Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 57. Undangan makan


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Malamnya, Kinar yang baru selesai menyisir rambutnya di hebohkan dengan kedatangan dua teman rempongnya yang sudah datang dengan membawa sebuah mobil yang entah itu milik siapa.


Ya, empat bulan ini Kinar diketahui mereka sebagai wanita yang mengadu nasib ke kota yang menjadi tujuan para mahasiswa pintar itu. Tak ada sedikitpun kecurigaan sebab Kinar benar-benar memendam masa lalunya serapi mungkin.


Selain untuk keselamatan dirinya sendiri, semua itu ia lakukan agar orang-orang di sekelilingnya juga merasa nyaman.


" Woy, udah selesai belum?" teriak Reva dari luar kost yang berhasil mengejutkan Kinar.


" Sebentar!" balas Kinar yang kini mematut tampilannya di cermin besar guna memastikan jika tampilannya tak seperti ondel-ondel.


Kinar tersenyum. Meski ia kini menyadari bila dirinya telah kehilangan kebahagiaan nya, tapi ia tetap menghargai diri sendiri dengan berpakaiannya se rapi mungkin.


Pakaian elegan berwarna putih yang membalut tubuhnya yang kembali proposional, membuat perempuan yang kini memotong rambutnya sebatas bahu itu terlihat seperti perawan. Siapa sangka, wanita ayu itu sejatinya memiliki seorang anak dari pria yang terkenal di negara itu.


Kinar yang selama menjadi istri kedua Kendra tak pernah keluar mansion, kini terlihat seperti hidup kembali. Ada Reva juga Eta yang makin membuat hidupnya sedikit berwarna. Dua wanita yang selalu mempertontonkan jiwanya yang tak pernah sepi.


CEKLEK!


" Maaf ya, tadi lupa naruh HP. Jadi nyariin dulu di dalam!" kata Kinar yang tak enak hati sebab belum ready.


" Kinar, cantik banget lu. Kenapa bisa beda banget gini sih kamu kalau gak pakai seragam itu!" sambut Eta yang benar-benar terkesima dengan penampilan Kinar yang lain dari biasanya.


" Halah kalian juga cantik. Kalian malah jago make up! Udah yuk berangkat!"


Seperti itulah Kinar saat ini. Ia sebisa mungkin membuat dirinya fleksibel. Meski ia tak atau tujuan hidupnya saat ini apa, tapi yang jelas ia tak ingin berpangku tangan.


Kinar berkata jujur, dia memang berdandan sederhana dan tidak berlebihan. Lagipula, ia memang tak suka bold make up.


Di dalam mobil.


" Mobilnya siapa Ta yang lu bawa?" tanya Kinar yang kepo kepada dua temannya.


" Ada punya gebetan baruku!" jawab Eta sembari mulai memasukkan perseneling.


Selama mereka bersama, Eta memang sering gonta-ganti pacar. Wanita berambut Curly itu memang sedikit materialistis. Hal itu dilakukan dengan dalih untuk memperbaiki ekonomi. Begitu katanya.


" Kira-kira, apa kita nanti dapat bonus ya?" seru Reva tak mau kalah. Otaknya tak jauh-jauh dengan isi otak Eta yang selalu tentang duit.

__ADS_1


" Pastinya lah. Gila aja gak dapat apa-apa!"


Kinar lebih sering menjadi manusia konsonan. Kinar tak ingin terlalu terbuka sebab ia takut jika orang-orang akan tahu siapa dia sebenarnya.


Setibanya mereka ke restoran besar tempat dimana nyonya Pramesti mengundang mereka, ketiganya langsung masuk dan melihat sang manager sudah duduk bertengger rapi bersama nyonya Pramesti.


" Wah emang gak ada obatnya tuh manula!" cibir Eta yang melihat pak Ramos sibuk mengobrol dengan para petinggi.


Kinar menoleh dimana pak Ramos sudah duduk rapi disana. Rupanya tak hanya mereka yang datang, ada beberapa karyawan berprestasi lainnya yang juga di undang dari cabang lain.


Membuat Kinar grogi.


" Aku ke toilet dulu ya?" kata Kinar yang mendadak kandung kemihnya penuh.


" Dianterin nggak?"


" Nggak usah, ada di belakang kan?"


Eta dan Reva mengangguk. Mereka berdua akhirnya masuk dan berpisah dengan Kinar. Kinar ke toilet sebab ingin buang air kecil. Namun saat perempuan itu keluar dari toilet, ia tak sengaja bertubrukan dengan pria yang juga baru melakukan kepentingan yang sama di toilet sebelahnya.


Bruk!


Membuat pria yang sibuk dengan ponselnya itu harus merelakan bernada pipih itu terjatuh.


Kinar seketika mengambilnya benda itu lalu menyerahkannya kepada pria tersebut. Pria itu menatap Kinar dan rupanya dia adalah laki-laki yang kemarin datang bersama nyonya Pramesti.


" Tuan? Saya...minya maaf!" kata Kinar yang meyakininya jika pria itu adalah orang penting di tubuh perusahaannya.


"Ini tuan, se- semoga tidak rusak!" ucap Kinar yang ketar-ketir pria itu akan mendampratnya.


Namun Alih-alih marah, pria ia itu justru tersenyum ramah.


" Kamu yang kemarin di undang Mama kan?"


" Mama?" batin Kinar.


" Anak buahnya pak Ramos?"ulang pria itu.


Akhirnya membuat Kinar ingat dan spontan mengangguk sungkan. Pria itu kini terlihat sangat berkelas dan tampan. Membuatnya Kinar pangling.

__ADS_1


" Sory ya, tadi gak fokus di jalan. Kamu nggak apa-apa kan?"


Kinar semakin canggung sebab pria itu rupanya sangat baik. Kinar menggeleng lemah sebagai ganti jawab tidak.


" Baru datang?"


Kinar kembali mengangguk. Tidak tahu kenapa Kinar malah sangat malu dibuatnya. Bukan karena apa. Semenjak keluar dari mansion itu, Kinar sering merasa minder ketika berhadapan dengan lawan jenis. Hal sangat lumrah, segala hal yang Kinar miliki bahkan yang paling berharga sekalipun telah Kinar serahkan kepada Kendra. Namun apa yang terjadi saat ini rupanya sangat tak mudah untuk Kinar, termasuk melupakan Kendra yang sejatinya masih bersemayam di dalam hatinya.


" Ya udah kita sama-sama kesana ya?" kata pria itu lembut.


Kinar tak menyangka jika pria itu rupanya sangat ramah. Terbiasa bersama Kendra dan Megan yang arogan membuat Kinar selalu berpikiran jika semua orang yang memiliki jabatan tinggi itu menakutkan.


Selama berjalan pria itu tak membuka mulutnya, Kinar yang berjalan di dampingi oleh orang itu merasa insecure. Ia jelas paham siapa orang yang berasa di sampingnya itu.


" Nah itu dia. Han, cepat kemari, kamu dari mana aja sih?" kata nyonya Pramesti yang terlihat senang sebab anaknya muncul.


Eta dan Reva terlihat saling bisik-bisik demi melihat Kinar yang berjalan bersama putra dari Nyonya Pramesti.


" Widih, udah jalan bareng aja si Kinar!" kata Eta yang terkikik-kikik.


Namun Reva terlihat tertegun saat mendengar Eta bercuit. Ada rasa sedih saat melihat pria itu berjalan bersama temannya.


" Selamat malam Bu, maaf terlambat!" sapa Kinar sopan dan membuat nyonya Pramesti tersenyum.


"Selamat malam. Kita makan dulu ya, habis itu kita ngobrol lagi nanti!"


Kinar tampak terus menunduk sebab tidak tahu kenapa pria itu terus saja menatapnya. Membuatnya semakin tak percaya diri!


" Pssst, lu ngapain nunduk terus?"


Namun bisikan Eta malah membuat Hansen mendongak.


" Apa makanannya kurang enak? Minta ganti kalau memang tidak enak!"


" Pelayan!"


Namun teriakan Hansen semakin membuat Kinar panik. Astaga, apa yang pria itu lakukan?


" Eh tuan tidak usah. Ini enak kok!"

__ADS_1


" Kalau begitu makanlah!"


Reva semakin terlihat murung manakala Kinar mendapat atensi penuh dari Hansen.


__ADS_2