleh dokter Adam beberapa waktu belakangan ini.
" Im so sorry!" Megan langsung memeluk kembali tubuh suaminya sembari mengucapkan kata-kata penuh penyesalan.
Kendra mengusap punggung istrinya dengan lembut. Akhirnya wanita itu mau mengerti meski ada beberapa hal yang tak Kendra kemukakan.
Andai Megan tahu apa yang dia alami tadi. Sebuah kebahagiaan yang ia rasakan kala melihat bayi dalam perut Kinar yang bergerak, mungkin Megan pasti akan lebih terbakar cemburu.
...Flashback On...
" Apa kau sering seperti ini?" tanya Kendra saat kaki Kinar sudah mulai lebih baik pasca ia pijat dengan lembut.
Kinar mengangguk. " Kadang-kadang tuan!"
Kendra sedikit merasa kasihan melihat gadis itu. Selama ini ia tak tahu menahu soal kehamilan dan segala sesuatu yang berkaitan.
" Kau mau apa?"
Kendra bertanya kepada Kinar manakala ia menggeser tubuhnya sedikit mundur.
" Saya ingin ke kamar mandi tuan!"
Dan selama Kendra berada di sana, Kinar sudah lebih dari empat kali ke kamar mandi untuk buang air kecil. Gadis itu terus saja bolak-balik dan membuat Kendra agak khawatir. Apa itu normal?
Kendra memang sudah sangat lama tak berkunjung kesana. Terlalu banyak perubahan yang terjadi kepada Kinar.
" Apa kau juga sering seperti ini?"
Kinar kembali mengangguk.
" Kata dokter Adam ini normal!"
Entah mengapa saat Kinar tersenyum seolah dia sedang baik-baik saja, Kendra malah merasa bersalah.
Kendra lantas keluar kamar saat Kina kembali berada di kamar mandi. Pria itu mengorek informasi kepada Hilda.
" Sofi berkata jika setiap malam nona susah tidur namun siang harinya tidur lebih lama. Nona juga sering mengecilkan suhu AC padahal Sofi sudah sangat kedinginan!"
Apa hamil semenyiksa itu?
__ADS_1
Sekembalinya dia ke kamar. Dia mendapati Kinar yang tertidur miring. Perasaan aneh tiba-tiba menelusup kedalam hatinya manakala menatap wajah teduh Kinar.
...Flashback End...