Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 64. Pada titik sepi


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Kata mendayu yang barusaja terucap dari bibir Kendra itu bukanlah sekedar isapan jempol belaka. Pria itu memang sangat merindukan Kinar bahkan saat ia belum menemukan buku digital milik Megan.


But nobody knows.


Dan realita yang ada, apa yang ia rasa justru selalu bertolak-belakang dengan logikanya yang terus-menerus berpikiran salah, jika kematian Megan masih membawa segumpal ketidaksukaan terhadap Kinar.


Definisi dari larut dalam permainan takdir.


Kinar menatap tak percaya sosok kuyu itu dengan mata membelalak lebar, saat ia kini berdiri nyata di hadapan Kendra. Pria yang masih dia pikirkan, sekaligus pria yang kini ingin ia hindari.


" Kinar aku..."


" Jangan mendekat!" teriak Kinar sembari mengangkat tangannya dan seolah ingin menegaskan kepada Kendra jika ia tak mau di sentuh oleh pria itu. Membuat ucapan Kendra lenyap sebelum waktunya.


Kendra seketika muram saat merasa jika ia benar-benar telah melalui kesalahan yang fatal. Ya, Kinar memang berhak marah, sebab ia memang tak becus untuk sekedar memahami perasaan.


That's my bad!


" Aku minta maaf untuk semuanya... Tolong beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya, aku ingin..."


" Menjelaskan apa lagi tuan? Tidakkah anda ingat saat anda tiba-tiba mengusir saya seperti sampah bahkan tanpa memberikan saya kesempatan untuk sekedar mengetahui alasannya?" seru Kinar yang terlihat menggebu-gebu.


Entah mendapat keberanian dari mana, wanita itu tanpa tanggung-tanggung terlihat meluapkan segenap perasaan yang kini membuncah di dadanya selama dua tahun ini. Kekecewaan, kemarahan, ketidakberdayaan, ingin rasanya Kinar melemparkan semua hal buruk itu kepada Kendra, agar pria itu tahu betapa sakitnya hati Kinar kala itu.

__ADS_1


" Padahal anda sendiri yang juga mengatakan kepada saya untuk tidak meninggalkan anda waktu itu, tapi anda sendiri juga yang malah mengusir saya bagai benda tak berguna!" imbuh Kinar yang kini menatap getir Kendra.


" Apakah anda ingat semua itu tuan? Apakah anda ingat betapa jahat nya anda saat itu? " teriak Kinar yang kini tak bisa lagi menahan air matanya.


Wanita itu kini terang-terangan mengeluarkan kesesakan yang selama ini bersarang di dalam kalbunya kepada orang yang tepat.


Maka hati Kendra seketika terasa nyeri manakala mendengar Kinar yang meneriakkan kekecewaannya tanpa tanggung-tanggung itu.


Jelas itu salahnya.


Mutlak dan tak terbantahkan.


" Tolong maafkan aku Kinar, aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu, aku mohon!"


Kinar tertawa dalam tangisnya demi merasai bila Kendra yang kini bukan seperti Kendra yang dia kenal sebelumnya. Pria itu terlihat sangat rapuh dan seperti kehilangan taringnya. Are you kidding me?


" Kau harus percaya kepadaku Kinar, kumohon percayalah!" lirihnya yang semakin terdengar pilu. Mengoyak paksa nurani Kinar yang kini tak tahu harus melakukan apa.


Kendra mencintai Kinar, dan ia telah menyadari sepenuhnya hal itu.


Kinar kini termenung sebab tak menyangka jika Kendra rupanya bisa menitikan air mata. Benarkan itu kenyataannya? Atau Kendra memiliki dalih lain?


Namun alih-alih menjawab, Kinar yang mungkin saja merasa luka batinnya itu masih basah terlihat tak mempercayainya kendara.


" Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Semuanya yang perlu dan harus kau ketahui sebagai istriku Kinar. Aku hanya ingin kau memaafkan aku. Aku ingin kita menilai kembali dari awal... Tapi jika luka yang ku torehkan kepadamu terlalu dalam, maka aku pun pasrah!"

__ADS_1


" Aku tidak bisa memaksamu. Tapi setidaknya, aku sudah mengatakan apa yang seharusnya aku katakan Kinar!"


Keheningan tiba-tiba menyeruak. Menyeret dua sosok manusia yang kini termenung dalam titik paling hampa dalam hidupnya.


Kinar yang tiba-tiba merasa bimbang, dan Kendra yang merasakan lega. Dua manusia yang kini terengah-engah usai meluapkan emosinya satu sama lain itu, kini menundukkan tubuhnya ke atas ranjang dengan pandangan tertunduk layu.


Hening dan sunyi.


Menegaskan jika keduanya sama-sama terluka.


" Tahukan anda tuan, anda adalah orang pertama yang membuat saya jatuh cinta!" kata Kinar dengan tatapan kosong. Nyalang menatap lantai putih dengan hati bimbang.


Deg!


Perkataan paling sendu itu membuat Kendra terlolong.


"Tapi saat anda mengusir saya, detik itu juga saya merasa hubungan kita sudah berakhir tuan!"


Setengah mati Kinar mencoba menguatkan dirinya manakala mengucapkan hal yang kini membuat perasaannya begitu lega itu. Kinar telah menyuarakan semua hal yang selama ini menyiksa batinnya.


" Aku tahu kau pasti kecewa!" balas Kendra yang terlihat begitu menyedihkan, " Dan kau berhak atas itu!" timpalnya yang kini menatap wajah Kinar yang masih menyuguhkan tatapan kosong.


Semakin membuat jarak keduanya kian membentang jauh.


"Tapi selain meminta maaf, aku juga ingin kau tahu satu hal Kinar!"

__ADS_1


Dan ucapan dengan nada penuh keputusasaan itu berhasil membuat Kinar menatap Kendra. Membuat pandangan mereka terkunci selama beberapa detik.


" Anak kita sedang dirawat di rumah sakit!"


__ADS_2