Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 25. Untuk kebahagiaan Kendra


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Megan merasa tak tenang saat melihat Kinar dibantu oleh dokter untuk turun dari ranjang itu. Hatinya benar-benar diliputi ketidaksukaan. Kenapa wanita hamil sangat di perlakukan spesial?


Bahkan suaminya saja yang di awal terang-terangan tak menyukai gadis itu, kini menaruh perhatian meski semua itu ditujukan untuk sang jabang bayi. Namun tetap saja, rasa iri menjalar meresap hingga ke sum-sum tulangnya.


" Sabar Megan. Tunggu sampai anak itu lahir dan kehidupanmu akan kembali damai. Kau sedang berkorban!"


Selalu mendoktrin dirinya agar tetap tidak terpancing emosi.


Usai mendapat sedikit penjelasan dari dokter Adam mengenai kehamilan Kinar yang berprogres bagus, Kendra memeluk pinggang istrinya lalu berpamitan pulang. Megan yang tak ingin bersama Kinar meminta Kendra untuk naik taksi saja sebab nyatanya ia tak tahan bila bersama madunya itu.


" Apa kau yakin sayang?" tanya Kendra memastikan kembali keputusan Megan.


" Tidak apa-apa sayang. Lagipula, kasihan Xander yang harus bolak-balik!" seru Megan sembari mengenakan kacamata hitamnya tanpa menggubris Kinar.


Kinar terdiam namun hatinya diliputi banyak pertanyaan. Kenapa Megan sedari tadi menatapnya sinis?


" Silahkan nona!"


Kinar terkesiap dari lamunannya manakala Xander membukakan pintu mobil untuknya. Sepertinya, mereka akan berpisah disini.


" Tuan, Nyonya terimakasih banyak telah mengantar saya hari ini!" ucap Kinar membungkuk kepada Kendra dan Megan.


" Hemmm!" jawab Megan yang hanya mengeluarkan gumaman.


Sofia yang melihat Megan begitu angkuh menjadi makin ingin tahu, kenapa Kinar sampai mau dinikahi oleh pria itu?


Ya, gadis itu benar-benar heran dengan keberlangsungan pernikahan yang malah seperti ini jadinya.


" Heh, cepat masuk!" seru Xander kepada Sofia.


Sofia seketika mendengus saat Xander menjentikkan jarinya guna membuatnya tersadar.


" Maaf tuan!"


Sepeninggal Xander bersama Kinar juga Sofia, Kendra yang kini berada di dalam taksi bersama Megan merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya itu.


" Apa semua baik-baik saja?" tanya Kendra menggenggam lembut tangan Megan.


" Apa pendapatmu tentang perempuan itu?" kata Megan dengan tatapan yang masih lurus kedepan.


" Kinar?" tebak Kendra menatap istrinya yang terlihat murung.


Megan kontan menoleh. Ia kini menatap suaminya lekat-lekat sembari mengucapkan kata-kata.

__ADS_1


" Kau tahu Ken. Apa yang aku rasakan saat ini mungkin tidak akan pernah bisa kau rasakan. Rasa cemburu, ketidakberdayaan, rasa berada di titik terendah!"


Membuat Kendra meneguk ludahnya karena merasa iba kepada istrinya.


" Aku memang telah memiliki segalanya. Cinta, kehidupan yang baik, materi. Tapi aku tetap merasa memiliki kekurangan sebab aku tidak bisa memberimu keturunan Ken!"


Mendengar hal itu, hati Kendra bagai di tusuk oleh belati yang tajam. Nyeri tak terperi.


"Aku harap kau kini paham akan maksudku yang memintamu untuk menikahi gadis itu Ken!"


Kendra menatap dalam mata istrinya yang sudah berkaca-kaca itu. Ia kini paham, bahwa Megan ingin dia merasakan kebahagiaan kala melihat darah dagingnya. Rasa yang tak mungkin ia dapatkan jika hanya mengadopsi seorang anak dari panti asuhan.


Kendra langsung menarik tubuh istrinya lalu menyandarkannya keatas bahu kokohnya usai mendengar kalimat mengharukan itu.


Kini, sebagai pria yang musti memikirkan dua kehidupan, bahkan tiga, Kendra merasa begitu berbeban berat.


Gadis yang semula tak ia perhatikan, bahkan sangat ingin ia hindari, entah mengapa kini namanya mulai bersemayam di dalam hatinya tanpa sepengetahuan Megan.


" Kau wanita luar biasa Megan. Kau tahu, bahkan aku tidak pernah bisa menembus pikiranmu yang sangat luhur ini. Terimakasih sayang!"


Kendra mencium kening istrinya yang rupanya berani berkorban sejauh ini demi kebahagiaannya.


...ΩΩΩ...


Sofia yang paham apa yang kini dirasakan oleh Kinar hanya bisa mengangguk. Ia tahu bila Kinar nyaris setiap malam mengalami insomnia, dan membuat perempuan itu kerap tidur di jam seperti saat ini.


Sofia menatap punggung Kinar yang mulai menjauh dari pandangannya dengan wajah iba. Andai ia menjadi Kinar, mungkin ia tak akan kuat. Berbagi hati dengan wanita yang nyata-nyata selalu mendapat prioritas itu pasti sangat sulit dilakoni.


Meski, Sofia belum tahu duduk peristiwanya, tapi seharusnya Kendra bisa lebih memperhatikan keadaan Kinar. Begitu pikir Sofia.


" Mana ponselmu!" kata Xander memecah kesenyapan.


Sofia mendelik saat wajah datar Xander mengulurkan tangannya meminta sesuatu.


" Apa ini tuan!" tanya Sofia yang mendadak bloon sebab tak mengetahui maksud Xander.


" Ponselmu. Mulai saat ini, kau harus melaporkannya apapun yang di lakukan nona Kinar kepadaku!"


" Apa?" kata Sofi spontan sebab terkejut.


" Kau tahu kan aku tidak suka mengulang pertanyaan?"


Membuat Sofia buru-buru meraih ponsel di sakunya lalu menyerahkan benda pipih itu kepada si datar sebelum ia mendapatkan masalah.


" Orang ini, apa tidak bisa bicara normal?"

__ADS_1


Usai menerima ponsel Sofi, Xander terlihat menekan nomor lalu men-dial nomor tersebut dan muncullah nomor Sofia di dalam ponsel.


" Dia benar-benar menelpon nomorku?" batin Sofia yang melihat seraut datar itu cukup serius saat mengotak-atik ponsel miliknya.


" Bekerjalah dengan baik. Ingat, kau di bayar oleh tuan Kendra, jadi sebaiknya kau harus tahu di pihak mana kau harus berada!" seru Xander sembari melempar ponsel Sofia dengan kasar lalu tanpa sengaja malah mengenai kening lebar Sofia.


PLETAK!


" Aduh, silan banget. Sakit tahu!" seru Sofia dalam batin yang kesakitan manakala keningnya di lempari kasar dengan ponselnya oleh Xander.


Sofia tak berani menyentuh apalagi mengusap keningnya. Matanya kini mendadak memanas sebab rasanya ternyata benar-benar sakit.


" Kau menangis?" tanya Xander kepada Sofia yang bolak-balik mengusap kedua matanya secara bergantian.


" Tidak, aku sedang jumpalitan. Kau buta ya? Sudah tahu aku ini menangis kenapa masih saja tanya? Dasar setan!"


" Tidak tuan, saya tidak menangis!" bohong Sofi yang kini menahan air matanya mati-matian. Ia kini takut.


" Baru begitu saja kau sudah menangis. Coba lihat sini!"


" Kenapa dia? Apa merasa bersalah?"


Xander terlihat mengerakkan tangannya meminta Sofia mendekat. Dan sialnya, gadis itu menurut.


Gadis itu tampak mendekat ke arah Xander yang berdiri tepat di depannya, namun tak berani menatap. Lagipula, tinggi Sofia hanya sebatas dada Xander.


" Baru begini kau sudah menangis. Padahal aku belum menghukummu karena sikap kurang ajarmu yang sering membicarakan keburukan tuan Kendra di belakangnya!"


Deg!


" Bagaimana dia bisa tahu?" membatin dengan isi dada yang berdegup tak karuan sebab ketakutan.


Sofia yang masih terus menunduk tiba-tiba merasakan sesuatu yang kini di rekatkan di keningnya.


" Sudah, pergilah sana!" ketus Xander usai menempelkan sesuatu ke kening Sofia.


Gadis yang sedang ketakutan itu spontan berjalan sembari berkaca menggunakan layar ponselnya.


" Eh apa ini? Hah, plaster luka? Kenapa dia bisa punya plaster luka? Tunggu dulu, kenapa motifnya lucu sekali?" jerit Sofia yang kini belingsatan saat melihat plaster luka bergambar kartun animasi anak-anak yang telah kini tertempel rapi di keningnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2