Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 59. Menyadari kebodohan


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Sofia baru saja selesai menyisir rambut lurus Flo manakala pintu kamar bercat putih itu terayun. Menampilkan Kendra yang kini terlihat tak terlalu merawat penampilannya, untuk datang mengambil putrinya.


Bulu-bulu halus yang menghiasi rahang kokoh nya itu, jelas menegaskan jika dirinya benar-benar belum bisa menerima masa lalunya.


" Sayangnya papa udah cantik banget, ikut papa yuk!" kata Kendra yang terlihat mendamba putri satu-satunya itu.


Sofia menatap getir pria yang kini meraih tubuh gembul baby Flo yang telah harum itu dengan hati miris. Pria itu terlihat menciumi pipi baby Flo tanpa henti. Walau setiap mencium Flo dirinya selalu teringat dengan Kinar, tapi Flo baginya adalah manifestasi dari harapan Megan yang telah tercapai.


Sudah setahun ini Kendra menjalani kehidupan seperti orang yang kehilangan pegangan hidup. Pria itu berjalan sendiri menyusuri kehampaan hatinya. Membuat seisi mansion itu turut muram.


Hanyalah Flo seorang yang kini membuatnya kuat. Bagi Kendra, hanyalah Flo yang tersisa dari cita-cita luhur Megan yang masih bisa dia upayakan dengan baik. Meski jauh di dasar hatinya, kesunyian perlahan menggerogoti dan tak tak menyisakan apapun kecuali penyesalan.


Sofia terlihat mengikut Kendra dan berdiri tak jauh dari tempat Kendra menyuapi anaknya. Tampak menatap pria itu dengan tatapan iba.


" Sebenarnya kenapa anda malah meminta nona Kinar pergi tuan?" Sofia bergumam seraya menatap muram Kendra yang terlihat tak segarang dulu. Ia bisa melihat pancaran keputusasaan dalam diri pria itu.


" Sebenarnya saya benci dengan keputusasaan anda, tetapi jika melihat anda begitu, ingin rasanya saya mencari tau apa yang sebenarnya telah terjadi!"


" Rasa ingin tahu yang berlebih membuat hidup kita akan di diliputi ketidaktenangan!"


What?


Sofia seketika menoleh saat mendengar suara Xander yang tiba-tiba mampir ke telinganya dan menginterupsi. Membuat gadis yang masih betah mengibarkan bendera peperangan itu seketika mendengus.


" Kapan dia datang?"


" Tuan Kendra jatuh dalam penyesalan yang tidak kita ketahui kedalamnya. Kau harus tahu, menjadi laki-laki seperti tuan Kendra itu tidaklah mudah!" seru Xander yang kini menatap lurus ke arah Kendra yang terlihat menyempatkan dirinya untuk mengurus sang anak meski tak terlalu terampil.


" Oh ya?....Bukannya laki-laki selalu semaunya sendiri?" sela Sofia yang tentu saja menyangkal ucapan Xander dengan wajah sengit. Terdengar seperti sebuah sindiran.


Membuat Xander seketika memutar tubuhnya.


" Tidak dengan tuan Kendra!" ucap Xander datar yang kini lekat menatap Sofia dengan tatapan dalam.


Cih!


Sofia mencibir dengan sebelah bibir yang terangkat. Menegaskan jika Sofia tidak pro dengan pria di depannya itu.


" Aku tidak percaya bahkan aku mau menjawab ucapanmu tuan!"" ketus Sofia yang sudah kehilangan rasa takutnya sebab kesal dan tak ingin mendebat Xander.


Tidak tahu kenapa gadis itu kesal kepada Xander bahkan sudah setahun ini. Semenjak Kinar pergi tak tak seorangpun menahan, Sofia memang telah membenci kedua pria itu.


Xander yang melihat Sofia masih betah menunjukkan wajah kesal itu, langsung menarik tubuh gadis itu hingga mepet ke tubuhnya karena gemas.


HREP!


Hey! What you doing? Are you crazy?


"Percayalah, apapun alasannya. Tuan Kendra tidak seburuk yang kau pikirkan!" kata Xander lirih yang kini membuat Sofia kesulitan menelan salivanya.


...ΩΩΩ...


Hari berganti Minggu, dan Minggu berganti dengan bulan. Semakin kesini, Hansen semakin menunjukkan keseriusannya dalam berucap. Pria itu juga sering berkunjung ke cabang yang di kepalai Ramos, hanya untuk melihat Kinar.


Tapi Kinar lebih sering menghindar dengan berbagai alasan. Hansen pria tampan yang baik, tapi apa yang pernah terjadi dalam hidupnya, masih mengikatnya dalam pusaran ketidakpercayaan diri yang teramat dalam.


Ya, Kinar yang di dekati oleh Hansen merasa tak tenang. Sebab selain belum siap membuka hati yang baru untuknya, ia merasa Reva sekarang semakin memberi jarak kepadanya manakala menyinggung soal Hansen.

__ADS_1


" Va, udah makan? Kita ke kantin yuk?" sapa Kinar seperti biasa sebelum mampir ke meja kerja Eta.


Namun gelagat yang di tunjukkan benar-benar menggerus ketenangan Kinar.


" Kau bisa pergi sendiri. Aku hanya karyawan biasa, tidak selevel dengan wanita yang seperti sebentar lagi akan menjadi istri bos!"


Deg!


Kinar mengernyitkan dahinya tak mengerti. Kenapa Reva mengucapakan hal itu? Dengan nada ketus pula.


" Va, tunggu dulu. Apa maksud kamu bicara kayak gitu tadi?" tanya Kinar yang terkejut setengah mati. Bukankah selama ini pertemanan mereka baik-baik saja?


" Elu tahu kan sejak awal aku itu suka sama pak Hansen? Tapi sepertinya semakin kesini kamu semakin terang-terangan menunjukkan aura persaingan ya Kinar? Elu sengaja menggoda pak Hansen kan?" kata Reva yang akhirnya tak bisa lagi menutupi kekesalan hatinya.


Kinar benar-benar syok saat mendengar ucapan Reva. Mereka selama ini selalu bersama-sama, dan tentu saja bagi Kinar pertemanan itu lebih penting dari apapun.


" Va, kamu itu salah paham. Aku gak suka sama Pak Hansen, dan satu lagi aku gak ada niatan untuk ngajak saingan kamu, percaya sama aku!" seru Kinar risau yang tentu saja kaget dengan tuduhan Reva.


" Salah paham?" Reva menatap getir Kinar dengan senyum sumbang.


" Kamu sering di antar pak Hansen, kamu juga sering di bayari makan, oh ya satu lagi, bahkan dia sering muji- muji karya kamu yang sebenarnya adalah hasil keringat kita bertiga juga!"


" Kamu diem aja tuh buktinya, masih nyangkal semua ucapanku?"


Kinar terlolong tak demi mendengar suara Reva yang sangat kecewa kepadanya. Ia bahkan tak mengira jika pertemanan yang selama ini baik-baik saja, harus terganggu dengan pria itu. Pria yang sama sekali tak bersalah.


Ia sudah berulang kali mengatakannya penolakannya kepada Hansen, tapi pria dengan sejuta pesona itu tak kekurangan cara untuk mendatangi Kinar.


"Kenapa diem? Bener kan yang aku bilang?" teriak Reva yang benar-benar iri dengan Kinar.


Kinar diam bukan karena membenarkan ucapan Reva. Tapi sebenarnya ia sudah berulang kali menolak Hansen meskipun pada akhirnya pria itu tak memperdulikan penolakan Kinar sebab tak ada alasan yang mendukung penolakan Kinar.


Kinar single dan tak memiliki pacar, sangat relevan bagi Hansen untuk mendekati bukan? Selain itu, posisi Kinar yang memang membutuhkan pekerjaan karena enggan memakai uang dari masa lalunya tak bisa membuatnya berbuat banyak.


" Ada apa dengan kalian berdua?" ucap Eta yang selalu tak bisa basa-basi.


" Reva salah paham ke aku ta. Dia marah ke aku karena pak Hansen ngedeketin aku!" kata Kinar murung.


Membuat Eta menghela napas panjang.


" Pantes dia sering diam saat ada pak Hansen nyapa kamu. Udah lah, kita makan dulu aja, nanti biar aku bantu bicara!"


" Sungguh Va, aku tidak menggoda Pak Hansen seperti yang di tuduhkan Reva!" kata Kinar muram yang tak ingin mencederai pertemanan mereka. Luka basah dalam hatinya masih belum kering, ia tak ingin hidupnya di bebani dengan orang-orang yang merasa kesal terhadapnya, seperti Kendra.


Eta menarik Kinar kedalam pelukannya. Ia tahu Kinar orang baik, meskipun perempuan itu masih sangat tertutup kepadanya.


...ΩΩΩ...


Waktu terasa berlalu cepat. Rasanya baru kemarin Kendra merayakan ulang tahun baby Flo yang pertama, kini anak perempuan yang sudah bisa berjalan dengan sepatu mungilnya itu kembali meniup lilin namun kali ini dengan suasana yang berbeda.


Ya, baby Flo kali merayakan ulang tahunnya di mansion kedua sebab ada sedikit pengerjaan perubahan interior mansion itu.


Para pekerja di perahan sapi terlihat begitu senang demi melihat kelucuan pewaris Arion itu. Sofia lah yang selama ini mengasuh bayi itu dengan sangat baik. Sebagai bukti janjinya kepada Kinar, yang entah berada di mana saat ini.


Sudah dua tahun Megan pergi meninggalkan Kendra, sudah dua tahun juga Kinar ia usir demi kebaikan bersama. Walau dalam tiap-tiap malamnya, Kendra menangis dalam sepi yang menyiksa.


Mansion pertama sedang dalam proses rehab. Kendra ingin sengaja merubah beberapa interior atas saran sahabatnya guna memberikan efek baru yang mungkin saja bisa merefresh otak Kendra yang keruh.


Malam ini Kendra mengizinkan Sofia membawa baby Flo menginap di mansion kedua dengan penjagaan ketat dari guard yang dia pekerjakan.

__ADS_1


Kendra memerintahkan orang-orang yang ada di sana untuk turut mengganti konsep kamar Kendra. Kendra ingin lepas dari bayang-bayang masa lalu keterpurukan yang berbaur dengan rasa bersalah. Meski tak melulu soal membuka hati, ia ingin hatinya sedikit tenang.


Namun saat ia baru melangkah kakinya masuk, seorang pekerja membuatnya terkejut .


" Tuan, saya menemukan ini di dasar dipan dan terjepit matras. Kami takut ini barang penting!" kata pria itu dengan wajah takut.


Kendra lalu meraih sebuah papan tulis atau draft digital berwarna hitam itu lalu mengingatnya.


" Benda apa ini?"


Usai bergumam resah, pikirannya akhirnya berhasil mengingat benda itu. Papan tulis itu merupakan benda yang dulu sering Megan gunakan sebagai alat komunikasi sewaktu istrinya itu masih hidup dan kondisi stroke.


Maka Kendra buru-buru mengisi daya barang elektronik itu, lalu membuka satu persatu draft yang ternyata memuat banyak kata di tulis Megan. Membuat dada Kendra kian berdebar.


" Astaga, kenapa aku bisa lupa jika Megan mempunyai benda ini!" kata Kendra resah saat satu persatu mengecek draft yang tersusun rapi dalam margin digital itu.


Pria itu buru-buru membuka satu draft yang tersimpan di dalamnya dengan judul for My Kendra. Matanya seketika membelalak manakala melihat ada banyak tulisan tangan Megan yang tak rapi, namun banyak menuliskan kata-kata.


...Aku merasa semua ini adalah karma. Entah karena perbuatan ku, atau karena perbuatan leluhurku dulu....


...Memiliki suami seperti mu sangat bahagia kurasakan Ken. Aku bersyukur bisa menemanimu hingga sejauh ini....


...Dan hal paling membahagiakan buatku adalah saat kau tertawa lepas saat pertama kali menimang Flo....


...Aku tahu di detik itu aku berhasil. Aku berhasil mewujudkan impian kita sayang....


...Kau tahu, dua hari ini aku berpikir keras. Aku juga sudah mengobrol dengan Kinar. Kini aku tahu alasan Tuhan mempertemukan dia dengan kita....


Sayangnya aku tak lagi bisa bicara normal saat aku ingin banyak sekali mencurahkan isi hatiku.


...Jika suatu saat aku pergi, jaga dia untukku Ken. Aku dan dia adalah orang yang berbeda, tapi takdir membuatnya terikat dengan kita dengan adanya Flo....


...Biarkanlah dia terus ada di sisimu Ken, biar dia melanjutkan ceritaku yang tak sempurna ini....


Air mata itu seketika luruh bersama jantung yang mendadak tremor, wajah sang empunya juga mendadak basah oleh air mata. Apa yang telah dia lakukan? Apakah sebuah kebodohan?


Tulisan yang bahkan entah berapa hari di tulis oleh mendiang istrinya itu membuatnya seketika seperti tertampar sesuatu yang besar. Menyadarkan dirinya akan tindakkan bodoh yang seharusnya tidak dia lakukan.


Ia telah salah mengambil keputusan. Ia telah salah menafsirkan ucapan istrinya yang sekarat tempo hari. Membuat segala sesuatunya kini berubah menjadi semakin menyedihkan.


Kini dalam ketidakberdayaan, ia menangis dengan batin perih. Ia telah berdosa besar, ia telah menyia-nyiakan wanita yang seharusnya ia pertahankan. Bahkan hatinya pun tak selaras dengan ucapannya saat di meminta Kinar pergi dari mansion ini.


Xander yang mencari- cari Kendra tertegun saat melihat bosnya itu bersimpuh di atas permadani sembari bersujud pilu.


" Apa yang terjadi?"


Xander menjadi resah demi melihat Kendra yang tampak hancur. Bahkan melebihi dukanya saat kepergian Megan.


Mata tajam Xander tak sengaja melihat sebuah papan digital yang tergeletak tak jauh dari Kendra bersujud. Tangan pria itu kemudian terulur meraih benda yang masih menyala itu lalu membacanya dengan wajah tegang.


DEG!


Maka batinnya turut merasakan pedih, seperti yang kini tengah di rasakan pria yang sedang menangis dalam kebisuan itu. Kini Xander tak salah duga, Kendra selama ini sebenarnya menginginkannya Kinar ada disana namun karena kesalahan di waktu Megan sakaratul maut itu, membuat segala sesuatunya menjadi tak karuan.


" Tuan!" ucap Xander mengusap punggung bergetar Kendra yang wajahnya basah oleh air mata.


" Aku telah melakukan kesalahan Xan. Kinar pasti telah membenciku saat ini!"


Xander meneguk salivanya cepat demi melihat Kendra yang tampak hancur.

__ADS_1


" Bagiamana bisa aku malah mengusir orang yang seharusnya aku jaga atas permintaan istriku Xan?"


Batin Xander turut perih demi melihat tangisan pilu yang di tunjukkan oleh Kendra. Dan demi apapun yang ada di dunia ini, kedua pria itu kini sama-sama larut dalam titik nadir paling parah sepanjang hidup mereka.


__ADS_2