Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 27. Semangkuk berdua


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


" Bagiamana rasanya Sof?"


Kinar yang benar-benar bosan kini meminta izin kepada Hilda untuk memasak masakan yang dia inginkan. Dan dengan dalih anaknya itulah, Hilda akhirnya langsung mengiyakan permintaan madu Megan itu.


Ia ingin sekali makan masakan berkuah di cuaca yang dingin di sore seperti ini.


" Anda benar-benar hebat nona. Saya dulu pernah memakan sop buntut ini sewaktu orang tua tuan Kendra masih ada. Dan ini rasanya sama, iya kan bibi Hilda?" seru Sofia yang terlihat begitu senang usai diminta mengoreksi rasa masakan Kinar.


" Benar nona. Tuan Kendra bahkan pernah memakan sup anda beberapa bulan yang lalu. Bahkan dia pernah meminta saya untuk menyimpan sisa makanan itu dan dia makan lagi malam harinya!"


" *Hah? Benarkah? Benarkah jika dia mau memakan masakan ku? Tapi kenapa bibi Hilda baru bilang*?"


Kinar tertegun seraya membatin. Tak menyangka jika pria itu pernah memakan masakannya.


Hingga, suara mobil yang menderu kasar di depan mansion besar itu, membuat kesemua kompak menoleh.


" Bukankah itu mobil tuan Kendra? Astaga, kenapa kalau datang suka sekali mendadak begini sih?"


Sofia langsung kalang kabut. Pun dengan Hilda yang kini turut pias sebab Kendra selalunya datang tanpa pemberitahuan.


Kinar yang tak bisa berlari memilih untuk tak terlalu mengurus hal itu sebab ia sudah cukup tahu diri akan posisinya. Lagipula, Kendra bisa saja kesana karena ada urusan lain.


Ia memilih menata hasil masakan ke dalam mangkuk besar putih bersih, yang ia bagi menjadi beberapa bagian. Berniat untuk membaginya bersama Sofia juga bibi Hilda.


Di luar.


" Selamat datang tuan!" sapa Hilda dengan suara lugas yang berdiri tepat di depan Sofia yang juga turut menyambut kedatangan sang baginda raja.


" Dimana Kinar?" bertanya tanpa menatap kedua perempuan yang menjadi andi dalem mansion kedua itu.


" Nona sedang masak sup buntut tuan. Saya mengizinkannya sebab nona mengatakan ingin makan masakannya sendiri!"


Pria itu tidak menjawab namun langsung ngeloyor menuju ke arah dapur. Membuat Hilda turut mengikuti langkah jenjang pria itu dengan ketunyal - tunyal.


Namun saat Sofia hendak mengekori Hilda, kerah baju bagian belakangnya malah di tarik oleh Xander dan membuat Sofia mirip curut yang ketangkap basah sedang mengembat sesuatu.


" Hihh Xander setan ini kenapa lagi sih? Kurang kerjaan banget narik- narik baju orang!"


" Mau kemana kau?" tanya Xander dengan suara dingin.


" Mau jualan ongol- ongol. Ya mau ikut bibi Hilda lah. Pakai nanya lagi!"


" Saya... mau mendampingi nona Kinar tuan!" menjawab dengan begitu sopan. Sangat kontras dengan isi hatinya yang gedek setengah mati.


" Siapa yang menyuruhmu kesana?"


" Brengsek juga setan ini. Nyusul salah gak nyusul malah di tanya begini. Huhhh!"


" Maaf tuan. Tidak ada yang menyuruh saya, tapi...."


Namun suara Xander kemudian membuat ucapan Sofia menguap percuma.


" Di mansion ini hanya kau dan Hilda yang tahu kenapa nona Kinar menikah dengan tuan Kendra. Jadi jaga mulutmu dan jangan sampai orang lain tahu jika anak yang lahir nanti adalah anak yang berasal dari rahim nona Kinar! Apa perkataan ku jelas?"


Deg!

__ADS_1


" Apa? Gila!! Jadi karena itu nona Kinar di nikahi? Jahat sekali? Jadi wanita itu mandul?" membatin dengan wajah syok.


PLETAK!


" Aduh!"


Sofia langsung mengaduh seraya mengusap kening, tatkala jidatnya tiba-tiba di selentik oleh pria brengsek itu. Membuat Xander menatap.


" Sopan sekali kamu malah melamun saat orang sedang berbicara kepadamu!" hardik Xander yang nampak kesal.


" Aku kan kaget sialan. Kenapa sih suka sekali menyiksa aku seperti ini? Ya Tuhan, berikanlah dia azab berupa bisul agar orang ini tidak menyiksaku lagi!"


Dan tentu saja doa jelek itu hanya berani ia ucapkan dalam hati.


" Ma- maafkan saya tuan. Ta- tapi kenapa harus..."


" Nona Megan telah mengumumkan jika dia sedang hamil. Kurasa kau pasti sudah paham apa yang aku maksud!" kembali memotong pertanyaan Sofia sebab ia sudah tahu apa maksud dari gadis lamis itu.


" Ingat!" menarik tubuh Sofia mendekat ke arahnya dengan wajah mengintimidasi. " Jangan sampai karena mulutmu yang bocor itu, kau akan kena masalah!"


Deg!


Sofia langsung termenung saat Xander kini berlalu dari pandangannya. Apa dia barusaja di ancam oleh setan tampan di hadapannya barusan? Drama macam apa ini? Jadi nona Kinar hanya dijadikan alat?


Oh ya ampun.


-


-


" Tolong tinggalkan kami!" ucap Kendra lirih kepada Hilda. Maka Hilda segera membungkuk usai Kendra meminta wanita itu pergi.


Kinar masih belum menyadarinya kehadiran Kendra yang menatapnya berjalan mondar mandir membereskan sisa peralatan dengan perut seperti badut.


Dari pantauannya, perempuan itu kulitnya menjadi lebih bersih dari saat mereka bertemu pertama kali. Mungkin karena jarang keluar mansion dan rajin memakai skincare yang di rekomendasikan oleh Sofia.


Tidak tahu kenapa, emosi Kendra seketika surut saat melihat Kinar lebih gemuk seperti itu. Dimana perut yang membuncit itu berisikan calon anaknya yang selalu tak sabar ia harapkan kehadirannya.


Hingga.


" Astaga, tuan!" pekik Kinar yang terkejut saat melihat Kendra menyenderkan tubuhnya ke lemari es dengan dua tangan yang ia kantongi.


Entah sejak kapan Kendra berada di sana. Begitu pikir Kinar risau.


" Aku lapar!" seru Kendra tanpa mengucapkan perkataan apapun lagi dan langsung menuju ke arah meja makan. Membuat Kinar mengerutkan kening.


Beberapa saat kemudian, Kinar yang akhirnya paham jika Kendra memintanya untuk menyajikan makanan, terlihat membawa nampan berisikan semangkuk besar sup buntut, dan di ikuti oleh para pelayan lain yang juga membawa masakan mereka dalam partai besar.


" Berhenti!" seru Kendra yang membuat para pelayan itu berhenti pun dengan Kinar.


" Bawa yang kau pegang itu saja. Yang lainnya tolong kembalikan!"


Titah yang sangat jelas dan tegas.


" Apa? Dia hanya meminta supku? Kenapa?"


" Kenapa malah diam. Apa kau tuli dan tidak mendengar jika aku sedang lapar? Cepat bawa makanan itu kemari!"

__ADS_1


Kinar langsung terkesiap dan buru-buru melangkah maju membawa sup yang sebenarnya ingin dia makan.


" Orang ini benar-benar sangat sulit ditebak. Aku bahkan selalu merasa takut di dekatnya!"


Kinar lantas meletakkan sajian lezat itu kehadapan Kendra. Tampilan sup buntut yang menggiurkan membuat Kendra menelan ludah berkali-kali.


" Silahkan tuan!"


" Kau mau kemana? Temani aku makan!" kata Kendra yang melihat Kinar hendak kembali ke belakang.


Namun mendengar perintah itu, Kinar menurut meski hatinya bertanya-tanya. Kenapa ia diminta menemani?


Kendra terlihat mulai menyendokkan daging lembut itu kedalam mulutnya. Membuat Kinar harap-harap cemas demi menunggu koreksi rasa.


Lagi, Kendra kini mengambil potongan kentang lembut lalu memakannya dengan raut wajah yang sulit di terka.


" Coba ini!" kata Kendra menyodorkan sesendok sup ke depan mulut Kinar.


" Apa? Kenapa memberikannya untukku. Apa.ada yang salah dengan masakanku?"


" Ada apa tuan? Apa rasanya..."


" Makanya cobalah, biar kau tahu!" ketus Kendra yang membuat Kinar semakin pias. Apa dia telah melakukan kesalahan?


Kinar terdiam menatap sendok besar yang menggantung di depan mulutnya, dengan hati ragu. Sendok yang beberapa detik yang lalu bekas di pakai oleh Kendra.


" Cepat!" hardik Kendra mulai kesal.


Membuat Kinar buru-buru menyambut sendok itu lalu menyuapkan sup itu kedalam mulutnya.


" Rasanya enak kok. Tidak ada masalah!" gumamnya usai melahap suapan itu dengan hati bingung.


" Maaf tuan, tapi...tidak ada yang salah dengan rasa sup ini!"


" Memang tidak ada. Aku kan hanya memintamu untuk mencobanya. Kemarikan lagi sendoknya!" kata Kendra sambil merebut kembali sendok yang barusaja di pakai Kinar untuk makan.


Kinar terlolong saat Kendra malah kembali memakai sendok yang barusan dia gunakan untuk melahap kembali makanan itu. Sungguh sulit di percaya. Meraka barusaja makan menggunakan sendok yang sama secara bergantian.


Kinar sampai kehilangan rasa laparnya demi melihat Kendra yang makan dengan tekun dan juga cepat. Pria itu tampak begitu menikmati sup dalam mangkuk besar itu dengan wajah yang lagi-lagi sulit Kinar baca.


" Habiskan!" kata Kendra menyisakan separuh sup itu untuk Kinar.


" Tidak tuan, anda tidak perlu menyisakan untuk saya. Saya masih punya di belakang!"


" Habiskan!" ulang Kendra kali ini penuh penekanan.


Membuat Kinar mau tak mau akhirnya meraih mangkuk itu sebab mata Kendra begitu mengintimidasi.


" Ada apa dengan orang ini? Aku makan bekasnya, dan dia makan bekasku?"


Kendra menatap Kinar yang makan dengan perlahan dengan sorot mata yang benar-benar aneh. Perempuan itu sangat terlihat menggemaskan sebab berat badannya kini bertambah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2