
...🌸🌸🌸...
Sama seperti Ibu hamil pada umumnya yang mulai memasuki usia trimester ketiga, dimana banyak sekali ketidaknyamanan mulai bermunculan, Kinar juga mulai merasakan rasa yang begitu beraneka.
Mulai dari rasa gerah yang kerap menyerangnya di malam hari, sulitnya memposisikan diri untuk tidur, napas yang mulai sesak sebab bayi yang ia kandung sudah bertambah ukurannya, hingga Kinar yang merasa tubuhnya telah berubah bentuk menjadi sangat besar.
Dan dari kesemuanya itu, tak pelak membuat Kinar benar-benar sulit untuk berisitirahat. Ia juga merasa kakinya kini juga mulai membesar. Bahkan, sandal yang biasa ia pakai kini tak muat sebab ukuran kakinya yang berubah.
Bulan lalu Megan dan Kendra tak sempat mengantarkan Kinar memeriksakan kandungan sebab mereka sedang bertolak ke luar negeri.
Kinar juga sudah mulai terbiasa dengan segala kesulitan itu seorang diri. Ia semakin rajin mengikuti saran dokter Adam, agar saat persalinan nanti bayi dalam kandungannya bisa selamat.
Perempuan itu juga rutin mengikuti kelas senam hamil, yang secara eksklusif di undang hadirkan oleh Xander atas permintaan Kendra.
Kendra melakukan segala bentuk upaya, sebab ia ingin anaknya lahir dengan selamat.
Sofia yang di tugaskan Xander untuk menjadi mata-mata juga tak pernah absen untuk mengirimkan kabar soal Kinar. Gadis itu bahkan selalu mengirimkan foto kegiatan yang di laki-laki oleh Kinar.
Megan tidak tahu, bila hal itu rupanya Kendra yang memintanya. Meski merasa berdosa, tapi Kendra selalu mendalihkan itu untuk kepentingan anaknya.
Kinar satu Minggu ini juga sering diam dan memilih menyibukkan diri dengan kegiatan merajut di kamarnya. Ia merajut sebuah sepatu juga penutup kepala untuk bayi Kendra itu.
" Kau pasti akan sangat lucu jika memakai ini!" gumam Kinar yang senyam-senyum sendiri manakala menatap sepasang sepatu mungil berwarna lilac itu.
Meski ia tahu bila saat anak itu lahir nanti, otomatis akan menjadi penanda jika Kinar harus enyah dari tempat ini, namun kedekatan batiniah yang terjalin tanpa orang ketahui cukup membuat Kinar merasa sayang dengan anak itu.
" Semoga suatu saat kita masih bisa bertemu di cerita nasib yang berbeda ya nak. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak berdaya saat ini!"
Di satu sore yang sendu itu, Kinar berucap seraya mengusap lembut perutnya yang sudah begitu besar, sembari menatap semburat jingga di ufuk barat.
Perutnya semakin membesar dan berat badannya juga kian bertambah, pipinya yang dulu tirus kini mirip adonan donat yang kelebihan pernipan.
Mengembang dan kenyal.
Kinar menyadari sepenuhnya bila semua ini memang takdir yang musti dia lalui. Lagipula, setelah ini tak akan ada yang tahu dia telah terlibat pernjanjian macam itu.
__ADS_1
Kendra yang beberapa Minggu ini begitu sibuk benar-benar tak sempat melihat secara langsung tumbuh kembang calon anaknya.
Selain itu, Megan yang sering cemburu saat membahas Kinar membuat Kendra harus bisa meredam rasa aneh yang kadang hilang timbul dengan sendirinya itu.
" Nona Kinar sudah selesai periksa tuan. Tapi dokter Adam juga belum bisa melihat jenis kelaminnya karena posisi anak anda!" kata Xander yang selalu tak kenal lelah dalam mengupdate informasi penting itu.
Sebenernya tak jadi masalah meski saat ini Kendra belum tahu jenis kelamin calon anaknya itu. Ia yakin jika anaknya nanti pasti adalah seorang laki-laki yang sangat tampan seperti dirinya.
Apalagi, hanya dengan melihat gambar dalam kertas tipis yang berisikan rupa calon anaknya yang tengah tersenyum lucu itu, membuat hati Kendra kian menggila.
Sebuah keajaibannya yang begitu nyata, dan berhasil merubah dunia Kendra menjadi semakin berwarna.
Rupanya memiliki seorang calon anak itu benar-benar lebih membahagiakan daripada memenangkan sebuah tender proyek.
Namun begitulah kehidupan. Selalu ada irama yang berubah. Maka sepatutnya kita selalu berserah pada ketetapan sang maha segalanya.
Di trimester akhir ini, Kinar sering merasa sakit pinggang. Ia yang kini duduk di pekarangan melihat beberapa pekerja membersihkan kolam renang nampak tersenyum.
Sebentar lagi ia akan bebas dan kembali kepada kenyataan. Tentunya dengan keadaan yang berbeda. Tapi di saat yang bersamaan, rasa sedih tiba-tiba muncul manakala tendangan dari dalam perutnya kembali membuat membuatnya nyeri.
Seperti sedang tahu permasalahan yang di alami induknya, bayi dalam kandungan Kinar selalu aktif saat ingatan Kinar kembali kepada kondisinya di desa.
-
-
" Tolong bawakan aku secangkir kopi Xan!" titah Kendra yang kini melempar punggungnya ke sandaran kursi singgasananya, sembari melonggarkan dasi yang ia kenakan dengan wajah kesal.
" Baik tuan!" jawab Xander tanpa banyak bertanya.
Pikiran Kendra tiba-tiba tak karuan saat banyak keluarganya yang membicarakan soal kehamilan Megan yang malah membuatnya tak tenang.
Padahal, Kendra sudah pernah meminta Megan untuk tidak perlu menggubris orang-orang perkara kehamilan. Yang paling penting jika anak itu lahir, mereka akan Bahau kan? Itu poin utamanya.
Tapi Megan yang begitu keras kepala membuat Kendra sempat beradu mulut sehingga memantik pertengkaran.
__ADS_1
Ia beberapa menit yang lalu sempat mengkonfirmasi hal itu kepada Megan. Alih-alih membuat Megan mengerti, Kendra malah menjadi stres sebab mereka bertengkar besar.
" Kalau aku tidak membuat skenario seperti ini ini, apa yang bakal dipikirkan orang nanti Ken!"
" Atau jangan-jangan kau sudah tertarik dengan gadis kampung itu, hah!"
Kendea tak bisa jika di tuduh terus-menerus. Padahal ia selalu menuruti apa yang Megan mau.
Xander yang datang dengan secangkir kopi hitam tak berani bertanya saat melihat wajah Kendra yang semakin keruh.
" Silahkan tuan!" kata Xander menghidangkan kopi robusta hitam terbaik.
Kendra lantas menyeruput kopi itu panas-panas. Nyaris saja semua ini diketahui banyak orang sebab ia tak mengerti jika Megan tengah membuat cerita bohong soal kehamilannya.
" Kapan estimasi anak itu lahir Xan?" tanya Kendra dengan wajah gusar.
" Dokter Adam mengatakan mungkin awal bulan depan tuan." menjawab dengan profesional.
" Tolong kau pastikan para pembantu di mansion itu untuk bungkam. Terutama anak Dores itu. Dia sering kehilangan kendali saat berbicara!"
Xander langsung membungkuk mengiyakan saat mengetahui jika yang di bicarakan adalah Sofi.
Xander memilih kembali ke ruangannya, dan meninggalkan Kendra yang tampak pusing.
" Kami dengar istrimu hamil, tapi kenapa kau tidak mengadakan acara ucapan syukur. Bukankah kalian menantikan hal itu sudah sangat lama?"
" Tapi kenapa kau malah bercanda dan tidak tahu soal Megan yang beberapa waktu ini kami lihat pergi ke dokter obgyn? Ah Kendra, kau sangat lucu sekali!"
Ucapan bibi Rahel di hadapan para keluarganya yang lain beberapa waktu yang lalu benar-benar membuatnya tidak tenang.
Di satu sisi, ia tak ingin Megan di permalukan seperti itu, tapi di satu sisi juga ia cukup kesal sebab kenapa Megan bertindak tanpa meminta izin darinya.
Xander yang baru saja akan membuka makan siangnya terpaksa menutup kembali box mewah itu, sebab Kendra tiba-tiba datang.
" Antar aku kepada ke mansion dua!"
__ADS_1
Membuat Xander seketika terperanjat.