
...🌸🌸🌸...
Kendra tak perduli meski Kinar tak menjawabnya. Lagipula, Kendra mengatakan hal itu bukan untuk berunding, tapi semua yang ia katakan adalah perintah yang musti dijalankan oleh Kinar.
" Cepat minum obatmu dan beristirahatlah!" berseru sembari menuju ke arah lemari dengan cat putih gading miliknya.
Kinar spontan mendelik saat Kendra malah melepaskan pakaian tanpa basa-basi dan membuat pipi perempuan itu memerah.
" Apa yang dia lakukan? Aku kan sudah hamil, mau apa dia?" mendadak harap-harap cemas dengan pikiran yang tidak-tidak.
Oh no!
Namun otak kotornya segera bersih saat melihat Kendra yang rupanya ingin mengganti bajunya dengan kaos.
" Oh ya ampun, aku bahkan sudah mikir jorok saat melihat punggung pria itu!" membantin lagi saat meneguk ludah.
Sejurus kemudian laki-laki itu mendekat ke arah Kinar dengan wajah datar dan terlihat menempelkan punggung tangannya ke dahi Kinar.
" Kau demam. Sudah berapa lama kau sakit?" bertanya dengan raut wajah tak terbaca. Membuatnya Kinar bertambah demam.
" Eh kenapa ini, kenapa dia jadi sedikit normal saat bertanya?"
" Satu Minggu ini badan saya sudah sering terasa tidak enak tuan!" menjawab ragu.
Namun yang dijawab kembali mengajukan pertanyaan lain.
" Kau mau makan apa?"
" Hah, kesambet setan belang apa dia? Kenapa nada suaranya jadi normal. Dan, kenapa wajahnya juga terlihat tampan jika begitu!"
Namun ia langsung menggoyangkan kepalanya guna mengusir pikirannya yang mulai ngawur, saat ia malah terpana dengan wajah rupawan itu.
" Apa saja tuan!" menjawab cepat mencari aman.
" Kata Hilda kau tidak mau makan. Kenapa? Apa masakannya tidak enak?"
" Apa kau tidak mendengar penjelasan dokter tadi?" membatin kesal.
" Maaf tuan, tapi...saya selalu mual tiap mencium bau masakan!"
Namun alih-alih menjawab, Kendra malah ngeloyor pergi dan membuat Kinar mencibirnya kesal.
" Apa kau tidak bisa menghargainya orang saat sedang berbicara?"
Sedetik kemudian saat Kinar seorang diri merenungi nasib, ia reflek mengusap perutnya yang masih rata sambil tersenyum.
Jika dia di awal perjanjian tak memikirkan apapun selain keuntungannya, namun entah mengapa kini dia malah merasakan sesuatu yang sulit ia definisikan.
Ada semacam kebahagiaan yang timbul dari dasar hatinya, saat mengetahui jika ada kehidupan lain di dalam tubuhnya.
__ADS_1
" Hai malaikat kecil. Sehat-sehat lah di dalam sana ya. Mari kita bekerjasama dengan baik!"
Pintu yang tertutup membuatnya Kinar langsung tersentak dari khayalannya. Dan sialnya, belum jugaketerkejutannya akan suara pintu itu sirna, ia malah dibuat terkejut lagi saat Kendra membawa sebuah nampan berisi susu, buah serta makanan.
" Orang itu pasti benar-benar sudah kerasukan. Lihatlah, dia bahkan membawa nampan itu dengan sangat kaku!"
" Cepat makan, jangan sampai anakku kelaparan, ingat itu!"
Lihatlah, barusaja Kinar merasa lega dengan kenormalan sikap Kendra, namun sepertinya apa yang ia rasa itu tak bertahan lama.
Kinar mendadak tersenyum getir. Nyaris saja ia melayang akan perlakuan Kendra, tapi kini ia kembali tertampar oleh kenyataan itu. Tentu saja, pria itu pasti melakukan hal ini untuk jabang bayi yang ada di dalam perutnya. Memangnya apa yang mau kau harapkan Kinar?
Tanpa berkata lagi, Kinar segera meraih nampan itu agar gak lagi mendengar perkataannya menyakitkan dari bibir Kendra. Dan anehnya, perutnya mendadak terasa lapar saat Kendra ada di sana.
Kendra yang duduk di sofa sembari membuka ponselnya melirik Kinar yang makan dengan enaknya seperti orang kelaparan.
" Kau bilang tadi mual saat mencium makanan, kau menipuku?" menuding tanpa tedeng aling-aling.
Yang di tuduh langsung hendak tersedak. Sialan sekali pria itu!
" Tadi saya memang mual tuan. Tapi...saya juga tidak tahu kenapa saat anda disini selera makan saya kembali lagi!" Menjawab dengan wajah yang sedikit kesal.
" Alasan! Cepat habiskan makananmu. Aku tidak mau anakku sampai kenapa-kenapa. Ingat, tugasmu adalah harus membuat anak itu lahir dengan sehat dan selamat!"
-
-
Namun Kinar sebenarnya tidak benar-benar tidur. Gadis itu sedari tadi tak bisa tidur karena sejujurnya ia merasa perutnya kembali bergejolak.
Ia langsung membuka matanya begitu pintu itu telah terdengar tertutup. Dan anehnya, tidak tahu kenapa, ia tiba-tiba menangis saat melihat Kendra pergi.
" Kenapa aku harus menangis bodoh. Kau harusnya senang karena jika dia tidak ada, aku tidak akan di intimidasi!"
Tapi semakin ia mensugesti dirinya untuk tidak terbawa suasana, semakin tak terkendali pula perasaannya saat ini.
Xander yang kerap terjaga di setiap harinya itu terlihat melirik wajah bosnya yang nampak berpikir keras manakala ia berada di depan kemudian.
" Apa yang aku lakukan ini benar Xan?" bertanya memecah keheningan dan membuat sang assiten terperanjat.
Xander tentu tak memiliki kapasitas untuk menjawab. Hal ini tergolong permasalahan internal yang menyangkut perasaan.
"Yakinlah segala sesuatu yang terjadi merupakan bagian perjalanan hidup kita tuan. Tapi terlepas dari semua itu, saya turut senang tuan. Perusahaan anda sebentar lagi akan memiliki pewaris. Nona Megan akan sangat senang pastinya!" Xander berkata profesional. Pria dingin itu tahu jika sebenarnya bosnya itu sedang gelisah.
" Xander benar. Megan pasti akan senang setelah ini!"
Setibanya Kendra di mansion, ia melarang Xander untuk turun. Pria itu tentu tahu jika assistenya itu seharian ini telah bekerja keras.
" Pulanglah Xan, tidak perlu mengantarku kedalam, maaf membuatmu terforsir hari ini!" berkata sambil menepuk pundak kokoh Xander.
__ADS_1
Xander kemudian membungkuk penuh hormat lalu masuk kembali kedalam mobilnya. Meninggalkan Kendra yang kini melangkah dengan langkah gontai.
Ia membuka pintu kamar istrinya lalu mendapati Megan yang tidur menghadap ke dinding dengan posisi membelakanginya. Kendra terlihat melepaskan pakaiannya lalu mematikan table lamp dan sejurus kemudian memeluk Megan dari belakang sambil mengecup pipi wanita itu.
" Good night darling!" bisik Kendra seraya memeluk erat tubuh istrinya dari belakang.
Megan yang sejatinya telah membuka mata sejak mendengar deru mobil suaminya, kini membuka matanya dan merasa sedikit aneh dengan suaminya. Ia lalu membiarkan suaminya tidur memeluknya sebab ia percaya jika suaminya pasti sedang lelah.
...ΩΩΩ...
Megan yang selalu tampil cantik dan sexy pagi itu sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Tak pernah terlambat untuk mensupport sang suami memulai hari barunya.
"Morning honey!" sapa Kendra mengecup bibir istrinya lalu sejurus kemudian ia menarik kursi untuk sarapan bersama.
" Why do you look so happy?" tanya Megan tersenyum senang.
" Cause i have good news for you!" balas Kendra tak kalah senang.
" Berita apa? Sepertinya kau sangat senang sayang!" balas Megan kembali tak sabar.
" Kinar hamil!"
Membuat Megan seketika menatap dalam suaminya yang terlihat serius.
" Are you serious?"
" Of course!"
" Tapi, dari mana kau tahu jika dia sudah hamil sayang?"
" Aku semalam mampir sebentar ke mansion bersama Xander. Sewaktu aku disana gadis itu sedang mual. Lalu Hilda memanggil Adam dan ternyata..."
Entah kenapa, meski Megan sebenarnya senang akan berita itu,namun keadaan yang cukup ironis bagai menamparnya.
Bagaimana tidak, suaminya baru sekali menggauli gadis kampung itu dan kini sudah berhasil membuat benihnya tumbuh.
" Hey, apa kau tidak senang?" tanya Kendra yang melihat istrinya tiba-tiba terdiam.
" Aku sangat senang Ken, itu artinya kita akan segera memilih anak. Aku hanya tidak perbuatan jika seminar akan semudah ini. Aku akan segera menemuinya wanita itu!"
Kendra ganti terdiam dan tak bisa melarang Megan. Meski ia menangkap seraut wajah penuh ironi, tapi ia senang bisa mewujudkan impian istrinya itu.
Megan mendatangi mansion itu dengan supir pribadinya. Mengetahui jika istri pertama Kendra Arion datang ke mansion kedua itu, membuat Hilda tergopoh-gopoh menyambung.
" Dimana dia?"
.
.
__ADS_1
.