
...🌸🌸🌸...
Seusai ketegangan memudar, Kendra kini duduk di jok belakang bersama Kinar yang kini menggendong baby Flo dengan perasaan yang sedikit tenang.
" Cup nak, minum dulu ya!" kata Kinar yang mulai membuka penutup dadanya namun buru-buru di halangi oleh Kendra.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Kendra resah saat melihat tangan Kinar hendak merogoh salah satu gunung kembarnya yang teramat di nantikan oleh baby Flo.
" Menyusui baby Flo tuan, memang apa yang mau saya lakukan?" balas Kinar tak habis pikir.
" Kau dengar itu Xan. Singkirkan rear vission mu. Awas kalau kau menghadap ke belakang!" hardik Kendra yang membuat Xander seketika tegang dan Sofia yang justru terkikik-kikik.
Kinar sebenarnya juga mengulum bibir sebab sedang menahan tawa. Xander yang garang kini layu hanya dengan sebuah titah untuk tidak menoleh ke belakang.
Kendra yang melirik Xander yang pasti saat ini malu juga kaki, merasa tak tenang sebab buah ranum yang tengah di kenyot anaknya itu benar-benar sayang jika harus dilihatnya oleh orang lain.
Xander yang kini bertugas mengemudikan mobilnya dengan mulut membisu, hanya bisa terus menatap lurus sebab takut di salahkan.
" Lalu, kita kemana sekarang tuan?" bertanya dengan sangat hati-hati agar tidak sampai menoleh.
" Kita kerumah sakit!"
" Rumah sakit?" Kinar spontan melayangkan pertanyaan itu sebab diantara mereka tidak ada yang cedera.
" Megan sedang koma!"
" Apa?"
Xander seketika melirik Sofia yang mulutnya terbuka sebab terkejut. Membuat gadis itu langsung menunduk sebab kilatan mata tajam Xander begitu mengiris.
" Apa yang tejadi dengan Nyonya Megan tuan?" kali ini Kinar tak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan berita itu.
-
-
Setibanya mereka di rumah sakit, Kendra meminta dokter anak untuk memeriksa kesehatan baby Flo sebab takut kalau-kalau terjadi traumatis atau hal semacamnya yang bakal berdampak buruk pada pertumbuhan anaknya.
Sofia yang ditugaskan Kendra untuk menunggui bayinya selama Kendra mengajak Kinar masuk ke dalam ruangan Megan, terlihat bahagia sebab akhirnya tuannya yang dingin itu mau menganggap Kinar.
Kinar yang kini berada di ruangan Megan yang tampak terbaring lemah dengan alat ventilator yang kini terpasang di tubuh wanita itu merasa iba.
" Tuan?" ucap Kinar yang kini terkejut setengah mati.
__ADS_1
" Aku sendiri tidak tahu harus memulai menjelaskan kepadamu darimana Kinar!" balas Kendra lesu yang kini duduk di dekat ranjang Megan bersama Kinar.
Kinar yang melihat wajah Kendra yang penuh beban turut merasa tak tega. Apakah semua ini karena kecemburuan Megan beberapa waktu yang lalu? Atau karena hal lain?
" Apa semua ini karena saya?" ucap Kinar yang memberanikan diri untuk menanyakan hal itu.
Membuat Kendra memejamkan mata sembari menghela napas dalam-dalam.
" Kau datang ke kehidupan kami dengan cara tak biasa!" Kendra terlihat menatap wajah Megan yang kini tak berdaya, "Kalau kau ada di posisi Megan mungkin kau akan tahu!"
Keduanya kini saling menatap usai Kendra mengucapkan hal itu seraya tersenyum getir.
" Tapi entah mengapa, aku sekarang seperti orang yang sedang terperangkap dalam permainanku sendiri Kinar!" lirih Kendra yang semakin larut dalam ketidakberdayaannya.
Kinar masih terdiam murung saat melihat Kendra yang berwajah muram mengutarakan isi hatinya satu demi satu.
" Aku tidak bisa membiarkan Megan seperti ini, tapi aku juga tak ingin kehilanganmu Kinar!"
DEG
Maka Kinar seketika membeku saat mendengar ucapan Kendra yang menggetarkan jiwanya.
" Aku tahu aku serakah tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri!"
Mata Kinar mengabur manakala melihat wajah Kendra yang terlihat sedih dan berbeban. Ia tidak tahu mengapa Tuhan mempertemukan dia dengan pria ini.
Kinar memberanikan diri meraba pipi pria yang kini terlihat rapuh itu.
" Saya juga tidak tahu harus bagaimana tuan. Tapi saya juga tidak bisa membohongi diri saya saat saya berada di dekat anda, saya sangat merasa terlindungi!" ucap Kinar yang matanya mulai menjatuhkan cairan bening itu satu demi satu.
" Kenapa? Kenapa aku tidak tega melihat tuan Kendra seperti itu?"
" Tolong jangan tinggalin kami Kinar. Kami membutuhkanmu!" balas Kendra menatap lurus dua manik mata basah Kinar.
Kinar sontak tertegun saat menatap mata Kendra, sebab pria yang selalu terlihat dingin itu rupanya bisa menangis.
-
-
" Dia baik-baik saja. Hanya terdapat sedikit iritasi pada bokongnya karena terlalu lama mengenakan diapers kotor. Kami akan segera mengganti popoknya karena nona muda rewel dikarenakan hal itu!"
Sofia menyimak baik-baik penjelasan dokter yang baru saja memeriksa baby Flo. Xander yang melihat hal itu sedikit ngeri karena bokong bayi itu sedikit kemerahan.
__ADS_1
" Mau kemana kau?" tanya Xander yang melihat Sofia akan pergi.
" Mau menemui kak Yos sebentar. Tadi aku lihat dia terluka juga kan?"
" Tidak boleh. Aku juga terluka, kau seharusnya lebih mencemaskan aku daripada dia!"
What?
Sofia seketika memindai Xander yang sebenarnya masih terlihat gagah perkasa dan tak kurang satu apapun.
Kenapa dia sebenarnya?
...ΩΩΩ...
PLAK!
" Ampun tuan!"
Helga yang malam ini di bekuk oleh komplotan Zen langsung tertunduk ketakutan sebab Zen murka.
Ya, Zen yang berhasil kabur dari kejaran polisi memilih menuju ke selatan dan ingin menemui Helga sebab ia merasa telah dirugikan.
" Kembalikan uangku. Gara-gara kau, aku sekarang tak lagi bisa leluasa untuk menjalankan bisnis sialan!"
Namun Helga semakin ketakutan saat ia mendengar Zen malah meminta uang yang sudah tidak ada rupanya itu.
" Ampun tuan. Saya janji. Saya akan membawa Kinar untuk anda tuan. Tolong!" kata Helga yang berusaha melakukan apapun asal dia tak diminta mengembalikan uang sebab jelas dia tidak akan sanggup.
" Tidak perlu. Wanita itu sudah menjadi istri orang yang bukan sembarang orang! Kembalikan uangku beserta bunganya!"
" Apa?"
Zen yang baru tahu bila Kendra memiliki kedekatan dengan kapten penegak hukum di negara ini seketika ciut nyali. Ia pikir ia dan Kendra sepadan, namun rupanya Kendra bukanlah tandingannya.
Membuat Helga seketika terkejut.
Namun saat Zen memandang wajah pias Helga, pikiran liciknya tiba-tiba tumbuh.
" Tapi, kalau ku lihat- lihat, kau cantik juga Hel. Kenapa tidak kau saja yang menjadi budakku, hahahaha!"
Maka wajah Hilda seketika memucat demi mendengar tawa yang begitu mengerikan itu.
.
__ADS_1
.
.