
...πΈπΈπΈ...
Xander langsung melebarkan matanya menatap Sofia yang kini meringis karena keceplosan. Membuat yang di tatap segera tahu, bila dia sedang salah.
" Kau, ikut aku!" tunjuk Xander kepada Sofia yang sudah pias.
" Aduh, mau diapakan aku. Maafkan aku tuan, aku hanya kelolosan bicara!" bergumam dalam hati dengan wajah yang sudah sangat ketar-ketir.
Takut kalau-kalau Xander akan menghukum mulutnya yang kurang ajar.
Sepeninggal Xander dan Sofi, Kinar menjadi tertunduk sebab Kendra kini menatapnya tak jemu. Kinar menjadi ciut nyali demi melihat Xander yang tadi menunjuk Sofi penuh kemarahan.
Tapi jujur, itulah kebenarannya. Kinar menjadi berselera hanya dengan di tunggui Kendra seperti ini.
" Apakah yang di katakan perempuan tadi benar?" tanya Kendra membidik Kinar dengan tatapan tajam yang membuat Kinar merinding.
" Eh, apa maksudnya?"
" Yang mana tuan?" bertanya kembali.
" Soal selera makanmu!" menjawab sekenanya.
Kinar meneguk ludahnya terlebih dahulu sebelum ia menjawab. Wajah Kendra yang tak ramah itu benar-benar membuat dinding kecanggungan semakin menebal.
"Bukankah dokter Adam sudah pernah mengatakan jika ini normal. Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya!" kata Kinar yang setengah mati memberanikan diri.
Kendra sedikit tersinggung dengan penjelasan Kinar. Ia tentu tak lupa soal itu.
" Percaya diri sekali kamu. Bukan kamu yang aku khawatirkan, tapi anakku!"
" Jika kau terus-terusan begini, anakku bisa dalam masalah!"
Deg
Kinar langsung tertunduk.
" Pria ini mengatakan kebenaran. Tapi kenapa hatiku sedih?"
Sementara itu, Sofi yang kini mengekor di belakang Xander terlihat menabrak punggung pria itu tinggi itu sebab ia tak fokus.
DUG
" Aduh!"
Mengusap keningnya yang baru saja terbentuk punggung keras itu seraya meringis. Membuat Xander mendengus.
" Punggung atau batu sih, keras banget!" membatin kesal.
" Apa yang kau bicarakan tadi?" membalikkan badannya lalu bersedekap dengan alis bersatu.
" Yang mana tuan?" jawab Sofia dengan sangat hati-hati.
" Aku tidak punya waktu untuk terus mengulang pertanyaan denganmu!" mengancam demi kelemotan Sofia yang sejatinya hanya dibuat-buat.
" CK, orang ini tidak bisa berkata ramah sedikit apa? Jawabannya menyakitkan hati terus!"
" Soal mual yang di alami nona Kinar?" tebak Sofia ragu-ragu.
" Hemm!" sahut Xander masih bersedekap dengan wajah yang semakin malas.
" Tuan Xander, Ibu hamil itu memang kadang suka aneh-aneh tuan. Lagipula, kalau saya perhatikan nona Kinar memang berselera makan bila di tunggui oleh tuan Kendra! Kalau tuan kurang percaya, tuan boleh mengkonfirmasinya kepada Ibu Hilda!"
" Apa gadis ini bisa di percaya?" menatap Sofia yang telah menjelaskan panjang.
" Kau tidak bohong soal ini?" kembali membidik Sofia dengan tatapan tajam. Bahkan sedikit mengancam.
__ADS_1
" Untuk apa aku berbohong tuan. Anda bisa menanyakannya kepada Ibu Hilda sekarang juga!"
-
-
Kendra pulang usai memastikan jika Kinar sehat dan bayi yang berada dalam kandungannya baik-baik saja. Sebab itulah poin penting mengapa ia bertandang kesana.
Meski ia masih tidak percaya kenapa hal aneh seperti itu terjadi, namun Kendra tetap merasa khawatir soal bayi yang ada dalam perut Kinar.
" Kenapa hal itu bisa terjadi Xan?"
Xander menatap wajah bosnya yang melemparkan pandangannya ke luar kaca mobil, dari pantulan vision mirror saat pertanyaan itu terdengar.
" Saya barusaja mencari soal tahu hal itu tuan. Kemungkinan besar nona Kinar tak bohong soal rasa mualnya sewaktu makan tuan. Pada beberapa kasus, hormon kehamilan memang bisa mempengaruhi hal itu. Dan untuk nona yang berselera makan saat anda tunggi, itu bisa jadi karena anda juga memiliki ikatan dengan bayi itu, karena dari anda lah bayi itu terbentuk bukan?"
...β¦Ξ©β¦...
Hari berganti hari. Pasca mendengar ucapan Kendra yang menyentil kesadarannya beberapa waktu yang lalu, ia menjadi tak lagi memperdulikan keberadaan orang itu.
Mau berkunjung atau tidak, Kinar tetap tak perduli. Ia memaksa dirinya untuk bisa menelan apapun makanan meski tak jarang makanan itu akan ia keluarkan beberapa saat kemudian.
Pernyataan itu benar-benar menampar kesadarannya. Kesadaran akan dirinya yang harus memastikan bayi dalam kandungannya sehat, tak peduli semenderita apapun dia saat ini.
Hingga, waktu yang kembali berjalan membawa Kinar pada trimester keduanya.
" Nona, dokter Adam sudah datang!"
Suara Sofia membuyarkan lamunannya akan hari-hari panjang yang telah dia lalui.
" Baiklah Sof, aku akan siap-siap!" jawabnya ramah.
Keramahan Kinara inilah yang membuat banyak sekali penghuni di mansion kedua juga sangat mengasihi perempuan itu.
Beberapa waktu kemudian, dokter spesialis kandungan itu terlihat masuk lalu memulainya pemerikasaan kala Kinar susah siap.
Hilda yang memahami bila Kinar sedang ngidam, selalu berusaha menyediakan apa yang perempuan itu mau.
" Ini bagus nona. Semua perkembangan sesuai dengan grafik. Saya sarankan untuk tetap menjaga kesehatan agar tidak terlalu lelah ya nona!" kata dokter Adam yang barusaja selesai melakukan pemeriksaan.
" Dokter!" panggil Kinar sesuai sang dokter merampungkan penjelasan.
" Ya?" menjawab dengan intonasi paling ramah.
" Apakah saya sudah bisa melihat jenis kelaminnya sekarang?" bertanya ragu. Membuat dokter itu tersenyum.
" USG hanya bisa di lakukan di rumah sakit nona. Nanti jika sudah waktunya kami akan melakukannya prosedur tersebut. Ini vitamin yang harus anda konsumsi. Saya permisi dulu!"
" Terimakasih banyak dokter!"
Bukan tanpa alasan Kinar menanyakan hal tersebut. Ia hanya ingin tau apakah dia sudah mengandung anak dengan jenis kelamin yang sesuai dengan apa yang diminta oleh Megan.
Saat dokter sudah pergi, Sofia kembali ke kamar Kinar dengan membawa buah-buah kupas yang tampak menggiurkan.
"Apa nona bosan? Kita bisa makan ini di pekarangan belakang jika nona mau!" kata Sofia yang sebisa mungkin ingin menghubungi Kinar.
" Apa boleh Sof?"
"Tentu saja boleh nona!"
Sofia mengajak Kinar sebab dia merasa Kendra sangat tak adil. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri pertamanya. Padahal, ibu hamil juga sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat termasuk suaminya.
Begitu pikir Sofia polos yang belum mengerti tentang fakta sebenarnya.
Di mansion pertama, Kendra yang kini berada di ruang kebugaran pribadinya diam-diam memikirkan perkataan Xander dan Sofia beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Kata-kata itu bahkan terus terngiang-ngiang di setiap kegiatannya. Bahkan saat dia dan Megan tengah bersenggama.
Kendra akhirnya berhenti sejenak dari treadmill nya saat kata-kata itu lagi-lagi mengusik pikirnya. Pria itu membasuh keringatnya menggunakan handuk lalu meneguk sebotol air mineral.
" Sialan, kenapa aku terus-menerus kepikiran dengan ucapan gadis itu!" bergumam tak habis pikir manakala sebotol air itu telah tandas ia teguk.
Saat masih beristirahat, ponsel yang ia letakkan di meja terlihat berdering. Membuat lamunannya menguap.
π Xander calling....
" Ada apa Xan?" sahutnya manakala ia telah tersambung dengan asistennya itu.
" Dokter Adam sudah melakukannya pemeriksaan. Semua normal, nona Kinar juga sudah tidak mual lagi. Bahkan, kini cenderung makan sangat banyak!"
Dan perkataan Xander barusaja berhasil membuat rasa penasarannya muncul. Kendra berniat mengajak Megan untuk mengunjungi mansion kedua.
Kendra buru-buru mandi agar ia bisa tiba di sana tepat saat jam makan siang. Namun saat sudah siap, ia malah tak mendapati istrinya disana.
Seharusnya Megan sudah pulang. Namun sebuah pesan yang tiba-tiba muncul dalam ponselnya, membuat semuanya jelas.
" Sayang aku pulang terlambatnya. Aku sedang menemani Debora. See you π"
Kendra yang sebenarnya sedikit kecewa mengapa istrinya tak pulang tepat waktu lantas meminta Xander untuk mengantar dirinya menuju ke mansion kedua.
Hilda yang tak tau jika tuan besarnya berkunjung ke mansion itu langsung tergopoh-gopoh.
" Tuan?"
" Aku ingin makan siang di sini, cepat panggil Kinar!"
" Anda bahkan sudah fasih menyebutkan namanya tuan!" batin Xander melirik bosnya.
Maka Hilda langsung pergi untuk meminta para pelayan membuatkan makan siang untuk Kendra. Pria itu bersama Xander lantas berkeliling mencari Kinar sebab di dalam kamar ia tak mendapati gadis itu.
" Apa benar jika aku sekarang gemuk Sof?"
Saat langkah kakinya tiba di sebelah dinding yang menjadi batas akhir menuju pekarangan belakang mansion itu, Kendra mendengar suara sayup-sayup wanita yang berbicara.
" Benar nona, tali anda kelihatan lebih cantik jika begini nona. Aku pernah mendengar orang bercerita, jika ibu hamil itu seringkali terlihat cantik karena di jaga malaikat!" seru Sofia terkikik-kikik.
" Kau ini ada-ada saja Sof!" bersemu malu sebab di puji cantik.
Xander melirik Kendra yang kini menjengukkan kepalanya mengintip Kinar yang duduk di kursi sembari memangku sepiring buah.
Kendra tak sengaja tersenyum tipis saat melihat Kinar yang kini memang lebih segar karena berat badannya bertambah. Membuat Xander mengerutkan keningnya.
" Lihatlah tuan. Bahkan anda sedang tersenyum saat ini!"
" Ehem!"
Kendra sengaja berdehem agar dua wanita itu menyadari kehadirannya.
" Tu- tuan!" seru Sofia yang kini buru-buru bangkit lalu membungkukkan badannya.
Kendra lantas berjalan di depan Xander yang kini juga mengikutinya.
" Aku ingin makan siang disini!" kata Kendra.
" Makan siang? Tumben!"
.
.
.
__ADS_1
Biar makin lancar halunya π