Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 69. Surya yang tenggelam


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Present


Kinar memilih untuk tak menjawab sebab Flo tiba-tiba menangis. Kondisi balita itu belum lah stabil, membuat Flo kadang-kadang masih merengek minta digendong.


Memang begitu lah bayi, selalu menjadikan induknya sebaik-baiknya tempat meneduh.


" Aku akan menunggu!" pangkas Kendra yang murung seraya memalingkan wajahnya dan membiarkan Kinar memuaskan diri untuk mengurus buah hati mereka.


Ya, Kendra tak ingin terburu-buru. Selain itu, baik dia maupun Kinar pasti sejatinya memerlukan waktu untuk sama-sama berpikir memutuskan jalan yang terbaik setelah pertemuan mereka.


Kendra kini memilih pergi namun saat berada diluar ia bertemu Xander yang belakangan ini sibuk meng-handle pekerjaannya manakala ia tengah hanyut dalam carut-marut urusan perasaannya.


"Ada apa?"


" Seseorang bernama Hansen ingin menemui anda tuan!"


-


-


" Jadi Kinar benar-benar istrimu?"


Kendra menerima Hansen di sebuah ruangan khusus yang berada tak jauh dari kamar Flo di rawat. Sebuah ruangan yang di desain secara khusus apabila ada pertemuan mendadak, mengingat kapabilitas seorang Kendra sangatlah penting.


Selain itu, rumah sakit besar itu adalah miliknya, dan mencari ruangan untuk sekedar ngobrol tak akan membuat Kendra kesulitan bukan?


" Lebih tepatnya Ibu dari Flo!" sahut Kendra menjawabnya pernah Hansen yang cukup membuatnya terkejut itu.

__ADS_1


Semakin menegaskan jika apa yang ada di depan matanya sebagai harapan sangatlah tipis. Tak ada lagi peluang bagi Hansen untuk melewati garis yang bahkan belum sama sekali dia lalui.


" Kau pria yang beruntung!" tukas Hansen masih dengan situasi yang mencekam. Ia ingin memastikan sendiri bila apa yang ia dengar itu bukanlah sekedarnya isapan jempol.


" Aku pria bodoh!" gumam Kendra tersenyum kecut demi merasai diri yang malah meminta Kinar pergi.


Membuat Hansen menatap seraut putus asa yang tengah menunggu keputusan yang membuatnya ketar-ketir sebab Kinar bisa saja banding jika dia mau.


" Kau seorang Kendra Arion, kenapa kau menyebut dirimu sendiri dengan kata-kata menyedihkannya seperti itu?"


Maka Kendra langsung tertawa sumbang demi pertanyaan menggelitik itu.


" Memangnya di mata orang-orang siapa Kendra Arion?" tanyanya dengan senyuman putus asa.


" Kekuatan, kebaikan, ketegasan!" jawab Hansen dengan air muka yang serius. " Aku bahkan iri padamu!"


Dan seketika membuat Kendra mendecak dalam kerapuhannya.


Maka Kendra langsung meneguk ludahnya cepat. Sudah pasti Diego di balik semua ini.


" Kau tahu Surya?" seru Hansen yang masih belum jera.


Membuat Kendra kembali menoleh.


" Meskipun dia tampak tenggelam, namun sebenarnya ia tidak pernah benar-benar tenggelam sebab ada dua hal yang terjadi!"


Kendra tidak tahu kenapa Hansen tiba-tiba mengucapkan hal itu. Memberikan perumpamaan yang belum juga ia pahami.


" Yang pertama adalah dia sebenarnya tak benar-benar tenggelam, tapi justru bumi lah yang berputar dan seolah-olah membuatnya hilang di telan kegelapan!"

__ADS_1


Hansen berucap demi teringat akan ucapan Diego beberapa waktu lalu.


" Secuil kebaikan yang di buktikan dengan tindakan jauh lebih baik dari pada omong kosong yang sering di gembar-gemborkan!"


Dan Hansen kini menyadari jika mungkin Kinar sedikit tak enak hati terhadap perusahaannya.


" Dan yang kedua, meskipun orang percaya jika surya itu tenggelam adalah pertanda berakhirnya waktu, tapi sejatinya dia baru memulai sebuah siklus kehidupan baru!"


Kini Kendra benar-benar paham dan tertampar dengan uraian menohok Hansen yang memberikan gambaran keadaannya saat ini.


Luar biasa, pria yang sempat menjadi rivalnya itu dalam sekejap mampu meyakinkan dirinya untuk maju dan tak menyerah.


" Apa maumu?" tanyanya tidak mau berbasa-basi.


" Aku hanya ingin memastikan Kinar kembali kepada orang yang tepat!"


Di detik itu Hansen lalu bangkit dan menatap Kendra lekat-lekat.


" Kaulah surya itu. Mungkin kau merasa tenggelam saat istri pertamamu pergi. Tapi kau lupa, bahwa ada belahan bumi lain yang menunggu cahayamu!"


Sepeninggal Hansen, tubuhnya yang tiba-tiba merasa sunyi itu kini bergetar dengan posisi wajah yang ia benamkan ke kedua pahanya dengan kesesakan yang luar biasa.


Di luar ruangan.


Hansen yang merasa lega sebab ia telah mengeluarkan unek-uneknya, kini menghela napas. Meskipun ia menyukai Kinar, tapi di bukan pria brengsek yang mau merebut posisi.


Apalagi, setelah Diego menjelaskan secara rinci duduk permasalahannya, ia kini tahu jika berada di posisi yang seperti itu tidaklah mudah. Apalagi, sejatinya Kendra juga menginginkan kebersamaan bersama keduanya meski takdir berkata lain.


Selain itu, ia merasa bila Kinar merupakan wanita terhormat yang setia yang sangat sulit di dekati sebab rupanya memegang teguh prinsip luhur sebagai ibu.

__ADS_1


Membuat dirinya meyakini jika keduanya memang sama-sama masih memiliki perasaan.


__ADS_2