Surya Tenggelam

Surya Tenggelam
Bab 21. Berselera jika di tunggu sang bapak


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Malamnya, Kinar yang baru selesai membaca pesan dari dokter Adam terlihat menghela napas. Perjanjian ini benar-benar lebih rumit dari yang ia sangka.


Mungkin jika ia tidak sedang mengandung anak dari seorang Kendra Arion, ia tak akan mengalami birokrasi kehamilan seribet ini.


πŸ“± Saya sudah membuatkan daftar menu yang bisa jadi referensi anda nona. Silahkan anda jalankan dengan baik.


Padahal, ia sangat tidak berselera untuk makan apapun. Lalu bagaimana dia bisa mengikuti petunjuk itu dengan baik jika mencium bau masakan saja sudah hendak muntah? Mulutnya pahit, dan perutnya terasa seperti diaduk saat mencium bau nasi.


Sedikit heran juga, kenapa saat Kendra ada di dekatnya, ia tak pernah merasakan hal itu? Tapi jika tak ada pria itu, kenapa ia benar-benar tersiksa dengan rasa mualnya?


Sedetik kemudian, saat ia hendak beranjak pergi untuk keluar kama, pintu tiba-tiba terketuk.


TOK TOK TOK


" Siapa?" tanya Kinar yang masih berada di posisi duduk di tepi ranjang.


" Saya Sofia nona!"


Maka Kinar segera melangkah guna membukakan pintu.


CEKLEK!


" Selamat malam nona!" sapa Sofia ramah seraya mengangguk memberi salam.


" Sofia, sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil aku nona. Eh...ada apa,tumben kau..."


" Bolehkah saya masuk?"


" Tentu saja. Maaf, gara-gara mengomelimu aku jadi lupa menyuruhmu masuk!"


Mereka lantas duduk di sofa dengan posisi berdekatan. Dalam rumah ini, hanya Sofia lah satu-satunya manusia yang bisa dikatakan golongan wajar oleh Kinar.


" Nona, saya datang kemari karena ditugaskan oleh Bu Hilda untuk menemani anda setiap malam. Mungkin anda perlu sesuatu, saya bisa siaga membantu!"


Kinar seketika tertegun. Ada apa ini? Kenapa mengirimkan Sofia untuknya?


" Kenapa begitu Sof?" bertanya bingung.


" Saya tidak tahu nona. Bahkan saya diberi surat resmi!"


Mata Kinar semakin membelalak tak percaya saat Sofia menyodorkan secarik kertas yang berisikan perintah resmi. Sungguh diluar dugaannya.


Apakah ini semua karena Megan? Atau laki-laki itu yang menyuruh? Hah astaga, entah ia harus bahagia atau harus merasa sedih sekarang. Dan keberadaan Sofia di sini jelas mengindikasikan jika laki-laki itu tidak akan datang kemari.


" Tapi jika anda keberatan saya bisa...."


Sengaja menggantung kalimat seraya membaca air muka Kinar sebab mengira jika gadis itu tak suka di temani.


" Aku tidak keberatan Sof. Aku malah senang kau temani. Setiap hari aku selalu sendiri dan tidak tahu harus melakukan apapun. Terimakasih ya?" menjawab mencari aman. Toh jika ia menolak pasti dia yang akan di salahkan kan?


Sofia sebenarnya ingin tahu kenapa Kinar mau dinikahi oleh Kendra. Tapi jika melihat situasinya, sikap Kendra ke Kinar tidak seperti saat Kendra memperlakukan Megan. Tapi secara pribadi, Sofia lebih suka kepada Kinar karena sikap rendah hati gadis itu.


Hari-hari berikutnya, kegiatan yang berjalan terasa lebih menyenangkan karena Sofia menjadi teman bicara yang asyik. Setiap malam mereka bercerita tentang banyak hal, bahkan Kinar kini tahu kenapa gadis itu bekerja disana.


" Ibuku pergi meninggalkan ayahku karena kami miskin. Saat itu aku baru berusia 7 tahun. Aku masih ingat betul saat aku di gendong ayah di bawah hujan lebat dan kami di tolong oleh kedua orang tua tuan Kendra waktu itu!"


Kinar menata muram Sofia yang matanya sudah berkaca-kaca saat bercerita.


" Jadi ku sudah lama mengenal pria itu. Maksudku... suamiku?" meralat cepat kalimatnya.


Sofia mengangguk, " Seingatku, tuan Kendra sudah duduk di kelas tiga SMA saat aku masih tujuh tahun!"


" Hah, jangan-jangan Sofia dan aku seumuran?"

__ADS_1


" Maaf Sof, memangnya berapa usiamu sekarang?" bertanya demi memuaskan rasa ingin tahunya.


" 25 tahun nona!"


" Tuh kan. Pantas aku nyambung banget kalau lagi ngomong sama dia!"


" Kita seumuran berarti!" berkata senang sembari menyentuh lengan gadis di depannya itu.


" Benarkah?" balas Sofia tak menyangka.


Kinar mengangguk. Ia sebenarnya juga ingin bercerita tentang kehidupannya yang sulit, tapi bayangan isi perjanjian itu benar-benar membuat nyalinya menciut. Lebih-lebih, Sofia juga tak berani menanyakan hal itu.


Keesokan harinya, Kinar yang saat itu tengah melamun saat menonton televisi dikejutkan dengan suara Sofia yang tiba-tiba datang.


" Nona, apa nona mau makan sesuatu? Ini sudah siang dan nona belum makan apapun?"


" Astaga Sof, kau membuatku kaget saja!"


Sofia seketika meringis tak enak hati kala melihat Kinar berjingkat. Sorry!


" Maafkan saya nona, saya kira anda sedang menonton televisi!"


Sofia tidak tahu, Kinar melamun sebab entah mengapa ia merasa tak rela jika harus berpisah dengan bayi yang ada dalam kandungannya kelak. Ya, wanita itu sepertinya terbawa perasaan saat melihat tayang drama yang menayangkan hubungan ibu dan anaknya.


" Nona, nona menangis?" tanya Sofia panik. Membuat Kinar buru-buru mengusap wajahnya.


" Aku ...hanya tertawa suasana, filmnya bagus Sof!" bohong Kinar berusaha menutupi kesedihannya dengan sebuah senyuman.


Sofia lalu turut tersenyum . " Aku pernah membaca artikel jika hormon ibu hamil itu memang sangat sensitif. Hah, anda pasti sudah tidak sabar ingin segera melihat tuan muda kecil nanti!" seru Sofia menatap senang ke arah Kinar.


" Tuan atau nona, semoga dia lahir dengan sehat nantinya!" ucap Kinar menatap lalu mengusap lembut perutnya sembari menahan air mata.


" Kau tidak tahu Sof. Jika anak ini lahir, maka aku pun juga tidak akan bisa melihatmu lagi!"


" Emm, Sof, aku tadi melihat pohon mangga di belakang. Apa kita bisa minta tolong seseorang untuk mengambilnya? Aku benar-benar ingin memakannya!" seru Kinar berusaha mengalihkan suasana.


Kinar spontan mengangguk. Cara ini berhasil rupanya, ia tak bisa terus-terusan membahas soal anaknya. Tempat itu bisa banjir air mata nanti jika mereka masih membahas bayi dalam kandungan itu.


" Tapi, saya mohon anda harus makan nasi dulu nanti ya. Saya tidak ingin saya terkena masalah!" kata Sofia murung.


Dua perempuan yang rupanya sebaya itu akhirnya keluar menuju halaman belakang mansion bersama-sama. Halaman yang luas sejauh mata memandang, tempat dimana tumbuh beberapa pohon buah tropis yang dulu di tanam oleh kakek buyut Kendra.


" Pohon ini kabarnya sudah sangat lama lho nona. Ayahku bilang, umur pohon ini bahkan lebih tua dari umur tuan Kendra!"


Sofia terkikik-kikik saat asyik bercerita. Membuat Kinar turut tertawa.


" Sof, ambil yang besar itu. Iya yang atas itu. Astaga aku benar-benar ngiler Sof!" seru Kinar seraya menelan ludah bening dan membayangkan sesegar apa buah itu jika ia makan nanti.


" Tenang saja nona, saya akan berusaha untuk anda!" berkata dengan penuh semangat.


" Nona minggir, saya akan menjatuhkan yang ini dulu!" seru Sofia dari atas pohon yang membuat Kinar segera menepi.


Bluk!


Yes! Satu buah mangga telah berhasil Sofia jatuhkan ke tanah. Sejurus kemudian, gadis itu memanjat lebih tinggi lagi guna meraih buah lain yang diminta oleh Kinar.


Namun, saat ia hendak meraih buah yang sudah dekat dengan jangkauannya, ia yang tiba-tiba melihat ulat bulu besar seketika menjerit lalu terpeleset dan akhirnya jatuh.


" Aaaaa ulat!!!"


Sofia memekik dan spontan kehilangan keseimbangannya.


" Sofi!!!"


BRUK!

__ADS_1


Sofi pikir tubuhnya akan terpental atau akan terjerembap ke tanah. Namun saat ia membuka matanya, ia mendelik karena ia kini malah berada di pangkuan Xander yang menatapnya datar.


" Tu- tuan!" pekik Sofia dengan mata melebar.


Oh tidak!


BUG!


" Awh!"


Xander langsung menjatuhkan Sofia saat gadis itu telah membuka matanya. Memberi pelajaran sebab tanpa izin malah memanjat pohon. Membuat wajah kedua gadis itu terlihat pias.


" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Xander dengan suara menakutkan.


" Sa- saya memetik mangga un- untuk nona Kinar!" jawab Sofia ketakutan dengan suara yang langsung gagap.


Yang di jadikan alasan langsung tegang dan turut menatap murung wajah datar Xander.


" Aku pasti kena omel setelah ini!"


" Maaf tuan, saya tiba-tiba ingin sekali makan mangga yang baru di petik dari pohonnya. Tolong jangan anda marahi Sofia, saya ..."


" Berani sekali kau memerintah assistenku, memangnya siapa kau?"


DEG!


Maka Kinar dan Sofia langsung memutar tubuhnya demi mendengar suara pria yang sangat familiar itu.


" Orang itu? Sudah bagus tidak muncul kenapa tiba-tiba datang. Oh tidak!"


-


-


Sofia tepaksa menuruti keinginan ibu hamil itu agar Kinar mau makan nasi sebelum memakan buah masam itu. Namun alih-alih memuluskan rencana, yang di dapat justru kesialan.


" Saya mau melakukan itu agar nona mau makan tuan. Saya tidak tahu jika di pohon itu ada ulat bulunya!" masih berusaha membela diri saat mereka kini di sidang.


" Kenapa kau tidak mau makan? Apa perintahku kurang jelas?"


Yang di tanya mendadak kesulitan menelan ludah.


" Sekarang makan ini, dan habiskan!" titah Kendra menatap Kinar yang tubuhnya sudah bergetar.


Tapi Kinar merasa aneh. Saat ia mendekat ke piring yang ada di sebelah Kendra, rasa mualnya langsung sirna.


" Sebenernya kenapa aku ini? Bagaimana dia bisa percaya jika aku benar-benar tak berselera makan setiap hari kalau sekarang saja aku tak merasa mual saat dia ada di dekatku!"


Kinar langsung memakan makanan itu seperti saat ia belum mengandung. Sofia dan Hilda langsung mendelik saat melihat Kinar memakan makanan itu hingga nambah dua kali.


Padahal, saat ia menemani Kinar, ia berani bersumpah jika gadis itu selalu muntah saat mencium aroma makanan.


" Apa kalian semua mau menipuku? Kalian lihat, dia bahkan makan seperti orang kelaparan!"


DEG!


Kinar langsung menghentikan suapannya kala menangkap nada penuh kekecewaan yang terlontar dari mulut pria itu.


"Tunggu dulu, jadi dia kesini hanya untuk memastikan apa aku benar-benar mual atau tidak. Sialan, kenapa selera makanku selalu kembali setiap dia kesini?"


Membuat suasana seketika menjadi canggung.


"Maaf tuan, tapi beberapa hari ini nona Kinar memang selalu mual dan muntah. Bahkan susu yang diberikan oleh dokter Adam juga dimuntahkan!" seru Hilda memberi sedikitpun penjelasan.


" Mungkin calon anak anda ingin di tunggui terus oleh ayahnya nona, eh..." Sofia buru-buru menutup mulutnya manakala ia keceplosan saat berbicaralah.

__ADS_1


" Kenapa aku malah mengatakan itu?"


__ADS_2