
...🌸🌸🌸...
Di dalam mobil.
" Memangnya apa yang membuatmu pulang ke mansion?" tanya Xander yang kini masih menatap ke arah jalan dengan fokus pada kemudinya.
" jadi dia belum tahu kenapa aku pulang dasar sok-sokan ngantar tapi belum tahu!" mengatai dalam hati sebab rupanya Xander tak tahu apa tujuannya.
"Ayah saya sedang sakit tuan, lagi pula saya juga kangen dengan dia!"
Xander termenung usai mendengar penjelasan gadis di sampingnya itu, tak menyangka jika Sofia benar-benar sangat perhatian dengan ayahnya.
" Lalu kau akan kembali kapan?"
Masih bertanya tanpa menoleh. Sok cuek tapi juga kepo. Dasar manusia kaku!
" Mungkin lusa tuan. Saya mau lihat kondisi ayah dulu!"
" Kenapa tidak memanggil dokter saja?" tukas Xander yang seolah menyalahkan Sofia.
" Dokter yang datang pasti hanya memberi obat. Apa salahnya jika seorang anak datang untuk merawat ayahnya?" kesal Sofia yang merasa Xander sudah mulai menyebalkan.
" Memangnya siapa yang menyalahkanmu, aku hanya bertanya!" dengus Xander yang mencium nada tak ramah dari bibir Sofia.
Membuat keduanya kini sama-sama kesal.
" Apa maksudnya coba, dikira aku gak memikirkan hal itu?" batin Sofia yang kesal sebab setiap berbicara dengan Xander, ujung-ujungnya selalu saja debat.
" Kenapa anak ini sudah sekali berbicara normal?"
Setibanya mereka di mansion. Hilda yang mengira sebuah mobil yang datang itu adalah Kendra, kini terlihat bersiap di depan pintu. Namun saat pintu mobil dengan kaca gelap itu terbuka, ia sedikit terkejut saat melihat Sofia yang datang bersama pria datar itu.
" Tuan?" sapa Hilda membungkuk hormat kepada Xander yang selalu saja membisu.
Dan melihat Xander yang tak menyahut, Sofia akhirnya menyapa Hilda sebab ia menilai hal itu tak sopan. Padahal, Xander dan Hilda memang selalu seperti itu.
" Bibi apa kabar?" tanya Sofia yang kini menyapa Hilda karena kesal dengan Xander yang membisu.
" Aku baik. Kau juga apa kabar?" Emmm, apa kau kemari karena ayahmu?"
Sofia mengangguk, " Aku juga baik-baik saja bibi. Bi, apakah bibi sudah memanggilkan dokter?" tanya Sofia dengan wajah muram.
" Ayahmu menolaknya. Coba saja kau yang membujuk nanti ya. Kata beberapa pekerja, ayahmu tak mau mengurangi rokoknya, batuknya sangat parah!"
Sofia seketika murung. Ia sudah menduga jika pola hidup tak sehat ayahnya itulah yang selalu menjadi penyebab utama gangguan kesehatan.
" Tuan, terimakasih sudah mengantar saya, saya akan menemui ayah dulu. Permisi!" kata Sofia yang sudah tak sabar ingin menemui ayahnya dan berlalu tanpa menunggu Xander menjawab.
Dan benar saja, Xander memang bergeming tak menjawab. Bahkan pria itu tak membuka mulutnya. Pria itu hanya menatap kepergian Sofia dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sejurus kemudian.
" Panggilkan dokter sekarang, jangan menunggu persetujuan pria itu!" kata Xander yang kini menatap Hilda serius.
" Baik tuan!" jawab Hilda membungkuk hormat lalu pergi menunaikan titah Xander.
__ADS_1
Sepeninggal Hilda, Xander melihat jam yang melingkar di tangannya lalu menghembuskan napas. Ia harus kembali kepada Kendra. Namun meski ia tak sempat mengatakan apapun kepada gadis itu, tapi memastikan Sofia selamat hingga ke mansion itu sudah lebih dari cukup untuk Xander.
" Kenapa aku bisa segila ini kalau menyangkut keselamatan gadis itu?"
...ΩΩΩ...
TOK TOK TOK
Kendra yang masih sibuk berkutat dengan beberapa file yang dia pelajari kini menoleh saat pintu ruangannya di ketuk.
" Masuk!"
CEKLEK!
" Selamat pagi tuan. Ada tuan Leo Prawira yang mau bertemu dengan anda."
" Tuan Leo? Kenapa dia datang sekarang. Suruh dia masuk!"
Kendra memang akan berkerja sama dengan Darmawan group. Tapi tak menduga jika tuan Leo akan datang sendiri secepat ini.
Wanita yang posisinya ada di bawah Xander itu mengangguk lalu kembali menutup pintu demi menjalankan perintah Kendra.
Kendra yang baru ini akan menjalin kerjasama dengan perusahaan manufaktur dari timur terlihat melepaskan kacamatanya lali berjalan meninggalkan kursinya.
CEKLEK!
Pintu itu terbuka kembali dan kali ini Riri kembali bersama Leo.
"Tuan, silahkan masuk!"
Kendra turut tersenyum penuh wibawa saat kini berhadapan dengan Leo, seorang CEO Darmawan group yang perusahaannya merajai wilayah timur.
" Apa kabar tuan?" Kendra menjabat tangan Leo yang kini menyongsongnya dengan penuh keramahan.
" Aku baik, kau bagaimana?"
" Ya.. lumayan!"
Mereka tergelak bersama sebab berita kecelakaannya Megan sejatinya sudah ramai terdengar di telinga para relasi juga teman-teman antar pengusaha.
Kendra memiliki bisnis retail yang menggurita dimana-mana. Dan dari kesemuanya itu, ia jelas memerlukan kerjasama dari produsen-produsen pabrik besar guna memasok barang-barang langsung ke gedung-gedung retail miliknya.
Mereka terlihat langsung membahas nota kesepahaman, dan sekretaris mereka nanti yang akan menindaklanjuti bagaimana kelanjutannya. Hingga, waktu yang lumayan panjang membawa mereka pada obrolan ringan.
" Aku turut prihatin atas kecelakaan yang menimpa istri mu!" kata Leo yang barusaja meminum secangkir kopi yang di sediakan Riri untuk tamu bosnya.
" Terimakasih tuan. Rencananya saya akan membawanya berobat keluar negeri!"
" Keponakanku yang bernama Demas dulu juga mengalami kelumpuhannya pasca kecelakaan. Tak hanya fisik, bahkan mentalnya juga terganggu!"
Kendra termenung. Apa yang dikatakan pria yang lebih tua darinya itu memanglah benar. Tapi Leo tidak tahu bila batin Megan juga turut terserang sebab ada Kinar diantara mereka.
" Saran ku orang-orang terdekatnya juga harus memberi dukungan . Jangan lelah untuk melakukan terapi. Sebab semangat dari pasien sendirilah yang mampu menumbuhkan keajaiban!"
" Dan satu lagi, kau juga harus sabar!"
__ADS_1
Membuat Kendra mengangguk.
" Terimakasih banyak tuan Leo!"
Leo menatap wajah yang begitu banyak beban itu dengan senyuman penuh dukungan. Dari semua CEO perusahaan retail yang pernah dia temui, Kendra merupakan orang yang paling kaya dan bisa berkamuflase dengan baik.
Hal itu harus mereka lakukan sebab relasi atau rekan bisnis tak selalunya berusia sama.
" Dokter di rumah sakit milik saya menyarankan untuk di bawa ke luar negeri. Saya berharap semua akan berjalan lancar!"
" Istriku juga dokter Ken.. Terkadang SDM kita disini mumpuni, namun peralatan di sana mungkin jauh lebih baik. Itulah kendala di negara kita. Kau tau sendiri lah birokrat tak sehat yang kadang membuat kita kesulitan untuk ini itu!"
Kendra mengangguk mengiyakan. Membuktikan bahwa sekaya apapun mereka, kekurangan pasti selalu masih ada.
" Untuk selanjutnya, assisten saya yang akan menemui anda lagi tuan!" kata Kendra yang tak menyangka bila CEO Darmawan group akan bertandang ke sana sendiri.
" Tak perlu sungkan!"
" Terimakasih tuan Leo. Salam untuk kakak anda tuan David!"
" Ngomong-ngomong, apa kabar dia? Kudengar anak-anaknya juga sudah menjadi CEO?" tanya Kendra yang teringat dengan pria-pria yang jauh ada di bawahnya tapi sepertinya mereka sudah memiliki anak terlebih dahulu.
" Benar, Deo memiliki bisnis ground handling yang kini sudah ada di beberapa titik di Indonesia. Sementara Demas, ia kurang lebih seperti mu namun masih dalam taraf di dalam kota!"
Kendra tersenyum bangga. Sebagai pembisnis ia memang sering mendengar nama-nama mereka di jajaran pria dengan elektabilitas yang lumayan. Sejajar dengan Abimanyu Aryasatya yang kini kerajaan bisnisnya di pegang oleh putranya Raka Chandrakanta.
" Lalu, anda sendiri?" tanya Kendra berintermezo.
Leo terlihat tersenyum lepas. Namun ada makna terselubung yang tersimpan.
" Asal kau tahu, memiliki anak perempuan itu berbeda dengan memiliki anak laki-laki Ken!"
Membuat Kendra tertegun.
" Kenapa bisa berbeda?" sahutnya tak mengerti.
" Kau akan tahu jika kau memiliki anak perempuan. Seharusnya orang seperti aku ini sudah purna tugas. Tapi kedua anakku tidak ada yang berminat melanjutkan bisnis papanya. Dan jika aku memiliki anak laki-laki, hal seperti ini seharusnya tidak akan terjadi bukan?"
Membuat Kendra akhirnya paham.
" Berharap ada menantu yang mungkin bisa jadi penolong anda nanti!" kata Kendra berkelakar yang sukses membuat mereka berdua tergelak dengan tawa yang sebenarnya sama-sama ironi.
Leo yang tertawa demi keadaan kedua putrinya yang masih sama-sama rumit, sementaranya Kendra yang juga memiliki anak perempuan tampak tertawa ironi sebab hidupnya kini pusing akibat memiliki dua istri.
.
.
.
.
.
Buat yang belum tahu siapa nama-nama tokoh asing diatas, kalian bisa baca novel mommy ini.
__ADS_1