
...🌸🌸🌸...
Keadaan yang menurut Kendra sangat mendesak ini, menyeret langkahnya menuju ke satu tempat yang ia yakini dapat memberikan solusi atas kemumetan yang dia rasakan.
" Ada apa kau tumben kesini?" tanya Diego yang merupakan sahabat Kendra yang sudah agak lama tak bertemu Kendra.
"Aku butuh bantuanmu Diego!"
Diego mengangsurkan segelas wine kepada sahabat lamanya yang sudah sangat jarang menemuinya dulu itu dengan hati bertanya-tanya. Pasalnya, wajah yang di suguhkan Kendra sangatlah resah, risau dan mengandung ketidaktenangan.
" What's your problem?" kali ini Diego bertanya sembari mengangsurkan rokok kelas terbaik kepada sahabatnya itu.
" Salah satu istriku pergi karena kebodohanku!" jawab Kendra sembari mengambil satu batang rokok dengan wajah keruh.
Membuat Diego langsung tercengang.
" One of your wife?" ulang Diego yang tampak terkejut dengan penuturan Kendra.
Ya, tampaknya Kendra sudah go publik untuk memperkenalkan Kinar. Pria itu tak lagi menutupi siapa Kinar kepada orang-orang yang dia kenal.
" Ehmmm!"
" Tapi, bagaimana bisa. Kau kan selama ini..."
Wajah terkejut Diego benar-benar membuat Kendra semakin menghisap rokoknya dalam-dalam.
" Semua karena Megan..."
Kendra mengembuskan napas panjang sesaat sebelum ia menceritakan kehidupannya yang selama ini ia tutupi.
" Oh mand! Aku tidak menyangka ternyata kau tak sependiam yang aku kira!" ucap Diego tersenyum sumbang demi rasa kagetnya akan setumpuk kisah yang barusaja di beberkan oleh Kendra.
Namun Kendra masih diam sembari menikmati rokoknya tanpa berniat menyela Diego yang terus saja nyerocos sebab masih tak percaya.
" Yo do it with her? So ..Flo isn't Megan daughter right? ( Kau melakukannya dengan wanita itu? Jadi Flo bukanlah anaknya Megan?)"
Kendra memijat- mijat keningnya yang terasa pening. Namun tidak tahu kenapa usai membagi kesesakan hatinya kepada Diego hatinya sedikit merasa lega.
" Aku tidak yakin jika dia akan memaafkanmu setelah semua yang kau lakukan. Kau sangat kejam Ken. Bagaimana jika dia sudah bersama pria lain?" kata Diego yang sedikit kesal.
Dan perkataan beranda prediksi dari bibir Diego malah di sambut tatapan tajam oleh Kendra.
Sial!
" Kau pasti melupakan semua itu bukan? Oh common man! Kau jangan berpikiran jika hanya kaulah laki-laki yang mendiami bumi ini!" Dengus Diego yang turut menyesali kebodohanmu Kendra.
Kendra menggerus rokoknya yang sudah memendek dengan pikiran yang makin semrawut. Jelas itu salahnya. Damned!
" Apa yang kau butuhkan dariku?" tanya Diego yang kini menatapnya iba sahabatnya yang bahkan tak mampu mendebat dirinya.
" Orangmu!" jawab Kendra menata lekat wajah Diego.
"Aku butuh orangmu yang paling berkompeten untuk mencari Kinar!" imbuhnya dengan wajah penuh harap. Membuat jakun Diego naik turun sebab merasa kasihan.
" Kau punya fotonya?"
Kendra tampak menggulir ponselnya lalu menyerahkan sebuah foto Kinar yang ia dapat dari Sofia melalui Xander.
" Wow, she's pretty man. But... sepertinya dia tidak sepintar Megan!" kata Diego sesaat setelah menatap seraut wajah pada ponsel Kendra.
" Aku datang kemari untuk memintamu mencari tahu keberadaan istriku, bukan untuk mengomentarinya sialan!"
" Wow, slow man. It's just my opinion!" jawab Diego yang kini disertai gelak tawa jenaka demi melihat Kendra yang langsung marah.
Entahlah, rasa bersalah Kendra yang memuncak membuat pria itu semakin sensitif jika menyangkutkan soal Kinar.
Ia meminta Diego atas saran Xander. Anak buah Diego yang berada di mana-mana jelas menunjukan kemumpunian pria itu dalam membereskan masalah Kendra.
...ΩΩΩ...
Sebenarnya tiap dua peserta pelatihan mendapatkan sebuah kamar dengan fasilitas double bed. Namun Reva yang memilih bersama Eta, membuat Kinar akhirnya berada di kamarnya sendiri sebab satu peserta lain dari pabriknya merupakan seorang pria.
Kinar kini memilih untuk mandi lalu beristirahat terlebih dahulu, sebab malam nanti ia akan mengikuti sesi pelatihan singkat sebelum besok dan tiga hari berikutnya akan full mengikuti pelatihan.
Namun tanpa di duga, saat ia turun untuk makan malam, Hansen rupanya menjemput Kinar hingga ke depan pintu kamarnya. Membuat Kinar tak nyaman.
" Sory, aku kira tadi kamu gak tau kalau makannya di bawah. Dua teman kamu sudah di bawah soalnya!" kata Hansen jujur.
Kinar merasa canggung sebab di lorong itu hanya ada dia dan juga Hansen. Ia takut jika akan ada omongan tak baik jika sewaktu-waktu ada yang tak segan melihat mereka.
__ADS_1
" Jangan seperti ini Pak, saya takut jika..."
" Jika mereka menggosipkan kita?" tebak Hansen yang tau kegelisahannya di mata Kinar.
Kinar menunduk tak menjawab. Sebab itulah yang memang dia pikirkan.
" Saya tertarik sama kamu Kinar. Meski kamu belum menjawab, tapi saya akan berusaha membuat kamu percaya kalau saya serius!"
" Pak!" membuatnya langsung tak setuju.
" Kenapa? Kamu ragu? Saya bersungguh-sungguh Kinar!" terang Hansen yang sepertinya tak suka basa-basi.
" Pak Hansen tidak tahu siapa saya!"
" Kalau begitu katakan dong siapa kamu sebenarnya!"
Kini keduanya sama-sama hening. Kinar yang tentu saja malu, dan Hansen yang ingin melihat reaksi Kinar selanjutnya.
" Saya punya masa lalu yang buruk Pak. Saya rasa Pak Hansen berhak untuk mencari wanita yang lebih pantas dan itu bukan saya!"
" Masalalu apa memangnya Kinar? Saya tidak perduli. Jujur, wajah kamu mengingatkan saya dengan seseorang yang sudah pergi meninggalkan saya untuk selamanya. Tapi semakin kesini, saya semakin terpikat dengan kebaikan hati kamu, beri saya kesempatan!"
" Apa? Jadi karena itu?"
Membuat Kinar kini sedikit merasa kasihan dengan secuil kisah sedih yang baru ia ketahui.
Di titik ini, Kinar bisa menangkap sorot mata penuh kejujuran dari manik mata Hansen. Kebaikan pria itu membuatnya bimbang. Kendra telah membuatnya seperti benda tak berharga, dan Hansen malah melakukan yang sebaliknya.
Tapi sialnya, hingga saat ini bayangan pria itu selalu berhasil membuat langkahnya untuk maju dan tertunda.
" Besok akan ada acara pernikahannya temanku di ballroom sebelah. Acaranya malam, kita udah selesai pelatihan. Aku mohon kamu besok ikut ya?"
" Tapi pak...!"
"Please, aku hanya tidak siap mendengar pertanyaannya orang-orang Kinar. Tenang saja, gak akan ada yang tahu. Lagipula, setelah itu kamu juga tidak akan pernah bertemu lagi dengan mereka, hm?"
Kinar terlihat menimbang dan berjanji akan memberikan jawabannya seusai pelatihan pembuka perdana nanti.
Dan keesokan paginya, Kinar dibuat terkejut saat petugas hotel datang membawa sebuah paket yang rupanya berisikan gaun yang diberikan oleh Hansen.
...Pakailah, ini untukmu. Sampai ketemu nanti malam....
Kinar mendecah tak percaya, ini adalah kali pertamanya bagi Kinar di perlakukan semanis ini. Bayangan akan Reva yang kesal kepadanya kini juga memperparah kebimbangannya.
Namun saat ketukan berikutnya terdengar, Kinar buru-buru menyimpan kotak itu kedalam lemari di depannya lalu membuka pintu kamarnya sebab takut kalau-kalau itu adalah Hansen.
CEKLEK!
Namun rupanya dugaannya salah. Orang yang datang mengetuk pintu itu adalah Reva dan Eta yang kini berdiri di depannya dengan tatapan sendu.
" Reva, Eta? Kali..."
Namun belum usai ia mengucapkan kalimatnya, Reva tiba-tiba memeluk Kinar sembari menangis dengan wajah penuh penyesalan.
" Aku minta maaf Kinar. Beberapa hari ini aku kesal sama kamu hanya gara-gara pak Hansen!"
" Enggak seharusnya aku bersikap begitu sama kamu!"
Kinar langsung melirik Eta yang kini mengendikkan bahunya seolah mewakilkan jawab bukan aku, aku tidak tahu apa-apa.
Apapun itu, jujur Kinar merasa lega. Pasalnya, di suguhi wajah muram itu sama sekali tak menenangkan. Apalagi jika itu dilakukan oleh orang-orang terdekat kita.
" Aku juga minta maaf!"
" Maaf karena belum bisa jadi teman yang baik!"
" Udah jangan pada nangis. Mending buruan siap-siap, udah jam breakfast terus pelatihan!"
Beberapa waktu kemudian.
Mereka yang telah siap akhirnya turun bersama-sama, untuk mengikuti pelatihan pertama soal brand-brand batik yang sudah melesat hingga keluar negri.
Mereka juga tampak antusias manakala seorang pengrajin batik Nusantara dari Indonesia timur yang cukup melegenda turut di undang hadirkan di tempat itu.
Membuat waktu yang berjalan terasa menyenangkan.
Kinar dan yang lainnya berada dalam satu kelas yang di huni oleh 10 orang. Membuatnya menjadi memiliki banyak kenalan yang berasal dari kota lain. Ia Bahkan sejenak bisa melupakan semua beban hidup yang masih membelenggunya.
Ia juga di ajarkan teknik digitalisasi serta dikenalkan dengan Chanel yang dapat menampung produk mereka. Pelatihan ini dilakukan agar karyawan memiliki pandangan ke depan, jika bisnis mode itu tak akan ada matinya.
__ADS_1
Malam menjelang.
Kinar kini menatap dirinya di depan cermin yang sudah mengenakan dress berwarna putih yang begitu mewah. Kinar menyakini jika harga pakaiannya itu pasti mahal. Bahkan, Hansen juga sudah menyiapkan sepatu untuknya.
Kinar mau menerima permintaan Hansen yang memintanya untuk menemani pria itu ke acara pesta, sebab hanya inilah bentuk timbal balik atas semua kebaikan Hansen kepadanya, saat pria itu mau menolongnya mengantar kerumah Pak Yat beberapa waktu yang lalu.
Lagipula, Reva dan Eta memilih jalan-jalan keluar sendiri malam ini. Membuatnya sedikit bernapas lega sebab tak perlu lagi mencari alasan.
Ia yang sudah di kirimi pesan oleh Hansen terlihat mengambil cardlock miliknya lalu segera keluar dan menuju ke bawah.
" Aku tunggu di sofa dekat resepsionis!"
Begitu bunyi pesan Hansen yang telah masuk ke ponselnya. Kinar sudah mewanti-wanti Hansen untuk tidak menjemputnya seperti yang di lakukan pria itu tempo hari sebab ia takut akan menimbulkan salah paham.
Dan saat Kinar sudah berada di lantai dasar tepatnya di lokasi dimana Hansen berada, maka terkejutlah pria itu manakala melihat Kinar yang benar-benar cantik dengan make up yang flawless.
" Tuan!" sapa Kinar yang sebenarnya kurang nyaman memakai pakaian dengan punggung sedikit terbuka seperti saat ini.
" Kinar, astaga. Kau sangat cantik!" ucap Hansen yang terpukau dengan penampilan anak bukan itu.
Dan pujian itu sukses membuat Kinar tertunduk malu. Rasa-rasanya, baru kali ini ada pria yang memujinya secara terang-terangan. Bahkan Kendra yang sudah dua kali menindihnya saja pun, belum pernah memuji dirinya.
"Yasudah, ayo Kinar, kita masuk!"
Hansen merasa semakin jatuh cinta dengan Kinar tapi tidak dengan wanita itu. Bagi Kinar, ini hanyalah bentuk balas budinya akan kebaikan Hansen.
Mereka berdua masuk ke sebuah ballroom yang di dalamnya nampak begitu mewah. Lampu-lampu kristal juga deretan meja bundar yang tertata eksklusif di sebelah karpet merah membuat Kinar berdecak kagum.
Kinar menebak ini pasti adalah resepsi pernikahan keluarga kaya raya sebab semua tamu yang hadir terlihat mengenakannya pakaian begitu mewah.
" Ah hy Hansen, kau kah itu?"
Seorang pria berteriak menyapa Hansen dan membuat Kinar turut mendongak.
Pria itu berwajah kebarat-baratan dan berjalan bersama pria lain yang sibuk dengan ponselnya. Kinar yang tak mengenal pria itu lebih memilih membuang pandangannya sebab minder.
" Hey, Diego. What's up man?"
Mereka berdua saling ber- highfive lalu saling berbicara singkat. Seperti yang Hansen duga, di setiap event resmi seperti ini pasti akan menjadi peluang dia bertemu dengan teman-temannya yang sudah lama tak ia jumpai.
" Kau sendiri?" tanya Hansen kepada Diego.
" Aku bersama temanku, itu dia yang sibuk menelpon!"
Hansen mengangguk. Itu hal yang normal. Siapapun bisa mengajak kawannya ke pesta bukan?
"Tunggu dulu, siapa dia?" bisik pria itu kepada Hansen yang seperti familiar dengan wajah Kinar yang sibuk dengan ponselnya sebab membalas pesan dari Eta.
" Dia..."
Ucapan Hansen menguap saat seorang pria yang semula sibuk menelpon itu, datang dan memanggil Diego.
" Diego, sepertinya aku harus per..."
Maka suara berjenis bass itu sontak membuat Kinar mendongak sebab ia menangkap gelombang suara yang terdengar familiar di telinganya.
DEG
Dan detik itu juga, terbelalak lah mata Kinar demi melihat Kendra yang juga ada di pesta itu.
"Kau mau kemana Ken?" tanya Diego yang belum menyadari keterkejutan Kendra juga Kinar saat di pertemukan dalam keadaan seperti ini.
" Aku...."
Kendra bahkan tak sanggup meneruskan ucapannya demi melihat Kinar yang kini berdiri di samping pria yang notabene adalah teman dari Diego.
Melihat Kendra yang langsung speechless, membuat Diego beralih menatap wajah wanita yang kini juga tampak pias.
" Damned! Dia kan?...."
Maka Diego akhirnya sadar siapa wanita di depan itu saat dia Akhirnya ingat jika Kinar adalah wanita yang dibuat Kendra kemarin siang.
Hansen menoleh canggung saat pria di belakang Diego nampak tertegun manakala menatap Kinar.
" I- ini siapa Han?" tanya Diego tergagap- gagap demi meminta kondisi secara langsungan kepada temannya itu.
" Oh, ini Kinar. My future wife!" kata Hansen tersenyum lebar.
DUAR!
__ADS_1
Maka selain terkejut, rasa-rasanya kaki Kendra seketika seperti tak mampu untuk sekedar menyangga tubuhnya, sebab ucapan Hansen bagai palu godam yang memukul dirinya detik itu juga.