
...🌸🌸🌸...
Hermin dan Jill terlihat takjub dengan perubahan Kinar. Gadis kampung yang semula kusut itu, kini menjelma menjadi seseorang yang manis dan anggun.
Kulitnya yang kuning langsat membuat sebuah kebaya simpel yang membalut tubuhnya terlihat sangat cocok.
" Tugas kami sudah selesai, kami permisi nona!"
Kinar tersenyum sembari turut mengangguk. Ia bukan tidak tahu arti dari pakaian yang ia pakai. Kini ia mematut dirinya di depan meja rias super besar itu.
Dia memang cantik dengan make up flawless seperti ini. Tapi semua ini hanyalah fatamorgana yang menjadi penanda dimulainya hal sulit yang harus ia emban.
Semua terasa seperti mimpi. Baru kemarin ia merasa hidupnya bagai berada di neraka, dan kini ia malah seolah akan terjun kedalam sebuah lubang yang tidak ia ketahui kedalamannya.
Hidup benar-benar laksana sebuah misteri.
Namun, sejenak ia memercayai jika ini jauh lebih baik daripada ia harus kembali kepada bibinya yang jahat. Apalagi, jika ia tinggal disini, setidaknya ia tak akan mendapatkan siksaan lagi dari bandot tua itu.
Ia tak boleh mati terlebih dahulu, ia harus bisa merampas kembali jerih lelah kedua orangtuanya yang kini di kudeta oleh sang bibi.
" Hanya sebentar Kinar. Dan kau akan bebas!" ia bermonolog dengan sebulir air mata yang tiba-tiba menyesakkan dadanya.
Ia tak kenal lelah mensugesti diri sendiri setiap keraguan itu kembali muncul. Bayangan wajah orangtuanya mendadak hinggap, dan membuatnya larut dalam isak tangis.
Namun ketukan diluar membuat dirinya tersadar dan buru-buru menyeka air matanya.
__ADS_1
CEKLEK!
" Selamat pagi nona!" sapa Hilda dengan wajah sopan.
" Pagi bibi Hilda!"
" Nona, tuan Kendra sudah datang. Mari saya antar!"
Mendengar nama itu, entah mengapa jantungnya seakan hendak melompat dari tempatnya. Bayangan akan wajah angkuh dan sikap cuek kini merongrong kedalaman sanubarinya.
Kinar tampak berjalan mengekor di belakang Hilda, tangan gadis itu gemetaran dengan wajah yang tegang. Di detik berikutnya, terkejutlah dia saat melihat Kendra yang sangat tampan tampak duduk dengan santai di sebuah kursi khusus. Rambutnya tersurai rapi dan nampak basah, wajahnya benar-benar sempurna bagai dewa Yunani.
Semua yang melekat pada pria itu terlihat bagai sebuah kesempurnaan. Kinar sejenak terpukau akan mahluk tampan itu.
Kinar terkesiap dan tubuhnya mendadak kembali gemetaran manakala mendengar hardikan yang cukup keras dari mulut Kendra.
Para pelayan tak ada yang berani melihat hal itu, hanya Xander yang terlihat tetap tenang dengan wajahnya yang datar macam orang bisu.
Kinar lantas duduk di samping Kendra yang sama sekali tidak meliriknya. Membuat gadis itu bagai uji nyali.
" Kenapa laki-laki ini menakutkan sekali? Kenapa aku ingin lari dan membatalkan semua ini?" hanya berani bergumam dalam hati.
Beberapa detik kemudian, nampak seorang pria berkacamata yang datang tergopoh-gopoh bersama satu orang berkumis dari pemangku kepentingan yang sudah di siapkan oleh Xander untuk pernikahan bosnya itu.
Mereka berdua datang dengan raut muka pias sebab mereka terlah terlambat.
__ADS_1
" Maafkan saya tuan Kendra, mobil saya tadi mogok di jalan. Bisa kita mulai acaranya sekarang?"
Kendra mengangguk dengan wajah tanpa ekspresi.
Xander terlihat sibuk menata beberapa berkas yang diminta oleh laki-laki itu. Kinar yang tangannya sudah dingin, terlihat ketakutan saat melirik Kendra yang bahkan tidak tersenyum sama sekali kepada orang yang ia duga akan menikahkan mereka itu.
" Baiklah, apa saksi yang saya butuhkan sudah datang?"
"Saya sendiri yang menjadi saksi, dan yang satunya adalah dia!" jawab Xander menunjuk seorang supir yang bertugas di mansion kedua itu.
" Baiklah, kita mulai acaranya!"
Jantung Kinar mulai tremor manakala tangan Kendra telah menjabat tangan pria itu dengan rapat.
Hingga, kata sakral yang kini terlontar sebelum pria berkacamata itu membaca doa, menjadi penegas jika Kinara saat ini telah sah menjadi istri kedua seorang Kendra Arion.
.
.
NB:
Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah, apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau gaib atau adlal atau enggan.
( Sumber: google)
__ADS_1