Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 62. Tidak semudah yang dibayangkan


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Teori yang sering di dengungkan Xander perihal kesabaran kepada Kendra, kini hanya menjadi angin lalu manakala dua mata yang semula menyuguhkan pijar keterkejutan, kini menunjukkan sorot penuh kemarahan.


Ini benar-benar gila. Setengah mati ia mencari Kinar namun saat ia menemukan wanita itu, Kendra malah dibuat terkejut bukan main dengan apa yang dia lihat.


Kendra semula hanya bisa menatap nanar Kinar yang diam saat pinggang rampingnya di rangkul oleh Hansen. Dalam sepersekian detik, pemandangannya itu bahkan mampu membuat laju darahnya mendidih.


Dan sejurus kemudian, tangan kekarnya yang semula menganggur itu tiba-tiba reflek menarik wanita yang beberapa waktu ini tengah ia cari itu demi rasa marah yang berpadu dengan rasa cemburu.


Apa benar jika Kinar telah melupakan dirinya dan juga Flo? Ataukah dirinya yang memang tidak becus menjaga hal yang seharusnya ia pertahankan sejak lama?


" Ikut aku..." tukas Kendra yang tiba-tiba menyambar tangan Kinar namun tanpa diduga Kinar justru berontak.


" Lepas!" teriak Kinar yang berusaha melepaskan diri dari tarikan Kendra yang memicu tatapan penuh selidik dari para tamu di sana.


" Hey apa-apaan kau! Apa kau sudah gila?" Hansen langsung menepis tangan Kendra yang tiba-tiba menarik tangan Kinar dan membuat perempuan itu mendelik takut.


Membuatnya Kinar kini mundur dan bersembunyi di balik punggung Hansen dengan pikiran yang tiba-tiba semrawut.


" Siapa kau? Beraninya kau berlaku kasar!" hardik Hansen sedetik berikutnya yang tentu saja tidak terima saat Kinar tiba-tiba di tarik secara spontan oleh Kendra.


Hansen yang belum mengetahui siapa Kendra benar-benar menyayangkan sikap tak terpuji pria berkharisma itu. Sungguh sikap yang sangat tidak sopan.


Meski Hansen menduga jika pria itu mengenal Kinar, namun tak selayaknya pria itu memaksa Kinar.


" Aku tidak ada urusan denganmu, Kinar kita perlu bicara!" kata Kendra serius yang mengabaikan perkataan Hansen.


Membuat Hansen geram.


" Kinar, apa kau kenal dengan dia?" tanya Hansen menatap ragu Kinar yang namanya baru saja di sebut oleh Kendra. Merasa jika ini perlu di klarifikasi.


Namun alih-alih menjawab, Kinar justru terlihat semakin pias. Membuat Hansen semakin yakin jika pasti ada sesuatu yang tidak beres disini.


" Kinar, kita harus bic...."


Dan belum juga Kendra menyelesaikan kalimatnya, Kinar justru pergi berlari sebab ia kini bingung tak tahu harus berbuat apa, saat harus bertemu dengan Kendra yang tanpa perencanaan itu.

__ADS_1


Otaknya mendadak buntu, dan tak bisa ia gunakan untuk berpikir jernih. Ia benar-benar tak siap bertemu dengan Kendra. Terlebih, ia juga tak siap jika harus menjelaskan kepada Hansen jika dirinya memang memiliki persoalan rumit dengan seorang Kendra Arion.


" Kinar!"


Maka Diego buru-buru menghadang langkah Kendra saat pria itu berniat mengeja Kinar yang kini semakin menjauh dari pandangan mereka bertiga. Membuat Kendra kesal setengah mati.


" Diego, apa-apaan kau..."


" Tahan dirimu! Kita bisa mencarinya setelah ini. Tidakkah kau melihat jika Kinar sangat ketakutan?"


Maka Kendra seketika mengendur demi mendengar kalimat Diego yang menampar kesadarannya. Ya, jelas dia telah menorehkan luka yang dalam pada batin wanita sederhana itu. Jelas dialah yang tak becus untuk sekedar berlaku adil.


Hansen yang semakin curiga dengan apa yang ia lihat, kini tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengajukan pertanyaan.


" Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau membuat Kinar sangat ketakutan?" cetus Hansen yang kini wajahnya sudah sangat tidak ramah. Membuat Kendra kembali naik pitam.


" Kau yang siapa. Aku tidak ada urusan denganmu brengsek!"


Saat Kendra hendak menyerang Hansen, Diego buru-buru mendorong kembali tubuh sahabatnya itu sebelum kekacauan akan terjadi. Ia tahu siapa Kendra, dan itu akan sangat tidak baik untuk Hansen.


Merasa jika ini bukan waktu yang pas untuk beradu otot.


" Hansen, aku minta maaf karena kau harus terlibat dalam kesalahpahaman ini. Tapi lebih baik kau pergi sekarang!" kata Diego yang kini menjadi penengah situasi menegangkan itu.


Maka sejurus kemudian, terjadilah aksi saling melempar tatapan tajam antara Kendra dengan Hansen saat Kendra kini di gelandang oleh Diego menuju ke tempat yang lebih aman.


Kinar yang kini berlari untuk menuju ke kamarnya, terus saja menangis sebab teringat saat terakhir kali Kendra mengusirnya dengan teriakan keras.


Membuat hatinya kembali terasa perih.


Kinar kembali merasakan rasa kecewa yang teramat dalam. Takdir macam apa ini? Ia yang semula seiring memikirkan Kendra di hari-hari sepinya, kenapa sekarang tiba-tiba merasa sakit hati kembali demi melihat sikap arogan yang di tunjukkan oleh Kendra tadi.


Di lain pihak.


" Lepaskan aku sialan!" Kendra mendorong tangan Diego yang kini menyeretnya keluar dengan wajah yang teramat kesal.


Alis pria itu bahkan tak henti-hentinya menyatu pertanda geram, sebab ingin sekali mengajar Hansen yang telah berani menyentuh Kinar seperti tadi.

__ADS_1


" Ken, gak gini caranya!" seru Diego yang menyesali sikap Kendra yang tak bisa bermain cantik.


" Terus apa, Kinar udah ada di depan mata. Dan kamu..."


" Bener kan yang aku bilang, segala sesuatu bisa saja terjadi kan?" teriak Diego tak mau kalah.


Dia hanya Ingin memperjelas bila sebuah situasi runyam seperti itu, tak akan selesai jika diselesaikan dengan kepala panas dan emosi.


Kendra membasuh wajahnya gusar dengan kepala yang terasa berdenyut keras demi mendengar ucapan Diego.


Memaki diri sendiri sebab rasa hatinya teramat sakit manakala melihat Kinar yang pinggangnya di sentuh oleh tangan kurang ajar tadi.


" Lalu apa yang harus aku lakukan Di? Kinar bahan tak mau menatapku?" lirih Kendra resah yang kini tersenyum getir.


" Aku kenal Hansen, biar aku cari dulu apa benar mereka sedang dekat. " kata Diego mencoba berdiplomasi dengan sahabatnya itu.


" Dengar Ken, yang paling penting sekarang adalah tenangkan dirimu. Kau juga harus tahu Ken, wanita itu adalah makhluk yang paling mudah memaafkan, tapi paling sulit melupakan!"


Membuat Kendra kini termenung.


" Setidaknya kita tahu, jika dia ada di kota ini!"


Tapi pikiran Kendra sama sekali tak bisa tenang. Hanya dengan melihat tangan Hansen berada di pinggir Kinar saja kini membuatnya begitu terbakar, apalagi jika yang di ucapkan oleh Hansen tadi adalah kenyataan.


Tidak, ini tidak boleh terjadi. Ia memang telah salah, tapi bukan berarti ia tak bisa memperbaiki. Dia harus bisa meyakinkan Kinar jika dia telah berubah. Ada Flo yang kini menantinya di mansion.


Terlebih, ada sebuah hati yang kini lega sebab rupanya perasaan yang sudah lama ia simpan kepada Kinar itu telah mendapatkan lampu hijau dari Megan. Membuat segenap perasaan bersalahnya kepada Megan yang semula menutupi pandangan kalbu Kendra kini sirna.


Andai saat itu ia tahu kebenarannya, ada saat itu apa yang terkecap dari bibir Megan bisa ia dengar dengan sempurna, mungkin tak akan seperti ini jadinya.


Kendra terpaksa meminta Kinar pergi dari mansion itu sebab ia tak ingin membuat Kinar terus menerus menjadi pelampiasan rasa bersalahnya, atas meninggalnya Megan yang dia kira masih membenci Kinar hingga akhir hayatnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2